
Fitri, Martha dan Mila sedang merencanakan untuk balas dendam kepada Tari. Mereka membahas rencana itu disebuah kafe yang sepi, yang berlokasi diujung jalan rumah Fitri.
Mereka sengaja memilih tempat sepi. Sekaligus bisa makan, minum dan mendengar alunan musik. Tidak juga harus dikamar mereka. Demi menjaga kecurigaan keluarga masing-masing. Maka jatuhlah pilihan pada kafe yang baru dibuka ini. Mumpung masih banyak gratisannya. Jadi...sikat saja disini.
"Bagaimana kondisi mata lo, Ta" tanya Mila mengawali pertemuan mereka.
"Sudah agak baikan. Hanya yang sebelah kiri masih rada suka perih. Kalau lama dibuka"
"Kenapa lo gak lapor polisi, Ta" tanya Fitri yang sangat greget. Membayangkan ulah Tari pada Martha waktu itu.
"Gua gak ada saksi. Si sopir taksinya ketakutan. Sedang Mila, gua khawatir pada Mila yang masih diasrama. Pasti dijahati si Tari. Kalau buka mulut"
"Iya, Ta. Sorry, ya...gua takut banget. Jadi gua berfikirnya pendek. Gak mau berurusan dengan yang namanya Tari. Begitupun, gua tetap diteror sijelangkung itu. Gua disiksa dia dikamar mandi"
"Masa sih...kapan ?...Kok lo gak cerita ke gua" tanya Fitri kaget.
"Kesiapapun gua gak cerita masalah ini. Makanya gua keluar dari kampus, yah...karena hal ini"
"Kenapa lo diamin. Lo harusnya bilang ke Ibu Pur kek" tanya Fitri masih kaget dan lebih greget. Membayangkan Mila dijahati Tari dikamar mandi.
"Yahhh...krn takutlah. Makanya gua berfikirnya pendek waktu itu"
"Lalu sekarang...lo sudah yakin mau berurusan dengan Tari lagi" kali ini Martha yang bertanya.
"Iya...gue yakin"
"Oke...berarti kita sepakat ya..."
"Iya...sepakat"
"Fit ?...lo sepakat ?" Martha bertanya Fitri yang sedari tadi mulai tampak garis-garis keraguan di wajahnya.
"Fit ?...ada apa ?" tanya Mila. Tampak mulai khawatir.
"Lo juga pernah dijahati Tari ?. Kayak gua dan Mila ?"
Fitri menunduk, berusaha menyembunyikan ketakutannya. Duduknya pun mulai gelisah. Mila dan Martha semakin khawatir.
"Fit ?...kalo lo gak yakin...ya udah. Kita urung saja"
__ADS_1
"Gua takut, Mil...Ta...Gua...Gua merasa seram aja"
"Iya sih...seram dijahati Tari"
"Menurut gua...Tari itu...eee...anu...dia punya dukun"
"Apa ?" serentak Mila dan Martha bersuara, kaget.
"Kok lo nebak gitu" tanya Martha. Mulai merasakan bulu kuduknya merinding.
"Gak deh...gak usah...kita pulang aja yok..."kata Fitri. Akhirnya menyerah dan berdiri.
Spontan Martha juga ikut berdiri dan begidik. Mila menatap mereka satu-persatu. Lalu ikut juga berdiri.
Fitri menarik tangan mereka dan mengajaknya melangkah, pergi dari tempat itu.
"Ada sih, Fit" tanya Mila, masih bingung dengan sikap kedua teman-temannya itu yang drastis berubah 100°.
Awalnya sangat bernafsu untuk diskusi tentang rencana untuk balas dendam. Lalu tiba-tiba ketakutan dan minta pulang. Tanpa ada deal dari diskusi ini. Mereka mirip yang film Zombie. Awalnya ganas mau memakan manusia. Tiba-tiba berhenti dan berbalik arah. Ketika mendengar bunyi sinyal supranatural.
Tentu saja mereka berubah drastis. Karena jauh disana, Mbah Kahpok merasakan sesuatu yang mengusik ketenangan fikirannya. Segera Mbah Kahpok bermeditasi. Sayup-sayup mendengar ******* nafas ketakutan dari seseorang.
Birahi itu masih menggantung. Hingga ketakutan Fitri membangunkannya lagi. Mbah Kahpok pun segera menyusupi fikiran Fitri, bahwa dirinya akan datang untuk menuntaskan birahi itu.
Hanya Mbah Kahpok tidak mendapatkan keberadaan Fitri. Ketika malam itu Mbah Kapok menyusup ke kamar asrama. Mbah Kahpok tidak mendapati Fitri. Bahkan teman-teman mereka yang lain pun, tidak berada diranjang mereka masing-masing. Hanya ada Tari dan seseorang lagi dikamar itu.
Mbah Kahpokpun tidak menyia-nyiakan malam itu. Pulang dengan hasil hampa. Tak ada Fitri yang seksi, Tari yang penuh lemakpun jadilah.
Jadilah Mbah Kahpok menyalurkan nafsunya pada Tari. Setelah meniupkan nafasnya pada seseorang yang ada dikamar itu, yang tidak lain adalah Gina. Agar Gina tertidur lelap. Mbah Kahpok dan Tari dapat bebas memuaskan hasrat bercinta mereka.
Tanpa harus bersembunyi lagi dibawah selimut. Mereka sangat bebas meluapkan hasrat. Sebelum bel pagi berbunyi. Mbah Kahpok sudah puas. Lalu melayang pergi. Lupa untuk bertanya tentang keberadaan Fitri.
Memang Mbah Kahpok tidak tahu. Pada semester akhir perkuliahan mereka ini, Tari dan teman-teman seangkatannya telah diperbolehkan untuk meninggalkan asrama.
