PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Jinak Oleh Makanan


__ADS_3

"Mama !..." teriak Pak Hombing dengan sangat kencang, marah. "Papa sudah bilang, Tari tidak boleh kerumah ini. Tapi kenapa Tari masih datang juga !. Mama membantah papa !. Kalau gitu, biar papa yang bilang ke Tari !. Papa akan nunggu Tari !"


"Jangan, pa. Biar mama saja"


"Papa sudah cukup mempercayai mama untuk bicara ke Tari. Tapi mana buktinya ?"


"Kasih mama kesempatan lagi. Kali ini mama pasti tegas bicara ke Tari"


Beberapa saat Pak Hombing menatap Tante Hombing. Sejenak mereka saling bertatapan. Kemudian Pak Hombing menghela nafas kuat, mengalah dan mempercayai istrinya dapat menunaikan tugas yang diembannya.


"Kalau Tari masih datang kerumah ini, papa dan anak-anak akan pindah kerumah kita yang diperumahan luar kota itu" ancam Pak Hombing.


Tante Hombing hanya menunduk. Menyembunyikan ketakutannya akan ancaman suaminya itu. Setidaknya itu lebih baik, daripada.harus Pak Hombing yang bicara langsung ke Tari.


Pak Hombing yang bersuara bass, tapi kencang juga dan tidak tahu menata kata-kata manis, pasti akan langsung membuat Tari sakit hati.


Tante Hombing tidak sanggup membayangkan, kesadisan apa yang akan dilakukan Tari pada suaminya. Kisah viral yang tadi beredar dipesta sangat membekas difikirannya.


Pasalnya ada seorang undangan dari pihak laki-laki yang bernama Gina, mengatakan dirinya adalah dulu teman satu kamar Tari di asrama.


Si Gina ini lalu menceritakan bagaimana prilaku Tari selama diasrama. Selalu buat kegaduhan dikamar. Sering menampar, menjambak dan menendang teman-temannya. Jika Tari merasa sakit hati pada temannya itu.


Juga diduga mencuri uang dari beberapa teman-temannya dengan bantuan jin peliharaannya dan yang lebih parah, si Tari ini berbuat mesum dikamar asrama dengan jinnya itu.


"Berarti Tari udah bolong dong. Sebelum kawin dengan Anton" celutuk seorang ibu, tetangga mereka.


"Bisa jadi gak lo, Mama Ita. Dia kan bermesumnya dengan jin. Kita gak tahu, jin itu dipuaskan melalui ****** atau tidak" celetuk yang lain.


"Pasti dari ****** lah, Mama Win. Namanya juga bermesum...bercinta"


"Iya...pasti dari ******. Tapi mungkin saat malam pertama, fikiran Anton dihipnotis. Jadi gak ngerasa apakah perawan atau tidak"


"Pantes saja, si Tari itu sering ngeluh ke gua. Kalau dia kepanasan berada dirumah mertuanya itu" komen Tante Hombing. Teringat keluh kesah Tari tentang rumah mertuanya itu.


"Tentu dia kepanasan. Secara kita-kita tahu, kalau mertuanya itu kuat beragama" celetuk tetangga yang lain, yang merupakan teman dekat mami mertua Tari.

__ADS_1


"Nah...jin si Tari itu pasti kalah dengan Tuhan mami mertuanya itu" lanjut tetangga itu.


"Yang penting kita jangan terlalu akrab dengan Tari. Dia orangnya baperan tidak jelas. Sedikit saja merasa tersinggunh...wah...habis deh kita. Contoh yang baru-baru ini terjadi pada teman kami satu kamar juga, bernama Ruli. Tari ini sangat membenci Ruli. Karena Ruli pernah meminjamkan uang ke teman kami yang bernama Mila. Mila ini kehilangan uang, uang kuliah. Sampai Mila nangis-nangis. Ruli yang prihatin pada Mila dan kebetulan punya uang tabungan sejumlah uang kuliah kami saat itu, ngasih minjam deh ke Mila untuk bayar uang kuliahnya. Kebetulan ngasih uangnya didepan Tari. Sejak itu Tari sangat membenci Ruli dan Mila." kata Gina di acara pesta pernikahan keluarganya itu.


"Lho...kenapa Tari jadi membenci Ruli" tanya Tante Hombing ke Gina.


"Gak tahu"


"Bisa jadi si Tari pernah minjam uang si Ruli. Tapi gak dikasih. Tiba giliran si Mila, langsung dikasih"


Percakapan itupun semakin ramai dan menarik perhatian ibu-ibu. Terutama para tetangga Tante Hombing.


