
"Ambil tuh si Toni kembali !. Dia itu playboy cap kampung !. Dia fikir bisa dapetin gue dengan mengandalkan k....." tak sungkan Tari menyebutkan nama alat vital Toni dengan suaranya yang kencang itu.
Spontan orang-orang yang mendengarnya, serentak menatap Tari dengan makna masing-masing. Ada yang tertawa cekikikan, ada yang tersenyum dan ada juga yang sinis sok suci.
Tari tidak mau menghiraukan tatapan mereka. Karena tujuannya sudah tercapai, orang-orang yang ada dikantin memperhatikannya. Berarti juga mendengarkannya.
Orang-orang yang ada dikantin sudah cukup mewakili orang-orang serumah sakit ini. Lalu berita tentang Toni yang playboy dan mengandalkan k....nya itupun tersebar. Maka akan rendahlah harga diri Toni dan Fitri. Jadi percuma deh, uang banyak. Tapi moral rendah.
Sejenak Tari melirik Fitri dari sudut matanya. Tampak Fitri gelisah, tertunduk malu dan tak ***** lagi menyelesaikan makannya. Tak berapa lama kemudian, Fitri pun angkat kaki dari kantin.
Tari melepas kepergiannya dengan menatapnya. Ops !...Tari mendapati pemandangan yang membuatnya gerah. Terlihat Tari, bagaimana Fitri berjalan dengan melenggak-lenggokkan pinggulnya.
"Grrrr....." Tari geram. Kekesalannya kembali datang dengan porsi jumbo. Ingin rasanya Tari menendang bokong Fitri itu. Agar pinggulnya tidak melecehkan tatapan Tari. Betapa tidak, body Fitri ala-ala J.Lo. Sedangkan Tari ala-ala gentong penampung air hujan.
"Haaaa..." Tari terpaksa mendesah pasrah gelisah, melihat pinggul Fitri itu. Sementara ini biarkan pinggulnya beraksi curang didepan Tari. Tapi besok-besok...lihat saja.
"Haaa..." Tari mendesah, mencoba pasrah. Membayangkan Anton saja lebih baik, dari pada terbayang-bayang pinggul Fitri itu. Mumpung Tari lagi diselumuti rasa yang bernama bahagia. Akan memamerkan Anton didepan Fitri, dalam waktu dekat ini.
Biar Fitri terkagum-kagum iri padanya. Ternyata Tari bisa mendapatkan cowok ganteng dan tajir, selain Toni. Who knows... Anton lebih tajir dari Toni. Jabatan Anton lebih tinggi dari Toni. Misalnya sebagai pemegang saham terbesar, mungkin.
Maka yang diharapkan Tari adalah bokong Fitri tak bisa lagi menopang pinggulnya yang jahat itu. Lebih baik pinggul bebeklah yang melenggak-lenggok didepan Tari. Itu akan membuat Tari sangat terangsang. Terangsang bebek goreng.
"Hahahahaha...." Tari tertawa bahagia. Membayangkan bokong bebek, lebih berharga dari pada bokong Fitri.
💑
Begitu cepat Tari dan Anton menjadi sepasang kekasih. Seperti suatu ekosistem yang sudah terjalin rapat. Keterikatan yang saling membutuhkan. Tari membutuhkan Anton untuk tempat mencurahkan semua kekesalannya. Tidak hanya terhadap Toni dan Fitri. Tapi juga pada semua orang yang turut andil telah menggali lubang sakit hatinya. Semakin dalam menjadi kebencian. Kecuali tentang ibu. Itu di skip dulu oleh Tari.
Sedangkan Anton merasa nyaman menjadi orang yang dibutuhkan Tari. Yah...jadi superherolah. Walau tidak seperti Captain Amerika. Setidaknya Anton jadi 'kapten' buat Tari.
Rasa nyaman Anton itu menjadi lahan subur Tari untuk menjalarkan kebenciannya. Menyuapi Anton dengan benih-benih kebencian juga. Secara terang-terangan dan bertubi-tubi.
