
"Adikmu itu ya, keterlaluan !. Kusumpahi dia jadi perawan tua !"
"Jangan begitulah. Maafkanlah dia. Dia adikku, berarti adikmu juga:
"Gak sudi aku mengakui adikmu itu sebagai adikku. Tak sudi !"
Kalau Tari sudah marah-marah seperti itu, Anton akan memilih diam. Itu adalah posisi aman dari bias kemarahan Tari yang cenderung kasar. Jika Anton tidak memilih diam mengalah, maka tidak sungkan-sungkan Tari mencakar wajah Anton. Menjambak rambutnya, menarik-narik kearah bajunya.
Bahkan pernah merobek-robek kemeja Anton yang sedang dipakainya. Itu kejadiannya dikantor Toni. Saat orang ramai makan siang.
Akibatnya Anton harus menanggung malu yang berkepanjangan. Sampai beberapa hari kejadian itu menjadi pembicaraan hangat dilingkungan kantor Toni. Untungla Anton tidak karyawan tetap disitu. Jadi Anton memilih untuk undur dari kantor itu. Tapi kejadian itu merebak hingga kampus Bintang.
Awalnya Toni menceritakannya pada Fitri. Fitri menceritakannya pada Gina dan beberapa teman-teman mereka yang lain. Lalu entah bagaimana sampai ke Della dan dari Della sudah pasti ke Bintang. Begitulah kisah itu bergulir.
Mengakibatkan adanya pertemuan spektakuler di kamar Bintang. Pesertanya Karina, Gina, Ruli dan Fitri. Mereka mengakat judul pembahasan: SEBAB AKIBAT KEJADIAN ANTARA ANTON DAN TARI DIKANTOR TONI.
"Gua fikir mereka udahan. Soalnya gua lihat beberapa kali mereka bertengkar dan sejak itu Tari selalu menghindari abang lo, Bin. Eh...gak tahunya masih lanjut. Lanjut berantemnya. Yah...itu yang dikantor Toni itu. Itu yang terparah"
"Kasihan banget abang gua. Benar lo, Fit...abang gue pasti dipellet. Gua minta bantuan Toni dong untuk membawa Anton ketemuan sama kakek Toni. Secara mereka kan teman akrab"
"Oke...gua telepon Toni, ya"
Kesepakatanpun terjadi via telepon. Toni bersedia membawa Anton kerumah kakeknya. Alasannya untuk menemani Toni silaturahmi kerumah kakeknya. Sayangnya sejak kejadian kemeja Anton dirobek-robek Tari dikantor Toni dan disaksikan banyak orang, Anton tidak pernah lagi datang kekantor Toni.
Bahkan Toni sudah beberapa kali menelpon Anton. Tapi tidak dijawab. Pesan-pesan WA pun, tidak pernah dibalas. Yah...karena Anton merasa sangat malu pada Toni dan seluruh karyawannya. Makanya Anton seperti hilang peredarannya dari sekiraran Toni.
Anton memang memilih untuk diam. Diam bersosialisasi dan berkomunikasi. Terutama memilih diam menghadapi kemarahan Tari.
Lebih baik membiarkan Tari ngoceh terus. Toh ocehannya akan langsung tertiup angin yang sedang bertiup. Jadi ocehan Tari itu hanya melintas ditelinga Anton saja atau ocehan Tari itu akan terus terhempas jauh. Akibat kencangnya suara Tari yang mendekati suara halilintar. Dengan begitu Anton tidak sempat menyimpan ocehan Tari itu didalam hatinya. Sampai bertumbuh dan membuahkan kebencian. Lalu memanen dendam. Dendam kepada Tari. Akibatnya akan sangat berbahaya.
Sebenarnya Antonpun tidak mempunyai cukup keberanian untuk membahas permasalahan Tari dan Bintang itu. Walaupun itu menurut Anton penting. Agar Bintang dapat berbaikan dengan Tari dan Tari dapat diterima dalam lingkungan keluarga mereka.