Tari tidak memilih meninggalkan asrama. Karena Tari tidak ingin kembali hidup satu rumah dengan ibunya. Jadi Tari dan beberapa orang teman seangkatannya yang lain, yang berasal dari luar kota; memilih tinggal tetap diasrama. Sampai hari wisuda mereka nanti.
Inilah kendala yang dihadapi Tari saat ini. Saat Tari merasa hidupnya sudah sempurna. Tapi tidak lengkap. Karena tidak dapat membuat teman-teman satu kamarnya, menikmati kecemburuan mereka. Atas kehidupan Tari kini. Padahal selangkah lagi, impian Tari menjadi kenyataan. Menikah dengan pria tajir yang bernama Anton dan mendapatkan banyak harta warisan. Suatu impian yang segera digenggam Tari dan tak akan terlepas lagi.
Tari jadi sering gelisah diatas ranjangnya. Memperhatikan ranjang-ranjang lain yang sudah kosong penghuninya. Ranjang Neneng, Yunita, Karina dan lainnya. Kini kamarpun jadi sepi. Hanya ada dirinya dan Gina. Itupun dengan jarak ranjang yang berjauhan. Tari disudut sini dan Gina disudut sana.
__ADS_1
Jika tidur, Gina selalu memunggungi Tari. Jika pun tidak waktunya tidur, Gina dan Tari jarang bertemu. Boleh dikata, tak pernah bertemu. Hanya Tari yang selalu menemukan Gina sudah lelap tidur dengan posisi kesukaannya itu, memunggungi Tari.
"Okelah...tak mengapa. Lagian, untuk apa bicara dengan Gina. Unfaedah..." bisik Tari di dalam hatinya untuk menghibur dirinya sendiri. Mumpung tadi sempat terlintas dibenak Tari untuk bertranformasi menjadi tokoh ramah nan baik. Bagi teman-temannya yang sudah pergi dari kamar.
Tari akan mentraktir mereka. Terkhusus pada teman-teman yang pernah menoreh kebencian dihatinya. Nah...pada moment itulah Tari akan bersombong ria, pamer kebahagiaannya pada mereka. Taripun mulai mencatat nama Fitri diurutan pertama. Lalu ada Ruli, Desi, Karina...
"Mila...yah Mila. Itu yang terpenting" bisik Tari didalam hatinya. "Fitri yang pertama. Lalu Mila, Ruli..." lanjut Tari pada dirinya sendiri. Mengurutkan nama-nama teman-temannya yang dibencinya untuk ditraktirnya.
Walaupun demi itu Tari harus bersandiwara. Sok ramah, sok lembut dan semua sok-sokkanlah. Berpura-pura seorang pemaaf yang telah melupakan kejadian-kejadian buruk di masa lampau.
Memeluk dan bercipika-cipiki kepada teman-temannya yang telah meninggalkan asrama itu. Memberi mereka senyuman manis dan memberi sanjungan lebai. Setinggi langit ketujuh.
Tari pun harus melatih lidahnya. Melatih perutnya, agar tidak cepat mual. Juga melatih mulutnya, agar tidak langsung muntah. Saat memberi senyum manis dan sanjungan-sanjungan lebai itu.
Lalu Tari segera praktek di tempat PKLnya, yaitu kepada Fitri tercinta yang tengah duduk sendiri dikantin. Sangat asyik menatap iphonenya.
"Hai, Fit..." sapa Tari kepada Fitri dengan suara halus.
"Ups !...Agh..." Fitri nyaris tercedak. Mendengar suara Fitri itu. Entah mengapa, seketika membuat Fitri ketakutan. Fitri pun menatap Tari penuh awas.
Takut Tari tiba-tiba menjahatinya. Karena Tari sudah mengetahui niatnya untuk melakukan balas dendam. Bisa saja sibayangan hitam itu mencuri dengar mereka. Saat dikantin waktu itu. Lalu memberitahukannya pada Tari. Makanya Tari sekarang bersikap lembut. Padahal berpura-pura.
Menurut Fitri, si bayangan hitam itu adalah jin peliharaan Tari.
"Lagi chat sama Toni ya..." kata Tari lagi. Tanpa sedikitpun tertarik untuk melihat Fitri.
Kecuali hanya duduk manis disamping Fitri. Terlihat Fitri dari ekor matanya, wajah Tari penuh *****. ***** ingin menelanjangi Fitri dan mengaraknya didepan para tamu pasien yang sedang berseliwiran. Membeli makan dan minum dikantin itu.
"Fit, gue minta maaf. Soal yang lalu-lalu. Gue jahat banget ya... ke elo dan Toni. Sorry ya, Fit" kata Tari memelas. Kini dengan menatap Fitri. Fitri pun sedang menatap Tari dengan mulut menganga tak lebar. Tercengang kaget, tak percaya dan masih ada ketakutan.
Benarkah Tari mengatakan itu ?. Atau sekedar berpura-pura baik dan manis padanya. Padahal menggiring Fitri masuk kepebantaian. Ketika sudah masuk, lalu dibantai jin peliraharaan Tari.
"Sebagai permintaan maaf gue, gue mau traktir lo. Bukan dikantin ini. Tapi dikafe favorit gue dan Anton. Lo tau kan...Anton. Pacar gue....." jurus satu Tari masuk. Mengundang Fitri untuk makan enak dan mencekoki Fitri dengan kesombongannya yang telah resmi berpacaran dengan pria tajir. Pria tajir itu bukanlah Toni.
Fitri semakin tercengang, tidak percaya. Mendengar sinopsis Tari tentang pacarnya ini. Hingga membuat Fitri mengetik di iphonenya,
"Tunda dulu"
"Ting" pesan terkirim.***
__ADS_1