
Kejadian malam itu, diabaikan Tari. Fikirannya menganggap itu bukanlah kejadian istimewa yang harus direnungi dan ditangisi. Sampai tumbuh rambut-rambut putih dikepala, alias ubanan.
Anggap saja lah kejadian malam itu sebagai mimpi buruk. Dahulu juga sering didatangi mimpi buruk. Ada ularlah dikamar tidurnya ini. Ibu yang berubah jadi tikus pemakan daging anak-anak, dan banyak lagi yang lebih menyeramkan.
Ceteklah dengan kejadian malam itu. Mbah Kahpok berubah jadi perempuan cantik dan bergumul dengan ayah. Itu sih...tak perlu dibesar-besarkan. Sedikit banyak Tari tahu jalan ceritanya.
Nyai adalah jelmaan pohon kesayangannya yang banyak membantu ayah dan secata tidak langsung, membantu dirinya juga.
Saat ini Tari menghadapi masalah yang sangat besar. Tari sudah kehabisan uang. Tapi sebenarnya masalah itu pun sudah menemukan jalan keluarnya. Tinggal melanglah saja.
Yaahh..hari ini rencana itu akan dijalankannua. Bolos sekolah hari ini. Itulah rencananya. Karena sejak kemarin, fikirannya telah dipenuhi niat untuk mengambil uang ayah lagi.
Berhubung uang Tari sudah habis-bis dan ayah tidak lagi memberinya uang. Walaupun itu untuk ongkos PP dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah. Itu adalah bentuk hukuman ayah pada Tari. Karena telah mengambil uang ayah tanpa ijin.
"Kalau aku minta, ayah pasti tidak kasih"
"Tidak kamu minta pun, setiap minggu sudah ayah kasih kamu uang"
"Uang itu hanya cukup untuk ongkos saja. Uang jajanku, tidak ada"
"Jangan boros. Cukupkan dengan uang yang ayah kasih itu"
Setelah berkata itu, ayah langsung ngacir. Tidak ingin memperpanjang debat dengan Tari. Tari pun hanya mencibir pada punggung ayah. Menumpahkan kekesalannya.
Seketika angin bertiup ke telinga Tari. Membisikkan kata-kata penghiburan dengan menyuguhkan rencana pengambilan paksa hak Tari jilid dua.
Awalnya hanya rencana dan kini berkembang jadi niat. Jika hanya sekedar niat, itu akan menyesakkan dada. Harus ada aksi dan mengambil kesempatan yang ada. Saat ayah dan ibu sudah pasti tidak berada dirumah. Yaahh...tentu saja pada hari-hari biasa.
Hari biasa Tari sekolah, ayah bekerja dan ibu di pasar. Itu adalah hari yang baik. Tatkala ayah, ibu dan semua oranh di dunia ini menduga, bahwa Tari sudah pasti disekolah.
Tari memakai kesempatan itu. Kesempatan emas yang sudah dipelajari Tari beberapa hari ini. Makanya Tari rela bolos dari sekolah. Memperdaya Pak Budi, yaitu si satpam sekolah yang kebiasaannya tidur. Pada saat semua murid berada didalam kelas, belajar.
Biasanya pula, pintu gerbang sekolah akan terbuka. Agar guru-guru yang masuk pada jam ke dua, bebas masuk dan si Pak Budi tidak terganggu tidurnya. Hanya untuk membuka pintu gerbang.
Tralalala...Trililili....Hmmm...Tepat sekali. Uhuuuyyy...Pak Budi lagi ngorok. Tari pun melewati pos Pak Budi dengan aman. Keluar pintu gerbang. Lalu menyebrangi jalan dan berjalan beberapa langkah dari sebrang depan sekolah.
Bersembunyi dibalik batang pohon besar ditepi jalan itu. Beberapa saat sambil menunggu angkot. Untung tidak pakai lama. Angkotpun tampak dan Tari menyetopnya. Segera Tari naik ke dalam angkot dan tariiiikkkk....bang.
