PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Wasiat


__ADS_3

"Kalau mengenai itu, kalian bicarakanlah baik-baik. Si Anton yang harus bicara. Sekarang dia kepala rumah tangga dirumah itu:


"Cling !..."


Tari mendapat pencerahan dan dukungan dari pembicaraannya dengan Tantr Hombing. Berarti tidak sia-sia tadi Tari terpaksa mendengar nasehat Tante Hombing.


Maka tanpa diskusi dengan Anton, bergegas Tari berkemas-kemas untuk segera pindah kerumah mertuanya itu.


Berbekal pencerahan dari Tante Hombing, bahwa kini Anton kepala rumah tangga dirumah mertuanya. Berarti dirinya adalah nyonya rumah. Segala keputusan yang diambil dan diperbuatnya adalah hak absolutnya. Tak seorang pun dapat membantah. Apalagi seorang Anton.


"Kau fikir aku bodoh, seperti kau !. Kalau kau tidak tinggal dirumah itu, bisa-bisa sebentar lagi rumah itu beralih nama. Jadi nama suami si Bila. Fikirkan itu !...Kau rela hasil jerih orang tua mu beralih ke orang lain. Fikir, bodoh !"


Sambil terus ngedumel, mempenharuhi Anton; Tari packing barang-barang mereka. Lalu memerintahkan Anton untuk segera membawanya kerumah papi.


Anton masih berusaha mencegah Tari. Tapi malah dapat cacian, tendangan dan tamparan dari Tari. Happy yang mendengar suara berisik dari mulut Tari dan grasak-grusuk Tari, menangis kencang.


"Cup...cup...sayang..." kata Anton berusaha menenangkan Happy.


"Hei !...b*b* !...barang-barang ini urusin. Masukkan semua kemobil. Biarkan anak itu nangis. Tidak bakalan mati dia, karena menangis"


"Tari...tidak seperti ini. Kita harus membi....:


"Pletok...Plak !..."


Anton berusaha menjelaskan sesuatu. Tapi sebuah sapu melayang kearah Anton dan mengenai keningnya.


Anton meringis, Happy semakin kencang menangis dan Tari semakin beringas packing.


"Rumah itu sudah menjadi milik si Bintang. Juga mobil yang biasa dia pakai, klinik...itu milik si Bintang" kata Anton to do point dengan wajah sedih. Sambil menimang-nimang Happy dalam dekapannya.


"Apa !?"


Tari kaget, berhenti packing dan menatap tajam mata Anton.


"Ulangi sekali lagi. Mungkin aku salah dengar"

__ADS_1


"Aku menemukan surat wasiat papi, diantara dokumen asuransi papi dan mami yang sudah aku ambil terlebih dahulu. Berikut buku tabungan mereka"


"Tidak mungkin !. Mami mu sendiri yang bilang ke aku. Kalau rumah itu kepunyaan kita"


"Terserahlah..." kata Anton lesu dan meletakkan Happy diranjang mereka. Karena Happy sudah tertidur lelap.


"Mana surat wasiatnya. Aku mau melihat !. Aku harus baca"


Anton pun mengambil surat wasiat yang dimaksudnya dari dalam lemari pakaian mereka. Lalu menyerahkannya pada Tari.


"Bacanya jangan didalam kamar. Happy lagi tidur"


"B*b* kau !...Berani kau mengatur aku"


Walaupun marah, tapi Tari mematuhi Anton. Pergi keluar kamar dan Anton segera menutup pintu kamar tidur mereka. Karena Anton sangat yakit, Tari pasti berteriak begitu membaca surat wasiat itu.


Benar saja dugaan Anton. Begitu Tari membaca surat wasiat itu, seketika wajahnya berwarna merah padam. Kemudian perlahan membentuk kerutan tajam. Seperti kerutan dikulit jeruk purut yang sudah mulai mengeras.


"Tidak. Ini palsu. Ini palsu. Ini tidak mungkin. Antoooooonn !!!!...B*b* kau !....Bodoh kau !...Ini palsuuuuuu !!!!.."


"Orang tuamu itu jahat !. Kau dianggap sampah !. Kau tidak dapat apa-apa !. Kecuali rumah ini saja !. Bangsaaaaattt !!!..."


Anton juga mendukung kemarahan Tari itu dalam diamnya. Hatinya sungguh sangat kecewa pada papi yang ternyata masih membuat perbedaan diantara mereka. Padahal papi dan mami sudah pernah berjanji, tidak akan membuat perbedaan. Walaupun Anton anak pungut. Anak yang diambil dari panti asuhan.


Anton masih ingat waktu itu. Pertama kali papi dan mami berkunjung ke panti asuhan itu. Anton sangat suka pada mereka. Anton berharap diangkat menjadi anak mereka.


Melihat kelemahlembutan mami. Juga keluruhan mami yang rutin memberi santunan kepada panti asuhan itu. Lalu memberi perhatian dan kasih sayang kepada semua anak-anak dipanti asuhan itu. Anton sangat terpikat pada papi dan mami.


