Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Menepati janji


__ADS_3

Hal baik akan terjadi padaku, karena aku kuat, maka aku yang terpilih untuk menjalani cobaan seperti ini.


Ya ... aku kuat.


Saat itu Wilona sedang berada di mobil bersama kedua sahabatnya. Dan mereka langsung menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal.


Ah ... dulu Judika pernah membawaku kesini.


"Em ... teman-teman ... aku ... tidak suka tempat ini. Bisakah kita ke tempat lain?"


"Tidak ... disini adalah yang terbaik." Sahut Jesika.


 "Ah ... tapi ... ya sudahlah."


Semoga  karyawan yang dulu tidak ada yang mengenalku sama sekali.


Dan untungnya dengan tampilan biasa mereka dan tanpa pengaruh Judika sepertinya keadaan disana aman-aman saja.


Fiuuuh ... aman, sepertinya aku benar-benar terbebas dari keroyokan karyawan seperti waktu itu. Sangat tidak nyaman diperlakukan seperti waktu itu.


Bahkan karyawan menganggap Wilona dan sahabatnya hanya pengunjung biasa.


Dengan gesit Jesika memilah-milah baju.


"Jesika ... jangan itu, itu terlalu mewah, kita hanya makan malam saja ... bukan pesta."


pinta Wilona.


Wilona berjalan pelan sambil merangkul lengan Petra, ia menolak beberapa stel baju yang ditawarkan Jesika, padahal Jesika sudah sibuk kesana kemari mencari baju yang terbaik untuk Wilona.


Setelah sekian waktu berkutat dengan pakaian, mereka akhirnya menemukan yang pas di pakai Wilona.


"Apa mau aku temani ke salon juga?"


"Ah tidak ... aku juga bisa make up sendiri, tidak perlu terlalu berlebihan."


Saat itu secara kebetulan bertemulah Wilona dengan Leony.


Wilona berusaha menyembunyikan wajahnya dan menarik kedua sahabatnya untuk pergi dari lokasi ini dengan segera. Menghindar secara halus, namun ternyata...


"Wilona?" sapa Leony.


Tidak ...


Wilona terdiam dan pelan-pelan berpaling ke arah Leony. Kedua sahabatnya juga melihat sosok Leony yang datang mendekat ke arah mereka.


Wah ... cantik sekali.


Batin Jesika.


Petra pun terdiam dalam kekaguman melihat seorang wanita anggun mendekat ke arahnya, melemparkan senyum ke arah Wilona.


Sambil menyibakkan rambutnya ke belakang Leony menyapa;


"Senang berjumpa lagi denganmu Wilona."


"Haaai ... I-iya, ka-kapan kamu sampai?" tanya Wilona dengan senyum terpaksanya.


"Emm ... tepat di hari peringatan itu." masih dengan senyum menawannya.


"Oh ... " Wilona menganggukan kepalanya.


"Apa kalian sedang mencari sesuatu?" tanya Leony pada ketiganya.


"Ah ... tidak, kami hanya sekedar jalan-jalan saja." sahut Wilona dengan cepat dia berharap kedua sahabatnya hanya diam saja tidak menambahkan kalimat apa-apa pada Leony.


"Ah ... begitu ya."


"Se-sebenarnya kami sedang mencari pakain disini untuk Wilona, sebab nanti malam dia akan berkencan dengan suaminya." ujar Jesika yang tiba-tiba saja menyambung pembicaraan mereka.


Leony tersenyum lalu melemparkan wajahnya ke kiri seolah tidak percaya dengan pernyataan yang ia dengar barusan.


Sedang Wilona hanya kaku terdiam tidak berani memandang ke arah Leony.


Jesika hanya tersenyum biasa saja, berbanding terbalik dengan Petra yang terdiam dan memiliki firasat tersendiri, setelah melihat ekspresi Wilona disebelahnya.


"Baiklah, kalau begitu selamat bersenang-senang. Dan.... Ah ... satu lagi, Wilona aku harap kamu masih ingat kenangan kita di paris ya." Tutur Leony dengan senyumnya dan segera berlalu meninggalkan mereka.


Mendengar itu Wilona bahkan tidak bisa tersenyum sama sekali. Dia hanya terdiam sembari melihat Leony yang berjalan menjauhi mereka.


Kenapa jadi begini? bagaimana harus kujelaskan situasi ini pada semua orang.


"Wah cantik sekali ... dia siapa Wilona?" tanya Jesika.


"Ah... hahaha, dia ... aku bertemu dengannya sewaktu di Paris kemarin."


"Benarkah? wah ... itulah sebabnya Wilona, kamu harus juga merubah penampilanmu, lihat saja dia cantik, anggun mempesona. Kenalanmu sekarang dari kalangan atas juga. Berarti setidaknya kamu juga menyesuaikan seperti mereka kecuali satu yaitu hatimu ini." Ujar Jesika senang.

__ADS_1


Aku hanya menipu kalian, Sementara ... ini hanya sementara teman-teman... tolong mengertilah.


Wilona tak tahan, ingin membongkar semuanya saja di hadapan sahabatnya.


▪▪▪▪▪


Di rumah.


Waktu menunjukkan pukul 18.30 malam, Wilona sungguh enggan sekali datang bertemu dengan Okta. Dia bahkan hanya tiduran saja di kamar.


Aku harus beralasan apa lagi untuk tidak datang yah....


*Haaaah* ...(mendesah)


Tuhan aku harus bagaimana kali ini.


Lalu ponsel Wilona menyala.


***Nyonya mengingatkan, jam 19.00 anda akan saya jemput*.


pesan Judika**.


