
Anton sangat uring-uringan. Belum menikmati malam pertamanya. Tapi sudah selalu dimarahi Tari. Karena sesuatu dan lain hal yang sepele. Misalnya usulan untuk makan bersama diruang makan keluarga. Karena Bila yang selalu buang muka. Jika bertemu dengan dirinya.
Hal-hal seperti itu bisa memicu kemarahan Tari kepada Anton. Pakai kata-kata kotor, cacian dan sumpah serapah.
Padahal Anton sudah sangat ingin mendapatkan jatahnya dari Tari. Alasan Tari pada Anton, sedang datang bulan.
"Sudah selesai ?" tanya Anton lagi, pada malam berikutnya.
"Diamlah kau disitu. Kerja dulu kau !. Baru kau minta jatahmu"
"Kamu tahan ?, kita belum malam pertama ?. Padahal tiap hari kau lihat aku telanjang. Kalau aku tidak tahan..." kata Anton dan akan memeluk Tari.
Segera Tari menghindari. Menepiskan tangan Anton.
"Makanya jangan intip aku. Kalau aku lagi mandi. Biar tidak tegang"
"Ayolah Tari...Aku gak tahan lagi. Lihat nih..." Anton membuka celananya dab memperlihatkan miliknya yang telah perkasa didepan Tari.
"Pergi sana kau !. Aku benci melihatmu !" kata Tari dan mendorong Anton kekamar mandi. Lalu mengunci pintu kamar mandi.
Sepertinya Tari tidak berminat melakukan kewajibannya sebagai istri. Padahal Tari hanya mengikuti perintah Mbah Kahpok. Malam pertamanya akan dilakukan setelah lewat tujuh hari dari hari pernikahan mereka.
Bukan berarti Mbah Kahpok telah mengoperasi Tari menjadi perawan lagi. Tapi Mbah Kahpok akan mempermainkan fikiran Anton dan waktu yang dibutuhkan adalah tujuh hari. Mbah Kahpok akan membawa fikiran Anton untuk terbang. Serasa menikmati keperawanan.
Tari tidak perduli dengan urusan malam pertama itu. Dirinya masih terbuai untuk melanjutkan acara memproklamirkan dirinya. Targetnya hari ini adalah kampus.
Tari tidak sungkan-sungkan juga memerintah Pak Joko yaitu sopir papi mertuanya untuk mengantarkannya ke kampus. Memakai mobil mewah milik papi mertuanya. Itupun tanpa minta ijin terlebih dahulu pada papi mertuanya.
Papi dan mami mertuanya itu hanya bisa mengelus dada. Mendengar perintah Tari pada Pak Joko. Malah Pak joko yang minta ijin pada papi dan mami. Setelah diberi ijin, barulah Pak Joko membawa Tari kekampus. Bukan untuk urusan kampus. Karena Tari sudah wisuda. Satu minggu sebelum pernikahannya dengan Anton. Hanya tinggal menunggu ijazahnya keluar. Urusan Tari kekampus untuk mengkampanyekan statusnya kini sebagai nyonya kaya.
Begitu mobil yang membawa Tari memasuki halaman kampus, Tari yang duduk pada posisi dibelakang sopir; langsung membuka lebar kaca mobilnya. Mendekatkan wajahnya kepintu yang kacanya terbuka itu. Sekedar memperlihatkan wajahnya ke orang-orang yang sedang lalu lalang. Agar mereka tahu dirinya sedang duduk manis didalam mobil mewah ini. Tapi tatapan Tari sendiri, lurus kedepan. Menambah kesan wibawa, begitu fikir Tari.
"Stop, pak. Saya disini saja. Bapak parkirkan mobil ditempat parkir, ya" perintah Tari dengan suara kencang.
Sengaja Tari minta berhenti didekat taman kampus. Karena tempat itu yang paling ramai. Banyak anak-anak kampus yang lagi duduk bersantai, diskusi atau bercakap-cakap; dihamparan rumput dan bangku-bangku taman.
Ada juga yang sedang berjalan hilir mudik. Menuju atau baru keluar dari salah ruangan kuliah.
