PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Permainan Licik


__ADS_3

Keesokan harinya usai perkuliahan, Martha menemui Ibu Pur diruangannya. Martha menceritakan apa yang telah dilihatnya sore sebelumnya. Saat Tari membuka pintu lemari Yunita dan bagaimana Tari mengibas-ngibaskan beberapa lembaran uang ke wajahnya sendiri didepan lemari Yunita.


Sedang Martha membuat pengaduan itu, Tari masih asyik bersantai ria dikantin kampus. Membuat guyonan kocak di depan beberapa orang teman-teman mereka.


Keasyikan Tari itu terganggu akibat kedatangan Desi yang memanggil Tari. Atas perintah Ibu Pur. Seketika jantung Tari berdetak kencang dan tidak beraturan. Bukan karena takut menghadapi Ibu Pur. Tapi karena kemarahannya tiba-tiba meledak. Menurut praduganya, pasti Martha telah melancarkan aksi serangan terlebih dahulu.


Okelah...toh Tari sudah memasang perisai untuk melindunhi dirinya. Sekarang tinggal mengenakan perisai itu. Memang tak urung membuat kemarahannya surut. Malah membuat langkah kakinya sangat cepat menuju kamar mereka. Meninggalkan Desi yang nyaris berlari mengejarnya.


Tiba dikamar asrama, detak jantungnya semakin cepat. Matanya tidak hanya melihat Martha. Tapi juga ada Ibu Pur beserta lengkap dengan semua penghuni kamar. Duduk manis diatas ranjang masing-masing. Tatapan mereka semua hanya tertuju pada dirinya. Menyiratkan rasa ketidakpercayaan, kecewa, kaget dan ada juga yang marah. Tidak menduga kalau Tari lah pencurinya. Begitu makna yang tersirat dari tatapan mereka yang tertangkap oleh Tari.


"Silahkan masuk dan duduk diatas tempat tidur kamu" kata Ibu Put menyambut Tari.


Sebuah kata salam yang tidak ramah ditelinga Tari. Tari melangkah masuk. Berjalan menuju tempat tidurnya. Mematuhi perintah Ibu Pur. Lalu duduk diam di atas tempat tidurnya dan tak tertunduk. Tatapannya masih liar menatap seluruh teman-temannya.


Sementara Ibu Pur memberi penjelasan-penjelasan dan keterangan-keterangan. Menyangkut ketidaknyamanan penghuni kamar mereka itu. Akibat setiap hari terjadi kehilangan uang. Bukan sedikit, melainkan sampai menguras seluruh isi dompet.


"Terakhir Yunita. Tari..." panggil Ibu Pur. Barulah Tari menatap Ibu Pur. "Ada yang melihat kamu membuka pintu lemari Yunita. Apa alibi kamu ?" tanya Ibu Pur. Berusaha bijaksana ditengah keterangan yang mencekam.


"Saya juga kehilangan uang, bu. Dugaan saya Yunita yang mengambil uang saya itu. Maka itu saya mau periksa lemarinya" jawab Tari tenang. Tidak memperdulikan teman-temannya yang mulai berbisik-bisik.


Suara berbisik-bisik yang ramai. Menyebabkan kamar jadi seperti pasar malam.


"Mengapa kamu menduga seperti itu" tanya Ibu Pur. Tak menyadari telah masuk dalam permainan Tari.


"Karena dia pernah pinjam duit ke saya. Tapi tidak saya berikan. Eee...besoknya duit saya hilang"


"Bohong, bu. Saya tidak pernah pinjam duit ke dia" bantah Yunita, kaget dan panik.


"Lo yang bohong !. Lo pernah minjam duit ke gua. Pakai maksa gua lagi" tantang Tari tanpa gentar.

__ADS_1


"Gua gak pernah..."


"Sudah !...Diam !..." Ibu Pur melerai terjadinya pertengkaran mulut. Karena itu tidak akan menyelesaikab masalah. "Lalu...kamu bongkar pintu lemarinya Yunita." tanya Ibu Pur lagi kepada Tari.


"Tidak, bu. Saya hanya nyender dilemarunya. Saat saya nyender itu, pintu lemarinya kebuka sendiri, bu. Kayaknya pintu lemarinya gak kekunci, bu"


Bbrrrrr......kembali suasana berisik. Lebih berisik dari sebelumnya. Ibu Pur tidak memperdulikan suara berisik mereka itu. Karena kini Ibu Pur terlihat mulai bingung. Tari merasa mendapat kesempatan untuk mempergunakan alibinya itu. Alibi yang spontan berkembang indah diotaknya. Saat mendapati Ibu Pur dalam kebingungan.


"Alasan lo terorganisir. " Cetus Martha tiba-tiba. Seakan mematahkan serangan Tari selanjutnya. "Yaahh gak mungkinlah gak kekunci. Secara sekarang ini dikamar ini lagi rawan-rawan pencurian. Pasti kita-kita semua mengunci pintu lemari dan laci. Iya teman-teman ?" kata Martha dengan gamblang. Bak pembicara dalam demonstran.


Nyaris membuat Tari kehilangan fokus. Tari hanya menatap dengan tajam pada Martha beberapa saat. Beberapa saat kemudian, fokusnya kembali datang ke otaknya.


"Bu, tidak segampang itu kali mengambil uang tabungan orang di bank. Kalau tidak ada surat kuasa yang ditandatanfani diatas meterai oleh sipemilik uang. Itupun jika si pemilik uang itu dalam keadaan sakit phisik yang parah. Tidak memungkinkan orang itu untuk datang ke bank. Iya kan, Martha ?" kata Tari dan langsung menatap manis ke arah Martha.


