PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Bayangan Hitam


__ADS_3

Tiba-tiba ada sekelebat bayang hitam. Melintas cepat dari samping gudang ini. Tari dapat mengetahuinya. Karena beberapa detik tadi cahaya bulan tertutup seketikam Kemudian muncul lagi. Tari pun melirik kearah lobag-lobang itu. Lalu kebawah pintu lemari. Deg !...ketakutan Tari muncul cepat. Mengganggu fikirannya dan mempengaruhi ketentramannya.


Mengapa tidak ?, dari celah bawah pimti Tari melihat bayangan itu berdiri didepan pintu. Kok bisa ?...padahal ada tumpukan meja dan kursi. Hati Tari yakin, itu pasti Mbah Kahpok. Seorang dukun sakti yang jelek. Tidak pernah tersenyum. Tatapannya setajam elang yang dipenuhi birahi. Banyak ditumbuhi kumis dan jenggot panjang. Tubuhnya kurus tinggi.


Berdasar kisah misteri yang sering ditonton Tari di TV, dukun sering memperkosa gadis-gadis. Nah...itulah yang ditakutkan Tari. Ketika melihat bayang hitam itu dan menyimpulkan itu adalah Mbah Kahpok. Jangan-jangan Mbah Kahpok akan memperkosanya.


Tari membelalakkan matanya untuk melihat lebih teliti lagi. Benarkah itu bayangan Mbah Kapok atau bayangan kursi dan meja-meja. Ups !...bayangan itu bergerak. Berarti benar itu Mbah Kahpok. Taripun bersiaga untuk dapat meloloskan diri. Jika pintu terbuka, Tari akan menerobos keluar. Lalu lari sejauh mungkin.


Benar saja, kemudian Tari mendengar suara berisik didepan pintu lemari itu. Suara kursi dan meja yang bergeser dan ada yang berjatuhan. Tari bersiap-siap akan lari menerobos pintu. Tapi tangan dan kakinya tak dapat digerakkannya. Bahkan jarinya pun tak dapat digerakkannya. Seakan seluruh tubuhnya membeku tak dingin dan kaku. Kalau begitu, Tari berteriak saja. Tapi suaranya tidak bisa keluar.


Berkali-kali dicobanya untuk berteriak. Tetap saja suaranya tidak bisa keluar. Seperti tertahan ditenggorokannya. Tari mencoba untuk berteriak lagi. Memaksa suaranya harus keluar. Walau dengan mengedan. Mirip seorang yang lagi berak dan memaksa tahinya untuk keluar. Tetap saja tidak bisa. Sampai Tari kelelahan dan bayangan itu masuk. Jleb !...Tari pun langsung tak sadarkan diri. Tak sempat melihat wajah si pemilik bayangan itu.


Ketika Tari terbangun, hari telah pagi. Tari mendapati dirinya ada diatas ranjangnya, didalam kamarnya. Garis wajah dikeningnya tidak menunjukkan bahwa Tari ingat akan kejadian itu. Sama seperti Tari ketika masik kecil dulu. Tiap kali mengalami kejadian seperti itu, nyaris setiap malam. Keesokan harinya, Tari sudah lupa pada kejadian itu.


Apakah benar lupa atau pura-pura lupa ?. Hanya karena Tari tidak pernah menceritakan kepada siapapun tentang kejadian-kejadian yang di alaminya itu. Padahal itu belum tentu mimpi. Buktinya dimalam terakhir mengalami kejadian didatangi bayangan hitam, menyisakan jejak di kedua pergelangan kakinya.


Ceritanya pada malam itu ada bayangan hitam masuk ke kamarmya dan mencengkeram kedua pergelangan kakinya. Tari ketakutan dan kesakitan. Lalu meronta-ronta untuk melepaskan kakinya. Tapi sia-sia. Alhasil pergelangan kakinya membiru dan terasa perih. Sampai entah beberapa hari kemudian, barulah sembuh dan tidak membiru lagi.


