
Mengenai bagaimana ayah mendapatkan ijazah SMU Tari, agar bisa ke Akademi Kebidanan ini; Tari tidak mau tahu. Asalkan tidak ada ibu di asrama ini. Itulah yang terpenting dan wajiblah Tari tersenyum sinis bahagia untuk itu.
Meskipun banyak peraturan diasrama yang harus dipatuhinya. Jika melanggar peraturan itu, pasti akan menerima sanksinya dari Ibu Purwati atau biasa dipanggil Ibu Pur yaitu ibu kepala asrama. Jika kesalahannya dianggap besar, akan menerima sanksi dari pihak yayasan kampus.
Sebagian dari peraturan di asrama adalah harus berbagi kamar dengan beberapa teman yang lain. Satu kamar masing-masing dihuni 10 orang. Semua merupakan satu angkatan.
Setiap satu orang disediakan oleh pihak yayasan: satu tempat tidur, satu lemari pakaian dan satu meja belajar. Mematuhi jam tidur dan jam bangun tidur. Jam olah raga pagi, sarapan dan makan malam. Semua dilakukan secara bersama-sama di aula kampus yang telah disediakan pihak yayasan.
Posisi asrama menyatu dengan lingkungan kampus yaitu dibelakang kampus. Perbatasannya dengan kampus hanyalah tembok gedung perkuliahan. Pintu keluar masuk asrama dan kampus, ada dipojok sisi kanan. Panjang dan lebarnya pintu itu hanya seukuran tubuh wanita gemuk. Seperti Tari lah. Tidak dapat dilalui motos ataupun mobil.
Para mahasiswi yang keluar masuk asrama akan berjalan dipekarangan kampus dahulu. Misalnya ada mahasiswi hendak ijin mengunjungi keluarga, orang tua ataupun teman lain. Akan melewati pos sekuriti yang berada didekat pintu gerbang, keluar masuk kampus. Harus memperlihatkan surat ijin yang sudah ditandatangani oleh Ibu Pur. Barulah sekuriti mengijinkan mereka keluar.
Masih banyak peraturan lain yang harus dipatuhi. Sampai pakaian tidur dan pakaian keseharian diasrama pun dicantumkan dalam peraturan itu. Tidak boleh memakai celana pendek, rok pendek, kaos ketat, apalagi tanktop. Semua memakai baju tidur yang berlengan dan bercelana panjang.
Tari merasa dapat mematuhi semua peraturan itu. Karena Tari merasa sangat bahagia, punya kehidupan baru diasrama. Seakan mimpinya terwujud, jauh dari ibu. Tak ada lagi teriakan ibu ditengah malam yang memaksanya bangun. Juga tidak lagi harus main kucing-kucingan dengan ibu.
Memang Tari sudah mengalami kehidupan jauh dari ibu. Saat didesa bersama Mbah Kahpok. Tapi bagi Tari itu bukan wujud dari mimpinya. Melainkan masih bermimpi dengan kondisi yang sadar.
Aroma kandang ayam ibu, melekat pada sosok Mbah Kahpok. Melihat Mbah Kahpok selalu disisinya. Jadi serasa merasakan kehadiran ibu. Iiiii...Tari tidak sudi kehidupan seperti itu. Masih ada ibu yang menghantuinya setiap tengah malam.
Kehidupan yang sekarang adalah kebebasan sejati. Tanpa embel-embel ibu. Termasuk bayangan ibu, no !. Sekarang Tari merasa jadi manusia baru. Memiliki kehidupan masa muda yang baru dan bebas. Mempunyai teman-teman baru pula. Ada sembilan orang yang menjadi teman satu kamarnya.
Sebagai perayaan atas kehidupannya yang baru itu, Tari mengobral senyum pada teman-teman barunya itu. Terutama pada teman-teman satu kamarnya. Itupun jika teman-temannya itu menebar tatapan kearahnya, sambil tersenyum. Maka merasa wajiblah Tari membalas dengan tersenyum juga. Bahasa kerennya itu adalah sikap ramah.