"Iya...mungkin. Nah...beberapa hari yang lalu, menurut dugaan ya...Ini masih dugaan lho. Masih diselidiki polisi. Beberapa hari yang lalu, Tari mencelakai suami si Ruli di kantornya" kata Gina.


"Memangnya Tari tahu, kalau yang dicelakainya itu suami si Ruli"


"Yah...pasti tahu. Karena Tari sengaja datang kekantor suami Ruli dan mencari suaminya itu dan pas ketemu sama Ruli. Malah Tari sendiri yang bilang mau ketemu suaminya"


"Ruli gak curiga, Tari mau bertemu suaminya"


"Yah enggak...suami Ruli itukan pengacara. Kali aja menurut Ruli, Tari lagi butuh jasa pengacara"


"Paha dan lidahnya ditusuk pakai pena"


"Haaaa ???...."


Spontan para ibu-ibu itu tersentak kaget.


"Ternyata si Tari sadis, ya" kata Tante Hombing, tak percaya bahwa Tari yang mulai dikenalnya, ternyata tega berbuat sadis.


"Itu lebih dari sadis, tapi psikopat"


"Terus bagaimana ?"


"Suami Ruli belum bisa bicara. Lidahnya sobek, dua senti. Makanya masih dugaan, kalau Tari pelakunya. Karena Tari adalah tamu suaminya yang terakhir. Sebelum suaminya cedera tusukan itu. Dugaan motifnya adalah dendam"

__ADS_1


"Kok...pakai pena, ya. Maksudnya apa ?"


"Belum tahu juga, kan masih penyelidikan"


"Iiii..."


Tante Hombing merinding. Membayangkan Tari ternyata orang yang sadis. Berani menusuk paha dan lidah orang dengan pena.


"Gila..." kata Tente Hombing, entah pada siapa. Karena tidak berapa lama kemudian, terdengarlah langkah kaki Tari.


Spontan Tante Hombing tersentak, gelagapan. Menyadari ternyata pintu pagar dan pintu rumahnya tidak terkunci. Buktinya Tari bisa masuk dengan leluasa.


Tanye Hombing sangat mengenali langkah kaki Tari yang berisik. Karena kakinya diseret ketika melangkah, bukannya diangkat. Segera Tante Hombing berdiri. Menantikan Tari diruang keluarganya.


"Eh...tante" sapa Tari begitu tiba diruang keluarga dan melihat Tante Hombing.


"Bagaimana pestanya, ramai" kata Tari santai. Sambil melangkah kearah Tante Hombing.


"Aku gak bisa datang. Karena kami ada meeting. Mau pergantian dokter pimpinan" lanjut Tari dan kini sudah duduk disalah satu sofa, dimana Happy sedang tidur disofa itu.


"Happy tidak cengengkan, tan"


"Cengeng...sampai Angel kebingungan menjaganya"


"Oh ya...tadi yang dirumah hanya ada Angel, ya"


"Tari...tolong lain kali si Happy jangan ditinggalkan begitu saja dirumah ini. Kami sangat terganggu. Kami ini bukan babby sitter si Happy yang harus membersihkan pipis dan puknya. Rumah kalian kan ada..yah apa salahnya dirumah kalian. Kamu juga bisa fokus ngurusin si Happy. Gak perlu tiap hari kerumah kami ini. Tolong ya, Tari"


Tapi yah...dasar Tari. Tidak diprogram untuk mendengar keluh kesah orang. Tari mengabaikan protes Tante Hombing itu.


Malah keesokan harinya, Tari memberikan oleh-oleh kepada Angel. Tari memberikannya dari luar pintu pagar rumah Tante Hombing. Karena pintu pagar itu terkunci. Jadi Tari memanggil Angel dari luar pintu pagar.


Angel sangat senang menerimanya dan langsung menyantapnya. Kekesalannya Pada Tari seketika hilang. Sedang Tante Hombing hanya melihat, entaj pada oleh-oleh itu atau pada Angel. Sambil menghela nafasnya.


"Dikasih makanan, jinak juga lo berdua. Mudah-mudahan lo sakit Perut memakannya" bisik Tari didalam hatinya. Sambil berjalan dari depan pintu pagar rumah Tante Hombing. Tari berjalan ceria menuju warung Mbak Ipeh.

__ADS_1


Benar saja, pagi harinya Tari mendapat kabar bahwa Angel masuk rumah sakit. Karena menderita sakit perut. Hampir tiap jam buang air. Sampai tubuhnya lemas.


"Mudah-mudahan cepat mati, ya" bisik Tari didalam hatinya.***


__ADS_2