PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Diintai Setan


__ADS_3

Nafsu jajan telah mengabaikan sanksi siksaan phisik yang nanti pasti diterimanya dari ibu. Karena harus dengan cara seperti inilah, Erika bisa beli jajanan. Jika minta uang dari ibu, pasti tidak diberi. Sampai ludah habis pun, jangan harap untuk diberi.


Kalau meminta dari ayah, pastilah jawabannya tunggu tanggal gajian. Itu terlalu lama. Erika butuh uangnya sekarang. Bukan saat tanggal gajian ayah. Uang yang dikasih saat tanggal gajian kemarin, sudah habis. Seharusnya ayah memberi uang lebih. Jangan pas-pas an. Pas tanggal gajian, pas jaianannya sudah habis. Ngiler deh...


Karena Erika sangat yakin mengambil uang ibu. Lalu mempengaruhi Riris. Riris juga setuju dengan Erika. Beberapa lembar uang ibu pun diambilnya. Lalu menyusul Erika yang sudah kabur terlebih dahulu. Sedang Tari masih terpelongo. Tidak mengerti apa yang dimaksud Erika. Tapi tergiur juga melihat tumpukan uang ibu itu.


"Cepat Tari" kata Riris. Tiba-tiba mendongakkan kepalanya dari pintu kamar. Barulah Tari mengambil beberapa lembar. Lalu menyusul Riris dan Erika.


Sesaat mereka bertiga tampak akrab menikmati jajanan yang baru mereka beli di warung itu. Sambil mereka bercerita dan tertawa-tawa bahagia. Mereka melupakan bahwa uang yang mereka pakai adalah uang ibu. Sanksinya sudah mengeluarkan seringaian seram kepada mereka. Bertarung sengit dengan alibi yang sudah dibangun Erika difikirannya. Besera urutan waktu kepulangan ibu dan sedikitnya tidak pernah adanya family time dikeluarga mereka.


Ibu akan kembali kerumah. Setelah mereka tertidut lelap. Besok pagi pun, mereka pasti tidak bertemu ibu. Sebelum mereka bangun untuk bersiap-siap ke sekolah, ibu sudah terlebih dahulu pergi ke pasar.


Kalaupun kembali kerumah, paling sekitar jam 10 an. Hanya untuk bertepuk tangan ke sekuriti sekolah Tari. Jika pun bertemu, paling ketemu Tari. Jika ibu sudah tahu uangnya hilang, pasti Tari yang dihukum. Tari itu kan biang kerok. Jadi tidak mungkin Erika dan Riris dituduh mencuri.


Eit !...Erika tidak tahu. Tugas mengantar dan menjemput Tari sudah mengalir begitu saja ke Miss Cecil. Erika juga tidah tahu atau tidak memprediksi pengecualian lain. Jika ibu mengetahui uangnya hilang, tidak eit !...yang ada hanya, "B*b* !...kurang ajar !...*nj*ng !...M*ny*t !...". Tahi kucinglah, jika mereka sudah lelap. Tahi kucing juga, jika tengah malam sepi dan tenang.


Ibu tidak tenang dan mengobrak-abrik ketenangan mereka. Walau dialam tidur sekalipun. Setengah berlari, ibu menuju kamar mereka. Menendang kuat pintu kamar. Bak polisi yang sedang menggebrek rumah perjudian. 'Brak !...buk !....', pintu kamar langsung terbuka lebar Menghantam tembok kamar.


Menghasilkan suara kencang yang sangat berisik. Membangunkan Erika, Riris dan Tari dari kelelapan tidur mereka. Tidak hanya bangun, tapi mereka kaget dan tersentak. Nyaris ketiganya duduk diatas ranjang dan menatap kearah pintu.


Jreng !...tampak ibu berdiri diambang pintu. Berdiri berkacak pinggang dan kedua kaki terbuka lebar. Mendengus kencang berkali-kali. Lalu...sret !...ibu sudah tiba didekat mereka. Tanpa ada interogasi dan pembacaan hak-hak mereka. Kedua tangan ibu sudah melayang keudara. Lalu tanpa bayangan sudah...buk !...plak !...plak !...kres !... dengan syair biasanya '*nj*ng...b*b*....