*Haaaah*


Semakin malas lagi Wilona setelah membaca pesan itu.


Yasudahlah ... untuk malam ini saja.


Wilona lalu bersalin dan mempersiapkan diri.



Ia mengenakan dress putih yang terlihat anggun namun masih berkesan sederhana saat itu.


Lagian apa bedanya kita makan di rumah ini malam hari ini dengan disana.


Batin Wilona.


▪▪▪▪▪


Tiba saatnya Wilona dengan di antar Judika memasuki restauran elit saat itu.



hawa dingin menyeruak memasuki tubuh Wilona.


Hanya satu kekurangannya. Sepertinya hanya Wilona seorang diri disitu. Sebab tidak ada satu pengunjung pun yang hadir.


Seorang chef datang menemui Wilona yang sedang duduk.


"Selamat datang nyonya selamat datang di restauran ini.


Perkenalkan saya Jean Geroge, saya adalah pemilik restauran ini."


Wilona membalas dengan menganggukkan kepalanya.


"Beberapa menu spesial sudah dipersiapkan malam ini khusus untuk nyonya. Selamat menikmati jamuan di tempat ini."


"Terimakasih."


"Dengan senang hati nyonya." Lalu chef itu segera pergi berlalu meninggalkannya.


Hampir satu jan Wilona menunggu.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun entah mengapa Okta tak kunjung datang.


Air mineral yang sudah disiapkan di meja bahkan sudah habis di minum Wilona.


Wilona lalu melirik pada Judika yang juga sedang duduk di kursi ujung ruangan.


Tuan... sepertinya tidak mungkin anda melupakan ini semua.


Judika berusaha menelpon tuannya, namun tidak ada jawaban sama sekali.


Sebaliknya Wilona hanya termenung dalam diam, sambil sesekali melihat ke arah Judika.


Wilona sama sekali tidak ingin menghubungi Okta. Karena dia memang tidak mengharapkan apa-apa darinya.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, namun Okta masih belum nampak batang hidungnya.


Sekalipun aku tidak mengharapkanmu sama sekali, setidaknya jangan perlakukan aku seperti ini. Sendiri ditempat seperti ini, menanti sesuatu yang tidak pasti.


Rona kesedihan dari raut Wajah Wilona sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.


Sekali lagi ia melihat ke arah Judika.


Tuan....

__ADS_1


Aku mohon jangan perlakukan nyonya seperti ini..


batin Judika.


Karena merasa tidak tega dengan nyonya. Judika memutuskan untuk mendekati nyonya Wilona.


"Nyonya..."


"Aku tidak apa-apa Jud ... jangan khawatir.... bisakah kita pulang sekarang?"


"Nyonya ... nyonya bisa makan hidangan yang sudah di pesan oleh tuan. Saya akan menemani anda disini." pinta Judika.


"Tidak Jud. Aku hanya ingin pulang saja."


"Baik nyonya, saya akan mengantar anda pulang." Judika menunjukkan wajah sedihnya.


Melihat itu Wilona berusaha tersenyum di depan Judika.


"Jud ... sungguh aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak saja karena disini sudah malam.


Oh iya ... sebaiknya makanan yang sudah di pesan aku bawa pulang. Boleh tidak?"


"Baik nyonya, saya akan meminta staf untuk menyiapkannya."


Dan merekapun keluar meninggalkan restauran dengan membawa menu yang tidak bisa di santap malam itu.


Mereka pun berlalu untuk segera pulang.


Namun di tengah-tengah perjalanan


"Jud ... tunggu ... kita harus melewati jalan Kinanthi, aku ada perlu sebentar disitu.


Setelah sampai di jalan itu...


"Ya, maju sedikit lagi, nanti ada pasar di dekat situ." kata Wilona mengarahkan.


Lalu mobil berhenti sesuai perintah Wilona.


"Jud ... aku pinjam blazer mu ya."


"Tapi ... ini?"


"Pinjam sebentar saja ..."


"Baik nyonya."


Wilona pun turun dengan dress yang tertutup blazer kepunyaan Judika.


Nyonya apa yang akan anda lakukan di tempat ini.


Judika pun menemani Wilona masuk menyusuri daerah sekitar pasar.


Ternyata Wilona menemui seorang kakek tua yang tinggal di gubuk dekat pasar.


"Halo kakek."


"Oh ... nak Wilona, lama tidak berjumpa, ada apa malam malam kesini."


"Ini kek, ada sedikit berkat." terang Wilona sambil menyodorkan makanan yang berasal dari restauran tadi.


"Oh... terimakasih ... terimakasih nak.


lima hari yang lalu kakek juga bertemu dengan ayahmu.


Oh ... jadi ini suamimu? dia tampan sekali."


Wilona lalu menggerakkan tangannya


"Bukan kek... dia bukan suamiku, dia ... dia kerabatku kebetulan tadi kita ada acara di luar."


Judika turut menundukkan kepala sambil tersenyum ke arah kakek.


"Saya permisi dulu kek. Karena sudah malam, Lain waktu kita jumpa lagi ya."


Wilona dan Judika pun berlalu meninggalkan lokasi dan kembali pulang menuju ke rumah.


Ada rasa kebahagiaan turut terpancar keluar di hati Judika.


Nyonya ... lagi dan lagi engkau meninggalkan jejak kebaikan. Engkau mengajarkanku dengan banyak hal


Semoga di dunia ini aku bisa menemukan wanita yang seperti dirimu nyonya.


●●●●●


Bersambung


Like juga komen readers

__ADS_1


__ADS_2