PEREMPUAN TANPA AIR MATA

PEREMPUAN TANPA AIR MATA
Mengincar Musuh Utama


__ADS_3

"Mbak, lo punya minyak tanah ?. Bagi dong seliter"


"Buat apa"


"Buat bakar si Martha"


"Ops !...Wadow !..." jerit Mbak Ipeh, kaget.


Lalu spontan menepuk kencang remah-remah itu dengan spatula. Remah-remah yang tadi sengaja digorengnya sampai gosong. Agar tampak tengah sibuk.


Padahal remah-remah itu baru saja diletakkannya diatas sebuah piring. Karena kaget mendengar Tari mau membakar Martha, tanpa sengaja tangan Tari menepuk remah-remah itu. Hingga tangannya sendiri terciprat sisa minyak goreng yang masih menempel di spatula itu.


Tari tidak perduli. Melirih ke Mbak Ipehpun tidak. Tari terus saja ngoceh tuduhan-tuduhan jahat tentang Martha dan dihubungkan dengan Bintang. Lalu lahirlah opini sesat yang dipaksakan untuk benar.


"Sepertinya jalan kehidupan gua disetting si Bintang untuk meneror gua. Hah !...tidak akan berhasil. Malah gua akan menaklukkan si Bintang. Berikut para dukun pegangannya. Dia fikir gua kalah. Menempat Mila dan Ruli dilingkungan tempat tinggal gua. Pake buka klinik bersalin lagi. Sekarang menempatkan si Martha ditempat kerja gua. Jadi atasan gua lagi. Padahal ya, mbak...Si Martha itu bukan dokter. Si Martha itu bidan. Jangan-jangan bidan jadi-jadian. Dia kan di DO dari kampus dulu. Karena hobbunya nyolong. Yah...klepto, mbak. Cobalah mbak bayangin. Si Bintang itu temannya klepto. Sekarang di buat si Martha jadi dokter kepala dipuskesmas. Bisa habis uang dipuskesmas nanti. Lihat saja nanti, mbak"


Mbak Ipehpun tidak perduli juga dengan ocehan Tari. Berpura-pura bersih-bersih warungnya. Sekalianlah itu merupakan cara Mbak Ipeh menghindari bertatapan muka dengan Tari.


Juga menghindari terlibat percakapan dengan Tari. Biar bagaimanapun, Mbak Ipeh tidak ingin Tari mendapati senyumannnya yang sumbang. Nanti bisa ditafsirkan Tari sebagai sikap permusuhan. Jika itu terjadi,


"Wah...celaka dua belas kali" bisik Mbak Ipeh didalam hatinya. Mengingat petuah para nenek moyang. Agar selalu hidup rukun dengan semua teman, tetangga dan terutama keluarga. Jangan menyimpan sesuatu yang negatif.


Jadi dengan diam adalah tempat teraman untuk menghindar. Bukankah diam itu adalah emas. Mbak Ipeh diam dan menyimpan semua kecurigaannya terhadap Tari.


Tapi sayang untuk hal-hal seperti itu, sensitifitas Tari berjalan cepat. Tari menangkap sinyal itu. Walaupun Tari belum mengetahui penyebab Mbak Ipeh seperti menjauhinya.


Tapi Tari tidak ingin memperdebatkan sikap Mbak Ipeh itu. Baik didalam dirinya sendiri ataupun dengan Mbak Ipeh secara langsung. Cukup membacklis Mbak Ipeh dari daftar sekutu dan menjadikan Mbak Ipeh sebagai target musuh yang akan diserang.


Namun naluri kemarahannya masih bernegosiasi, bahwa Tari masih membutuhkan warung Mbak Ipeh senagai markasnya.


"Macem-macem lo ke gua, gua buat miskin lo" bisik Tari didalam hatinya.

__ADS_1


Setelah mendapat sikap dingin Mbak Ipeh kepadanya itu. Okelah...Tari menerima negosiasi itu dan memutuskan hanya membuat renggang waktu berkunjungnya ke warung Mbak Ipeh.


Berarti pemasukan Mbak Ipeh berkurang dan hutang-hutanganya harus segera dibayar. Pakai bunga pinjamannya. Kalaupun Tari datang ke warung Mbak Ipeh, hanyalah untuk menagih hutang Mbak Ipeh dengan paksaan. Pembayaran dengan cicilan beserta bunga dari bunga pinjaman.


Kalau sudah begitu, Mbak Ipeh hanya tertawa cengengesan. Merayu-rayu Tari untuk bersabar.


"Jangan marah ya, Ri. Kali ini gua bayar cicilan pinjaman gua aja ya. Belum pakai dendan dan bunganya. Soalnya dagangan gue sepi" rengek Mbak Ipeh sok imut dan manja. Padahal baru beberapa hari yang lalu Mbak Ipeh bersikap dingin kepada Tari.


