
Esok paginya Tari lupa akan kejadian itu. Berarti Tari pun lupa untuk memberitahukan pada Miss Cecil. Bahkan benar-benar lupa. Karena malam-malam berikutnya, Tari dapat tidur lelap hingga pagi. Kalaupun Tari terbangun, itu karena Tari sesak pipis. Seperti malam ini, Tari sesak pipis. Tari harus memberanikan diri berjalan menuju kamar mandi.
Keluar dari kamar tidur. Melewati ruang makan yang gelap. Sebab ayah dan ibu tidak ada. Tidak ada adegan pertengkaran yang hebat. Tangan Tari tidak sampai untuk mencakar saklar lampu. Harus naik kursi dulu. Padahal pipisnya sudah mendesak keluar. Tidak mungkin lagi bagi Tari untuk menggeser kursi ke dekat saklar. Maka Tari pun harus memberanikan diri berjalan dalam gelap.
Lalu keluar dari ruang makan. Membuka pintu belakang. Tampaklah kamar belakang disebalah kanannya dan kamar mandi ada di sebelah kirinya. Selangkah lagi Tari bisa masuk kamar mandi, pipis dan kembali ke kamar tidur mereka.
Tapi matanya ditarik untuk melihat kemar itu, gelap. Jantung Tari berdegup kencang. Apalagi dari ekor matanya, Tari melihat kandang ayam. Iiii...Tari bergidik. Teringat 'sosok hantu' itu yang menurut Tari akan menggigitnya. Untung saja Tari bisa cepat lari. Sekarang pun Tari harus segera ke kamar mandi, pipis dan lariiii...Tidak sempat lagi menarik celananya keatas.
Setelah sampai didepan pintu kamar, saat akan membuka pintu; Tari mendengar suara ayah berbisik-bisik. Suara itu terdengar dari arah sebelah samping ruang makan ini. Hati Tari tertarik mencari tahu, sedang apa ayah disitu ? dan sengan siapa ayah berbisik-bisik ?.
Sebentar Tari menarik celananya. Lalu berjalan ke arah satu-satunya jendela diruang makan ini. Jendela yang terbuat dari kaca dan ada sedikit yang pecah. Kebetulan jendela itu tidak bertirai. Jadi Tari bebas untuk mengintip. Haaa ???...ternyata ayah sedang berbisik-bisik dengan 'sosok hantu' itu. Sambil ayah menggali tanah dengan pacul. Sedang 'sosok hantu' itu masih saja berkomat-kamit. Hanya memperhatikan ayah. Ada ibu juga bersama mereka, sedang memegang sebuah pohon kecil.
Wow...seketika ketakutan Tari hilang akan 'sosok hantu' itu. Karena Tari sudah tertarik pada 'sosok hantu' itu yang dapat berbincang-bincang dengan pohon. Mbah Kahpok yang sedang berkomat-kamit, dalam pemandagan Tari sedang bebicara dengan pohon itu. Akan hal iti Tari tidak bingung. Berdasarkan buku dongeng yang sering dibacakan Miss Cecil, memang pohon dapat berbicara. Tapi yang membuat Tari bingung adalah sikap ibu yang masih memgang 'tempat sampah' itu disalah satu tangannya.
Selesai ayah menggali, 'sosok hantu' itu menanam pohon itu. Seketika Tari bahagia. Ingin segera berlari menghampiri pohon itu dan bercakap-cakap dengan pohon itu. Mengajak pohon itu menjadi sahabatnya. Tapi niatnya terpaksa urung. Menyadari bahwa ibu masih berdiri disitu, bersama ayah dan 'sosok hantu' itu. Tari sedikit merasa kecewa. Lalu berjalan lesu, kembali kekamar mereka.
Berusaha untuk segera tidur. Walau hatinya tidak sabar menunggu pagi datang. Rasa bahagianya itu sedang bergejolak. Membayangkan pohon itu akan tumbuh besar malam ini. Maka besok pagi sebelum ke sekolah, Tari akan menyapa pohon itu. Nangkring sebentar disatu dahannya dan bercerita sebentar. Menceritakan tentang Miss Cecil yang baik.
Lalu berpamitan pada pohon itu. Karena Tari akan ke sekolah. Menceritakan pada Miss Cecil tentang pohon itu. Mengajak Miss Cecil naik ke dahan pohon itu dan bercerita disitu. Pasti Erika, Riris dan ibu tidak mengetahui keberadaan mereka di atas dahan pohon itu. Berarti pohon itu bisa menjadi tempat persembunyian juga.
__ADS_1
Sebuah senyuman lebar pun mengembang dibibir Tari. Telah mendapatkan sebuah tempat persembunyian yang aman dan tentram. Kantukpun mulai menyerangnya dan perlahan Tari pun tertidur lelap dengan membawa senyumannya itu.
Sama seperti mimpi dan kejadian-kejadian dimalam hari yang sering dialaminya, Tari pun lupa tentang rencananya tadi malam itu. Hanya ingat ada sebuah pohon yang ditanamam ayah, disamping rumah. Memang sejak ada pohon itu, tidur Tari dimalam-malam berikutnya mulai lelap dan tenang. Tak terusik dengan kebiasaan bangun tengah malam. Apalagi keusilan ingin pipis. Kini malam-malam Erika dan Riris lah yang menggelisahkan.
Pada tengah malam, mereka selalu terbangun dan ketakutan. Kata mereka dengan berbisik-bisik dibawah selimut, bahwa mereka setiap malam didatangi mimpi buruk. Malah kompakan mimpinya. Sambil menceritakan mimpinya itu, mereka menggigil ketakutan. Tari dapat mendengar bisik-bisik mereka dan merasakan getatan menggigil ketakutan mereka. Yah...begitulah nasib tidur bertiga dalam satu kasur. Hanya berbeda selimut. Erika dan Riris memiliki selimut bersama. Tari memiliki selimut sendiri.
