Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Menghadapi Sikapnya


__ADS_3

Setelah mobil berhenti, Okta turun dan mendekati mereka berdua, di ikuti Judika di belakangnya.


Malam dipenuhi suasana canggung pun segera dimulai.


"Ah, Su-suamiku perkenalkan ini Jojo karyawan  di kedai ayah. Jojo ini suamiku." Senyum terpaksa kembali muncul pada raut wajah Wilona yang menjelaskan dengan situasi canggung.


Jojo pun menyodorkan tangannya untuk bersalaman tapi...


"Oh..." itulah kata yang keluar dari mulut Okta dengan wajah yang tidak berekspresi, dia juga tidak membalas salam dari tangan Jojo.


Hanya saja tatapan mata Okta seolah terlihat seperti orang angkuh saat itu.


Melihat jabat tangan yang tidak direspon, Jojo pada akhirnya melanjutkan, "Ah, kalau begitu saya permisi dulu ya." Jojo tersenyum ramah sambil menatap pada Wilona dan Okta bergantian.


"Iya Jo, hati-hati di jalan ya." Wajah Wilona kembali tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya mengantar kepergian jojo.


Wilona pun memandang Jojo berlalu, sampai kepalanya ia dongakkan melihat kepergian Jojo, tangannya tetap melambaikan sekalipun motor Jojo sudah pergi menjauh.


Tangan Wilona yang tidak sadar ia gerakkan sendiri pada Jojo, tiba-tiba di tepis oleh Okta, membuat Wilona tersentak kaget, kemudian menatap Okta dengan kesal.


"Aaa, sakit." suara Lirih Wilona keluar, Tatapannya semakin kesal pada Okta, sambil memegang tangannya yang sebenarnya sih tidak begitu sakit.


Okta tidak merespon sama sekali dan langsung masuk kedalam rumahnya.


Seperti biasa Ia menuju ke kulkas mencari air minum dan kemudian duduk di ruang makan.


Meninggalkan Wilona di luar bersama Judika.


▪▪▪▪▪


...Di teras rumah...


"Nyonya, mari saya bantu." Judika pun membantu Wilona mengangkat semua belanjaan nya ke dalam rumah.


"Terimakasih Jud." Kembali tersenyum setelah tadi memasang muka kesalnya.


"Jud, sebentar ... kenapa dia bisa sekasar itu?


Apa dia tidak pernah di ajari sopan santun sewaktu kecil?


atau apa dia tidak tahu juga etika saat berkenalan dengan orang lain ...?"


Wilona menggerutu pada Judika, namun Judika tidak membalas sama sekali pernyataan nyonyanya, ia hanya menundukkan kepala sambil tersenyum berlalu meninggalkan Wilona.


Padahal sepertinya pagi hari tadi dia terlihat baik-baik saja, emosinya benar-benar tidak stabil. batin Wilona.


Wilona datang dengan membawa tas penuh belanjaan, menuju ke dapur. Dia berjalan sambil menatap wajah Okta dengan kesalnya.


"Ah, taruh di meja saja Jud biar nanti saya yang bereskan." Wilona yang kesal berubah tersenyum setelah melihat Judika


"Baik."


"Em...sudah makan?" Wilona sengaja bertanya pada Judika, karena dia tahu kalau bertanya pada Okta akan membuang energinya secara percuma.


"Sudah Nyonya." Judika menjawab dengan cepat.


"Oh...kalau begitu duduk saja dulu saya buatkan kopi ya."


Tiba-tiba Okta menyela


"Jud, kamu boleh pulang sekarang."


Tanpa basa-basi Judika menyahut "Baik tuan, saya permisi dulu. Nyonya permisi."


"Ah..iya hati-hati ya." Wilona melambaikan tangannya( sepertinya ini memang kebiasaan Wilona ya melambaikan tangan tanpa sadar ^^)


Judika menundukkan kepala kemudian berlalu.


Wilona dengan nafas kesalnya juga lanjut menata barang belanjaanya. Lalu duduk di kursi.


