PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Rencana Jahat


__ADS_3

Saat Tidur Tari sudah dalam setengah perjalanan lelap, ibu tiba dirumah dari pasar. Baru saja membuka pintu gerbang dan melihat Tari tertidur. Masih mengenakan seragam sekolah dan bukunya yang berantakan, seeeerrr....setan kemarahan meniup darah ibu. Langsung mendidih di ubun-ubun.


"Tariiii !!!!..." teriak ibu. Sambil berjalan cepat kearah Tari. Tapi karena sudah letih, ditambah banyaknya masalah yang dihadapi saat dipasar tadi; ibu merasa kurang cepat tiba didekat Tari untuk membangunkannya dengan kasar. Entah dengan menendang tubuhnya, menjambak rambutnya ataupun menginjak kepalanya.


Bukan ibunya Tari, jika hanya pasrah mengelus dada. Namun sebuah keranjang belanja yang berisi ikan, kentang, wortel...dilemparkannya kearah Tari. Buk !...tepat mengenai punggung Tari. Tari tersentak bangun, gelagapan dan duduk. Belum kesadarannnya pulih untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi menimpa tubuhnya. Masih memicingkan matanya, menguceknya dan mencari tahu benda apa gerangan itu ?.


Belum juga menemukannya. Satu kepalan tangan ibu telah menghantam keningnya. Buk !... spontan Tari menangis kencang. Karena sakit dan kaget. Tapi lebih kaget lagi melihat ibu telah berdiri didepannya. Hatinya yang masuh kanak-kanak tidak menanggak garis wajah ibu. Mirip Wajah wajah drakula kehausan.


Sebagai anak-anak yang tidurnya terganggu dan melihat ibu ada didepannya, Tari semakin menangis kencang. Ingin mengadukan kesedihannya dan butuh ibu untuk memeluknya. Tapi ini adalah Ibu Siti ( demikian nama ibunya Tari). Mendengar tangisan Tari, darah ibu langsung mendidih.


Tangan ibu semakin ringan ketubuh Tari. Memukul lengan, kepala...Tangisan Tari semakin kencang lagi. Kaki ibu pun bereaksi. Menendang kaki, perut...


"Catiiiittt bu..."


"Makanya diam kau !. Diam Kubilang !. Diaaammm !!!..."


Amarah ibu semakin mendidih. Membuat ibu kepanasan dan panik. Menjewer kencang telinga Tari dan menariknya keatas. Terpaksa Tari bangun berdiri. Mengikuti gerakan tangan ibu menarik telinganya.


"Berapa kali ibu bilang !, pulang sekolah ganti bajumu !."


"Iya, bu...ampuuunnn..."


"Kau fikir tidak capek mencuci bajumu, ha !. Kau fikir mencuci baju tidak pakai sabun !. Tidak pakai air !. Kau fikir bapakmu kasih uang untuk beli sabun !...untuk bayar air !..."


"Ampun, bu. Catit" suara Tari sudah terisak. Barulah ibu melepaskan tangannya.


"Bukumu pun berantakan !..." Plak !...ibu menampar kepala Tari. "Ganti bajumu !. Rapikan bukumu !. Kalau tidak, kuikat kakimu. Kugantung kau ditiang lampu jalan. Dengar kau !."


"Dengal, bu"


Segera Tari merapikan buku-bukunya. Sambil menahan tangisnya. Padahal rasa sakit dipunggung, pipi, telinga dan kaki; masih terasa sakitnya. Tari ingin sekali melampiaskannya dengan tangisan. Tapi ancaman ibu begitu terasa gemanya. Membayangkan dirinya digantung pada tiang lampu jalan yang ada didepan rumah mereka.

__ADS_1


Tiang lampu itu tinggi. Tari tidak akan bisa bebas turun untuk makan dan minum. Terus tidak bisa bertemu dengan Miss Cecil. Jadi lebih baik merapikan buku. Besok disekolah, Tari akan mengadu ke Miss Cecil. Biar ibu disihir Miss Cecil jadi kodok. Begitu fikir Tari.


Sementara ibu sudah masuk kerumah. Mencari-cari Erika dan Riris. Padahal Erika dan Riris sudah langsung keluar rumah. Ketika ibu menceramahi Tari tadi. Mereka menyelinap dari samping rumah. Ketika ibu masuk kerumah, mereka pun langsung lari kencang.


Saat itu Tari sedang merapikan buku-bukunya. Tari hanya terdiam, terpelongo melihat mereka lari tunggang langgang. Sampai menabrak motor ibu yang terparkir percis didepan pintu pagar. Bruk !...motor pun jatuh.


