
Untuk sekarang ini cukuplah Tari menghindar saja dulu dari ibu, sedapat mungkin. Sambil menumpuk kebencian pada ibu. Seperti sore ini, kembali Tari harus menghindari kemarahan ibu. Soalnya tadi pagi, sebelum Tari pergi ke sekolah. Ibu sudah memerintahkan Tari dengan ancaman. Sore nanti Tari harus mengurus ayam.
"Kasih makan ayam !. Masukkan ke kandang !. Ngerti kau, b*b* !..." demikian pesan ibu.
Karena siang ini, ibu harus menghadiri undangan pernikahan keponakan tante ibu. Kalau yang namanya undangan, ini adalah kesenangan ibu. Boleh dibilang adalah salah satu hobbi ibu. Karena yang langsung tampil difikiran ibu adalah hidangannya, makanannya.
Wah...pasti banyak dan nikmat. Semua jenis makanan pasti disantap ibu. Ingat lho...disantap, bukan dicicipi. Malah pakai nambah-nambah beberapa kali. Lalu ada juga yang dimasukkan ke dalam kantongan untuk dibawa pulang. Yaahhh....untuk bekas makan satu atau dua hari ke depanlah. Padahal isi amplop ibu tidak lebih dari dua ribu rupiah.
Apalagi kalau yang punya hajatan adalah keluarganya. Pasti rugi besar keluarga yang mengundangnya. Atau siapapun yang mengundang ibulah, dijamin rugi.
Memang mayoritas keluarga ibu termasuk dalam golongan ekonomi kelas atas. Bahkan beberapa orang ada yang termasuk golongan jet set. Karena itulah ibu sering marah pada ayah. Ayah hanya pegawai negri di golongan paling rendah. Hanya tahu melakukan rutinitas sesuai protokoler.
Jauh dari harapan ibu. Saat mau dinikahi ayah. Harapan ibu, ayah bisalah senggol kiri kanan sedikit. Biar cepat naik jabatan. Banyak sumber uang yany masuk dan ibu jadi nyonya pejabat. Itu harapan ibu dulu. Tapi yaahh...harapan ibu kandas dalam keluguan ayah. Ibu pun berang dan harus mengajarkan ayah cara jitu naik jabatan cepat.
Begitulah sekilas mengenai latar belakang ibu. Kita kembali ke Tari.
Spontan Tari bersorak gembira mendapat perintah itu. Sampai Tari melupakan ada ancaman ibu terselip dibalik perintah itu. Tari hanya terfikirkan untuk memanfaatkan aji mumpung. Mumpung ibu keundangan dan pasti tidak mungkin pulangnya cepat.. Tari jadi berkesempatan bermain-main seusai sekolah.
Mumpung-mumpungan Tari yang akan lebih dahulu tiba dirumah, dari pada ibu. Bisa menghalau ayam-ayam ibu untuk segera masuk ke kandang. Tak perlu diberi makan. Tari pun pernah semalaman berada dikandang ayam, tanpa diberi makan dan minum. Tari tidai mati. Sampai sekarang Tari baik-baik saja.
Eee...tidak tahunya ibu sudah berada dirumah. Sebelum Tari tiba dirumah. Suara teriakan ibu yang kencang, langsung terdengar. Begitu Tari baru saja akan berjalan masuk ke rumah dengan jalan santai.
Tari tersentak kaget dan panik. Segera berlari cepat ke arah samping rumah. Percis disamping kamar tidur ayah dan ibu. Memang rumah mereka ini, pada samping kiri dan kanan ada kira-kita satu meter tanah kosongnya. Sampai batas tembok sekeliling rumah mereka itu. Tanah kosong itulah tempat ayam-ayam ibu berkeliaran bebas.
Jadi memang banyak tahi ayam disekeliling rumah mereka. Jika salah sedikit saja melangkah, **** !...pasti keinjak tahi ayam. Persetanlah itu untuk sekarang ini. Tari sudah kepergok, jadi asal saja melangkah. Bersembunyi diantara balok dan kayu yang tidak terpakai lagi. Untungnya disusun berdiri rapi oleh ayah, disandarkan ditembok luar kamar tidur mereka.
Rencana Tari, dari situ dia akan berjalan mengendap-endap. Menuju ke belakang rumah. Tidak langsung masuk kerumah. Mencari tempat persembunyian lagi diantara pohon pisang. Kebetulan disepanjang halaman belakang. Sampai kandang ayam, ditanami ibu pohon-pohon pisang.
Nah...Tari akan bersembunyi dibalik salah satu pohon pisang itu. Mengintip ibu dari situ. Jika keadaan aman. maka Tari akan berlari menuju kamar tidurnya. Mengunci pintu kamarnya dan bersembunyi dikolong tempat tidurnya. Amanlah Tari...