Ketika nangkring disebuah dahan besar pohon yang pertama ditanam ayah, yaitu si pohon mangga. Barulah Tari teringat kejadian-kejadian itu. Angin yang berhembus sepoi-sepoi, seakan membisikkan kejadian per kejadian yang di alami Tari. Nyaris semua kejadian yang pernah dialaminya, ditengah-tengah malam itu. Hilir mudik difikirannya. Meniup-niup ingatannya. Seperti sedang meninabobokkannya dalam kenikmatan nangkring ditemani tiupan angin. Padahal kemarahan, dendam dan kebencian Tari sedang dipupuk setan. Agar cepat tumbuh besar dan berbuah.


Sejak pohon itu tumbuh besar, dahan-dahannya menjadi tempat teraman buat Tari. Setiap pulang sekolah Tari akan memanjat pohon itu. Menghindar dari ibu. Nangkring santai dan menatap lurus kedepan. Membiarkan kantuk menyerangnya. Saat seperti itu, biasanya fikiran Tari kosong dan itulah saat yang tepat buat setan beraksi. Bersamaan dengan tiupan angin, setan menceritakan kembali kejadian-kejadian buruk yang menimpanya. Menggores-gores hati Tari. Menoreh luka yang setiap hari, semakin dalam dan perih.


Ketika hembusan angin telah berhenti, maka ingatan akan kejadian itupun berhenti juga. Tari tersadar dan duduk beberapa saat. Menunggu hari mulai gelap dan ibu sudah pergi, Tari pun turun. Membawa hatinya yang terluka diatas dendam, kemarahan dan kebencian yang berkobar-kobar.


Rutinitas itu yang dilakukan Tari setiap hari. Tiap kali turun dari pohon itu, luka dihatinya semakin dalam dan perih. Ingin marah dan berteriak. Tapi marah kepada siapa ?. Paling hanya jingkrak-jingkrak diatas tempat tidurnya. Sambil berteriak-teriak. Hanya beberapa kali Mbah Kahpok mengetuk pintunya, menyuruhnya diam. Tapi Tari tidak mengindahkannya. Setelah itu, Mbah Kahpok menyerah. Tidak pernah lagi menyuruhnya diam.


Siang ini pun Tari memanjat pohon itu kagi. Karena Tari melihat, pohon itu mulai berbunga, berbuah dan mudahan-mudahan sudah ada buah yang mateng. Aha...benar saja.


"Sudah mateeennnggg..."teriak Tari sendiri. Kemudian mendekati buah yang sudah mateng itu, dipetiknya dan langsung dilahapnya. Tanpa harus dicuci atau dikupas terlebih dahulu. Memakai giginya sendiri. Asyik sih...tapi tidak steril. Kata hati Tari, 'preeettt.. '. Saat menyantap buah mangga itu, tiba-tiba Tari ingat pada Kabila.


Kabila adalah teman satu kelas Tari. Merupakan anak tunggal dari kepala sekolah mereka. Ibunya seorang pengusaha properti sukses. Prestasi Kabila disekokah, selain cantik. Wajah seperti artis Kareena Kapoor. Kabila juga ketua tim volly disekolah, rangking satu umum, pernah meraih juara satu tingkat propinsi dalam perlombaan kimia dan banyak prestasi lainnya di sekolah. Intinya Kabila ini sangat populer dan berpengaruh di sekolah.


Kabila juga memiliki kelompok disekolah. Kelompoknya ini juga termasuk orang-orang yang nyaris sama kriterianya dengan Kabila. Terdiri dari siswi-siswi dari kelas lain, yang berprestasi dan tergolong sebagai anak orang kaya. Jadi siapapun yang jadi anggotanya, akan termasuk kelompok populer disekolah mereka dan sangat dihormati.