__ADS_1
Horeeee...misi pertama berhasil. Tari bersiul-siul riang di dalam angkot. Menertawakan atas kelalaian dan kebodohan banyak orang yang dikenalnya. Termasuk gurunya tadi yang percaya saja pada Tari. Mengijinkan Tari ke toilet. Juga ketidakdisiplinan Pak Budi. Sehingga memudahkan niat Tari.
Maka sepanjang perjalanannya menuju rumah, hati Tari sangat riang dan gembira. Satu lagi kebahagiaannya ketika tiba dirumah. Ibu dan ayah tidak pernah merencanakan untuk menutup tembok gudang.
Menurut ibu, sia-sia merapikan gudang. Gudang adalah gudang yang berisikan barang-barang bekas. Jadi gudang harus tetap berkesan sesuai isinya. Gudang tidak perlu rapi dan bagus. Tari pun masuk lewat tembok gudang yang bolong itu.
Berjalan santai masuk kedalam rumah. Langsung menuju kamar tidur ayah. Mengabaikan ada atau tidaknya Mbah Kahpok atau si nyai di rumah ini. Mereka hanya orang asing yang dilarang Tari untuk ikut campur urusan Tari dan orang tuanya.
Ceklek...pintu kamar tidur ayah dan ibu tidak pernah terkunci. Tentu saja Tari dapat masuk dengan leluasa. 'Menyisir' kamar tidur ayah dan ibu itu. Mulai dari kasur, bantal, meja, lemari, hingga kolong tempat tidur.
Usaha Tari tidak si-sia. Tari menemukan...bagi Tari...banyak jarahan. Uang, perhiasan, makanan ringan ibu; semua diambil Tari. Tanpa beban ketakutan akan dimarahi ibu ataupun ayah. Juga tanpa di sisakan sedikitpun.
Perseran !...karena setan membenarkan tindakan Tari. Tari bukan mencuri. Melainkan mengambil sendiri haknya. Ayah dan ibulah yang mencuri. Mencuri dan mengkorupsi haknya.
Jadi para malaikat jangan menuduh sembarangan. Tuduh dan persalahkan saja ayah dan ibu. Mengapa mereka tidak memberikan hak Tari. Sampai-sampai Tari tidak bisa membeli kado ultah buat Kabila. Tari jadi dibully seisi sekolahnya. Menanggung malu dan sakit hati. Semua itu penyebabnya adalah ayah dan ibu.
Sekarang biarkan Tari menghibur diri. Bersama Kabila n d gank nya, terkhusus Gracia. Agar mereka tahu, Tari tidaklah gratis melahap rakus kue, hidangan makan dan minum ultah Kabila itu. Tapi dibayar dengan traktiran.
Usai melancarkan niatnya dengan hasil yang gilang-gemilang. Tari kembali ke sekolah. Tapi tidak masuk ke sekolah. Tari hanya duduk sendiri dihalte yang ada didepan, sebrang sekolah mereka itu.
Teeettt...benar sekali Tidak sampai setengah jam kemudian, bunyi panjang bel sekolah. Tari segera berdiri. Memperhatikan dengan seksama ke arah pintu gerbang sekolah. Begitu tampak mobil sedan warna putih, itu adalah mobil Kabila; Tari langsung berlari kedepan mobil Kabila itu. Kabila kaget dan spontan menginjak rem. Ciiiittt...buk...prak...
"Hei !...Kabil !..."teriak seorang teman mereka yang sedang mengendarai motornya. Karena nyaris menabrak mobil Kabila yang tiba-tiba berhenti itu. Tapi motornya sendiri telah ditabrak motor yang berada dibelakangnya.
Sehingga pengendar motor yang dibelakang, kebetulan seorang cewek; jatuh. Teman-teman lain yang kebetulan berada didekat mereka, berteriak dan heboh kaget.
"Busyet !..." umpat Kabila, kaget. Bersamaan dengan teriakan temannya itu.
"Butterfly effect" cetus Gracia. Melihat ke belakang mobil Kabila dari kaca spion luar dan dalam.