Martha kaget mendengar akhir penjelasan Tari itu. Menyebutkan namanya dan menatapnya dengan tatapan seperti itu. Iiii...percis kayak lesbi yang merayu pasangannya.


"Gak usah berpura-pura lo. Lo buat surat kuasa atas nama Yunita dan lo palsuin tanda tangannya. Lo curi KTPnya. Ngaku lo !" kata Tari dengan nada suara tinggi dan nyaring.


Tari langsung menuduh Martha. Tatapannya yang tadi genit, seketika berubah beringas. Meredakan suara berisik tadi. Menjadikan suasana sangat hening. Menyita semua perhatian mereka. Hanya tertuju pada Tari dan menunggu penjelasan Tari berikutnya. Sementara Martha mulai gugup dan bingung.


"Bu, karena saya kesal duit saya hilang dan menyangka Yunita yang ambil. Makanya pintu lemarinya yang kebuka itu, saya tendang. Saat saya tendang, pintu lemari Martha kebuka..."


"Masa kebukanya kompakan sih" protes Desi.


"Iya...lagian gua pernah lupa mengunci pintu lemari gua. Juga pintu lemari gua gak rusak kok. Jadi gak mungkinlah bisa kebuka sendiri" kata Yunita. Akhirnya memberanikan diri buka suara.


"Kenapa gak mungkin. Lemari-lemari kita kan, lemari-lemari tua. Lihat saja serbuknya sudah pada berjatuhan. Kunci-kuncinya juga sudah banyak yang rusak. Apalagi lemari lo, nyender dengan lemari Martha. Satu ditendang, keduanya pasti bergesekan. Jadi besar kemungkinan kebuka sendiri"


Penjelasan Tari sangat masuk diakal. Melihat kondisi perabotan kamar yang sudah tua, sudah pada rusak. Ibu Pur tampaknya setuju dengan keterangan Tari. Buktinya Ibu Pur manggut-manggut dan menebarkan tatapannya ke sekeliling kamar. Tari semakin mendapat kesempatan emas.

__ADS_1


"Lagian...kalau kalian tidak percaya, lihat dilemari Martha. Ada surat kuasa atas nama lo, Yun. Lihat deh..." saran Tari dengan nada suara mulai rendah dan lembut.


Segera Ibu Pur memeriksa lemari Martha dan menemukan surat kuasa yang dimaksud Tari. Tepat dibawah surat kuasa itu, Ibu Pur juga menemukan sebuah buku yang didalamnya terselip uang dengan jumlah yang buanyaaakk...


"Ini apa ?!" tanya Ibu Pur kepada Martha. Memperlihatkan buku dan surat kuasa itu.


Yunita penasaran dan mendekat untuk melihat surat kuasa itu.


"Iya...ini tanda tangan gua. Kok..." Yunita hanya menatap tidak percaya pada Martha. "Lo bisa memalsukan tanda tangan gua" lanjut Yunita dengan nada kecewa. Martha hanya menunduk.


"Itu bukan buku saya, bu. Saya tidak melakukannya. Saya tidak mencuri, bu" kata Martha ingin membela diri disela tangisnya yang mulai terdengar.


"Besok setelah sarapan, kamu langsung ke ruangan saya" kata Ibu Pur kepada Martha. Lalu Ibu Pur melangkah keluar dari kamar mereka. Tari tersenyum puas dan langsung rebah. Menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.


Sepertinya malam ini Tari akan tidur sangat lelap. Sementara Martha masih menangis semalaman. Tari sangat menikmati tangisan itu. Bagai dendang malam yang romantis penghantar tidur.


Beberapa orang dari teman-teman mereka berusaha menghibur Martha. Rela tidak tidur demi memperlihatkan sikap solidaritas kepada teman yang sedang berduka.


Tari hanya mencibir mereka. Menganggap mereka itu bodoh. Semua teman-temannya adalah bodoh bagi Tari. Termasuk Ibu Pur. Mengapa tidak ?...Tari hanya tertawa-tawa disela kantuk yang telah menyerangnya.


Begitu mudahnya mereka diperdaya oleh Tari dengan selembar surat kuasa. Padahal surat kuasa itu dibuat dan ditandatangani oleh Yunita sendiri. Atas perintah Tari. Karena Yunita sudah dibawah kuasa hipnotis Tari untuk melakukan perintahnya. Termasuk mengambil seluruh tabungannya sendiri.


Namun sayangnya, uang itu harus dibagi dua demi penyelamatan dirinya dan menghukum Martha. Menaruh sebagian didalam buku Martha dan sebagian lagi ke dalam tabungan Tari. Tari sedikit kecewa akan hal itu. Untungnya kekecewaan itu terpuaskan dengan tangisan pilu Martha malam ini.


Menghantar Tari dalam pelukan malam dengan tidur lelap. Tak menghiraukan kesembilan orang lagi teman-temannya itu. Ada yang menghibur Martha. Ada yang masih membahas tentang kejadian raibnya uang mereka. Membuat praduga ini dan itu. Hingga malam ini adalah malam yang panjang buat mereka.


Keesokan paginya pun, masalah itu masih dibahas. Menyertakan pendapat teman-teman yang lain, yang bertetangga kamar. Apalagi pagi itu Martha tidak turut sarapan bersama-sama. Semakin ramailah pembicaraan itu.


Tapi Tari tidak mau terusik dengan keramaian itu. Cukup Tari menikmati sarapannya dengan bersikap sombong. Merasa dirinya adalah hero. Karena telah menyelamatkan teman-temannya. Berhasil mengungkap pelaku pencurian uang mereka. Juga menganggap dirinya adalah orang kaya dengan tabungan yang kini dimilikinya...banyaaaakkkk. Tapi belum pakai banget ya.***

__ADS_1


__ADS_2