
"Diskusi selesai...Semua keluar !...Sekarang !" perintah Opa dengan spontan berdiri dan menatap tajam kemata mereka satu persatu.
"Tapi Opa..." sela Maya masih ingin berbantah.
"Kamu protes lagi...Aan dan Putra, saya pecat !. Pilih mana !.."
"Ayo..."
Della menarik tangan Maya dan menggandeng tangan Sasha untuk pergi, melangkag keluar. Membawa kedongkolan dihati mereka. Menyalahkan Opa yang seenaknya membuat peraturan dengan ancaman. Juga sangat menyalahkan Tari.
Sementara Tari masih dipenuhi kemarahan dan semakin penuh kemarahannya. Hingga meluap dengan menendang-nendang pintu pagar rumah Tante Hombing yang terkunci.
Itu terjadi ketika Della, Maya, Sasha, Aan, Putra dan dua orang sekuriti Opa Chan; sedang berdiskusi diruang kerja Opa Chan tadi.
Pasalnya saat Tari tiba didepan rumah Tante Hombing, pintu pagar rumah Tante Hombing itu terkunci. Jadi Tari langsung baperan. Menduga kalau Tante Hombing sengaja mengunci pintu pagar rumahnya itu. Agar Tari tidak bisa masuk.
Tanpa ingin mencari tahu, mengapa pintu pagar rumah Tante Hombing itu terkunci. Malah Tari beberapa kali menendang pintu pagar itu. Lalu pergi menuju warung Mbak Ipeh.
Beruntung warung Mbak Ipeh buka. Kalau tidak, pasti amarah Tari semakin naik lagi. Lebih beruntung lagi, warung Mbak Ipeh sedang ramai. Berarti akan banyak orang akan dirasukinya lagi dengan kemarahannya.
Tapi baru saja Tari akan mulai memuntahkan amarahnya, Mbak Ipeh yang baru selesai menggoreng sessi yang entah keberapa. Langsung menyapa Tari dan menyampaikan kabar buruk buat Tari dan kabar bahagia bagi Bintang.
"Hei...Ri" kata Mbak Ipeh menyapa Tari. Sebelum Tari duduk untuk mencomot goreng pisang krispi kesukaan Tari.
"Si Bintang dihadiahi mobil baru ya...sama mertua papi lo. Katanya sih...hadiah ulang tahun si Bintang. Bintang kan hari ini ulang tahun. Kita-kita semua dikasih makan nasi kotak tadi sama mertua mami lo" lapor Mbak Ipeh tanpa rasa bersalah pada Tari.
"Duar !....Duar !..."
Serasa ada petir yang menyambar-nyambar kepala Tari dan membakar tidak hanya kepalanya. Tapi seluruh isi kepalanya.
Tari pun segera menarik tangannya dari ujung sebuah goreng pisang krispi. Tak ada niatnya lagi untuk duduk menikmati satupun gorengan Mbak Ipeh. Tari segera menghambur pergi dari warung Mbak Ipeh.
"Hei...Ri...Lo..." panggil Mbak Ipeh. Tari terus melangkah dengan langkah lebar. Membawa-bawa lagi kemarahannya yang sudah semakin membesar. Kali ini sungguh pulang kerumahnya dan akan memuntahkan amarah itu pada Anton.
Sesampainya dirumah, Tari melihat Anton akan menyantap mie rebus instan yang baru saja direbus Anton. Tangan Tari sangat cepat menampar kepala Anton dengan kuat.
"Ap...."
__ADS_1
Hanya itu kata yang sempat keluar dari mulut Anton untuk mencetuskan kekagetannya. Karena keningnya telah membentur tepi mangkok mie itu.
Mangkok itupun jatuh keatas lantai. Mie, kuahnya, sepasang sendok-garpu dan segala isi mangkok itu berhamburan diatas lantai.
Anton hanya bisa melonjak. Hingga kursi makan yang tadi didudukinya, terjungkal kebelakang. Lalu melompat-lompat kecil. Menghindari tumpahan dan percikan kuah mie itu. Agar tidak mengenai perut ataupun pahanya.
"Setiap hari kau hanya makan mie rebus. Itupun mie yang kubeli dari uang ayahku. Padahal adikmu si Bintang yang kurang ajar itu, mendapatkan hadiah mobil baru dari papimu. Itu tidak adil namanya !. Tidak adil !..." kata Tari dengan berteriak. Sambil berjalan mondar-mandir didekat Anton yang masih membersihkan celananya dari tumpahan mie yang terkena dan menempel dicelananya itu.
Saat berjalan mondar-mandir itu, sesekali kaki Tari menginjak tumpahan mie yang ada diatas lantai itu. Tidak memperdulikan Anton yang kini mulai membersihkan lantai itu.
Bahkan ketika kakinya menginjak sisa mie itu, spontan tangan Tari mengemplang kuat kepala Anton atau menendang kaki Anton. Lalu memaki Anton dengan sebutan anjing, babi, monyet. Tidak pernah menyumpahi Anton berubah menjadi Pangeran Andrew dari Inggris.