Apakah karena Anton seorang pria yang cenderung pasrah. Sedikit menjurus ke pengecut ?. Sehingga tidak berani mendamaikan Tari dan Bintang. Menjadi mediator untuk menyelesaikan pertikaian Tari dan Bintang.
Sekali lagi Anton hanya memilih diposisi aman, yaitu dalam diam. Menjalani hidup ini.sesuai dengan alurnya saja. Kalau alurnya saat ini, Bintang dan Tari saling bertikai. Yaahh...biarkan mereka bertikai.
Toh...nanti-nanti ada alurnya dimana mereka masing-masing akan sadar diri. Lalu saling memaafkan. Lagi pula Anton itu tipe orang yang tidak pandai bicara. Tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Semua itu disebabkan karena Anton mengalami rasa tidak percaya diri. Anton orang yang berat berbicara.
Rasa rendah diri Anton itulah yang dimanfaatkan Tari untuk terus ngoceh. Bisa mempengaruhi stabilitas emosi Anton dan ikut memusuhi orang yang dimusuhi Tari. Bisa jadi termasuk memusuhi Bintang dan juga seluruh keluarganya.
"Kamu sadar gak sih ?!...Orang tuamu itu pilih kasih. Abangmu, kakakmu dan adikmu; semuanya sarjana...dikuliahkan. Tapi kau, hanya tamat SMA dan kerjamu pun tidak jelas. Hanya ikut Toni, bekerja diperusahaannya. Tanpa ada gaji. Hanya mengharapkan bonus. Seharusnya kau sudah meminta modal usaha dari papimu..."
Ocehan Tari yang ini, mulai dibenarkan Anton. Lalu Anton meminta modal usaha kepada papinya. Ternyaya papinya memberi reaksi yang positif dan mendukung niat Anton itu.
__ADS_1
Papipun memberikan modal usaha pada Anton. Hanya yang menjadi masalah, Anton tidak tahu mau usaha apa. Ketika hal itu disampaikan Anton pada Tari, kembali Tari memarahi Anton dengan caci maki.
"Dasar kau laki-laki bego !....Bodoh !...Kau fikir aku mau menikah dengan laki-laki pengangguran yang bodoh seperti kau !. Enak saja kau !. Aku ini akan jadi bidan, tau kau !"
Sejenak Tari terdiam. Karena tenggorokannya sakit. Setelah berteriak-teriak didepan Anton. Menatap Anton dengan tatapan yang seakan-akan ingin menelan Anton hidup-hidup. Percis seperti ular menelan mangsanya.
Tapi beberapa saat kemudian, Tari mulai senyum manis. Setelah fikirannya mengingatkan uang modal usaha itu. Pasti jumlahnya suanguat buanyuak.
Melihat senyuman manis Tari itu, Antonpun bernafas lega. Berarti amarah hari ini selesai. Maka ketika Tari meminta kartu ATM dan nomor pinnya, Anton langsung memberikannya dengan hati sukacita.
Melihat kepatuhan Anton itu kepada dirinya, Tari semakin mantap mempertahankan hubungannya dengan Anton. Suatu saat Anton akan bisa diarahkannya untuk memiliki seluruh harta orang tua mereka. Jadi seandainyapun Anton tidak memiliki pekerjaan tetap, keuangan mereka akan tetap pada garis aman. Bahkan diatas garis aman, sampai mereka tua.
Senyuman Tari semakin mengembang. Terfokus untuk melakukan penyerangan selanjutnya terhadap Bintang. Senjata utamanya sudah ada yaitu kepatuhan Anton.
"Ri, Toni mau ajak aku kerumah kakeknya. Bo...."
"Apa !?...kerumah kakek Toni ?. Mau ngapain kesana !"
"Nemanin Toni silaturahmi"
"Kok kamu yang nemanin ?. Apalagi untuk silaturahmi. Kenapa dia gak ajak Fitri"
Anton hanya mengangkat bahunya, memberi jawab pada Tari. Artinya Anton tidak tahu, mengapa Toni tidak mengajak Fitri. Mengapa malah mengajak Anton.
"Benar-benar bodoh kau !. Seharusnya kau tanya !"
"Tidak boleh !. Pokoknya tidak boleh !" lanjut Tari dengan nada marah yang ditahan.
