
Taripun terbebas kali ini lagi dari kekacauan yang ditimbulkannya sendiri. Tapi tak seorangpun dari para pengunjung itu tahu, kalau Tari pergi masih membawa kemarahannya.
Sepanjang perjalanannya menuju rumah, bukan pulang kerumahnya. Melainkan kerumah Tante Hombing.
Karena rencananya, Tari akan meluapkan amarahnya itu didepan Tante Hombing dengan bahasa dan kata-kata khas Tari. Penuh makian, sumpah serapah dan ancaman-ancaman yang kedengarannya sangat sadis.
Melupakan bahwa dirinya telah menyisakan kemarahan pemilik warung gauk itu. Juga kedua orang pelayan itu. Serta ketakutan Della yang semakin membesar.
Kini orang-orang itu tengah berkumpul untuk berdiskusi diruangan kerja si pemilik warung. Mencari solusi terbaik menuntaskan permasalahan yang telah ditimbulkan Tari, bahwa pemilik warung itu merasa Tari telah merusak citra warungnya yang tenang, aman dan damai.
"Sekali lagi saya minta maaf, Opa" kata Della dengan wajah memelas, penuh penyesalan.
"Saya sendiri juga tidak tahu, mengapa dia begitu marah kepada saya" lanjut Della ragu-ragu.
Sebenarnya Della sudah dapat menduga. Apa yang menjadi penyebab kemarahan Tari kepadanya. Karena Tari menganggap Della telah ikut campur dalam permasalahannya dengan Bintang. Tapi Della tidak mungkin mengungkapkan hal itu kepada si pemilik warung ini yang bernama Opa Chan.
Apalagi haru diungkapkan didepan dua orang sekuritinya, kedua orang pelayang yang jadi korban Tari. Satu bernama Aan. Dialah yang korban pada pelipisnya dan satu lagi bernama Putra. Dialah yang korban tamparan Tari.
Ada juga dua orang saksi mata yang melihat kejadian itu. Mereka adalah adik-adik tingkat Della yang bernama Maya dan Sasha.
Mereka ini semua berkumpul diruanga kerja Opa Chan, diwarung gaul itu.
"Lali...apa yang akan kita lakukan" tanya Opa Chan dengan wajah sangat kesal. Tapi masih berusaha bersikap berwibawa didepan mereka.
"Kabarnya dia punya jin pelindung, Opa. Apa sebaiknya kita taklukkan dulu jinnya. Lalu kita tuntut dia secara hukum" jawab Aan dengan pelipis sudah berbalut perban.
"Kelamaan...Keburu basi permasalahannya" jawab salah seorang sekuriti yang berkumis tipis.
"Kita tuntut secara hukum dan kita taklukkan jinnya" usul Putra.
"Lebih baik kita proses dulu secara hukum, Pak. Mengenai jinnya, kita beritahu juga pada polisi. Pasti polisi punya para normal juga" usul sekuriti yang satu lagi, tidai berkumis.
__ADS_1
"Kamu ada kenal orang pintar untuk kita minta bantuan cara menaklukkan jin pelindung si Tari ini" tanya Opa ke Putra dan Putra menggeleng-geleng kecil.
"Atau kalian...ada yang tahu dimana bisa kita temui orang pintar" tanya Opa kepada mereka semua. Tapi mereka hanya diam, menatap Opa dan Della.
"Kalau tidak ada yang tahu...lalu bagaimana"
"Kita lapor saja kepolisi, Pak. Juga tentang jinnya itu. Saya yakin, polisi punya orang pintar" ulang sekuriti yang tidak berkumis, mengajukan usulnya.
"Sedikit banyak saya tahu tentang Tari, Opa." Della buka suara "Kalau kita melawan Tari, maka Tari semakin marah. Semakin Tari marah, jinnya semakin kuat. Jinnya semakin kuat, maka semakin mudah menyerang balik kita. Ketika kita diserang balik dan kita ketakutan, maka Tari akan semakin bernafsu meneror kita. Sampai kita ini nangis darah. Seperti yang dia lakukan terhadap Martha, Mila, Fitri dan beberapa temannya yang lain. Bahkan Fitri nyaris diperkosa jinnya didalam kamar asrama" kata Della mengikuti saran kakek Toni.