"Pak Okta,lain kali sebaiknya kalau ada orang berkenalan di jawab dengan benar.


Sekalipun anda orang terpandang, kalau ada orang bersalaman ada baiknya di balas dengan menjabat tangannya.

__ADS_1


Bukan hanya berkata 'oh' seperti tadi!!!


Bagaimana perasaanya kalau sikapmu seperti itu? " Wilona meluapkan kekesalannya.


"Perasaan? huh, siapa? dia? Kenapa aku harus memikirkannya?"Jawab Okta


"A-apa?"


Wah aku benar-benar bicara dengan seorang monster disini.


"Besok, ayah mengundangmu makan malam di rumahnya." lanjut Okta tiba-tiba.


Wilona enggan menanggapi.


"HEYYY kamu dengar tidak ?" nada Okta sedikit naik.


"Tentu saja mendengar, disini kan cuma ada kita berdua.


Jam berapa kita berangkat?" ketus Wilona.


"Jam lima aku akan pulang kantor, kamu siap-siap saja."


"Iya." Wilona membalas dengan suara lirih.


Kemudian Okta beranjak pergi menuju kamarnya.


Wilona yang melihat Okta berlalu menujukkan kepalan tangannya dan meninju udara ke arah Okta.


Okta merasa ada sesuatu yang aneh, maka ia menoleh ke arah Wilona, sontak Wilona kaget dan berpura-pura menangkap nyamuk di udara.


Jam semakin berlalu .


Wilona yang sudah selesai mandi kemudian keluar menuju ke balkon rumah, rambut basahnya yang ditutupi dengan handuk tergulung di atas kepalanya, merasakan dinginnya angin malam.. bersandar pada pagar balkon, menikmati semilir angin malam. Kemudian ia menghabiskan waktu dengan menelpon ayahnya.


Halo?


"Ya ayah."


Ah... bagaimana? sudah dirumah ?


*Y**a syukurlah kalau begitu*,


Bagaimana dengan Jojo? Oh iya, Okta juga sudah pulang?


"Ayah, Jojo sudah pulang juga dari tadi,  dia mengantarku sampai ke rumah.


Ternyata Jojo orangnya baik ya yah. Padahal tadi, aku cuma mau di antar sampai halte saja ,tapi dia memaksa jadi ya sudah.hehehe." ( mengalihkan ayahnya untuk tidak membahas tentang Okta)


Lalu dengan Okta?


Wilona mengernyitkan kedua matanya enggan dengan pembahasan mengenai laki-laki itu.


"Sudah, e- dia.... e- baru, iya baru mandi sekarang hehehe."


Ooo. Jadi begitu, kalau kalian sudah sama-sama di rumah ... ayah jadi tenang.


"Iya ayah. Oh iya, obatnya tadi sudah di minum belum?"


Oh sudah, setelah kamu menikah, tidak ada yang mengingatkan ayah lagi disini , jadi ayah pasang alarm saja supaya tidak lupa. hahaha.


Em... Ona, ini sudah malam, sebaiknya kamu temani suamimu dulu dan segera istirahat, kamu pasti lelah sekali hari ini.


"Baiklah, ayah juga ya, selamat istirahat."


Wilona kemudian menghela nafas, kembali merenung sambil melihat lampu-lampu kecil yang berkelip di perumahan seberang sana.


Sebenarnya Okta juga turut mendengarkan pembicaraan tadi, berhubung jendela kamarnya yang bersebelahan dengan balkon juga terbuka, otomatis suara itu pasti masuk dan terdengar jelas. Keasikannya menikmati foto Leony pecah sekwtika mendengar percakapan Wilona.


Hembusan angin yang mengalir dan kesunyian malam ternyata belum membuat Wilona mengantuk sama sekali.


Kemudian ia, menyetel tv untuk mengusir kejenuhannya, dia membuka snack yang dibawanya tadi dari swalayan..


Untungnya saja tv menayangkan acara variety show kesukaannya, ada adegan kejar kejaran untuk mencabut tag nama yang menempel di belakang pakaian..