Antonpun sangat berlapang dada menerima benih-benih kebencian itu. Hingga Anton bisa menjadi vodoo nya Tari. Membenci orang-orang yang dibenci Tari. Kesimpulannya adalah, kemesraan mereka hanyalah kisah kebencian Tari dan sesekali menginterogasi Anton.
"Jadi kamu dan Toni rekan kerja" tanya Tari kepada Anton, disela-sela luapan kisah kebenciannya.
Kali ini Anton enggan menjawab. Anton hanya mempermainkan gelas yang ada diatas meja, didepannya. Wajahnya menunduk dan menatapa gelas bekas juice buah itu.
Iya...malam ini mereka ke kafe lagi. Seperti permintaan Tari diawal mula hubungan mereka berlanjut ke jenjang pacaran. Anton harus setiap hari membawa Tari makan malam diluar. Entah kafe, entah rumah makan Padang...terserahlah. Judulnya hanya makan diluar. Titik !.....
Inilah kali makan malam diluar dengan suasana hati Anton yang gundah gulana. Biasanya sangat happya. Karena pertanyaan Tari itu. Sejak awal mereka masuk ke kafe ini, pertanyaan itu sudah lebih lima puluh kali diajukan Tari. Jika dihitung dari awal mereka jadian, sudah tidak terhitung lagi. Sudah berapa kali Tari mengajukan pertanyaan itu.
Padahal sejak misi pendekatan Anton dimulai, Anton sudah memberi jawab dengan suara mantap,
__ADS_1
"Iya !...Saya dan Toni patner"
Jika pertanyaan itu diajukan Tari lagi, jawaban Anton copas dari jawaban pertama itu. Semakin sering diajukan, Anton menjawabnya tanpa suara lagi. Kecuali hanya mengangguk dua kali.
Kini diajukan lagi. Anton sudah capek mengangguk-angguk. Karena kemudian hatinya digelisahkan kecurigaan, "Apakah Tari masih menginginkan Toni ?"
"Hei !..." kata Tari tiba-tiba dengan suara kencang. Sambil menggebrak meja yang ada didepan mereka. Menimbulkan bunyi gaduh piring, gelas, sendok dan garpu yang beradu dengan meja.
Anton tersentak kaget dan nyaris gelas yang ada dihadapannya, jatuh. Untungnya tidak sampai kebawah.
"Kamu dengar gak sih ?!, yang aku tanya tadi"
"Dengar...iya..."
"Apanya iya"
"Aku dan Toni patner kerja"
"Begjtu dong. Kalau ditanya, jawabnya harus tegas. Seperti seorang tentara"
"Iya...tapi..."
"Tapi apa ?!..."
Toni berhasil membangun sebuah perusahaan. Sedangkan dirinya terlalu gengsi berkata, "ya" pada Toni. Saat diajak Toni kongsi membangun perusahaan ini.
Anton gengsi berbagi modal dan ruang kerja dengan Toni. Anton ingin menguasai sendiri suatu perusahaan. Beberapa kali dicoba, beberapa kali juga gagal. Orang tua Anton selalu mendukung dan memberi modal. Entah kenapa, selalu saja gagal perusahaannya itu bangun.
Mau minta modal lagi, Anton sendiri bingung mau membuat usaha apa. Juga sudah malu, harus minta melulu dari orang tuanya. Jadi terpaksalah numpang kerja dengan Toni. Itupun jadi marketing lepas. Karena Anton masih dirundung gengsi. Gengsi jadi karyawan Toni. Menerima gaji dari Toni.
"Mau ditaruh dimana muka ini" begitu kata gengsi Anton yang merasuki fikirannya.
Lalu kini Tari ingin mendapat jawaban kepastian tentang posisi Anton di perusahaan Toni. Antong pun masih dipaksa rasa gengsinya untuk menyombongkan diri. Tapi didalam hatinya ada suara yang berkata,
"Nanti modal lagi dari papi"
Niat hati Anton akan membuat usaha yang akan jadi patner perusahaan Toni ini.
"Ehem !" gengsi Anton berdehen nakal difikirannya.