__ADS_1
Yaahhh...wajar saja saling memperlihatkan keramahan, ditahap perkenalan ini dan dibulan-bulan pertama ini. Hanya Tari tidak tahu, apakah bagi mereka sikap ramah itu tulus atau manipulasi. Satu yang pasti, sisi asli dari masing-masing orang belum muncul. Sama-sama masih mencari mana teman yang pas dijadikan sahabat bagai kepompong.
Hanya Tari masih memilih lebih banyak diam dan menyendiri. Akibat terisolasi dalam kesepian desa yang terpencil. Sikapnya cuek menjurus ke apatis untuk menggabungkan diri. Tidak pernah kekantin dan belum pernah berbaur dengan teman-teman satu kamar.
Tari hanya menyendiri diatas ranjangnya. Mendengar teman-temannya saling bercerita dan tertawa. Menceritakan kisah-kisah masa SMU yang lucu, bahagia dan de el el. Menceritakan tentang keluarga, guru-guru yang disukai dan gebetan. Walaupun sesekali secara spontan memberi komentar asal. Saat mendengar teman-temannya itu.
Tak disangka-sangka !. Beberapa teman Tari menganggap komentar Tari itu sangat tepat, inspiratif dan memotivasi. Lalu mendekatkan diri kepada Tari. Selanjutnya menjadikan Tari sebagai sahabat. Tempat meminta nasehat dan masukan.
Bah !...Tari merasa dipromosikan dan diposisikan sebagai tokoh baik. Kalau begitu harus selalu tersenyum dong. Wajah berseri-seri dan mutlak harus ramah. Rajin menyapa terlebih dahulu. Bah...bah...bah...dapatkah Tari berperan sebagai tokoh baik ?.
"Bisa !" kata hati Tari yang mulai diusik kesombongan atas posisinya itu. Agar Tari tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, bahwa Tari akan menjadi the only one big boss.
Bukankah itu yang diinginkan Tari ?. Gagal menjadi the big bos di kelompok Kabila. Kini langsung diposisikan sebagai the only one big bos. Pada tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu mahasiswi.
Yes !...Tari sangat bahagia dengan fikirannya itu. Kebahagiaan itu selalu tersisa diwajahnya. Ada senyum ramah yang tersedia di bibirnya. Ada pameran wajah ceria di wajahnya. Satu lagi ada mata indah yang selalu menatap teman-temannya. Jadi posisi itu sangat cocok buat Tari.
Tari sangat berpeluang untuk mempermainkan emosi mereka. Memperalat emosi mereka untuk menyalurkan emosinya sendiri yaitu kemarahan pada kenyataan hidup. Terutama kemarahan pada wanita yang bernama ibu dan kemarahan pada apa yang bernama keluarga.
Penyerahan emosi yang tidak diketahui ataupun tidak disadari teman-temannya itu, sangat menguntungkan Tari berlipat ganda. Sudah menjadi kepercayaan teman-temannya, dijadikan tokoh baik yang selalu dimintai pendapat plus nasehat.
Juga tidak pernah ketinggalan diberikan 'sesajen'nya. Berupa traktiran-traktiran yang menggiurkan. Seperti cemilan-cemilan, hingga makan bakso dikafe. Sekalian jalan-jalan di mall.
Lumayanlah untuk mengurangi jadwal pertengkaran dengan ibu, masalah uang. Jadi Tari tak perlu lagi mengambil uang ayah secara diam-diam dan yang lebih penting, jadwal pengobatan dari Mbah Kahpok bisa di kurangi.
__ADS_1
Tapi ciuuuuttt...nyali Tari. Kalau teman-temannya sudah belanja baju, sepatu, tas dan apa saja yang mereka inginkan. Padahal belum dibutuhkan. Menghabiskan uang kiriman bulan ini untuk memanjakan diri. Sementara Tari hanya bisa senyam-senyum memberi pendapat, "Bagus..." Sampai tiga kali pada teman-temannya. Ketika mereka memperlihatkan baju, sepatu...yang baru mereka beli.
Pada moment seperti ini, betapa tidak relanya Tari hanya menjadi pemberi pendapat. Karena hatinya tidak rela pada teman-temannya yang memiliki baju baru lagi, tas baru lagi...Sementara dirinya hanya memakai sepatu dan tas yang itu-itu saja. Tidak ada yang baru.
Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ayah dan ibu sudah harus mengalokasikan dana buat Tari untuk membelikan baju baru, sepatu baru, tas baru; setiap bulannya. Kalau ayah dan ibu tidak menyediakan juga, lebih baik Tari mengambil sendiri haknya itu. Seperti biasanya yang dilakukan Tari dahulu dan ini tidak bisa ditunda.
Hari ini juga Tari pulang ke rumah orang tuanya. Tanpa pamitan pada Ibu Pur. Untunglah ibu hanya tahu asrama ini sebagai tempat pembuangan Tari. Tapi tidak tahu jarak tempuhnya. Hanya sekitar 5 jam. Setelah dipotong macet dan lampu merah, pulang pergi.
Jarak segitu sih...ngak ada apa-apanya. Sekali kedip alias tertidur di mikrolet. Begitu terbangun eee...sudah sampai di depan gang rumah. Hup !...Tari turun bahagia dari mikrolet dan berjalan santai nan ceria ke rumah orang tuanya.
Eh..ternyata pintu pagar terkunci rapat. Terpaksa Tari memanjat pagar. Bahkan pintu depan rumahpun terkunci rapat. Tari tak berputus asa. Segera menuju samping rumah. Lalu berjalan kehalaman belakang dan akan masuk melalui gudang. Tak perlu berharap kalau gudang belum direnovasi. Karena ibu terlalu enggan membuang uang untuk hal yang tak berguna. Termasuk merenovasi gudang.
Benar saja, tembok gudang masih bolong. Hanya menggeser sedikit saja lemari usang itu, Tari dapat masuk ke dalam gudang. Pintu gudang yang menghadap ke arah kandang ayam ibu, pun tak juga dibenarkan ibu. Maka dari situ, Tari leluasa masuk ke dapur yang tidak berpintu. Lalu masuk kedalam rumah.
Sebelum beraksi, sejenak Tari melahap makanan yang ada diatas meja makan. Makanan yang sudah dingin. Bisa jadi sisa makanan ibu yang kemarin. Tak apalah, Tari perlu tenaga untuk aksinya ini.
Lalu Tari mengambil makanan siap saji, cemilan, buah-buahan yang kebetulan ada didalam kulkas. Memasukkannya ke dalam tas sandangnya. Semua disikat habis makanan yang ada di dalam kulkas. Biarin saja, sekalian bentuk protes Tari akan kulkas yang telah diisi dengan makanan, buah-buahan dan cemilan.
Waktu Tari berada dirumah ini, kulkas ini tidak pernah ada isinya. Kecuali sisa makanan ibu beberapa hari lalu. Jadi jangan salahkan Tari, jika sekarang mengosongkan isinya. Juga akan mengosongkan uang ayaj dan ibu yang ada didalam lemari mereka.
Itulah aksi utama Tari pulang kerumah. Masuk ke kamar tidur ayah dan ibu. Mengobrak-abrik kamar itu, hingga berantakan. Mencari tempat ayah dan ibu menyimpan uang mereka.
Ning nong...Tari menemukan tas ibu. Juga tas ayah yang berisikan beberapa lembar uang ayah dan ibu. Ning nong lagi...Tari juga menemukan amplop coklat yang berisikan (mungkin) seluruh uang tunai tabungan ayah. Sebuah kotak kecil berisikan perhiasan ibu, ditemukan Tari disusut lemari pakaian ayah dan ibu.
__ADS_1
Sejenak Tari menatap 'hasil tangkapan'nya itu. Lalu Tari tertawa-tawa kencang dan menari-nari. Sesekali menciumi 'hasil tangkapan'nya itu. Setelah merasa puas dengan semua yang diambilnya, barulah Tari kembali ke asramanya dengan lapang dada. Selapang-lapangnya...tidak sia-sia bolos kuliah hari ini.
Berhari-hari ke depan kebahagiaan itu menyelimutinya. Menambah kekaguman teman-temannya kepadanya. Apalagi dengan royalnya, Tari membagi-bagikan makanannya itu kepada teman-temannya. Juga mentraktir mereka.***