
Fitri telah diijinkan kembali kerumah orang tuanya dan Tonilah yang menjemputnya dari asrama, subuh itu.
Mendengar Informasi itu dari Karina, Taripun menjerit histeris didalam kamar.
"Tidaaaakkkk !!!.. "
Untunglah tidak ada teman-temannya yang mendengar ataupun, untunglah tidak ada teman-temannya yang berada didekatnya saat itu. Jika saja ada, orang itu pasti disiksa Tari. Sebagai luapan kemarahannya pada Fitri dan Toni.
Tari merasa dikhianati Toni dan dipencundangi Fitri. Hati Tari sangat sakit dan ini tidak bisa didiamkan. Tari harus menyusun rencana untuk itu.
Sebagai mahasiswi di semester akhir, memang para mahasiswi itu telah diijinkan pulang kerumah orang tua masing-masing. Sesuai dengan peraturan asrama. Artinya Fitri tidak diasrama lagi. Tapi masih terdaftar sebagai mahasiswi dan harus mematuhi peraturan kampus. Bukan lagi peraturan asrama.
Sementata Tari mendapat surat teguran keras dari Ibu Pur. Harus membuat surat pernyataan bahwa Tari tidak akan membuat kegaduhan lagi dikamar, di asrama juga di kampus. Satu kali lagi saja, Tari melanggar disiplin dan peraturan asrama dan kampus; Tari langsung du drop out.
Kemarahan Taripun meningkat tiga kali lipat. Begitu juga kecemburuan dan ke curigaannya. Tidak memperdulikan surat pernyataan yang telah ditandatanganinya didepan Ibu Pur, Tari nekat bolos PKL lagi.
Tujuan Tari hanya satu, ke kantor Toni dan menemui Toni. Hanya untuk memaksa Toni menerima cintanya dan memutuskan hubungannya dengan Fitri.
Ketika Tari menemui Toni ke kantornya, sikap Toni sangat dingin dan tidak ramah. Hanya mendesah resah, melihat Tari. Tidak mengajak Tari lagi ke kantin. Tidak lagi memperlakukan Tari sebagai calon pembeli. Walaupun hanya halu.
Mereka hanya berdiri didepan meja sekuriti. Sikap Toni yang dingin ini tidak dimengerti oleh Tari. Karena Tari juga bersikap yang sama, dingin. Matanya menatap tajam pada sekuriti yang berdiri disamping mejanya. Memperhatikan setiap orang yang keluar masuk.
Tari tengah berjuang menahan kemarahannya untuk tidak meledak di lobbi itu. Apalagi didepan sekuriti itu. Wajah Tari yang polos tanpa setitik bedakpun dan jutek, ditekuk lagi; semakin menyeramkan. Karena itu ketiga orang sekuriti yang bertugas di lobbi itu, mencari kegiatan tugas. Fokus memperhatikan setiap orang yang keluar masuk.
Tidak berapa lama kemudian, Tari menatap tajam pada Toni. Ternyata Toni juga sedang fokus memperhatikan setiap orang yang keluar masuk. Sama seperti para sekuriti.
"Lo masih berhubungan dengan Fitri, ya !" tiba-tiba Tari bersuara. Pakai nada tinggi dan tuduhan yang benar.
"Emang. Kami emang masih berhubungan. Kami tidak putus." jawab Toni dengan wajah jutek. Tanpa melihat ke Tari.
"Lo harus putusin dia !...dan harus menerima gue !" kata Tari lagi dengan nada lebih tinggi.
"Apa !?" kata Toni kaget. Bersamaan dengan ke tiga orang sekuriti dan beberapa orang yang di lobbi, saat itu. Mereka semua spontan menatap Tari dan Toni, silih berganti.
Kemudian tiba-tiba Toni tertawa kencang dan lumayan panjang. Ketiga sekuriti pun ikut tertawa kencang juga. Meramaikan tawa bos mereka itu. Begitupun beberapa karyawan yang masih ada di lobbi itu, yang sedang menerima tamu. Juga tertawa, tapi tidak kencang.
__ADS_1
Membuat Tari gugup dan memperhatikan mereka, satu per satu. Kemudian "Seerrr !!!" darah Tari mendidih diubun-ubun kepalanya.
"Mungkin 100 tahun lagi. Hahahaga...." jawab Toni dan masih tertawa, tidak kencang lagi. Lalu Toni berbalik dan akan meninggalkan Tari.
Tari yang sudah terbakar api kemarahan lebih dari 360°. Spontan menangkap satu tangan Toni dan tangannya yang satu lagi meninju perut Toni. "Buk!...buk !...buk !..."
"Aduh !...bus....syet !..." rintih Toni kesakitan.
Para sekuriti sempat tercengang kaget. Hingga Tari sempat melayangkan beberapa pukulan ke perut Toni. Lalu dua orang sekuriti tersadar dan langsung menangkap tangan Tari. Menarik Tari untuk menjauh dari Toni.
Toni sempat terjatuh, terduduk dan memegangi perutnya. Lalu seorang sekuriti lagi membantunya untuk berdiru dan menopangnya untuk berjalan pelan kearah dalam gedung kantor.
"Lepaskan !.." Tari memberontak pada kedua sekuriti yang memegangi tangannya. Begitu terlepas, "Plak !..." Tari menampar salah seorang sekuriti itu.
"Hei Toni !. Fitri itu tidak mencintai kamu. Dia hanya mau duit kamu. Kalau aku tulus mencintaimu. Toni !...sadarlah !...Kau harus memilih aku !. Putuskan Fitri si cewek matre itu!..." Tari berteriak-teriak dan akan mengejar Toni.
Tapi kini kedua sekuriti yang sama-sama bertubuh kekar itu, memalangi Tari untuk masuk mengejar Toni. Bahkan seorang sekuriti itu, merangkul Tari dan membawa Tari dengan paksa untuk keluar dari lobbi.
"Lepaskan !...B*b* bodoh !...Gak punya otak kau !" teriak Tari pada sekuriti itu. "Kau mau melecehkan ku ya !...lepaskan !...kau memperkosaku !...Ha !..." Tari masih memberotak. Tidak mau dibawa keluar dengan paksa.
Sekuriti itu menangkap tangan Tari. "Tap !...Tap !..." Bahkan berhasil menangkap kedua tangan Tari dan langsung menguncinya. Menempatkan kedua tangan Tari itu di posisi belakang pada pinggang Tari dan mencengkeran kedua tangan Tari itu dengan kedua tangannga, sangat kuat. Sampai otot-otot lengannya tampak jelas. Itu karena Tari masih memberontak.
Lalu su sekuriti menarik paksa Tari untuk keluar dari lobbi.
"Ayo keluar. Kalau memaksa masuk, kami akan lapor polisi" ancam si sekuriti.
Tari masih memberontak. Ketika sekuriti itu membawanya keluar dan ketika sudah didepan pintu lobby, sekuriti itu akan mendorong Tari untuk segera menjauh.
"Tunggu, pak"
Terdengar suara seseorang. Mencegah tindakan si sekuriti. Sekuritipun mengurungkan niatnya dan menoleh kearah sumber suara itu.
"Pak Anton" kata si sekuriti ramah dan hormat pada Anton yang datang dari arah dalam kantor.
"Pak, biar saya yang mengantarkan nona ini pergi" kata Anton menawarkan jasa.
__ADS_1
"Baik, Pak. Baik..." kata sekuriti itu. Sambil membungkukkan badannya, memberi hormat.
"Lalalilili..." tiba-tiba hati Tari sudah bernyanyi kecil bahagia melihat Anton dan sikap hormat sekuriti itu pada Anton.