Gerakan tangannya menampar pipi-pipi kiri-kanan mereka, menjambak rambut dan meninju kepala mereka; seirama dengan syair dari mulutnya. Kali ini mirip dengan seorang rocker yang sedang menampilkan seluruh kemampuannya. Walaupun tidak ada penonton. Hanya ada korban yang sedang menangkis dan mencoba menghindar dari pukulan tanpa bayangan ibu. Karena ibu rocker, bukan Jet Li.


Erika dan Riris hanya bisa mengaduh dan merintih. Menutup kedua pipi mereka dengan kedua tapak tangan mereka. Sedang Tari sudah sangat kesakitan. Tak sanggup hanya merintih saja. Pipinya sangat sakit, kepalanya dan meledaklah tangisan kencangnya.


"Diaaaammm !!!..." teriak ibu dengan mulut yang terbuka lebar. Percis dihadapkan kedepan wajah Tari. Seperti akan menelan Tari. Terpaksa Tari diam mendadak. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Eit !...bukan karena takut pada ibu.


Melainkan karena nafas ibu yang baunya ampiun deh. Sekejap tadi masuk kehidung Tari. Tak sengaja terhirup dan seakan tertelan Tari. Langsung mengirim sinyal rasa mual ke otak Tari. Nyaris membuat Tari muntak ke wajah ibu. Untunglah tiba-tiba ibu berlari cepat, keluar kamar.


Erika dan Riris membelalakkan mata. Tak percaya adegan kemarahan ibu usai secepat itu. Begitu pula Tari, ikut-ikutan membelalakkan mata. Menatap kearah pintu kamar. Mereka akan bernafas lega.

__ADS_1


Tapi belun lagi hal itu dilakukan, ibu sudah muncul lagi. Membawa sebuah gagang sapu disatu tangannya. Langkahnya sangat lebar mendekati mereka dan langsung memukulkan sapu itu ke kaki mereka. Secara bergantian dan sangat kencang.


Erika dan Riris berusaha menghindar. Mereka berdiri melompat-lompat diatas kasur mereka. Walaupun merintih dan mengaduh kesakitan.


"Anak kurang ajar !. K*mpr*t !....m*ny*t !..."


"Ampun, bu...catiiiittt..."


"Mampus kalian kubuat malam ini !. Kubuat lumpuh kalian !. Kupatahkan kaki kalian !. Mati kau !...Mati saja kalian !..."


Naluri tidak mengajarkannya untuk seperti Erika dan Riris. Kecuali hanya menangis dan menggosok-gosok kakinya.


"Diam kau !...anak b*b* !...diam kubilang..."


Alhasil kemarahan ibu terfokus pada Tari. Tangisan Tari semakin pecah sangat kencang. Ibu semakin panik dalam kemarahan. Mengangkat tinggi gagang sapu itu dan akan menghantamkannya kekepala Tari. Erika dan Riris, berhenti melompat-lompat. Tatapan mereka tertuju pada Tari. Jantung mereka berdetak sangat kencang. Telah membayangkan gagang sapu itu akan menghantam kepala Tari dan....


Untunglah ayah segera datang. Menangkap gagang sapu itu. Erika dan Riris bernafas lega. Tari hanya menatap ayah dan ibu dengan tatapan tidak mengerti.


"Anak-anak *nj*ng ini mencuri uangku"


"Tutup mulutmu !" bentak ayah pada ibu.


"Kau yang tutup mulut, *nj*ng !"


"Hati-hati perkataanmu"


"Diamlah kau, *nj*ng !. Minta dari mereka uangku !"


"Apa benar kalian ambil uang ibu ?" tanya ayah lembut pada mereka.