Tiba-tiba tubuh Tari bergetar, menahan amarah yang akan meledak dari dadanya. Amarah pada Fitri yang bermaksud jahat pada dirinya. Tapi melalui Anton. Begitu terngiang kata-kata Mbah Kahpok tentang kakeknya Toni.
"Kurang ajar !" umpat Tari didalam hatinya.
Keesokan harinya.ditempat PKL, tatapan tajam Tari tak pernah lepas dari Fitri. Setiap gerak-gerik Fitri, tak lepas dari tatapan Tari. Awalnya Fitri tidak menyadari hal itu. Tapi ketika seorang teman mereka berbisik direlinga Firri, tentang tatapan tajam Tari itu. Barulah Fitri memperhatikannya.
"Ops !" Fitri tersentak. Ketika beradu tatapan dengan Tari.
Tatapan Tari itu tidai hanya tajam. Tapi menyiratkan kengerian. Membuat bulu kuduk Fitri berdiri. Fitri merinding ketakutan. Jadi sangat gugup dan tidak dapat konsentrasi. Merasa tidak aman dan tidak nyaman.
Tatapan Tari itu sangat menghantuinya. Serasa hari ini jadi sangat panjang dan sangat lama berlalu, buat Fitri. Padahal Fitri sudah sangat ingin menghilang dari Tari.
"Aduh !...Aduuuhhh..." tiba-tiba Fitri mengerang kesakitan. Sambil memegangi perutnya, meremas-remasnya dan sampai membungkuk.
"Kenapa lo, Fit" tanya seorang perawat yang kebetukan melintas dan melihat Fitri, membungkuk dan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Perut gua tiba-tiba mules. Gua mau ke toilet"
"Ya...ya udah. Gua temanin:
"Gak usah. Lo lanjut aja"
"Benar...lo gak mau gua temanin"
Fitri mengangguk-angguk.
"Ya udah...Gua tinggal nih..:
"Iya..."
Fitripun berjalan kearah toilet dan masih memegangi perutnya. Meremas dengan kuat dan mengerang-erang kecil, menahan sakit.
Tak menyadari kalau Tari mengikutinya dari arah belakangnya. Begitu Fitri masuk ke toilet, begitu pula Tari langsung menyerbu masuk juga.
"Ceklek" Tari mengunci pintu toilet. Fitripun menoleh, ketika bunyi "Ceklek" itu. Fitripun langsung kaget, ketakutan. Melihat Tari berada dibelakangnya. Masih dengan tatapan mengerikannya itu.
"Mau apa lo" tanya Fitri dengan suara bergetar ketakutan. Terlupa dengan perutnya yang sakit. Walaupun Fitri masih membungkuk. Menahan sakit perutnya
"Mau buat perhitungan ke elo:
"Perhitungan apa ?...Gua gak pernah hutang ke elo"
"Gua mau buat perhitungan...karena elo mencampuri urusan gua dan Anton !"
"Maksud lo apa ?!. Gua gak pernah merebut Anton dari lo"
"Banyak bacot lo !"
Spontan Tari melangkah mendekati Fitri dan menjulurkan satu tangannya ke arah rambut Fitri. Fitri masih sempat menghindar. Berbalik dan akan masuk kesalah satu ruangan kloset.
Tapi tangan Tari telah berhasil meraih rambut Fitri dan menariknya kuat.
"Aaaa !!!..." teriak Fitri dan memegangi rambut belakangnya yang ditarik Tari.
Taripun semakin kencang menarik rambut Fitri. Hingga membuat Fitri harus berdiri tegak. Berpegangan pada kusen pintu ruangan kloset. Agar tubuhnya tidak jatuh kearah belakang.
Sementara Tari langsung merapatkan tubuhnya pada punggung Fitri. Menarik rambut Fitri. Hingga kepala Fitri berada dibahunya. Lalu menghadapkan wajahnya dekat ke wajah Fitri.
Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan kloset dibuka
__ADS_1
"Cekrek"
Spontan Tari dan Fitri menatap kearah ruangan kloset itu.***