__ADS_1
Selangkah lagi rencana Tari itu akan berhasil. Tari harus benar-benar memastikan ibu masih ada didepan rumah. Mencari dirinya dengan gusar. Padahal Tari sudah berada dibalik salah satu pohon pisang ibu. Mengintip ke dalam rumah. Sepertinya aman...Taripun menjulurkan satu kakinya untuk keluar dari persembunyian.
"Tariiiii.... !!!..." tiba-tiba suara ibu terdengat begitu dekat. Tari panik dan bingung. Fikirnya, pasti ibu sudah melihatnya. Tari pun keluar dan berlari ke arah gudang yang berada di depan tanaman pohon pisang ini. Tak ada pilihan lain, selain gudang itu. Walaupun Tari sangat benci masuk ke gudang itu.
Selain posisinya percis bersebelahan dengan kamar Mbah Kahpok. (Kini Tari sudah tahu nama si 'sosok hantu'). Tari juga sangat bemci suasana gudang yang gelap, jorok, berantakan dan bahu tikus. Mirip dengan kandang ayam. Bedanya kandang ayam, bau tahi ayam. Gudang bau tahi tikus.
Tapi terpaksa Tari harus belajar bersembunyi digudang itu. Harus menyukai suasana gudang. Bukankah tempat gelap adalah tempat aman untuk bersembuinyi ?. Seperti gudang mereka ini. Tambahan lagi, sebentar lagi hari mulai malam. Pasti sangatlah aman didalam gudang. Menunggi ibu segera pergi lagi. Menunaikan kebiasaannya.
Ada sebuah lemari pakaian usang didalam gudang. Tari akan bersembunyi didalam lemari. Pastilah tubuhnya bisa masuk kedalam lemari itu. Walaupun harus sesak nafas didalamnya. Karena lemari itu hanyalah lemari dua pintu. Berbagi oksigen dengan kecoak atau juga tikus. Ah...entahlah, binatang apalagi yang ada didalam lemari itu. Menjadikan lemari itu sebagai tempat persembunyian mereka, seperti Tari saat ini. Tak mengapalah yang penting aman dari ibu.
Beberapa lama Tari berdiam diri didalam lemari itu. Sampai Tari merasa yakin, bahwa ibu tidak akan menduga keberadaannya didalam lemari.
"Tariiiii !!!..." terdengar lagi teriakan ibu. Nyaris Tari kaget. Tidak menyangka kalau ibu masih mencarinya.
"Kenapa belum pergi juga" bisik Tari dalam hatinya, kecewa dan kesal.
"Perempuang brengsek !....Awas kau !...Kubunuh kau !...Akan kupatahkan kakimu !...."
"Kurang ajar !...Dimana kau brengsek !...Perempuan gila !...." terdengar lagi suara ibu sangat kencang dan sepertinya sangat dekat.
Tari kaget, gelagapan. Sampai terdengar bunyi 'gerebak...gerubuk' di dalam lemari, sangat berisik. Akibat benturan dinding lemari dengan siku lengan, kaki dan lutut Tari.
Belum lagi hilang kekagetannya. Pintu lemari usang itu tiba-tiba terbuka lebar. Kreeekkk...kraaakkk... pintu lemari terlepas dari engsel-engselnya. Kekuatan kemarahan ibulah yang membuat pintu itu semakin rusak dan nyaris hancur.
Ibu berdiri didepan pintu lemari itu. Berkacak pinggang dan melototkan matanya, menatap Tari.
"Disini kau rupanya...*nj*ng !. Keluar kau !..." teriak ibu. Sambil menjambak rambut Tari yang tidak tipis lagi. Melainkan sudah tumbuh subur, lebat, keriting dan panjang sebahu. Ibu leluasa menarik rambut Tari. Hanya dengan satu tangannya saja. Menyeretnya keluar dari dalam lemari. Sedang satu tangannya lagi memegang sepatu bekas dan memukulkannya bertubi-tubi ke bahu dan punggung Tari.
Tari tak dapat membantah atapun melakukan perlawanan. Apalagi mengaduh kesakitan. Tari hanya bisa berusaha menangkis dan menahan pukulan ibu dengan kedua tangannya. Tapi malah tangannya yang terkena pukulan. Hal itu pun membuat ibu semakin berang. Merasa ditantang Tari.
__ADS_1
Ibu semakin marah. Mengeluarkan jurus makian, sumpah serapah kepada Tari. Tatkala Tari berhasil menangkis pukulan ibu. Suara ibu semakin kencang. Sampai terlihat jelas urat lehernya. Mulutnya pun terbuka sangat lebar. Ludahnya bermumcratan ke wajah dan rambut Tari. Seakan ikut menghakimi Tari yang telah membuat ibu marah.
Begitu seluruh tubuh Tari sudah keluar dari lemari itu. Ibu menarik rambut Tari ke atas. Memaksa Tari untuk berdiri. Tari pun terpaksa berdiri, percis didepan ibu. Tinggi ibu dan Tari sudah sama. Kecuali bobot tubuh. Ibu masih gemuk dan Tari sedukit kurus dari ibu.
