PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Mendekati Bintang Melihat Rumah Masa Depan


__ADS_3

Sejak perkenalan itu, Tari langsung sok akrab dengan Bintang. Tidak perduli bagaimana reaksi ataupun pendapat Bintang terhadap sikap sok akrab Tari itu. Sejak dahulu, Tari hanya perduli pada apa yang diinginkannya harus tercapai dan persetan dengan yang lain.


Keinginan Tari mengakrabkan diri pada Bintang adalah untuk menjadikan Bintang aksesnya. Akses keluar masuk kerumah orang tua Anton dengan hormat. Tidak berkesan sebagai perempuan yang mengejar pria dan harta warisan orang tuanya. Melainkan berkesan sebagai sahabat Bintang.


Padahal Bintang tidak menganggap Tari sebagai sahabatnya. Karena Bintang sudah mendengar tentang Tari dari Karina dan juga beberapa teman yang lain.


Bagaimana perlakuan Tari pada teman-teman satu kamarnya. Terlebih pada Martha dan Mila. Gosip tentang Martha yang telah dibuat buta oleh Tari. Gosip tentang Mila yang telah diteror Tari. Juga gosip tentang Tari yang mencoba merebut Toni dari Fitri. Juga gosip-gosip lain kleptomania.


Semua gosip itu bukan rahasia lagi dilingkungan kampus. Walaupun tidak ada bukti untuk gosip-gosip itu. Makanya tetap disebut gosip.


Lalu sekarang Tari sedang dekat dengan Anton. Bintang menangkap ada kebusukan Tari dibalik hubungan asmaranya dengan Anton. Bintang menangkap ada kebusukan Tari dibalik hubungan asmaranya itu dengan Anton.


Karena itu Bintang menanggapi sinis sikap sok akrab Tari kepadanya. Sikap sinis Bintang ini tidak dapat respon dari Tari. Tari tetap sok berakrab ria dengan Bintang. Pakai menawarkan dirinya lagi untuk ikut kerumah Bintang.


Beberapa kali hal itu disampaikan Tari secara langsung kepada Bintang. Beberapa kali pula Bintang menghindar, masih dengan bahasa yang sopan.


Tapi mana Tari perduli. Apakah ditolak atau dilarang sopan oleh Bintang. Tujuan Tari adalah kerumah orang tua Bintant. Rumah orang tua Bintang itu, kelak akan menjadi rumahnya. Jadi Tari mau melihat rumahnya itu. Istilah kerennya, Tari mau melompat kemasa depannya. Seorang Bintang tidak akan dapat menghalanginya.


Tari pun menguntit Bintang. Saat suatu kali Bintang pulang kerumah orang tuanya. Mempergunakan kasa taksi on line, Tari menguntit taksi yang membawa Bintang pulang kerumah orang tuanya.


Begitu taksi yang membawa Bintang berhenti pada sebuah rumah mewah, Tari pun meminta sopir taksi yang ditumpanginya untuk berhenti juga. Agak jauh dari taksi Bintang berhenti.


Tampak Bintang keluar dari dalam taksi. Tari tidak langsung keluar dari dalam taksi yang ditumpanginya itu. Menunggu beberapa saat. Sampai Bintang masuk kedalam rumah mewah itu. Barulah Tari keluar dari dalam taksi itu. Lalu berjalan mendekati rumah mewah itu. Menatap rumah itu dari luar, sejenak.


"Wow...luar biasa. Bagakan istana..." Tari masih berdecak kagum dan tersenyum-senyum lebar. Hatinya sangat bahagia melihat rumah itu dan membayangkan dirinya akan jadi pemilik rumah itu.


"Aku akan jadi nyonya rumah disini. Hhhhmmmm....Wow...."


Setelah puas mengagumi rumah itu. Taripun berniat masuk. Mencari-cari bel rumah itu dan "Ningnong...Ningnong...". Tari memencet bel dan terdengarlah bunyi bel rumah itu.


Tidak berapa lama kemudian seorang perempuan berumur sekitar 25 tahunan, muncul dari dalam rumah. Berjalan dengan langkah lebar. Mendekati Tari yang ada dibalik pintu pagar rumah itu yang menjulang tinggi, mendekati tiga meter.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu ?" tanya perempuan itu.


"Iya...kamu siapa" Tari balik bertanya dengan wajah yang tidak ramah.


"Saya asisten rumah tangga disini"


"Ooo...saya temannya Bintang. Bintangnya ada ?!"

__ADS_1


"Ada....Maaf...Nama non siapa ?. Biar saya sampaikan ke Non Bintang"


"Tari"


"Baik Non Tari. Tunggu sebentar, ya" kata si asisten masih bersikap ramah dan akan berbalik meninggalkan Tari yang masih berada dibalik pintu pagar, pada sisi luar.


"Hei-hei !...Buka dulu pintunya !" kata Tari dengan suara lantang. Membuat si asisten mengurungkan niatnya dan menatap Tari. Masih dengan tatapan ramah dan sedikit senyum ramah yang masih tersisa disudut bibirnya.


"Gak sopan banget sih lo !. Gua tamu !...Seharusnya ijinkan masuk dulu dong !" lanjut Tari dengan sikap sangat tak ramah.


"Ada apa Mbak Min ?" terdengar suara seseorang yang berasal dari teras rumah.


"Ini ada teman Non...." si asisten yang dipanggil Mbak Min akan menjawab pada seseorang itu. Tapi Tari langsung memotongnya. Ketika samar-samar dia melihat orang yang sedang berdiri diteras itu adalah Bintang.


