PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Ancaman Wasiat


__ADS_3

Cepat atau lambat pengacara papi dan mami yang telah mengaktekan surat wasiat itu, pasti akan datang. Membacakannya didepan seluruh keluarga. Berarti ada pihak dari papi dan ada pihak dari mami.


Sedangkan posisi dirinya adalah pihak luar dari keluarga Bintang. Bagaimana sikap Tari nantinya, setelah mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak angkat yang tidak mempunyai hak waris. Kecuali hak atas rumah yang telah diberikan papi kepadanya ?.


Walaupun surat wasiat itu sekarang sudah entah dimana. Salinannya tetap ada pada pengacara itu.


Jika itu terjadi, Anton tidak ingin membayangkan kelanjutannya. Sebagai suaminya, Anton sangat mengenali Tari. Karena kemarahan Tari tidak akan berhenti pada akte dan pernyataan bahwa Anton anak angkat.


Tari tidak akan mau mempercayai itu. Bagi Tari hanyalah, keinginannya harus tercapai. Jika tidak, Happy yang akan menjadi sasarannya.


Anton resah sendiri memikirkan hal itu. Tiap hari selalu cepat pergi kerja. Walaupun tidak ada penumpang yang diantar. Pokonya Anton merasa harus segera keluar rumah. Pulang kerumah, sebelum Tari pulang kerumah. Jadi Anton bisa tidur beberapa jam.


Menitipkan Happy pada Mbak Min. Meninggalkan Tari masih dalam keadaan lelap tidur. Entah jam berapa Tari pergi kerja, Anton tidak tahu. Fikirannya sangat berkecamuk dengan masalah didalam keluarganya. Jadi tidak ada waktu memikirkan jam berapa Tari bangun dan pergi kerja.


Ketika Tari bangunpun, tidak mencari Happy. Keluar kamar sudah memakai seragamnya dan langsung pergi. Taksi on line sudah menunggunya didepan pintu pagar rumah.


Terkadang memang berpapasan dengan Bintang yang sudah mulai bekerja. Tapi Bintang hanya cuek. Tidak menatap Tari ataupun melirik secuil. Begitu pula jika berpapasan dengan Bila.


"Sombong !" bisik Tari didalam hatinya. Sambil membuang mukanya, kegeeran. Berkhayal jika Bintang atau Bila melirik padanya. Setelah mereka saling membelakangki.


"Tertipu...ternyata tidak" kata suatu suara didalam kepalanya yang menertawakannya.


Karena setelah Tari membuang mukanya. Sambil berjalan lebar untuk segera menjauhi mereka. Tari akan menyempatkan matanya melirik mereka dari sudut matanya.


Ternyata mereka memang tidak berniat sedikitpun memberi reaksi apapun kepada Tari.


Sikap mereka itu sangat menyakitkan hati Tari. Tari merasa tidak dihargai. Tidak dianggap ada dirumah itu, sebagai pemilik syah rumah itu. Semua itu sangat mempengaruhi suasana hatinya. Hatinya serasa terbakar. Hingga ubun-ubun kepalanya.


Sebelum pergi ke tempat kerjanya, Tari mampir di warung Mbak Ipeh. Mengkoar-koarkan amarahnya itu terlebih dahulu. Tentang sikap Bintang dan Bila yang baginya tidak tahu diri itu.


Setelah itu barulah Tari berangkat kerja. Itupun dengan sangat terpaksa. Karena Tari belum puas menuntaskan amarahnya.


Terasa waktu begitu lama ditempat kerjanya, yaitu di salah satu puskesmas kecamatan. Hatinya masih berkecamuk dengan amarah. Tidak bisa konsentrasi kerja. Harus bermanis ria dengan pasien.


"Puih !...Sangat menjijikkan" umpat Tari didalam hatinya. Entah pada pasien atau pada Bintang dan Bila yang selalu mengganggu fikirannya.


Tari ingin segera pulang. Padahal setelah pulang kerjapun, Tari akan manpir lagi di warung Mbak Ipeh. Melanjutkan amarahnya itu dengan topik yang sama. Boleh dikata siaran ulangan.


Setelah warung Mbak Ipeh tutup, Tari melanjutkan siaran ulangannya didepan Anton, secata live.

__ADS_1


"Memang gila semua keluargamu !. Jahat !...Munafik !...Tidak tahu diri !...Sombong lagi !...."


Anton hanya bisa menghela nafas berat, mendengar Tari.


"Berpapasan dengan aku, tidak ada yang memberi hormat padaku. Semua buang muka !. Usir mereka semua !...Antoonn !!..."


"Iya !"


"Iya kau bilang. Tapi kau masih tiduran !. Mau kubakar tempat tidur itu !. Usir mereka !...Sekarang !"


"Tidak bisa sekarang. Keluarga papi dan mami akan datang kesini"


"Datang kesini !?...Ada urusan apa !"


"Mendengar pengacara papi membacakan surat wasiat !"