"Erikaaaa !!!!...Ririiiiss !...kubunuh kalian semua. *nji*ng kau semua !. Mati sajalha kalian semua !" teriak ibu. Sambil berlari kearah teras lagi.


Melihat motor jatuh dan ibu berlari lagi ke arahnya, spontak Tari ketakutan. Tiba-tiba ada suara didalam kepala. Memerintahkannya untuk, "lariiiii...". Tari pun segera berlari. Menyusul Erika dan Riris. Membiarkan buku-bukunya yang belum semua dirapikan.


"Tariiii !!!..."


Terlambat buat ibu menghentikan Tari. Tari yang kecil kurus, tubuhnya sangat ringan seperti terbang. Tertiup angin dan entah dibawa kemana. Ibu hanya bisa berdiri mendengus disamping motornya. Spion sebelah kanannya patah.


"Anak kurang ajar kalian semua !. Kusumpahi kalian mati diluar sana !...Gilaaaa !!!!...Jangan pulang kalian. Kalau pulang, kubunuh kalian semua !...." kata ibu dengan berteriak sangat kencang. Sambil berusaha mendirikan motornya. Tapi jatuh lagi. Karena tenaga ibu lebih terkuras untuk marah-marah dan berteriak.


Kebetulan tetangga lewat yaitu sepasang suami istri, melihat ibu kesulitan mendirikan motornya. Si suami berniat akan membantu ibu. Lalu segera mendekatinya.


"Mata kalian itu !" kata ibu lagi menantang sang istri yang menatap tajam pada ibu.


"Ayo, pa" kata si istri. Menarik tangan suaminya dan mereka segera mereka pergi. Merasa menyesal punya niat akan membantu ibu tadi. Penyesalan yang tidak dapat terungkapkan. Hanya berusaha mengabaikan sikap Ibu Siti.


Para tetangga sebenarnya sudah sangat mengetahui watak Ibu Siti yang temperamen. Sering memaki dan mengumpat anak-anaknya. Malah pernah menyeret Erika dari rumah salah seorang tetangga. Sambil menginjak-injak Erika.


Banyak ibu-ibu tetangga sampai turun tangan. Ikut melerai dan melepaskan tangan Ibu Siti dari rambut Erika. Malah seorang dari ibu-ibu itu ditendang kuat Ibu Siti. Sampai jatuh terpelanting kebelakang. Akhirnya Ibu RT dan Ibu RW turun tangan untuk menyelesaikan masalah itu.


"Tindakan seperti ini harus menjadi yang pertama dan terakhir ya, Ibu Siti. Jika tidak, kami akan lapor kepolisi" demikian kata Ibu RW. Ibu Siti tidak menjawab. Hanya ngedumel memaki semua tetangga-tetangganya.


Selagi kita tadi membahas masalah Ibu Siti dan tetangga-tetangganya. Ternyata Tari telah berhasil menyusul Erika dan Riris yang bersembunyi dibelakang sebuah warung. Warung itu tidak jauh dari rumah mereka. Sekitar ada dua rumah dari rumah mereka.


"Ngapain kau kesini !. Pergi sana !. Pergi !" kata Erika pada Tari.

__ADS_1


"Tau pun...cini tau" jawab Tari protes.


Bahasa Tari memang tidak sempurna. Tapi Erika mengerti bahwa Tari memprotes dirinya yang bersembunyi ditempat ini. Kali ini Erika tidak marah pada Tari. Apalagi berniat mengusir Tari dari tempat ini. Posisi Erika dan Riris tidak dalam berkuasa untuk menjahati Tari. Jika Erika bersikeras mengusir Tari, bisa-bisa Tari akan menangis kencang.


Telinga ibu sangat sensitif dengan suara tangisan Tari. Sejauh apapun dan dimanapun Tari menangis, pasti ibu bisa mendengar. Apalagi diwarung ini yang hanya berjarak dua rumah saja. Pastilah ibu bisa mendengarnya. Karena suara Tari seperti suara hiu. Volumenya melebihi batas maksimal dan sangat cepat.


Secepat ibu menanggak suara itu dan secepat pergerakan ibu mendekati sumber suara itu. Jadi dua kecepatan bertemu. Pasti mengalahkan kecepatan Erika dan Riris untuk lari menghindar. Sebelum mereka berlari, pasti ibu sudah lebih dulu tiba dan memergoki mereka. Aaahhh...itu sangat tidak baik.