Untungnya papi dan mami juga terpikat pada Anton yang waktu itu sakit-sakitan. Anton secara khusus diperhatikan mami. Lalu diangkat menjadi anak papi dan mami. Saat itu Anton ingat kata-kata papi, bahwa akan menganggap dan memperlakukan Anton sebagai anak kandung.


Tidak akan membeda-bedakannya dari kedua kandung mereka. Waktu itu masih ada Theo dan Bila. Jelang tiga tahu Anton telah diangkat jadi anak kandung, mami hamil lagi. Saat itu usia Anton masih enam tahun. Pada usia yang ketujuh tahun, Bintangpun lahir.


Anton sangat bahagia mempunya adik perempuan. Hari-hari Anton semakin indah dan berwarna.


Tapi kini warna itu yang tersisa hanyalah hitam. Gelap dan pekat. Sejak Anon mengetahui surat wasiat itu. Anton merasa ditipu oleh papi dan mami.

__ADS_1


"Ternyata mereka bohong. Papi dan mami jahat" keluh Anton didalam hatinya. Tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Tari.


Kemarahan dan kekecewaan itu dipendamnya di dalam hati. Membuat Anton dirundung kegelisahan. Bahkan malam harinya tidak dapat membuat Anton tertidur.


Karena masih sangat diselimuti kekecewaan. Tambahan lagi Happy yang juga gelisah. Sesekali menangis kencang. Jika tersentak dari tidurnya. Padahal tubuh dan fikiran Anton sangat letih. Anton sangat ingin ketenangan, kesunyian dan tertidur lelap.


Anton pun harus menimang-nimang Happy dalam dekapannya. Memberinya susu, bersiul. Mencoba meninabobokkan Happy. Tapi Happy masih saja menangis. Jika Anton meletakkannya dikasur dan berhenti bersiul.


Sedangkan Tari masih seperti biasa, di warung Mbak Ipeh. Berkeluh kesah dengan rangkaian kalimat jahat dan kotor. Padahal kali ini Mbak Ipeh sudah berpura-pura tidur di dipan yang ada disudut warungnya itu. Berharap Tari juga akan berhenti, lalu pulang.


Kalau Tari tidak dapat istirahat. Akibat kebencian dan kemarahannya, setidaknya membiarkan Mbak Ipeh istirahat tidur. Agar besok pagi badan segar lagi dan dapat berdagang lagi.


Apakah Tari tidak mengerti juga, bahwa malam dijadikan Tuhan untuk orang-orang beristirahat. Haruskah Mbak Ipeh berkata terus terang ?. Jika harus dilakukan, wah...itu artinya Mbak Ipeh menabuhkan genderang perang kepada Tari.


Bermusuhan dengan pelanggan, apalagi pelanggan royal; adalah tabu bagi seorang pedagang. Pelanggan royalnya pasti marah. Lalu memusuhi si pedagang itu.


Itu namanya menjauhkan rejeki. Malapetaka besar akan selalu terjadi pada rejeki dagangannya.


Harapab Mbak Ipeh yang tersisa hanyalah membiarkan kantung menyerang dirinya. Lalu menutup telinga, juga matanya. Maka biarlah Tari berteriak-teriak pada angin malam. Merusak nyanyian para kelelawar yang sedang mencari makan dan bersenang-senang dengan pasangannya.


"Coba saja Mbak Ipeh bayangkan, perempuan seperti apa si Bintang itu. Berani membuat surat wasiat palsu atas nama orang tuanya. Dia fikir gua bodoh. Gua akan laporin dia ke polisi. Lihat saja nanti"


Tentu saja Mbak Ipeh tidak mendengar Tari lagi. Kantuk berat telah menyerangnya. Hanya suara ngoroknya yang kemudian terdengar dan sepertinya mengingatkan Tari bahwa hari telah larut malam.


Walaupun kesal, terpaksa juga Tari pulang kerumahnya. Memesan taksi online untuk mengantarkan dirinya kerumah mereka.


Tiba dirumahnya, masuk melangkah kerumahnya dengan membawa ocehannya yang bising. Membuat Happy terganggu dan terbangun lagi. Lalu menangis lagi.


Antonpun terpaksa terbangun juga. Lalu menimang-nimang Happy lagi dalam dekapannya. Berusaha meredakan tangisan Happy yang terganggu suara ibunya sendiri.


Antara kekesalan yang menumpuk. Akibat belum puas tidur. Lalu suara bising Tari, spontan Anton akhirnya menyetujui keinginan Tari. Berharap Tari akan segera diam.


Ooo...itu bukan Tari yang mengetahui secara tersirat harapan-harapan tulus orang disekitarnya. Apalagi dengan bahasa yang panjang lebar. Tapi tidak tepat sasaran.


Karena begitu bahagianya mendapatkan 'lampu hijau' dari Anton. Tari sudah menimbulkan keributan baru.***

__ADS_1


(thanks masih tetap dinovel saya ini. loop u all♥️)


__ADS_2