"Hei, Bin...Ini gua...Tari"


Tari melambai-lambaikan kedua tangannya ke arah Bintang. Bintangpun memperhatikan dan mendekat ke arah pintu pagar rumah, beberapa langkah.


"Eh...elo...Ada apa ?...Ayo masuk...Mbak Min, tolong buka pintunya, ya" kata Bintang dan langsung berbalik lagi. Melangkah ke arah teras rumah.


"Baik, Non..."


Mbak Min pun membuka pintu pagar. Sesaat Tari menatap tajam ke arah Mbak Min. Lalu mendengus, tepat diatas kepalanya. Karena Mbak Min langsung menunduk dan setengah membungkuk, ketika Tari melangkah masuk dan akan melewatinya.


"Silahkan duduk"


Bintang mempersilahkan Tari duduk. Kini merekapun sudah duduk berdua diteras depan. Pada dua buah kursi dan dibatasi satu meja bulat.


"Kok lo tahu rumah orang tua gua" tanya Bintang sedikit tidak ramah dan curiga.


"Tahulah..." jawab Tari santai dan cuek.


"Ooo...Ada apa ya, Ri"


"Mau maen aja...boleh kan ?"


Sesaat Bintang terdiam. Karena ini pertanyaan sederhana, tapi sulit. Kalau Bintang bilang, "Boleh". Berarti dirinya munafik. Sejujurnya Bintang sangat tidak suka, Tari datang menemuinya kerumah orang tuanya. Bintang sangat tidak suka Tari.


Jika dijawab, "Tidak boleh". Itu artinya Bintang sangat tidak sopan. Bintangpun jadi sedikit gelisah. Harus memberi jawab apa. Sejenak Bintang menatap Tari. Sepertinya Tari tidak menunggu jawabannya. Karena tampak Tari sedang ngider tatapannya ke sekeliling halaman rumah itu.

__ADS_1


"Kok lo tahu, gua ada dirumah" tanya Bintang.


"Ini rumah orang tua lo...." Tari mengabaikan pertanyaan Bintang, "Besar banget, ya. Secara kalian hanya lima orang. Bokap-nyokap lo hitung satu pasang. Berarti hanya butuh empat kamar tidur, dong. Tapi rumah itu, pasti lebih dari sepuluh kamar tidur. Iya kan, Bin ?"


Tari bertanha seperti itu. Tapi kakinya sedang kesana-kesini. Menjelajah bagkan luar depan rumah ini. Lalu Tari berhenti melangkah didepan garasi yang masih terbuka pintunya.


Tari menatap kagum kedalam garasi. Melihat beberapa unit mobil yang sedang parkir didalam garasu itu. Tapi tidak ada mobil Anton.


"Mobil Anton gak ada. Anton gak dirumah ya, Bin"


"Gak"


"Eh, Bin...gua haus...:


"Eh, iya....Ntar gua suruh Mbak Min untuk...."


"Gak usah...Gua ambil sendiri aja"


Tanpa menunggu persetujuan Bintang, Tari langsung menyosor masuk kedalam rumah. Sesaat Bintang hanya bisa berdiri terpaku, terpelongo. Menatap Tari masuk kedalam rumah orang tuanya. Lalu tersentak dan menyusul ke dalam rumah.


Setelah itu Tari jadi sering kerumah orang tua mereka itu, dengan atau tanpa Bintang. Begitu antusiasnya Tari melihat-lihat rumah orang tua Bintang yang diyakininya akan menjadi miliknya.


Sebuah rumah besar dan mewah. Terdiri dari dua lantai. Lantai atas ada empat kamar tidur dan satu ruang keluarga.


Menurut info Mbak Min, satu kamat tidur Bintang. Satu kamar tidur tamu. Satu kamar tidur kakak perempuan Bintang yang bernama Bila. Bila ini sudah menikah. Bila dan suaminya menempati kamar tidur Bila itu.


Serta satunya lagi kamar tidur Anton. Posisinya percis disisi sebalah kanan tangga. Tari sempat masuk ke kamar tidur Anton itu. Kamar itu sangat luas. Ada kamar mandinya, TV 32 inc. Sebuah sofa didekat jendela dan satu meja sofanya.


"Mengapa Bila dan suaminya tinggal dirumah ini. Mengapa tidak tinggal dirumah sendiri saja. Kata Mbak Min, Bila itu dokter. Suaminya kepala BUMN. Berarti kaya, dong. Punya uang beli rumah." selidik Tari nyinyir pada Mbak Min.


Tapi Mbak Min tidak ingin menjawab Tari. Walaupun beberapa kali lagi masih dicecar Tari dengan pertanyaan yang sama. Mbak Min masih tidak mau menjawab. Bahkan mengadukan hal itu pada Bintang. Ketika Bintang pulang lagi kerumah orang tuanya untuk melepaa rindu.


"Untuk apa dia tanya-tanya seperti itu ya, non" komentar Mbak Min gusar.


"Tau, mbak....Iri kali"


"Apa benar, non...Non Tari itu pacarnya Mas Anton ?"


Bintang hanya mendengus kecewa. Menanggapi pertanyaan Mbak Min. Sepertinya Mbak Min mengerti dan akhirnya hanya tutup mulut.

__ADS_1


Begitu pula saat Tari datang lagi. Melakukan tour kerumah 'masa depan'nya itu lagi. Menginterogasi Mbak Min. Mbak Min masih tutup mulut. Bahkan sangat rapat tertutup untuk melayani pertanyaan-pertanyaan Tari.


Untunglah Tari masih diselimuti kebahagiaan. Kalau tidak, bisa jasi Mbak Min bernasib sama denga teman-teman Tari terdahulu. Mungkin sudah ditampar, ditendang, dijambak atau...***


__ADS_2