Maka tidak apalah sesekali kompak dengan Tari. Mudah-mudahab untuk sesaat ini saja. Kali saja Tari bisa dijadikan sekutu. Soalnya Erika melihat ada masalah yang baru, yaitu Erika tergiur melihat aneka jenis jajanan yang terpajang di warung ini. Beberapa anak-anak tetangga sedang jajan dan ada yang sedang menikmati jajanan itu. Mata dan tenggorokan Erika ingin dipuaskan oleh jajanan itu.


Kalau meminta dari mereka, pasti tidak diberi. Kalau pun diberi, pasti hanya sekedar mencicip. Mana Erika puas. Erika inginnya melahap, sampai kenyang. Sementara Erika tidak punya uang. Uang jajan yang kemarin diberi ayah, sudah habis. Pasti Riris juga demikian. Uang jajan mereka kan sama. Sama-sama sudah habis. Kalau uang jajan di 'botak' Tari, memang sama sekali tidak ada. Tidak pernah diberi ayah. Ibu melarang keras Tari diberi jajan.


Tadi terlintas dibenak Erika untuk mengambil uang ibu. Nah...rencana itu membutuhkan kerja sama dengan Tari. Karena itu Tari tidak diusir Erika. Kemudian Erika merundingkan hal itu kepada Riris dengan di dengar oleh Tari.


Merunut kebiasaan ibu yang tidak pernah berlama-lama dirumah. Setelah selesai mengurusi ayam-ayam, mandi beberapa gayung tanpa sikat gigi, makan dengan lahap dan wuuusss....Ibu pergi lagi dan entah kemana. Erika, Riris dan Tari tidak pernah perduli. Tepatnya diharuskan untuk tidak perduli dengan urusan ibu diluar sana. Kalau boleh nih ya...ibu diluar rumah saja seterusnya.


Begitulah keinginan hati mereka yang tidak dapat diucapkan. Sikap ibu yang kasarlah yang mengharuskan mereka untuk tidak perduli pada apapun yang dilakukan ibu diluar sana. Seperti biasanya juga, ibu akan kembali rumah pada tengah malam. Saat itu Erika, Riris dan Tari sudah tidur lelap.


Jadi sekarang baiklah mengintai ibu dari balik tembok pagar tetangga sebelah rumah. Benar saja !, baru saja mereka bersembunyi dibalik tembok itu. Ibu sudah muncul didepan pintu pagar rumah mereka.


Motornya yang sedari tadi berada di depan pintu pagar itu, langsung distaternya. Barukah ibu naik dan nguuung...ibu meluncur bebas. Membiarkan spion kanan berjuntai-juntai tak berdaya didepan stang motor itu.


Kebiasaan buruk ibu yang lain adalah, membiarkan pintu pagar terbuka. Mengharap ayah yang menutupnya. Ketika sudah pulang kerja dan tiba dirumah. Ibu tidak pernah tahu. Kalau lebih dari seminggu terakhir ini, ayah sudah telat pulang kerumah. Setelah lewat magrib, barulah ayah tiba dirumah.


Itupun tidak dipersoalkan Erika, Riris dan Tari. Malah itu sangat baik untuk melancarkan aksi mereka sore ini. Jangankan menutup pintu pagar, pintu rumah dan pintu kamar mereka pun tidak pernah ditutup ibu.


Maka sangat bersorak gembiralah Erika dan Riris akan kebiasaan buruk ibu itu. Tanpa mengendap-endap, Erika langsung masuk kekamar ayah dan ibu. Sementara Riris dan Tari masih tampak ketakutan. Sebentar melirik keluar, sebentar lagi melihat kearah Erika.


"Erika !...gak usah aja. Nanti ibu marah" kata Riris mencoba melarang. Karena masih sangat ketakutan. Suaranya pun keluar bergetar.


Erika tidak perduli. Malah semakin bernafsu. Memeriksa laci-laci meja satu-satunya yang ada dikamar itu. Pada laci paling bawa, Erika menemukan tumpukan uang seribuan. Tersusun rapi disudut belakang laci. Lumayan tinggi susunan tumpukannya.

__ADS_1


Mata Erika berbinar-binar melihat tumpukan uang itu. Lalu diambilnya beberapa uang itu dan segera lari. Erika mengibas-ngibaskan uang itu kewajahnya dan menatap Riris. Sambil berjalan santai keluar kamar. Riris dan Tari hanya menatap Erika. ***


__ADS_2