Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Kalian Berdua ?


__ADS_3

Wilona dan Okta sama sama turun ke bawah.


Wilona sangat penasaran dengan Judika.


Bagaimana tidak, kalau tuannya saja babak belur begitu, bagaimana dengan asistennya.


"Judika." sapa Wilona sambil melangkahkan kakinya dengan cepat dan mendekati Judika.


Tangannya dengan cepat menyentuh wajahnya dan melihat sekali lagi memar yang terlihat disekitar mata sebelah kiri dan mulut Judika.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian berdua?" tanya Wilona tatapannya justru kesal pada Okta.


Tidak dipungkiri bahwa memang Okta adalah orang yang mengesalkan dari semula, sehingga Wilona berpikir semua pasti berawal dari Okta.


Melihat tuannya menuruni tangga dengan wajah yang dipenuhi dengan lebam membuat Judika terkaget-kaget juga.


"Tuan?" mata Judika membesar mengingat-ingat apakah dia sampai memukul tuannya tanpa ia sadari saat boxing kemarin?


Ah tidak, kemarin bahkan aku menahan tinjuku pada tuan. Lalu ... kenapa jadi seperti itu pagi ini, mungkinkah sesuatu terjadi di malam hari kemarin?


Judika ingin bertanya-tanya apa yang terjadi semalam namun tangan Okta seketika bergerak seolah menandakan 'jangan bertanya dulu'.


Wilona lalu berkacak pinggang.


"Pak Okta ... kalian berkelahi?"


"Tidak nyonya ... anda salah mengira ..." terang Judika menjawab dengan cepat.


"Tidak apa? dengan tubuh sebesar kamu siapa yang berani melawanmu ... aku dengar kamu jago bela diri ... siapa yang berani memukulmu kecuali ..." Wilona tidak melanjutkan kata-katanya namun tatapannya tertuju pada Okta dengan kesal.


....


"Tentu saja kalau kalian berdua berkelahi, Judika yang kalah ... mau tidak mau, dia akan mengalah karena kamu adalah atasannya." sekali lagi Wilona melontarkan kekesalannya.


Di anak tangga Okta mengernyitkan mukanya sambil berkali-kali mengusap dahinya.


Wilona lalu teralih pada Judika sambil sekali lagi memegang wajah Judika.


"Ya ampun Jud ... kasihan sekali kamu?


Apa masih sakit?" Tanya Wilona dengan cemas.


Mengingat kedekatannya dengan nyonya saat di makam membuat tuannya emosi, Judika memilih menggeser tubuhnya menjauhi Wilona.


"Nyo-nyonya ... tetaplah disitu. Saya baik-baik saja."


"Kenapa?"


"Ah ... tidak. Maksud saya tidak ada apa-apa, saya baik-baik saja." balas Judika.


"Ya ampuuun ... apa sebaiknya .... kalian tidak usah ke kantor saja hari ini"


"Apa maksudmu ... aku ini seorang pimpinan. Bagaimana mungkin pemimpin melakukan tindakan konyol seperti itu?"


"Maksud saya pak ... bagaimana orang-orang akan berpikir nanti setelah melihat kalian berdua seperti ini."


"Biarkan saja ... aku tidak peduli."


Wilona menatap kesal pada Okta lalu berjalan menuju ke kotak P3K sekali lagi dan mengambil masker untuk mereka.


"Pakai ini." perintah Wilona.

__ADS_1


"Kenapa kamu seenaknya memerintahku?"


"Cepat pakai !!" Tegas Wilona.


Judika dengan segera memakai maskernya dan entah mengapa ternyata tuannya menuruti juga perintah Wilona, dengan ragu-ragu ia pun memakai maskernya.


"Jangan sampai kalian bertengkar lagi." jelas Wilona.


"Aku tidak berkelahi dengannya." tutur Okta.


"Sudah pak...tidak usah dijelaskan lagi. Melihat wajah Judika saya sudah mendapat jawabannya."


"Ah ... terserah kamu saja."


Melihat sepertinya perdebatan itu tidak usai Judika langsung berkata sedikit lebih keras untuk menengahi mereka.


"Nyonya terimakasih. Sepertinya ini memang ide ... yang baik."


Dan mereka pun berangkat ke tempat kerja masing-masing.


▪▪▪▪▪


Di mobil Okta.


"Jud ... nanti malam aku akan makan malam dengannya."


"Baik Tuan, akan saya reservasi dulu tempatnya. "


"Tidak perlu ... aku sudah memesannya kemarin. kamu hanya jemput saja dia jam tujuh malam."


"Baik Tuan."


Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi nanti malam antara tuan dan nyonya.


Ini bahkan belum pernah terjadi selama tuan dekat dengan nona Leony.


▪▪▪▪▪


Sore hari di kedai ayah


Sore itu kedua sahabat Wilona datang. Memang hari itu Wilona bersemangat sekali sepanjang hari berhubung kedua sahabatnya akan main ke kedai ayah.