Sengaja Della tidak memberitahukan kakek Toni. Karena Della sudah sangat takut pada Tari. Jika harus memberitahukan tentang kakek Toni kepada Opa Chan. Della takut. Tari mengetahui bahwa Della lah yang memberitahukan tentang kakek Toni kepada Opa Chan. Itu artinya Tari akan semakin marah pada Della dan akan terus meneror Della. Jadi Della mencari titik aman. tidak memberitahukan bahwa Della mengetahui tentang sosok orang pintar yang ditanyakan Opa Chan itu.
"Jadi kesimpulannya, kita abaikan saja nih...perbuatan Tari ke saya" komentar Aan dalam marah yang tertahan.
"Saya saja yang menanggung biaya pengobatan pelipis kamu" kata Della memelas dalam rasa bersalah.
"Tidak bisa begitu. Ini bukan masalah siapa yang menanggung biaya pengobatan. Tapi masalah mencegah kekurangajaran Tari itu terhadap orang-orang lain. Karena si Tari itu pasti akan berbuat seperti ini lagi kepada orang lain, ditempat lain..." kata Aan berapi-api. Antara tertangkap basah maksud hatinya oleh usulan Della dan ingin memanfaatkan peluang untuk jadi pahlawan terhadap sesama manusia.
"Gak usah sok jadi pahlawan" timpal Putra.
"Gua bukan sirik. An..."
"Lalu apa...kalau bu..."
"Sudah !...Saya setuju saran Kakak Della" kata Maya. menyela Aan.
"Ya...lebih baik kita buat pencegahan diwarung Opa saja" kata Sasha. Seakan mendukung Maya dan Della.
"Pencegahan bagaimana maksud kamu" tanya Opa tertarik dengan usulan Sasha.
"Pencegahan kayak yang dibuat Kak Toni dikantornya" lanjut Sasha. Membuat Opa semakin bingung. Sampai mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Begini lho, Opa..." Della memberi penjelasan "Toni itu yang dulu mau direbut Tari dari Fitri. Sampai Tari sering datang kekantor Toni. Maksain Toni harus menerima cintanya Tari..."
"Waduh...kayaknya serem" komentar Opa.
"Itu belum serem, Opa" kata Maya.
"Ya, Opa...belum serem. Lebih serem saat Fitri diteror jinnya itu. Sampe nyaris diperkosa jinnya..."
"Wadow...kalau jadi diperkosa...jadinya apa ya..." komen Opa lagi, mulau bawelnya.
"Jadinya serem sekali" jawab Putra.
"Ya, benar...lalu..." tanya Opa menatap Della.
"Lalu Fitri dan Toni menikah. Nah...Toni ini sudah umumkan ke sekuriti dan pegawainya dengan menyebarkan photo Tari dengan keterangan, bahwa orang ini tidak diijinkan masuk ataupun mendekat ke kantor. Jika orang ini masuk, maka sekuriti dan pegawainya akan dituntut secara hukum dengan tuduhan bersekongkol melakukan Teror ke Toni dan keluarganya. Begitu pula yang diberlakukan Toni dirumah mereka. Begitu Opa..." Della mengakhiri penjelasannya.
Tampak Opa sedang menatap kedua sekuritinya, sambil berfikir.
"Baik...hal itu berlaku diwarung ini. Pajang photo Tari ukuran besar dan buat keterangan dibawahnya, orang ini dilarang masuk. Jika masuk, maka sekuriti dan para karyawan akan dituntut secara hukum dan pengunjung yang membawa Tari, juga akan dituntut secara hukum. Tuduhannya bersekongkol melakukan teror terjadap pemilik warung. Paham !...Kerjakan sekarang !" perintah Opa pada kedua sekuritinya itu.
"Aan.. Putra...kalian berobat. Biayanya saya yang tanggung" kata Opa pada Aan dan Putra.
"Kamu Della...ganti kerugian saya akibat kejadian itu...besok !" kata Opa pada Della dengan wajah menahan amarah.
"Dan kalian berdua, Maya dan Sasha...jika Tari masuk ke warung saya ini lagi...kalian berdua juga saya tuntut secara hukum"
"Apa ?!" kata Maya dan Sasha serentak.
"Gak bisa gitu dong..."Sasha akan menyela.
"Apanya yang tidak bisa. Tari itu satu almamater kalian...tanggung jawab dong"
__ADS_1
"Yah...itu..." Maya akan membantah
"Diskusi selesai...Semua keluar...Sekarang !" perintah Opa dengan spontan berdiri dan menatap tajam kemata mereka satu persatu.***