Sengaja pula Tari mengeluarkan suara sangat kencang. Saat memerintah Pak Joko untuk menghentikan mobil. Agar anak-anak kampus itu melihat kearah dirinya. Begitu mereka melihat kearah mobil mewah itu, Taripun keluar dari dalam mobil.
Begitu sombongnya Tari keluar dari dalam mobil itu. Tatapannya masih lurus kedepan. Dagunya diangkat dan membusungkan dadanya. Kemudian melangkah dengan langkah lebar. Menuju gedung administrasi kampus.
__ADS_1
Baru melangkah beberapa langkah. Tanpa sengaja Tari melihat Fitri sedang duduk-duduk ditaman kampus juga dengan beberapa teman mereka yang lain.
Taripun menghampiri mereka dengan hati sombong penuh sukacita.
"Lagi pada ngapain disini. Gosipin apa sih" sapa Tari sok akrab dan sok manis kepada mereka.
Tidak ada seorangpun dari mereka yang menyambut Tari dengan senyum ramah. Apalagi yang suka rela menjawab pertanyaan sok akrabnya itu.
Bahkan mereka pun tak melihat ke arah Tari. Semua memalinhkan wajahnya masing-masing. Ada yang menoleh kebelakang, kekiri dan kanan. Ada yang memasang wajah benci, dendam dan ada yang masih takut.
"Maaf ya, gue gak undang kalian dipesta pernikahan gue. Maklumlah...gue sibuk"
"Gak apa-apa. Santai aja kali" jawab Gina yang kebetulan berada disitu juga.
"Oh ya, Fit. Gue dengar lo udah putus ya...dari Toni" tanya Tari sok perhatian. "Waahh...gue ikut bersedih lho. Tabah ya, Fit" kata Tari dan langsung tertawa kencang.
"Tiba-tiba disini bau. Pindah yok..." kata Fitri spontan dan langsung berdiri. Sambil menarik tangan Gina. Teman-teman yang lain pun mengikuti Fitri. Mereka berdiri dan melangkah pergi bersama Fitri.
"Eh, Fit...gue bersyukur lho, menolak cinta Toni. Kalau tidak, sudah jadi perawan tua gue. Kayak lo..." kata Tari. sebelum Fitri jauh, "Yang sabar ya, Fit !" teriak Tari. Lalu tertawa-tawa kencang.
Tawa Tari akan mengiringi kepergian Fitri. Tapi mendadak Fitri berhenti melangkah dan menoleh kearah Tari yang masih tebar senyum ke adik-adik tingkat mereka yang berserakan dihalaman depan kampus.
"Mau apa lo, Fit" tanya Gina curiga. Mengikuti arah tatapan Fitri. "Jangan nekat, Fit. Dia itu maniak. Tobat lo, Fit"
Sisa senyum Tari masih membekas dibibirnya. Tapi Fitri tidak menghiraukan itu. Hati Fitri dibakar marah dan bertekad harus menuntaskannya...sekarang !.
"He...lo kata perawan tua ?!. Itu lebih baik. Ketimbang lo udah gak perawan sebelum nikah sama Anton !" kata Fitri dengan suara kencang. Menandingi suara Tari sehari-hari.
"Lo jual perawan lo ke dukun tua. Iya, kan ?!. Perempuan sundal murahan lo !. Najis !..."
Seketika sisa senyum Tari hilang, tak berbekas. Kini bibirnya terkatup rapat. Wajahnya menunduk sedikit. Tapi tatapannya tajan kearah Fitri. Suara nafasnya sangat kencang. Sekencang dengusan Banteng yang akan menanduk orang yang berbaju merah didepannya.
Semua orang yang mendengar perkataan Fitri itu, mendadak diam. Menatap Tari dan Fitri dengan tercengang. Terhipnotis ketidakpercayaan atas keberanian Fitri mengungkap fakta busuk Tari didepan khalayak
Mereka langsung menerawang, hal apa yang bakalan terjadi pada Fitri selanjutnya. Karena mereka tahu, kesadisan Tari terhadap teman-teman satu kamarnya. Hal itu bukan rahasia lagi. Karena sudah bahan perbingan hangat dari kamar ke kamar dan dari satu kelompok ke kelompok lain. Hingga terdengar Ibu Pur dan yayasan kampus.