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, "Hahahaha." Wilona terbawa suasana dan serasa hidup dalam dunianya sendiri... ia terbahak-bahak, memegangi perutnya karena kekonyolan acara yang ia tonton membuatnya tertawa sampai sakit perut.


"Hahahah dia....hahahaha." Ternyata Okta juga ikut tertawa. Wilona terkejut karena tidak tahu ada Okta dibelakangnya.


"Hey, Pak Okta lain kali kalau ada di belakangku bilang!Wilona bicara dengan nada tinggi.


"Kenapa begitu, ini rumahku, lucu sekali harus minta ijin padamu. Hahaha, siapa laki-laki itu, dia konyol sekali" melanjutkan tertawa menyaksikan acara di tv.


"Ya, tapi kan setidaknya aku tidak kaget seperti ini." ujar Wilona kesal.


"Itu? ... apa yang kamu makan." Menunjuk cemilan yang di bawa Wilona dengan angkuhnya.


Cih, dia saja tidak pernah menanggapi perkataanku, kenapa aku harus menjawabnya.


(Wilona cuek saja dan kembali menonton tv)


"Hey, itu apa?"Okta penasaran dengan makanan kaleng yang di bawa Wilona.


"Keripik kentang." wilona menjawab dengan malas.


"Berikan padaku!"tangan Okta bergerak-gerak mengarah pada snack yang dibawa Wilona


"Enak saja, kalau mau aku berbagi, mintalah yang sopan pak."


"Cepat, sini berikan!!!"


" Minta yang sopan bisa tidak? Seperti ini : Wilona bagi makananmu dong" Wilona mengatakan dengan wajah menantang.


Karena Okta diam saja, Wilona hanya mengernyitkan mulutnya.


"Aku minta makananmu ... dong." ucap Okta yang tampak kaku.


"Hahahahah...ini selamat menikmati." Wilona pun membagikan makanannya.


Nah kalau begitu kan kamu terlihat seperti anak penurut. batin Wilona puas.


"Hmm...enak, apa ini? keripik kentang?


emmm, makanan ini enak juga." mengunyah sembari melihat-lihat kemasan kaleng snack yang di bawanya.


"iya itu keripik kentang. Apa selama ini bapak tidak tahu ada makanan seenak ini?


Wah...seorang terkenal seperti Pak Okta mana mungkin tahu makan jajanan luar ya?"


Wilona  mengejek sementara Okta cuek saja tidak mendengarkan.


"Kalau anda suka besok saya akan membawakannya lagi, tadi Jojo yang belikan itu untukku."


 Okta tiba-tiba menghentikan makannya dan memandang wajah Wilona dengan galak.


Sekalipun Wilona tidak tahu dengan perubahan respon Okta.


"oh iya Pak, bagaimana dengan acara besok? Apa yang harus kubawa pada ayah?"


Lalu siapa saja orang dirumah? Acara besok biasanya seperti apa pak?"


"Ah... sudahlah, matikan tv nya kalau tidak kamu tonton!" Okta berlalu menuju kamarnya sambil membawa keripik kentang ditangannya.


Di kamar, keripik yang masih ada isinya itu langsung di buangnya pada tempat sampah.


Sementara di ruang santai ada Wilona yang terdiam melihat pria dengan mood aneh itu masuk kamar.


Ia menjadi kesal lagi menghadapi tingkah Okta barusan.


Cih, dia ini kenapa sih? sebentar tertawa sebentar lagi marah...kenapa dia selalu membuat emosiku juga naik turun begini?


Dan hari ini sudah berapa kali berbuat seperti itu padaku.


Dasar manusia aneh ... tidak jelas. ( Wilona yang kesal kembali mengepalkan tinju lagi dan lagi mengarah pada kamar Okta).


....


Bersambung

__ADS_1


Malam berlalu, sepertinya mereka berdua masih sama saja, ketidakcocokan masih saja terjadi. Bagaimana dengan acara makan malam besok...Apakah mereka akan tetap bertengkar seperti biasa atau menjadi pasangan romantis layaknya pengantin muda ...^^


Dukung dengan Like ❤ nya ya


__ADS_2