
Hah ... tidak terkunci? Tunggu ... tidak biasanya dia membiarkan kamar nya tidak terkunci.
Wilona pun masuk ke dalam, matanya menyusuri bagian dalam ruangan dan tidak melihat Okta sama sekali.
Dia kemana?
Wilona mencoba masuk lagi kedalam mencari keberadaan Okta.
*ceklek* pintu kamar mandi dalam terbuka. Dan Okta keluar.
Wilona terperanjat kaget. Di lihatnya Okta jalan tergontai, pakaiannya basah menetes membasahi lantai kamar. