
Belum ada yang menyadarinya. Hingga membuat Mbah Kahpok dapat pergi leluasa dengan cepat. Hingga beberapa detik kemudian setelah Mbah Kahpok pergi, barulah tubuh Mbak Ipeh lunglai dan rebah diatas tanah dihalaman depan rumah orang tua Tari itu.
"Aaaaa !!!...." teriak seseorang yang berada tepat disamping Mbak Ipeh tadi berdiri.
Seketika suasana kembali ramai.
Tari tertawa sangat kencang didalam mobil polisi. Meluapkan kebahagiaannya atas kejadian yang menimpa Mbak Ipeh.
"Mati lo Mbak Ipeh !. Mati !... Makanya jangan menentang gua lo !. Tuh kan... lo jadi mati !. Hahahaha...."
Kedua polisi itu saling menatap. Merasa ada yang janggal dengan tingkah Tari itu. Aneh, sadis, tidak ada rasa takut dan selalu membangkang. Bahkan sekarang merasa bahagia.
"Sepertinya ada kejadian lagi dirumah tadi" kata seorang polisi yang berada di jok depan, disamping polisi yang mengemudikan mobil.
Ternyata polisi itu memperhatikan dari spion dan melihat kejadian yang terjadi didepan rumah Tari itu. Sejak Tari grasak-grusuk di jok belakang.
"Kejadian apa ?" tanya polisi yang mengemudikan mobil.
"Pembunuhan !... Hahaha...." jawab Tari bahagia dan kembali tertawa kencang.
Keempat orang polisi yang berada didalam mobil itupun sejenak saling berpandangan.
"Hei !... Polisi-polisi !...Lo lihatkan !. Musuh gua mati !. Bukan karena gua !. Karena dosanya sendiri !, berani menantang gua !. Lo berempat juga kudu hati-hati !. Jangan menentang gua lo !. Hahahaha...Hati-hati nyetir, ya.. Hahahaha...."
Baru saja Tari mengatakan itu, salah satu ban mobil polisi itu pecah. Jalan mobilpun jadi oleng tidak terkendali. Naik ke trotoar dan menabrak sebuah warung kopi.
"Awaaass !!!..."
"Awaaasss !!!..."
"Lariiiii !!!..."
Teriak beberapa orang yang melihat mobil itu. Sambil mereka berhamburan lari tunggang langgang, panik dan kaget. Menghindari mobil polisi itu.
Mobil masih belum berhenti. Masih melaju beberapa meter lagi. Keluar lagi dari trotoar dan akhirnya menabrak sebuah mobil yang sedang parkir ditepi jalan itu.
"Gedebyaaarrr !!!..."
Barulah mobil polisi itu berhenti.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu, langsung mendekati mobil polisi itu. Mereka berusaha membantu mengeluarkan ke empat orang polisi itu dan juga Tari.
Keempat orang polisi itu tampak terluka dikepala dan pelipisnya. Untungnya orang-orang yang tadi berada ditempat kejadian tidak ada yang terluka. Hanya ada kerugian materi.
Tapi keempat orang polisi itu harus mengabaikan luka-luka mereka. Karena mereka segera teringat kepada Tari.
Terlambat...untuk hal itupun, polisi terlambat. Tari bertubuh tambun dan pasti juga terluka, lebih gesit gerakannya dibanding keempat orang polisi itu. Begitu keempat orang polisi itu berhasil dikeluarkan oleh orang-orang itu.
Tari dengan kekuatan amarah dan kebenciannya berhasil keluar sangat cepat dari dalam mobil itu. Lalu berlari kencang menjauhi tempat kejadian itu dan sudah hilang dibawah fajar yang akan menyingsing.
Keempat orang polisi itupun panik, menyadari tidak adanya tanda-tanda bahwa Tari juga telah dikeluarkan orang-orang itu dari dalam mobil.
"Dimana dia..."
__ADS_1
"Lari kemana dia"
Tanya para polisi ke sembarang orang yang ada disekitarnya. Sambil menyibakkan kerumunan orang-orang yang tadi menolong mereka keluar dari dalam mobil.
"Siapa, pak ?!....Perempuan gendut ?. Tuh...lari kearah sana" jawab seseorang memberi informasi.
"Ayo !" kata salah seorang polisi itu mengajak ketiga temannya untuk mengejar Tari kearah yang ditunjuk seseorang itu.
Ternyata Tari kembali kerumah orang tuanya. Keadaan semakin ramai. Ada beberapa orang petugas medis, polisi, Komandan Kabila, Pak Rt dan Pak RW, tetangga-tetangga, ibu dan yang terpenting masih ada Bila. Berdiri disamping Edhie.
Juga masih ada Anton yang diapit dua orang polisi dikiri dan kanannya. Lebih banyak tertunduk, diam dan sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat Bila.
Komandan Kabila masih bercakap-cakap dengan Pak RT dan Pak Rw. Tidak jauh dari mereka Bila, Edhie, Om Hombing dan ayah Tari; juga sedang bercakap-cakap. Sedang ibu bercakap-cakap dengan beberapa orang polisi.
Sejenak Tari berdiri mematung. Menatap tajam kearah mereka dari sebrang jalan dan bersembunyi dibalik sebuah pohon besar ditepi jalan itu. Ada Mbah Kahpok berdiri disamping Tari. Berpakaian hitam-hitam yang sedang menatap tajam pada ayah. Mbah Kahpok sedang berusaha mempengaruhi ayah untuk mengendalikan fikiran ayah.
"Jangan ayah" kata Tari, melarang Mbah Kahpok. Begitu menyadari akan perbuatan Mbah Kahpok itu.
"Hanya dia yang bisa aku kendalikan dari sini"
"Si Siti saja" usul Tari dengan menyebutkan nama ibu tidak sopan.
"Ibumu ..."
"Dia bukan ibuku, tolol !. Dukun bodoh !...Kalau tidak bisa kerja...biar aku sendiri saja !"
Tari langsung berlari kencang, mendekati Bila.
"Ibumu tidak pernah memakai jasaku. Dia tidak mempercayai aku. Jadi tidak bisa kumasuki fikirannya" Mbah Kahpok berbicara sendiri. Sambil memperhatikan Tari yang sedang berlari dan....
"Wus !"
Tari tidak memperhatikan hal itu lagi. Karena kini Tari, beberapa langkah lagi berhasil mendekati Bila.
Tidak ada yang menyadari kedatangan Tari yang tiba-tiba itu. Bahkan tidak ada yang menduga kedatangan Tari yang begitu cepat. Hampir mendekati kecepatan cahaya.
"Wus !"
Tari langsung menyusup kebelakang Bila dan mencekik leher Bila.
"Ggggghhhhh....."
Bila gelagapan dan tangannya menggapai-gapai.
"Hei !... Hentikan !" teriak Anton. Sambil berlari kearah Tari dan Bila.
Teriakan Anton yang kencang dan tiba-tiba itu, membuat orang-orang panik. Begitu juga Edhie, baru tersadar dan menoleh kearah Bila yang sudah gelagapan dicekik Tari.
Segera Bila mencengkeram tangan Tari. Berusaha melepaskannya dari leher Bila. Sedangkan Anton segera memeluk Tari dari belakang. Berusaha menjauhkan Tari dari Bila.
Melihat tangan Bila begitu kuat dileher Bila. Sampai Bila mulai lemas, ibu pun bertindak. Berlari kearah Tari dan menggigit kuat tangan Tari.
"Aaaaa !!!..." teriak Tari kesakitan.
__ADS_1
Barulah tangan Tari terlepas dari leher Bila. Anton yang masih memeluk Tari, menarik Tari mundur beberapa langkah. Menjauhkan Tari dari Bila.