"Aku tidak mau tahu !. Pokoknya...kau juga harus mendapatkan mobil baru. Mobilmu yang lama itu jual saja. Uangnya bisa dipakai untuk modal usahamu. Misalnya ternak babi. Kau pantas jadi juragan babi. Kau dengar aku Anton !"
Anton hanya mengangguk-angguk. Sambil menyelesaikan membersihkan lantai itu dari tumpahan mie. Untung saja tadi mangkoknya terbuat dari plastik. Kalau tidak, pasti pecahan mangkok sudah bercampur dengan tumpahan mie.
Bisa jadi tangan dan kaki Anton tergores pecahan mangkok. Itu masih belum seberapa. Masih bisa diobati. Bagaimana jika kaki Tari yang keinjak pecahan mangkok. Bisa jadi pecahan mangkok itu digores-gores Tari diwajah Anton.
"Wuih..." keluh Anton didalam hatinya.
Sudah lama jadi pengangguran, selalu dihadiahi Tari dengan keluh kesah berbau kebencian dan amarah. Tentu saja membuat Anton sangat mudah dirasuki Tari.
Anton pun mematuhi perintah Tari. Mengajukan permohonan mobil baru kepada orang tuanya.
"Anton mau jadi sopir taksi online saja, mi. Sambil menunggu Anton dapat ide untuk buka usaha"
"Ya...itu baik, papi setuju. Bagaimana dengan mami"
"Mami juga setuju, mi"
Anton tampak senyum bahagia. Menatap kedua orang tuanya itu yang sangat mendukung apapun yang dilakukannya.
"Syaratnya memang mobil harus tahun keluaran baru, pi. Keluaran lama dianggap tidak layak membawa penumpang"
"Iya...ya...papi paham. Kamu pilihlah mobilnya. Nanti papi tranfer dananya"
"Iya, pi. Makasih ya pi...mi..."
__ADS_1
"Muah....Muah..."
Anton mencium pipi kedua orang tuanya. Karena sangat bahagia. Selain dapat mobil baru, yang lebih membuat Anton bahagia adalah akhirnya bisa mendapatkan uang dari hasil kerjanya.
Tapi begitu Bintang mendapat kabar, bahwa Anton juga minta dibelikan mobil baru; Bintang seperti mencium ada aroma kecemburuan Tari yang menyertai alasan Anton itu. Kecurigaan Bintang itu dia sampaikan pada orang tuanya, disuatu siang yang cerah.
"Kamu tidak suka kalau abangmu bisa mencari uang sendiri untuk dikasih ke istrinya" tanya mami ke Bintang dengan nada sedih, kecewa.
"Bukan begitu, mi. Malah Bintang sangat bangga, Bang Anton punya penghasilan sendiri. Jadi tidak direndahkan Tari lagi"
"Tari itu kakak kamu Bintang" papi mengingatkan Bintang tentang kesopanan menyebut seseorang.
Bintangpun hanya tertunduk, tapi sejenak. Lalu kembali menatap papi dan maminya, silih berganti.
"Bintang hanya kasihan sama Bang Anton, mi...pi...Pasti dia diperalat Tari untuk minta dibelikan mobil. Karena papi dan mami belikan Bintang mobil baru"
"Bintang, papi sudah ingatkan kamu. Tari itu kakak kamu. Panggil dia Kak Tari"
Bintang pun mendesah, kecewa. Merasa pendapatnya tidak digubris kedua orang tuanya.
Tanpa mereka ketahui, ternyata Anton mendengar pembicaràan mereka itu. Segera Anton memilih undur dan pulang kerumahnya.
Padahal tadi niatnya akan makan siang dirumah orang tuanya itu. Tapi begitu mendengar pembicaraan mereka, niatnya itu segera diurungkannya.
Anton jadi membernarkan prasangka-prasangka Tari, bahwa keluarganya mengucilkannya. Bintang sangat membenci Tari. Menganggap Tari sebagai saingannya untuk mendapatkan harta orang tuanya. Terkhusus klinik papi.
"Hahahahaha..."
Ada sekumpulan mahluk jahat yang tertawa bahagia. Tari telah berhasil memuridkan Anton untuk penularan kebenciannya. Kebencian itu pun kini sudah berbuah.
Anton yang telah dirasuki kebencian itu. Tanpa sepengetahuan Tari, menemui Bintang ke kamarnya dengan membawa oleh-oleh kebenciannya.
"Apalagi yang kau katakan ke papi dan mami" tanya Anton yang tiba-tiba masuk kekamar Bintang dan langsung melontarkan pertanyaan jahat itu.
Seketika membuat Bintang kaget, terdiam.***
(Bagi yang membaca: thanks ya. Semoga suka dan novel ini dpt jadi inspirasi untuk kamu buat novel yang terbaik. Lop u all⚘)
__ADS_1