Kecuali Gina yang tidak terhipnotis. Secara sadar Gina langsung menarik tangan Fitri untuk segera pergi. Menghindar dari Tari. Sebelum kemarahan Tari berevolusi jadi tindakan brutal kepada Fitri.
"Lepasin gue, Gin. Gue gak takut sama dia. Lepasin !..."kata Fitri. Berusaha melepaskan tangan Gina dari lengannya.
"Tidak...gue takut lo dibunuh dia"
__ADS_1
"Gue gak takut. Biar semua orang lihat kesadisan perempuan sundal itu !"
"Ngiiiiinnnggg..." sinyal antena Tari memberi peringatan untuk tidak langsung melayani kemarahan Fitri itu. Jika Tari terpancing melayani Fitri sekarang, bahaya. Ini tempat terbuka. Masih banyak pasang mata yang menyaksikan mereka nanti.
Hal itu sudah pasti akan merusak promosi Tari tentang dirinya yang baru menjadi nyonya kaya. Padahal Tari sudah letih cuap-cuap didepan adik-adik tingkatnya itu. Tadi sudah memotivasi mereka untuk belajar yang rajin dan benar. Agar dapat calon suami yang kaya.
Akhirnya Tari pun memilih untuk diam. Memainkan peran sebagai orang yang tertindas. Membiarkan Fitri semakin mengobral kemarahannya.
"Hoii...teman-teman" kata Fitri kepada seluruh adik-adik tingkat mereka yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Oooooiiii..." jawab adik-adik tingkat mereka itu secara serentak. Mirip penonton bayaran diacara-acara televisi.
"Nih !...si Tari ini, berhubungan dengan yang katanya orang pintar. Sampai menjuak perawannya. Si Tari ini, nyaris membuat buta mata Martha dan pernah menyiksa Mila didalam kamar mandi...."
"Wasweswos...Wasweswos..." spontan terdengar bisik-bisik bising orang-orang yang mendengar pernyataan Fitri itu. Mereka tampaknya sangat kaget atas pengakuan Fitri itu.
"Si Tari ini jugalah, yang mencuri uang kita-kita, teman satu kamarnya. Memakai jasa orang pintarnya itu alias dukunnya itu. Dukunnya itu meneror gue. Mau memperkosa gue. Karena gue pernah pergoki dia lagi digenjot dukunnya dikamar asrama..."
Fitri tidak perduli bisik-bisik yang semakin ramai. Fitri masih antusias berlagak juru bicara massa yang lagi demo.
"Kalau nanti atau besok, gue mati. Itu sudah pasti ulah si Tari dan dukunnya itu" kata Fitri mengakhiri kampanyenya.
Kalimat terakhir ini mampu menghentikan bisik-bisik bising mereka-mereka tadi. Merekapun semua terdiam. Tercengang dengan mulut terbuka lebar dan tatapan lebar tertuju pada Fitri.
Sejenak Fitri melemparkan senyum pahit pada Tari. Lalu Fitri pergi menjauhi Tari dan diikuti oleh Gina. Beserta teman-teman mereka yang tadi duduk berkumpul bersama Fitri.
"Gila lo, Fit. Merinding gue..." kata Gina.
"Biarin !...gue udah capek menghindar dari Tari. Sekarang gue udah siap menghadapi Tari. Apapun resikonya...Toh...udah gak ada yang nangisin gue lagi"
"Fit, jangan gitu dong. Kita-kita pasti nangis kalau kehilangan lo" kata seorang teman yang lain.
"Thanks teman-teman" kata Fitri dan terus melangkah diikuti teman-temannya itu. Tanpa tahu mau kemana.
"Kita mau kemana nih sekarang" tanya Gina. Setelah mereka hanya keliling halaman kampus saja sedari tadi.
"Gak tahu...gue hanya merasa letih. Pengen istirahat...tapi gak tahu kemana" kata Fitri dengan nada sedih.
"Ke kamar Bintang aja yok..." usul salah seorang teman yang lain dan spontan disetujui yang lain.
Akhirnya mereka pun berjalan kearah asrama. Menuju ke kamar Bintang***
__ADS_1
(komen dan like ya teman...love u⚘)