"Acu dua. Lica ama. Lilis pun...lima" jawa Tari jujur dan percaya diri. Mengadu pada ayah. Seakan sudah lupa pada rasa sakit ditubuhnya. Merasa dapat perlindungan dan pembelaan dari ayah.

__ADS_1


"Tuh kan ?!...kau dengar sendiri" kata ibu pada ayah.


"Kenapa kalian mencuri uang ibu" tanya ayah, iba pada mereka.


"Tentu saja mereka mencuri uangku !. Karena kau tidak punya uang untuk dicuri anak-anak brengsek ini !. Ayah seperti apa kau ini !" kata ibu masih dengan nada suara yang tinggi. Malah marah pada ayah.


"Kau fikir anak-anakmu ini tidak makan !. Makannya tidak dibeli pake uang !?...ha !...Bahkan makanmu pun, aku yang beli !. Mampuslah kalian semua !..."


"Diam !" bentak ayah pada ibu.


"Kau yang diam !, binatang !. Laki-laki tak berguna kau !. *mp*t*n kau !. Cih !..." ibu meludah diatas lantai.


"Aku juga kan bekerja. Mencari uang" kata ayah membela diri.


"Tapi mana uangnya !. Mana gajimu !. Gajimu habis kau berikan ke dukunmu itu !. Memangnya dia istrimu !?...ha !..."


"Bicara apa kau ini. Kau bersabarlah"


"Ketutmu yang bersabar !. Kau fikir, kau bisa bohongi aku lagi, ha !. Kau bilang intuk naik kedudukanlah !...naik gajilah !...Mana !...mana buktinya !. Sampe sekarang kau hanya pegawai rendahan !. Kau hanya pesuruh !. Brengsek kau !..."


Akhirnya ayah dan ibu riuh bertengkar. Erika, Riris dan Tari menjadi pendengar. Pertengkaran ayah dan ibu semakin hebat dikamar itu. Hingga adu phisik. Berkali-kali ibu berusaha menjambak rambut ayah, yang mirip dengan rambut Tari. Ibu juga menampar pipi ayah. Meninju bibir ayah. Beberapa kali tepat ke sasaran. Ayah hanya meringis. Tidak berniat melakukan pembalasan.


Beberakali juga ayah berhasil menangkis dan menghindar. Mundur keluar kamar. Ibu mengejar dan meludahi wajah ayah. Ayah menghindar lagi. Jika target ibu tidak kena sasaran, ibu semakin beringas melancarkan serangannya. Pertengkaranpun semakin menjelang pagi, semakin seru.


Erika dan Riris tidak ingin terlena melihat keseruan itu. Diam-diam mereka mencari tempat persembunyian. Pada salah satu ruangan kosong yang aman dan tentram menurut mereka. Tari pun mengikuti mereka. Tapi Tari memilih teras depan dan tidur dilantai teras itu.


Tak ada yang memperhatikan wajah polos Tari itu. Masih menahan rasa sakit pada betisnya, pipi dan kepalanya. Mengerang dan merintih kecil, sendiri. Hanya diterangi cahaya bulan yang sudah redup. Nyamuk-nyamuk pun enggan untuk menggigitnya.


Nyamuk juga punya perasaan kali. Mereka memilih mangsa yang layak untuk dihisap darahnya. Terutama darah orang yang bahagia. Tari tidak sedang bahagia. Tapi dia mengantuk dan kesakitan. Maka nyamuk mengabaikannya. Membiarkan Tari tidur dan lelap dengan membawa semua yang dirasakannya kedalam mimpinya.


Hanya setan yang tersenyum menyeringai. Menyambut mimpi Tari itu. Segera mencatat difikiran kanak-kanak Tari, kejadian malam ini. Tak lupa dimeteraikan dalam ingatannya yang terpuncak, bahwa tak seorangpun yang perduli padanya. Kecuali setan-setan itu.

__ADS_1


Sejak itu para setan sering menemani Tari. Menggelisahkan tidur Tari dengan kejadian-kejadian yang mengerikan dimimpinya. Pelaku utama kejadian itu adalah ibu.***


__ADS_2