
Begitu bencinya Tari melihat Martha yang sering melirik-liriknya dengan tatapan penasarannya itu. Walaupun disaat melirik itu, dibibir Martha selalu ada senyum kecil ala kadarnya. Membalas Tari yang memergokinya. Saat melemparkan lirikan penasarannya itu.
Seperti sekarang ini. Martha terpergok Tari lagi, sedang meliriknya. Sesaat mereka terhanyut saling lirik dan ada senyum ala kadarnya dibibir masing-masing. Tapi sinar wajah mereka menyiratkan rasa yang tersirat. Martha dengan kepenasarannya dan Tari dengan kemarahannya.
Barulah beberapa hari kemudian. Saat itu menjelang sore. Semua anak-anak asrama lagi istirahat di kamar masing-masing. Termasuk anak-anak dikamar Tari. Semua sedang tidur-tiduran dengan kegiatan masing-masing diatas ranjang masing-masing, kecuali Yunita.
Berdasarkan kabar burung, Yunita lagi makan siang bersama pacar tersayang. Tapi...tiba-tiba Yunita datang. Masuk ke kamar dengan berlari-lari kecil. Langsung menuju tempat tidurnya. Menelungkupkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya kedalam bantalnya. Punggungnya tampak berguncang-guncang. Suara isak tangisnya pun terdengar.
Perlahan sayup-sayup. Tapi semakin berjalan detik, suara tangisanya semakin kecang dan tersedu-sedu. Sponta semua teman-teman kaget. Menatap Yunita dengan tatapan bingung.
Satu per satupun kemudian menghampirinya. Menanyakan apa gerangan yang dialami Yunita. Kecuali Martha dan Tari. Mereka hanya saling menatap dari tempat tidur masing-masing.
"Kenapa lo, Yun ?" tanya Mila lembut
"Duit gue...duit gue...habis. Habiiiisss..." jawab Yunita ditengah tangisannya dan wajahnya masih dibawah bantalnya.
"Maksud lo...lo habis dirampok ?" tanya Mila penasaran.
"Bukan.." kata Yunita sambil membalikkan badannya. Lalu duduk dan menatap Mila yang juga duduk ditepi ranjangnya.
"Tabungan gue dibobol. Habiiiiisss..." kata Yunita terisak-isak.
Tak kuasa menahan kesedihannya, Yunita pun menjatuhkan dirinya dalam pelukan Mila. Menangis terisak-isak. Teman-temannya semuanya terdiam menatap iba pada Yunita. Tapi tak berniat untuk bertanya-tanya lagi.
__ADS_1
Mereka membiarkan Yunita menangis sepuasnya. Karena masing-masing mereka sudah dapat menduga tepat kejadian yang menimpa Yunita. Walaupun semuanya masih bingung dan penasaran dengan kejadian detailnya. Sepertinya kesadaran mereka terhipnotiskan akan tangisan Yunita. Sampai Yunita tertidur dipelukan Mila. Tak seorangpun dari mereka yang memberi komentar apapun malam itu.
Keesokan harinya barulah Yunita menceritakan apa yang di alaminya. Ternyata ada seseorang yang mengambil semua uang dari tabungannya dari bank. Lewat penarikan langsung dengan memalsukan tanda tangannya. Hal itu dijelaskan Yunita didepan Ibu Pur dan beberapa teman mereka yang lain. Termasuk Tari dan Martha.
"Keluarga kamu kali yang mengambilnya" tanya Ibu Pur, asal. Karena bingung harus bagaimana menanggapi aduan Yunita itu.
Yunita hanya menggeleng dalam tangisnya yang pilu.
"Adik, mami, kakak kamu misalnya ?: lanjut Ibu Pur.
"Gak mungkin mereka, bu. Buku tabungan, ATM dan KTP saya kan, ada pada saya." jawab Yunita lesu.
Lama keheningan terjadi diruangan Ibu Pur. Ibu Pur tampak sedang menguras fikirannya pada kejadian yang menimpa anak-anak asrama diangkatan ini. Selalu kehilangan uang. Apakah ada salah seorang diantara mereka memelihara tuyul ? atau ada babi ngepet.