"Tapi apa ?..." Tari masih mendesak Anton.
"Aku tidak mau kongsi. Aku mau mandiri. Aku sudah diskusi dengan Toni untuk berpisah. Aku mau buat usaha sendiri. Tapi patner dengan usaha Toni ini" jawab Anton penuh percaya diri. Membuat Tari semakin terlena indah dalam hubungannya dengan Anton.
__ADS_1
Mulailah Anton ringan kata-kata. Mengisahkan tentang keluarganya yang sukses, orang tuanya yang kaya. Punya rumah sekian-sekian. Baik didalam kota, maupun luar kota.
Punya klinik umum disamping rumah mereka. Memiliki beberapa apotik. Juga memiliki perusahaan eksport-import rempah-rempah, yang kini dipimpin kakak laki-lakinya.
Jadu sudah kebayangkan ?, pemasukan keluarga mereka.
Anton adalah anak ketiga dari empat orang bersaudara. Adik bungsunya masih kuliah. Kakak perempuannya yang nomor dua adalah seorang dokter. Papi nya juga seorang dokter dan maminya eks pengusaha.
Sekarang usaha maminya itulah yang dipegang kakak tertuanya itu.
"Kak Theo mengikuti jejak mami, jadi pengusa. Sedangkan Kak Bila dan Bintang adikku, ikutin jejak papi"
"Berarti kamu juga ngikutin jejak mami kamu dong"
"Begitulah"
"Wah...kalian keluarga sukses ya. Apalagi orang tua kamu berfikiran maju. Sudah mempersiapkan rumah untuk kalian masing-masing. Berati gak perlu susah lagi cari-cari rumah tempat tinggal. Iya kan ?"
"Hhhmmmm...iya"
"Nanti kalau kita menikah, kamu minta warisan apa dari papi kamu"
"Warisan ?...Hhmmm...yang pasti aku minta tidak miskinlah. Hahahah..."
"Iya..benar...benar." Tari manggut-manggut dengan senyum kebahagiaan nan lebar.
Karena fikiran Tari langsung membayangkan dirinya mendapat banyaj harta warisan kelak dan menjadi seorang nyonya pengusaha.
Bunga-bunga kebahagiaan Tari berkembang cepat. Tak ada lagi keraguan dihatinya untuk mengekalkan Anton sebagai calon suami.
Tak perdulilah apa jabatan Anton, yang penting ada harta warisan dan predikat nyonya pengusaha besar disandangnya.
Terbuai mimpi-mimpi itu, Tari pun tak ragu dengan pilihan cintanya. Eh...bukan cinta. Tapi jaminan masa depannya. Secara finansial, Tari akan berada tidak hanya pada titik aman. Tetapi melewati batas aman. Karena Tari akan mempunyai banyak pemasujan.
Baik dari perusahaan Anton, dari warisan orang tuanya. Ada klinik, apotik, rumah mewah, deposito, mobil-mobil mewah.
"Wuiiiihhhh...aku nyonya kaya" pekik Tari didalam hatinya.
Maka mulailah Tari memamerkan Anton didepan teman-temannya. Seperti mengijinkan Anton mengunjunginya ke asrama. Membawa oleh-oleh dari hasil kencannya dengan Anton ke asrama. Makanan, Minuman, baju, tas...
Tapi..eit...makanan dan minumannya bukan untuk dibagikan ke teman-teman. Itu hanya sekedar dipamerkan didepan teman-teman dan Tari sendiri yang menyantapnya.
Biar teman-temannya tahu, kalau pacarnya Anton itu tajir dan royal pada dirinya. Kalau teman-temannya iri dan cemburu... Gooooodd👍. Karena itulah yang diinginkan Tari. Lalu mereka akan menyesal telah mengabaikan Tari.
__ADS_1
Yaahhh...mereka sangat menyesal. Tapi bukan karena pernah mengabaikan Tari. Melainkan pernah membiarkan Tari bertindak semena-mena kepada mereka. Karena nun disebuah kafe disana; Fitri, Martha dan Mila sedang berencana untuk balas dendam kepada Tari.***