Gracia memang selalu pulang bersama Kabila dan dua orang anggota gank Kabila lainnya. Gracia duduk dijok depan, disamping Kabila. Sedang ke dua orang teman mereka itu, duduk di jok belakang.
Kabila membuka kaca mobilnya dan mendongakkan kepalanya. Menatap tajam pada orang yang memalangi mobilnya itu.
"Mata lu picek !" sembut Kabila pada orang itu.
"Maaf..."jawab Tari berusaha ramah dan melangkah kearah pintu mobil Kabila. Menyempatkan matanya melihat dari kaca depan, kedalam mobil Kabila itu. Menatap sinis pada Gracia. Lalu matanya jelalatan, melihat kedua orang itu yang tampak ketakutan.
__ADS_1
"Lo ?...Gile lu ya, Ri !. Mau mati lo !" kata Kabila mengulang kekesalannya, tanpa menyesal. Setelah melihat pasti, sosok orang yang memalangi mobilnya.
Tari tidak memperdulikan kekesalan Kabila itu. Tanpa basa-basi, Tari langsung membuka pintu bagian belakang. Masuk kedalam, tanpa kata-kata salam yang manis dan ramah. Mendorong dengan bokong besarnya, kedua orang yang bertubuh kurus-kurus dan langsing itu. Mereka berhimpit-himpitan di jok belakang itu. Membuat mobil sedan Kabila itu, penuh sesak.
"Mau kemana lo ?!" tanya Kabila, bernada kesal.
"Mau ikut kalian. Tenang aje, gue yang traktir." jawab Tari ketus. Tatapan matanya tertuju pada Gracia, sangat tajam. "Ayo jalan..."lanjut Tari.
Maka 'ritual' kali inipun dilakukan dengan adanya paksaan. Hanya Tari yang melakukannya dengan iklas. Jadi donatur terbesar dan pembicara utama. Sebagai imbalannya, Tari hanya minta diantar pulang.
Kisah itu belum berakhir. Pada hari berikut-berikutnya. Tari mulai tampil sebagai *the boss*. Memerintah Kabila untuk menunggunya. Memerintah Gracia membawakan tasnya. Memerintah yang lain mengerjakan PRnya, membukakan pintu mobil Kabila untuk.dirinya de el el.
Siapa saja yang membantah pasti dijitak, dijambal, diludahi wajahnya ataupun ditampar pipinya. Seperti yang dialami Gracia, pada suatu siang dikantin.
Kekesalan teman-temanya pada Tari sudah menumpuk. Maka ketika Gracia, Kabila dan teman-teman yang lain sedang asyik bercerita dikantin, Tari datang. Ketika Tari akan duduk diantara mereka, tiba-tiba Gracia beranjak pergi.
Spontan Tari menjambak kuat rambut Gracia. Sampai Gracia terjatuh terduduk diatas lantai kantin. Semua teman-teman yang ada dikantin, tercengang kaget. Tapi hanya bisa menatap iba pada Gracia. Tidak ada yang bernyali untuk menolong ataupun membela Gracia.
Karena mereka mulai tahu sifat asli Tari yang temperamen. Siapa saja yang berani membela, menolong orang yang sedang di amuk amarah Tari; pasti orang itu akan terkena imbasnya. Karena banyak dari teman-teman mereka itu, sudah pernah terkena imbas dan korban amukan Tari.
Iiii...mereka hanya bisa bergidik ngeri dalam diam. Gracia pun terpaksa hanya diam saat iti. Menahan tangisnya didalam dada dan menutup matanya. Jika Tari mendengar tangisan Gracia atau melihat sinar mata ketakutannya terhadap Tari; Tari akan semakin beringas menganiaya Gracia.
Karena itu sifatnya yang jelek itu, akibatnya Tari mendapat julukan dari teman-teman disekolahnya sebagai si *ugly witch*. Untungnya Tari tidak mengerti arti julukan itu. Makanya Tari senyam-senyum, ketika teman-temannya memanggilnya dengan julukan itu. Hanya julukan itulah yang menghibur mereka.
Menertawakan kebodohan Tari yang pemarah dan sadis \*\*\*
__ADS_1