Tak terduga, ibu mendorong kuat tubuh Tari. Tari pun terjatuh, terduduk. Masuk kembali ke dalam lemari. Sempat tadi kepala dan bahunya membentur tulangan lemari. Untung kayu-kayu tulangan itu sudah rapuh. Jadi sakitnya tidak pakai banget.
Tari hanya pasrah, memendam marah. Tapi belum sempat menarik nafas untuk berkeluh kesah. Ibu mengangkat pintu lemari itu dan membantingkannya ke arah Tari. Ungtunglah pintu itu terhalangi tulangan-tulangan pintunya. Jadi pintu itu tidak mengenai kepala Tari.
Tapi pintu itu dapat menutup kembali. Walau tidak rapat. Pintu itu hanya menyender begitu saja. Hingga membuat ibu tidak puas. Lalu mengambil beberapa kursi dan meja bekas yang ada digudang itu. Menumpukkannya didepan pintu itu dan menyusunnya. Hingga pintu itu tertutup kuat. Tak memberi celah buat Tari untuk keluar dari dalam lemari itu.
Puih !...Tari tidak akan cengeng. Meski terkurung didalam lemari ini. Buat apa ?...toh dengan sekali tendangan kakinya, tumpukan lemari dan kursi itu bisa roboh. Tari bisa keluar dari lemari ini. Saat ini Tari tidak berniat melakukan itu. Tari malah merasa lebih nyaman berada didalam lemari ini. Duduk diam tenang dalam kegelapan dan kesunyian malam.
Buktinya beberapa saat kemudian, senyuman sinis Tari sudah mengembang secuil. Senyuman untuk dendam dan kebenciannya pada ibu. Namun tak urung membuat matanya melirik kekiri dan kekanan. Tatapan was-was dan ketakutan. Batapapun Tari berusaha tegar untuk berani. Tetap saja ada ketakutan yang menyerangnya. Bukan takut akan kedatangan ibu kembali. Tapi pada kisah seram tentang gudang. Apalagi jika telah malam. Pasti kisahnya tidak hanya seram. Tapi sangat seram. Bukan lagi kisah teman-teman. Tapi kisah dari film-film horor.
Biasanya gudang dijadikan tempat ular bersarang dan beranak pinak. Iiii...bulu kuduk Tari sempat berdiri. Tapi sesaat saja. Kemudian layu lagi. Ketika Tari mendapati beberapa lobang pada dinding lemari ini. Sebesar bola billyard. Lobang itu akibat gigitan tikus-tikus. Karena itulah lemari ini disebut rusak dan ditempatkan didalam gudang.
Untungnya lagi, lemari itu dirapatkan pada tembok gudang. Sebenarnya untuk memanipulasi tembok gudang yang belum selesai renovasinya. Masih harus ditambah beberapa batako lagi. Agar temboknya tidak bolong. Berhubung pekerja yang dipercayakan ibu, mengkorupsi dana yang telah diberikan. Menyebabkan penyelesaian gudang ini tertunda sampai sekarang.
Lobang tembok dan lobang pada lemari, bisa menjadi jalan masuk cahaya bulan diluar sana. Lumayanlah dapat menjadi penereang Tari didalam lemari ini. Jadi kegelapan disekitat gudang tidak akan mempengaruhi fikiran Tari untuk membayangkan hal-hal buruk dan menyeramkan.
Sedikit Tari terhibur dengan cahaya bulan itu dan lobang-lobang itu. Tari jadi bisa mengintip keluar dan mendapati ayah bersama Mbah Kahpok. Menanam sebuah pohon lagi. Pohon yang dulu mereka tanam sudah tumbuh besar. Ternyata pohon itu adalah pohon mangga.
Jika ibu mengejar Tari. Tari akan segera memanjat pohon itu. Untungnya ibu tidak dapat memanjat pohon. Tadi Tari berniat akan memanjat pohon itu. Berhubung hari akan malam dan cuaca tidak mendukung. Seperti akan turun hujan. Makanya Tari memutuskan sembunyi dibalik pohon pisang dan berpindah ke dalam gudang. Eh...sampai ibu berhasil menyergapnya, hujan tidak kunjung turun.
Tari memperhatikan ayah dan Mbah Kahpok dari lobang-lobang itu. Ayaj sedang menggali lobang ditanah dengan sebuah cangkul. Sedang Mbah Kahpok berjalan mengelilingi ayah. Sambil membawa wadah kecil yang mengeluarkan asap. Hanya kali ini berbeda. Pertama, ibu tidak ikut serta. Kedua, kini Tari tahu. Asap itu bukan hasil pembakaran sampah. Melinkan daun kemenyan yang dibakar. Merupakan 'pupuk' subur untuk menumbuhkan pohon itu. Sejalan dengan jabatan ayah yang kini tumbuh sangat subur.
__ADS_1
Hhhmmm...Tari manggut-manggut dan tersenyum-senyum memperhatikan ayah dan Mbah Kahpok. \*\*\*