Tapi kemudian Tari memberontak. Mencakar kedua lengan Anton. Begitu pelukan Anton mulai melonggar, Tari berbalik kearah Anton. Menyikut perut Anton dan mendoring kuat tubuh Anton ke arah jalan, depan rumah orang tua Tari itu.
Percis saat itu sebuah mobil sedang melaju kencang akan melintas dari depan rumah orang tua Tari itu. Mobil itupun menyambar tubuh Anton.
"Antoooooonnn !!!...."teriak Bila histeris.
Tubuh Anton dihantam mobil itu dan terpelanting kedepan. Lalu jatuh terhempaa diatas jalan beraspal beberapa meter dari depan rumah orang tua Tari itu.
"Ciiiiiiitttt !!!...."
Terdengar bunyi suara ban yang beradu dengan aspal. Karena rem mendadak dilakukan sang pengemudi. Sementara mobil masih belum berhenti.
"Dlek !...Dlek !..."
Dua roda depan mobil itu melindas tubuh tak berdaya Anton.
"Anton" bisik Bila pada dirinya sendiri. Lalu fikirannya memerintahkan tubuhnya untuk berhenti seketika. Hanya menatap Anton rebah diatas aspal, dibawah mobil iti; dari kejauhan.
Komandan Kabila dan anggotanya langsung bertindak. Ada yang segera menangkap Tari dan memborgolnya. Ada pula yang menuju mobil dan Anton untuk melakukan pertolongan. Bersama ibu dan Om Hombing.
Sedangkan Edhie memeluk Bila dan masih menatap kearah Anton. Ayah hanya diam, berdiri mematung. Tatapannya kosong kearah Tari.
Tari terdiam saat ditangkap kembali oleh beberapa orang polisi. Tidak meronta-ronta lagi dan tidak mencaci maki lagi. Tapi ada sesungging senyuman dibibirnya. Senyuman yang teramat sinis, diarahkan pada Bila.
Ketika Tari dibawa masuk kembali kedalam mobil polisi, Tari malah tertawa kencang.
"Hahahaha....Hahahaha..."
Tari dibawa kekantor polisi dan masih tertawa-tawa kencang. Sambil menebarkan tatapannya pada polisi-polisi yang memperhatikannya.
Ambulance telah membawa Anton kerumah sakit. Bila dan Edhie menyusul kerumah sakit. Tapi didalam perjalanan kerumah sakit, dikabarkan pada mereka kalau Anton meninggal dunia. Bila menjerit histeris dan pinsan untuk beberapa saat.
Sementara dirumah sakit lain, keadaan Bintang sudah melewati masa kritis. Tante Hombing setia mendapingi Bintang. Walaupun Tante Hombing dikabarkan suaminya bahwa Anton sudah meninggal, Tante Hombing tidak ingin segera menyampaikannya pada Bintang. Biarlah Bila yang menyanpaikannya.
Sementara Mbah Kahpok tengah berhadapan dengan nyai.
"Hihihihi....hihihi..." tawa nyai menyeringai didepan wajah Mbah Kahpok.
"Kau lebih mematuhi si Tari, ketimbang saya. Maka...Jleb !... Wus !..."
Nyai memusnahkan semua kekuatan Mbah Kahpok, yang pernah diberikannya pada Mbah Kahpok. Mbah Kahpok kini sudah tidak berdaya. Seluruh tubuhnya lumpuh. Kecuali mata, telinga dan hidungnya yang berfungsi..
Mbah Kahpok hanya menatap nyai yang tengah menggendong dan menimang-nimang Happy. Lalu seketika...
"Wus !"
Happy sudah kembali berada disamping Mbak Min. Tidur lelap diatas ranjang Mbak Min dirumah almarhum orang tua Bintang.
Tari akhirnya divonis menderita gangguan jiwa dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa.***
...Tamat...
__ADS_1
(Thanks teman-teman yang mengikuti novelku sampai tamat. Semoga bermanfaat ya. Jgn lupa like and komennya ya. dan sampai jumpa dinovelku selanjutnya. ❤loop u all)