"Deg !" jantung Tari menghentakkkan kuat. Seketika Tari terdiam, Lalu..


"Brak !"


Tari membuka dan menutup kembali daun pintu kamar dengan cara menghempaskannya sangat kuat.


"Pluk !"


Seketika Tari menendang kuat bokong Anton. Hingga Anton jatuh dari atas tempat tidur.


"Kalau aku tidak mendapatkan rumah ini !, maka siapapun tidak boleh !. Aku akan bakar rumah ini !"


Anton tidak menghiraukan ancaman Tari itu. Karena pantatnya terasa sangat. Anton hanya berjalan kesakitan menuju sofa yang ada di kamar ini. Lalu merebahkan dirinya dan fikirannya langsung berkelana jauh. Menimbang-nimbang dan mereka-reka.


Kalaupun akhirnya Bintang mengetahui surat wasiat itu dan isinya. Pastilah Bintang mengijinkan mereka tinggal dirumah ini sebagai penumpang.


Tari dengan muka temboknya, tidak akan mau. Karena Tari tidak merasa menjadi penumpang. Tari hanya mau jadi pemilik syah, berdasarkan tradisi patrilineal. Jika tidak, ancamannya itu bisa terjadi atau Happy yang akan terkena imbasnya.


Berbeda dengan apa yang ada difikiran Bintang dan Bila. Menurut Anton, Bintang dan Bila akan mau mengalah. Itupun demi Happy. Terbukti dari sikap diam mereka beberapa hari ini. Seperti yang dikatakan Tari sebagai sikap sombong mereka. Setelah kegaduhan malam itu.


Tari tidak dapat menerjemahkan sikap "sombong" Bintang dan Bila itu sebagai suatu kesadaran demi mencegah 'kebakaran' dirumah ini. Malah Tari menerjemahkannya sebagai awal mula perang didalam rumah dan Tari lah panglima perangnya.


Sebagai panglima, Tari merasa tidak harus ikut bertempur digaris depan. Tetapi sebagai pemasang strategi dan pemberi perintah. Antonlah yang harus melaksanakannya sebagai prajurit digaris depan.

__ADS_1


Warung Mbak Ipeh dijadikan Tari sebagai markas besarnya. Tempat dirinya mengamati situasi rumah mertuanya.


Padahal jika rasa takut Tari berteriak dikesombongannya bahwa dirinya adalah pemilik syah rumah mertuanya itu, pasti Tari akan mengakui; kalau warung Mbak Ipeh adalah tempat pelariannya dari rasa takut yang tidak mau diakuinya. Bukannya dijadikan jadi markas pengintaian.


Karena tanpa disadarinya, perselisihan yang selalu dibuatnya dirumah mertuanya itu, bagai 'batu besar' yang kapan saja bisa menggelinding kearahnya.


Pilihannya hanya ada dua, dia tergilas batu besar itu atau menghindar. Jika Tari berada dirumah tanpa Anton, Tari merasa digilas batu besar itu yaitu penyerangan dari Bintang dan Bila. Jadi dia merasa lebih baik menghindar ke warung Mbak Ipeh. Saat Anton tidak berada dirumah.


Padahal Anton pun sengaja berlama-lama pulang kerumah. Karena menghindar juga. Menghindar bertemu dari Bintang dan Bila.


Tapi itulah Tari yang tidak mau menerjemahkan sikap dingin keluarga Anton itu. Akibatnya emosi Tari semakin menggunung. Menganggap Anton lamban bertindak, bodoh, pengecut dan blablabla....


Inti dari emosinya, mengusir Bintang dan Bila. Serta melarang keras si pengacara membuka suara tentang isi surat wasiat itu.


"Memang kau bodoh !. Tolol !...Menyesal aku kawin dengan kau !. Mati sajalah kau !" umpat Tari kepada Anton, didalam kamar mereka.


"Siapa nama pengacara itu !"


"Danu Anggara"


"Dimana kantornya !"


"Rukan Bougenville"


"Cari di maps !"


"Untuk apa kau kesana"


"Diam kau, b*b* !. Tak perlu kau tanya-tanya. Kerjakan saja apa yang aku perintahkan !. Mana lokasinya !"


"Ini"


Taripun memperhatikan lokasi kantor sang pengacara itu di hp Anton.


Tidak menunggu waktu lama, Tari sudah meluncur ke lokasi kantor sang pengacara. Padahal pagi baru saja menjelang. Pintu pagar lokasi rukanpun belum dibuka sekuriti.


Tapi Tari tidak perduli. Semalaman Tari sudah gelisah. Tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur. Ingin segera menemui sang pengacara, yang bernama Danu Anggara itu. Sampai Tari terlupa, menyusun rencana jika nanti telah bertemu dengan Pak Danu Anggara itu.


"Persetanlah !...Kalau dia membantah gua, gua akan potong lidahnya" kata Tari dan berjalan masuk ke lokasi rukan.***

__ADS_1


(⚘For you all)


__ADS_2