"Tapi kasus Yunita sama dengan kasus Neneng. Hanya bank nya yang berbeda. Jadi tidak mungkin kesalahan pihak bank" bisik Ibu Pur difikirannya. "Tidak salah lagi. Pasti ada yang memelihara tuyul atau babi ngepet" lanjut Ibu Pur. Masih berbisik difikirannya.
Mereka yang ditatap Ibu Pur, pasti langsung menunduk. Tari juga menunduk. Kecuali Martha yang membalas dengan menatap Ibu Pur. Lalu melirik ke Tari. Seakan memberi isyarat pada Ibu Pur, bahwa Tari lah pelakunya dan harus segera ditindak.
"Okelah"kata Ibu Pur tiba-tiba. Sambil menggebrak meja kerjanya dengan tidak kuat. Tapi cukup membuat para siswi itu kaget.
"Yunita...kamu buat laporan polisi saja. Ibu akan mendampingi kamu" demikian usulan Ibu Pur.
Mendengar itu, Martha tersenyum puas dan menatap sinis pada Tari. Karena Martha sangat yakin, bahwa pelakunya adalah Tari dan pasti terbukti. Ternyata Tari pun membalas tatapan Martha. Tatapan yang penuh kebencian dan amarah pada Martha.
__ADS_1
Tidak ada seorangpum dari teman-teman mereka itu yang memperhatikan saling tatap antara Tari dan Martha, saat itu. Sampai mereka semua keluar dari ruangan Ibu Pur. Tari dan Martha sengaja keluar paling akhir dan berjalan nyaris beriringan.
"Ini pasti perbuatan lo " bisk Martha didepan wajah Tari.
Tari tidak kaget mendengar itu. Bahkan sengaja berjalan menjauh dari teman-temannya yang lain. Berharap Martha akan mengikutinya.
Ternyata benar !, Martha menyusul Tari dan berjalan disampingnya.
"Iya" kata Tari mengaku. Sambil terus berjalan dengan langkah santai. "Adukan saja ke Ibu Pur. Kalau lo punya buktinya" tantang Tari.
"Punya !...mata kepala gue sendiri. Gue lihat sendiri waktu lo bongkar pintu lemari Yunita"
Tari masih belum kaget. Walaupun detak jantungnya sudah berdebar kencang dan tidak beraturan. Mendengar pernyataan lugas Martha itu. Tapi bukan karena takut akan ancaman Martha yang akan melaporkannya pada Ibu Pur. Melainkan karena marah pada Martha yang sudah berani memasuki kehidupannya dengan lancang.
"Lo udah budek kali ya...atau memori otak lo kecil. Yunita bilang, uang tabungannya yang dibank...yang hilang. Bukan dari dalam lemarinya" jawab Tari sombong, menemukan dalil. "Lagian, hari gini tanpa bukti otentik lo buat pengaduan. Bisa dibilang hoaks !. Memfitnah, menebar kebencian dan merusak nama baik. Lo yang akan dihukum, bego !. Ngerti lo...asah nih otak..." kata Tari sangat kesal. Sambil menggetok-getok kening Martha dengan satu jari telunjuk tangannya. "...Asah ya...banyak baca. Ngerti lo !..."
"Setan !" teriak Martha dan menepiskan tangan Tari dari depan wajahnya. Tidak terima atas perlakuan Tari itu.
Sesaat mereka saling diam, mematung. Saling menatap, marah.
"Gue lihat lo membobol pintu lemari Yunita. Pasti lo mau mengambil ATM, buku tabungan dan KTP nya. Iya, kan ???...Seperti apa yang lo perbuat terhadap Neneng. Lo yang kuras tabungan Neneng. Iya, kan ?!"
"Ooo...jadi lo liat juga. Kalo gue yang ambil ATM Neneng !?. Baguslah...lo tahu detailnya. Berarti lo benar-benar melihat gue. Hhhmmm..." Tari manggut-manggut. Masih menatap tajam pada Martha. "Lo melihat gue...hhhmmm...Artinya, mata lo akan jadi bayarannya." Ancam Tari dan membelalakkan matanya dekat ke wajah Martha.
__ADS_1
Tapi Martha tak bergeming dengan ancaman Tari. Hanya menyunggingkan senyum sinis sedikit kepada Tari. Lalu Martha berlalu dari hadapan Tari.
Baik Martha dan Tari, nyali mereka tidak sama-sama ciut mendengar ancaman masing-masing.***