Tari bahkan tak dapat menolak, saat diajak Anton untuk pergi dari kantor Toni itu. Mereka berjalan tanpa kata-kata menuju mobil Anton. Hingga masuk ke mobil Anton dan sampai mobil itu meluncur, pergi.
Mungkin didalam mobil Anton, mereka berkenalan atau dikafe itu. Karena mereka singgah ke sebuah kafe dan banyak bercakap-cakap disitu. Percakapan yang didominasi Tari atas kemarahannya akan sikap Toni tadi itu. Juga atas kecurigaannya bahwa hubungan Toni dan Fitri masih terjalin. Sementara Anton menjadi pendengar budiman saja.
Tari menumpahkan semua kekesalannya. Tidak ketinggalan kekesalannya pada sekuriti dan semua orang yang tadi menertawakannya. Juga pada Ibu Pur, pada Karina dan semua teman-temannya dikampus. Terkhusus teman-teman satu kamarnya.
Tari mengumpat dan mengutuki mereka semua jadi batu. Bahkan dengan jujur mengatakan, akan membalas dendam kepada mereka semuanya. Tapi bagaimana pembalasan itu, Tari tidak sempat mengutarakannya pada Anton.
Karena tiba-tiba mulut Tari bungkam. Saat Anton membuka dompetnya untuk membayar biaya makan-minum mereka. Mungkin Anton tidak sengaja. Namun mata Tari telah menangkap isi dompet Anton. Aneka kartu kredit, ATM dan uang tunainya.
"Wow..." Tari berdecak kagum, tanpa suara. Karena Tari ingin cepat mingkem manis dan bersikap lembut pada Anton. Percakapannya pun sudah tidak lagi seputar kemarahannya pada Toni dan lain-lain. Melainkan say hello pada Anton dengan nada suara yang terpaksa dibuat halus dan manis. Hingga terjadi kesepakatan untuk melakukan pertemuan selanjutnya.
"Done !".
Terjadilah pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. Pembicaraan merekapun sudah berkembang. Walaupun cenderung menginterogasi Anton dengan nada ceria nan bahagia.
Apa pekerjaannya, apa pekerjaan orang tuanya, tinggal dimana dan blablabla....dan telah membuat Tari melupakan Toni. Ternyata masih ada pria tajir yang lain, selain Toni. Karena itu hati Tari berbahagia dan berbunga-bunga.
"Hah ?...Tari jatuh cinta ?. Serius lo ?!..." kalimat yang lagi trend dikampus mereka.
Apalagi Tari memamerkan kebahagiaannya itu didepan semua teman kampus dan terkhusus didepan Fitri dan teman-teman PKL nya.
Saat mereka sedang berdiri sejajar dihalte bus, didepan rumah sakit tempat mereka PKL. Tari berjalan sok anggun. Menuju ke sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti tidak jauh dari halte itu. Tanpa sepatah katapun. Hanya lirikan sinis dan dengusan kuat dari hidungnya. Sebagai ucapan pamitnya kepada teman-temannya itu. Lalu Tari masuk kedalam mobil itu.
Tentu saja teman-temannya itu terdiam, tercengang. Melihat pada Tari dan mobil mewah itu. Begitu mobil itu melaju pergi. Serentak teman-temannya itu menatap kepada Fitri.
"What !?" tanya Fitri gugup. Menyadari tatapan teman-temannya itu. Sebagai tatapan sindiran dan itu belum berakhir. Karena keesokan harinya, Tari menggabungkan diri bersama Fitri, dikantin rumah sakit.
"Hai..." sapa Tari khusus pada Fitri.
Fitri berusaha cuek. Sedang teman-teman lain sejenak menatap Tari. Lalu kembali asyik menikmati makan-minum mereka dan hp mereka.
__ADS_1
"Ambil tuh si Toni !..." kata Tari dengan nada tinggi. Membuat teman-temannya dan beberapa orang dikantin itu menatap Tari dengan tatapan penasaran. ***