PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Welcome Happy


__ADS_3

"Buka !...Hei !...Ngapain lo di dalam. Buka ini !"


Taripun akhirnya membuka pintu kamar itu. Berdiri didepan pintu kamar itu. Sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Apa lo !" tantang Tari.


"Keluar !" bentang Bintang.


"Kalau gua tidak mau, lo mau apa !...Ha !" tantang Tari lagi.


Bintang menarik kasar tangan Tari. Agar menjauh dari pintu kamar oranh tuanya itu.


"Plak !..."


Tidak terduga Bintang, malah Tari membalas dengan menampar pipi Bintang. Nyaris dua kali. Kalau saja Bila tidak datang dan melerai mereka.


"Apa-apaan ini !" tanya Bila, kaget dan sangat marah. Menatap tajam ke Tari.


"Tanya sama dia !. Mau apa dia didalam kamar papi mami !" jawab Bintang degan nada tinggi. Karena kesal, niatnya untuk membalas tamparan Tari; terhalang oleh kehadiran Bila.


"Iiii...Suka-suka gua kali" jawab Tari, garing.


"Apa !?...Suka-suka elo !..."jawab Bintang lagi dan kembali menarik tangan Tari.


"Plak !"


"Bintang !...Sudah !" kata Bila dan memukul tangan Bintang.


"Kalau mau gaduh, tolong jangan dirumah ini. Keluar saja !" lanjut Bila, kecewa. Menatap Tari dan Bintang silih berganti.


"Kurang ajar !...Berani kau mengusir aku !. Lihat saja nanti !. Kalian berdua yang akan terusir dari rumah ini !. Lihat, ya !" kata Tari mengancam. Sambil mengarahkan jari telunjuknya kehadapan Bila dan Bintang, silih berganti.


Kemudian sponta Tari menendang daun pintu kamar itu, lalu pergi. Sambil mengumpat dan memaki.


"B*b* !...*nj*ng !...L*nt* !...Kusumpahi mati kalian semua !. Seperti mami papi kalian itu !"


"Kurang ajar !"


"Bintang !...Jangan..."


Bila dan Bintang tidak bernafas lega. Walaupun Tari telah pergi. Karena mereka yakin, Tari tidak akan berhenti. Itu baru permulaan.


Bila pun meminta Bintang untuk menjauhi permasalahan dengan Tari. Sambil mereka masuk kekamar almarhum orang tua mereka itu.


"What ?!"

__ADS_1


Betapa kagetnya mereka. Melihat kamar berantakan. Laci perhiasan mami telah dibuka dengan paksa. Juga barang-barang berharga mami yang lain sudah hilang.


"Garong kan, kak" kata Bintang, sangat marah dan kecewa.


Sejenak mereka saling menatap dengan mata mereka yang masih sembab. Sudah dapat diduga siapa pelaku pengrusakan dan penjarahan barang-barang berharga mami mereka itu. Beserta beberapa jam tangan milik papi yang bermerk.


Hanya tingga lemari pakaian papi dan mami mereka yang belum disentuh.


"Pasti dia tadi kekamar ini mau membobol lemari ini. Tapi gagal, keburu Bintang datang, kak"


"Mudah-mudahan dia belum menemukan kunci lemarinya. Ayo..." kata Bila.


Segera mereka mengambil kunci lemari itu dari tempat biasa orang tua mereka menyimpannya Setelah Bila mendapatkan kunci itu, mereka pun bernafas lega dan membuka lemari pakaian orang tua mereka itu.


Pada bagian bawah susunan tumpukan baju papi yang dilipat ada sebuah laci. Tempat papi menyimpan surat-surat berharga. Mereka membuka laci itu. Memeriksa dengan teliti beberapa lembar map yang ada didalamnya.


Berisi surat-surat berharga dan dokumen-dokumen penting. Ada akte lahir mereka, surat nikah papi dan mami, ijazah papi dan mami, beberapa sertifikat rumah dan tanah. Hingga BPKB semua kenderaan atas nama papi dan mami mereka. Semua itu diselamatkan Bila dan Bintang.


Kecuali buku tabungan mami dan papi yang sudah raib. Buku tabungan itu biasa disimpan papi dilaci meja kerjanya yang ada didalam kamar ini. Begitu pula dengan asuransi papi dan mami, juga raib. Itupun bersamaan disimpan papi dengan buku tabungan mereka. Maka surat-surat berharga itu mereka simpan baik-baik.


Hanya mereka masih bingung dan heran, membayangkan betapa jahatnya Tari. Pada saat mereka sedang berduka, dia malah memikirkan untuk menyita harta orang tua mereka.


"Bintang gak habis fikir, kak. Hati si Tari itu terbuat dari apa sih"


"Gak tahu, Bin. Kakak juga bingung. Tuh anak dulu kecilnya bagaimana, ya"


"Iya...Itu juga yang kakak sedihkan. Bayinya kan keponakan kita. Kakak gak rela bayinya terkena karma perbuatan ibunya"


"Bintang juga gak rela, kak" kata Bintang dan menatap sedih pada Bila.