__ADS_1


Tari juga ingin jadi populer dan dihormati. Tapi tingkat kesadarannya mengingatkannya. Kriteria apa yang dimilikinya ?. Sebagai seorang anak Kadis di pemda ?. Itu bukan prestasi yang bisa masuk dalam kriteria Kabila n d gank. Kriteria minimal saja adalah juara harapan tiga di kelas masing-masing. Sedangkan Tari tak pernah masuk dalam rangking 10 di kelas. Lalu apa ?...


Kesadarannya mengakui bahwa tidak ada pada dirinya yang termasuk pada kriteria itu. Tapi tingkat kecemburuan dan iri hatinya, melarangnya untuk mengaku. Memaksa emosinya harus menjadi anggota Kabila n d gank. Emosinya sering menggulung-gulung. Tiap kali melihat Kabila n d gank. Hingga sering tanpa sadar, Tari memakan lahap buah mangga didalam kelas. Sampai mulut dan pipi belepotan daging buah mangga.



Memang sejak dari TK, Tari sudah dipersiapkan untuk tidak membawa bekal. Baik bekal makan, maupun bekal uang. Hingga Tari duduk dikelas 13 ini, Tari tidak juga didanai uang jajan. Untunglah ada buah mangga ini. Jadi untuk beberapa bulan kedepan, Tari punya bekal makan. Makan buah mangga setiap hari.



Iya...sejak Tari panen buah mangga. Tari selalu membawanya ke sekolah. Sebagai bekal makan siang. Minimal dua sehari. Setiap jam istirahat, para temannya berbondong-bondong ke kantin. Tari hanya diam didalam kelas. Melahap buah mangga dan melirik ke arah Kabila dan beberapa teman yang sedang merapikan penampilan.



"Cuih !...masih siswi kelas 13, mau kekantin saja harus cantik. Sisiran lah, mengoles bibir pakai lip-lip apaa...gitu. Semprot-semprot diwajah, ditubuh, dirambut...capek deeehhh..."kata Tari didalam hati. Penuh emosi kecemburuan.




Maka entah basa-basi atau tulus. Kabila dan beberapa orang teman itu mendekati Tari. Biasanya mereka cuek kepada Tari. Wajah merekapun tampak tersenyum ramah pada Tari. Sebelum mereka menyapa Tari.



"Beli dimana, Ri" tanya Kabila ramah.


"Gak beli...pohon sendiri" jawab Tari ketus.


"Pohon mangga kamu ?" selidik Kabila, masih ramah dan tergiur melihat daging buah mangga itu. Tari hanya menggangguk, cuek.



"Banyak gak, Ri...buahnya"

__ADS_1


"Banyak"


"Gue beli...bisa gak ?"



Cling !...ide cemerlang bergemerinncing seketika difikiran Tari. Begiti Kabila mengajukan untuk membeli buah mangganya. Setan pun mengerling difikirannya. Tanda setuju dengan ide Tari itu.



"Gua gak jual. Nih !..." Tari memberikan satu buah mangga utuh kepada Kabila, yang diambilnya dari dalam tasnya.



"Jangan, Ri...gue bayar saja. Berapa ?"


"Gak usah...masih banyak kok dirumah gue. Kalau lo suka, besok gue bawa lagi"


"Serius lo ?...gak mau gue ganti uang"


"Serius...Nih..cicipi" kata Tari lagi dan menyodorkan daging buah mangga dari tempat bekalnya. Langsung beberapa teman yang tadi itu menjulurkan tangannya. Mengambil daging buah mangga itu dan mencicipinya.



"Wow...manis banget" kata salah seorang dari teman mereka itu. Kabila pun mencomot sedikit daging buah mangga itu dari tempat bekal yang disodorkan Tari dan menikmatinya.



"Iya...manis banget. Kayak wajah lo, Ri...manisnya."



Dek !...jantung Tari berdetak kencang mendengar kata pujian Kabila itu. \*\*\*

__ADS_1


__ADS_2