Mereka seolah tidak ada kesempatan lagi bertemu bertiga di luar kedai mengingat Wilona sudah tidak ada waktu lagi selain urusan pekerjaan dan rumah.


"Haiii ... aku benar-benar merindukan kalian."


"Ada apa dengan wajahmu Wilona ... sepertinya kamu sedikit lebih kurus sekarang." tanya Petra.


"Benarkah? Ah ... mungkin karena aku kelelahan saja."


Jesika lalu berdiri di belakang Wilona dan menepuk pundak Wilona berkali-kali.


"Apakah ini enak?"


"Hm ... enak sekali, lanjutkan ya. hahahaha." pinta Wilona.


"Kamu yakin baik-baik saja Wilona? Sepertinya tidak ada yang bisa membuatmu kurus kalau itu bukan berasal dari pikiran." tanya Petra sekali lagi.


Jesika kemudian maju dan mengamati wajah Wilona.


"Benar ...kamu itu mahkluk pemakan segalanya. Kamu bahkan tidak akan pernah meninggalkan sisa makanan sedikitpun di meja. Apa kamu sedang diet Ona sayang? tanya Jesika.

__ADS_1


"Ah ... tidak, aku tidak diet, tidak ada masalah juga." timpal Wilona.


*Ehem ... ehem ...*


Jojo mencoba berdehem di belakang mereka bertiga. Sepertinya Jojo juga mendengar percakapan mereka.


"Benar Wilona ... jujur kamu memang terlihat kurus." kata Jojo sambil meletakkan makanan di meja.


"Ah apa ini?" tanya Jesika sambil tersipu malu.


"Oh ... ini pangsit rebus dengan isian bakso ikan. Tadi kebetulan ada sisa tepung dan sayang saja kalau tidak dipakai. Jadi aku coba membuat ini." jelas Jojo.


"Pangsit rebus? kamu yang buat?" tanya Wilona.


"Iya ... ini adalah resep ibuku, kamu lihat tangan ini (Jojo memainkan jarinya) aku jago juga kan?"


"Iya jago sekali." jawab Jesika dengan cepat, pandangan matanya hanya fokus lada Jojo, senyum bibirnya bahkan todak bisa lepas dari mimik wajahnya.


"Silahkan menikmati." ucap Jojo sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Terimakasih..." ucap mereka serentak.


"Sepertinya Jojo juga memperhatikanmu Ona, tapi dari mana dia tahu kalau kamu terlihat kurus, memangnya kalian sudah kenal lama juga?" tanya Petra.


"Tidak ..." Jawab Wilona.


"Ah tidak penting ... yang penting adalah ayo makan pangsit rebus ini dulu." jawab Jesika cepat.


"Kamu dan suamimu baik-baik saja kan?" tanya Petra sekali lagi.


(Sepertinya Petra memang berbakat jadi detektif ya ... instingnya super kuat ^^)


"Yaaa tentu saja ...bahkan nanti malam kita akan makan malam diluar." jawab Wilona mencoba menghapus kecurigaan Petra.


"Kalau begitu kamu harus berdandan cantik seperti putri Ona sayang." lanjut Jesika.


"Kenapa begitu?"


"Ya tentu saja ... mana mungkin seorang Okta yang kekayaannya sejagat raya dan terkenal itu akan membiarkanmu makan di warung pinggir jalan."


Wilona dan Petra hanya tersenyum menanggapi celotehan Jesika.


"Pakailah pakaian yang cantik dan berdandanlah seperti seorang wanita berkelas, jangan seperti sekarang ini."


"Ah ... tidak perlu seperti itu." kata Wilona sambil menggelengkan kepalanya.


"Hey wilona sadar, suamimu itu siapa?...penampilan itu bukan buatmu, tapi tanggapan orang lain, setidaknya jangan mempermalukan Okta dengan tampilan sederhanamu ini, di hadapan umum dia adalah orang yang di kagumi banyak orang, akan ada berapa pasang mata akan melihatmu bersanding dengan orang terkenal itu nanti." Jelas jesika.


"Wah ... aku saja tidak berpikir seperti itu." jawab Wilona.


"Baiklah ... kalau begitu, Pet ... hari ini kita cancel nonton bioskop, tapi kita akan temani wanita manis satu ini memilihkan baju yang cantik untuknya."


Petra pun menganggukan kepala tanda setuju.


"Kaliaaaan ... kalian tidak perlu sejauh itu."


Apa ini? ... ingin rasanya aku bongkar semua kebohongan ini . Bahkan sahabatku pun berpikir sejauh itu untukku. Ya Tuhaaaan sampai kapan sandiwara ini berakhir. Kasihan mereka yang ikut masuk terlalu dalam....


●●●●●


Bersambung

__ADS_1


dukung dengan Like dan komen kalian


__ADS_2