Segera Bila memeluk adiknya itu. Mereka bertangis-tangisan didalam kamar Bila itu. Edhie hanya menatap mereka, juga dengan sedih. Perlahan air matanya bergulir. Membasahi kedua pipinya. Lalu memeluk Bila dan Bintang. Membenamkan kedua orang itu dalam pelukannya.


Sementara Tari tak merasa puas dengan apa yang sudah dijarahnya dari kamar mertuanya. Tak ada juga rasa bersalah. Malah Tari marah-marah kepada Anton. Begitu telah tiba dirumahnya.


Memberi perintah kepada Anton untuk segera mengusir Bintang dan Bila dari rumah papi dan mami.


"Tidak" jawab Anton membantah.


"Apa !?...Tidak !?...Oohhh...bagus. Laki-laki bodoh !. Pengecut !...Saudara-saudaramu sudah melawan aku. Aku sedang hamil begini, diusir dari rumah mami. Padahal mami sudah bilang, bahwa itu rumah aku !. Lalu kau bilang tidak ?!. Bodoh kau !...Tolooooll..."


Tiba-tiba Tari memukul-mukul perutnya dengan kedua tangannya, sangat kuat.


"Mati kau !...Mati kau anak sial !..."


"Hei !...Berhenti !...Tari !..."

__ADS_1


Anon sangat kaget dan segera memegang kedua tangan Tari. Agar berhenti memukul perutnya sendiri. Tapi Tari tidak mau berhenti. Tari sudah seperti orang kesurupan. Berteriak histeris memerintah Anton. Tari juga mendorong tubuh Anton. Agar menjauh darinya. Menendang, menampar dan meludahi Anton. Pertarungan yang sengitpun terjadi diantara mereka. Hingga dengan terpaksa Anton menyetujui perintah Tari.


Hanya Anton meminta waktu. Sampai semua acara kunjungan penghiburan kerabat, famili, perkumpulan keluarga dan perkumpulan RT/RW selesai. Barulan Anton akan melaksanakan perintah Tari itu.


"Terlalu lama, bodoh !. Bisa-bisa rumah itu telah dijual Bila atapun Bintang"


"Gak mungkinlah mereka..."


"Aku bilang, usir mereka sekarang. Usir Anton !..Usir mereka !...Kalau tidak, kubunuh anak ini !. Usir mereka !"


"Tari...cobalah untuk..."


"Kurang ajar !...B*b* kau !...*nj*ng !...Usir mereka sekarang !. Sekarangang Anton !..."


Melihat Anton masih berkeras dengan usulannya sendiri. Tiba-tiba Tari berlari-lari kencang didalam rumah. Lalu membenturkan perutnya ketembok rumah.


"Tari !...Plis...jangan. Jangan Tari..." kata Anton dalam kepanikan. Berusaha mencegah Tari melakukannya lagi. Anton memeluk Tari. Tapi tiba-tiba Tari merasakan perutnya sakit.


"Aduh...kurang ajar !...perutku sakit..."


"Tari...apa yang harus aku lakukan"


"Sakit...anak kurang ajar ini...aduh..." Tari memegangi perutnya. Anton panik dan kebingungan.


"Mana yang sakit, sayang. Biar aku pijit"


"Bodoh !...bawa aku ke klinik bersalin. Cepat !..."


"Oh...iya...iya, sayang"


Setelah mengambil tas yang jauh hari telah dipersiapkan Anton untuk Tari melahirkan, Anton pun membawa Tari ke klinik bersalin terdekat.


Selama dalam perjalanan ke klinik, hingga proses melahirkan; tidak henti-hentinya Tari mengeluarkan kata-kata makian, ancaman dan kecaman terhadap Anton untuk segera mengusir Bila dan Bintang.


Bahkan sampai bayinya lahir, Tari masih berteriak dengan memaki dan mencaci Anton beserta kedua saudaranya yang tertinggal.


Sampai-sampai bidan yang membantu Tari melahirkan, geleng-geleng kepala mendengar dan melihat wajah Tari yang penuh kebencian, marah dan dendam. Apalagi saat diberitahu seorang perawat, bahwa Tari menolak memberi ASI pada bayi perempuannya itu. Bidan itu hanya memandang heran dan tak percaya pada apa yang dilakukan Tari.


Selama ini mereka hanya membaca di media, melihat di TV; kalau ada ibu kandung yang berbuat jahat pada bayi mereka. Sekarang ini, mereka melihat langsung dan itu pasien mereka sendiri.


Untungnya bayi itu mempunyai ayah yang sangat lembut dan perhatian, seperti Anton.


"Siapa namanya, pak" tanya bidan itu pada Anton.


"Happy...Karena dia aku akan selalu happy" jawab Anton yang sedang menggendong bayinya itu.

__ADS_1


"Halo Happy...welcome anak baik" kata si bidan***


(Masih setiakan membaca novel ku ini. Thanks ya ⚘ini buat kamu-kamu and ♥️)


__ADS_2