"Tentu saja sepi, gak ada gua" kata Tari sinis didalam hatinya.


Lalu pergi meninggalkan Mbak Ipeh. Tanpa makan gorengan sepotongpun. Untung-untungan kerumah Tante Hombing.


Untung Tante Hombing sekarang sering lalai mengunci pintu pagar rumahnya. Jadi Tari dapat masuk dengan bebas. Masih tidak perduli, suka atau tidak suka Tante Hombing akan kehadirannya.


Jika sudah masuk, Tari akan betah berlama-lama. Bahkan seharian penuh, dari hari menjelang siang. Hingga tengah malam. Memakai baju seragam PNSnya.


Tari akan bercerita dengan suara teriakan tentang keluarga Anton. Terutama tentang Bintang. Masih cerita ulangan. Tapi sangat panjang.


Begitu panjangnya cerita Tari itu. Sampai makan siang, juga makan malam dirumah Tante Hombing. Mengambil jatah anak-anak Tante Hombing.


Itu semua dilakukannya, agar Tante Hombing jangan bersikap seperti Mbak Ipeh. Jika itu terjadi, Tante Hombing akan jadi musuh Tari dan markas tempat mengintainya tidak ada lagi.


Padahal Tari masih butuh tempat mengintai rumah masa depannya, yaitu rumah almarhum mertuanya. Juga mengintai Bintang yang kini telah ditempatkannya sebagai musuh utama yang harus segera dibasmi.


Jika Bintang sudah dibasmi. Maka Martha, Mila, Ruli dan entah siapa lagi yang telah dipersiapkan Bintang untuk menerornya; pasti akan segera menyingkir dari sekitar kehidupannya.


Pengintaian itu hanya bisa dilakukan dari warung Mbak Ipeh atau dari rumah Tante Hombing.


Hari inipun Tari akan coba untung-untungan ke rumah Tante Hombing. Setelah mengabaikan surat perintah yang diberikan Martha.


Tari pulang lebih cepat dari seharusnya. Semoga untung-untungannya berhasil. Agar tidak sia-sia pengorbanannya hari ini yaitu melanggar disiplin.

__ADS_1


Semoga untung-untungan Tante Hombing lupa lagi mengunci pintu pagar rumahnya. Jadi Tari bisa masuk dengan bebas lagi kerumah Tante Hombing itu. Berceloteh panjang lebar siaran ulangannya.


Tidak mengapalah jika Tari harus berkorban uang untuk memasok makanan. Berbelanja bahan masakan yang akan dimasak Tari didapur indah Tante Hombing.


Setelah matang, Tari akan memberikannya pada Tante Hombing dan anak-anak Tante Hombing. Sekalian saja juga untuk Pak Hombing. Pastilah Tante Hombing sangat senang dapat makanan gratis seperti itu dan siap disantap lagi.


Tapi sebenarnya dangkal didalam hati Tante Hombing, Tante Hombing dan seluruh keluarganya sangat tidak menyukai tindakan Tari itu. Sudah masakannya tidak enak. Juga Tante Hombing semua kebaikan yang dilakukan Tari adalah trik suap.


Agar Tante Hombing senang mendengar ocehannya yang mengotori atmosfir rumahnya. Lagipula Tante Hombing sangat tidak suka melihat Tari masak didapurnya. Memakai peralatan dapurnya dan terlebih mengotori dapurnya.


Dapurnya jadi berantakan dan kotor. Padahal bagi Tante Hombing, singgasananya dirumahnya ini adalah dapur.


Sambil mengunyah makanan yang tadi dimasaknya, Tari berceloteh. Remah-remah makanannya berlompatan dari mulutnya dan ada pula yang berjatuhan diatas karpet yang baru dibeli Pak Hombing.


Intonasi suara Tari tidak bisa pelan ataupun lembut. Semua liriknya berisi cacian dan sumpah serapah. Habislah sudah kesabaran Tante Hombing.


"Sebenarnya tadi paman Anton datang kesini" kata Tante Hombing, dengan suara datar.


"Apa !?" tanya Tari kaget dan sesaat menatap tajam mata Tante Hombing.


"Paman Anton, mbak ?"


"Iya"


"Ada urusan apa dia datang kerumah tante ?" cecar Tari dan berusaha menyembunyikan rasa kekhawatirannya dan rasa ketakutannya.


"Urusan mencari kamu"


"Apa !?" Tari kaget yang kedua. Jika kaget lagi yang ketiga. Maka Tari akan mendapatkan hadiah.


"Mencari aku ?!... Ada urusan apa dia mencari aku"

__ADS_1


"Mau bagi warisan katanya"


Spontan Tari shock.***


__ADS_2