Jika sudah didatangi mimpi itu, Erika dan Riris akan saling berpelukan erat. Mengintip dari celah bawah selimut dengan was-was kearah pintu kamar tidur mereka. Sambil menarik selimut perlahan, menutupi seluruh tubuh mereka. Tari hanya diam, berpura-pura tidur. Padahal memperhatikan mereka dari celah mata yang terbuka sedikit.
Ketakutan mereka itulah yang mengusik ketentraman tidur Tari. Membuat Tari sedikit gelisah. Tidur miring ke kiri, kekanan, telengkup, terkadang telentang. Karena kaki Riris (kebetulan Riris tidur ditengah), kadang kakinya tak sengaja menyenggol kaki Tari. Terkadang juga pantat Tari. Sampai menjelang dini hari, barulah Tari tenang dan mulai lelap.
Bersamaan dengan datangnya pagi, semua cerita tadi malam selesai difikiran Tari. Seakan memori otak Tari hanya dibatasi sampai kisah ditengah malam saja. Setelah pagi akan terhapus secara otomatis. Menguap hilang bersama lenyapnya embun pagi.
Tapi ketika Erika berhasil meyakinkan Tari, bahwa bayangan hitam itu adalah hantu. Mulailah fikiran Tari terpengaruh. Mengingat kembali 'sosok hantu' itu. Pendapat Erika semakin dipertegas oleh Riris, bahwa hantu memakan anak-anak. Terutama anak yang masik sekolah TK dan tidak tidur pada malam hari.
Hantu itu dapat masuk ke kamar tidur. Walaupun pintu dan jendela kamar terkunci rapat. Dia masuk dari lubang kunci pintu atau dari lubang angin. Maupun dari celah bawah pintu. Gigi hantu itu bertaring tajam dan kukunya seperti cakar harimau. Baunya seperti bau sampah busuk dan rambutnya acak-acakkan.
Maka malam-malam Tari pun mulai terganggu lagi. Matanya selalu tertuju ke bawah pintu kamar. Tepatnya ke lobang kunci pintu kamar mereka itu. Mengawasi pintu kamar mereka. Kalau-kalau bayangan hitam yang dikatakan Erika itu muncul di kamar mereka ini. Lalu melihat dirinya belum tidur.
Seketika Tari tersentak ketakutan. Menarik selimutnya, sampai kekepalanya. Begitu tadi seperti melihat ada sekelebat bayangan hitam memasuki kamar mereka. Bayangan itu diam, tak bergerak didekat ujung kaki-kaki mereka. Ketakutan hebatpun menyerang Tari. Tapi memaksanya untuk mengintip bayangan hitam itu dari balik selimutnya. Sedang Erika dan Riris, sudah menggigil ketakutan dibawah selimut mereka. Tak ingin mengintip sedikitpun.
__ADS_1
Begitu kencangnya Erika dan Riris menggigil. Sampai-sampai kaki Riris tak sengaja menendang tubuh Tari. Tari pun terjatuh, panik ketakutan dan menangis. Sambil spontan memaki Riris.
"*nc*ng cau !...b*b* !...."
Tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka lebar. Prak !...ternyata ibu yang menendang pintu itu. Begitu mendengar suara gaduh dan suara tangis Tari. Sejenak ibu berdiri diambang pintu, berkacak pinggang. Menatap tajam pada Tari.
Spontan tangisan Tari berhentim Walaupun mulutnya masih terbuka lebar. Menatap ibu dengan tercengang kaget. Sedang Erika dan Riris bersembunyi dibawah selimut mereka. Berpura-pura tidur lelap. Tapi masih tampak mereka menggigil ketakutan.
"Kurang ajar !...Sudah malam masih gaduh kalian !. Brengsek !..." kata ibu. Sambil mendekati mereka. Lalu menarik kuat kaki Erika, kaki Riris. Hingga mereka terjatuh dari tempat tidur. Buk !...buk !...bunyi pantat mereka. Beradu dengan lantai.
Walaupun terasa sangat sakit. Tapi mereka tidak berani untuk mengaduh. Hanya berusaha menjauhkan wajah mereka dari mulut ibu. Aromanya sangat bau, parah. Sama dengan pantat mereka yang nyut-nyut parah. Juga suara lengkingan teriakan ibu, parah ditelinga mereka.
Kecepatan suaranya, sama dengan kecepatan tangannya. Menampar, meninju, menjambak dan mencubit mereka.
"Ini lagi...binatang yang satu ini" kata Ibu pada Tari. Sambil menjambak rambut tipisnya. Spontan Tari menangis.
"Diaaaammm !!!!..." pekik ibu nyaring pada Tari. Lalu menendang kuat bokong Tari. Hingga Tari terhempas jauh. Jatuh tersungkur ke depan ambang pintu. Nyaris saja kepalanya membentur ujung daun pintu.
Belum puas sampai disitu. Bahkan tidak melihat Tari tersungkur, ibu sudah berpaling pada Erika dan Riris. Menendang-nendang paha dan pantat mereka. Mengusir mereka keluar dari kamar dengan teriakan histeris. Percis seperti seorang pemain bola yang sedang menggiring bola ke gawang lawan. Demikianlah yang dilakukan ibu kepada mereka bertiga.
__ADS_1
Ibu menggiring mereka ke arah kandang ayam. Hingga tepat didepan pintu bekas kandang ayam yang tingginga seukuran gawang dan lebarnya 1 meter. Pintu kandang ayam itu terbuka lebar. Satu-persatu ibu menendang mereka, "Gooooollll !!!!"***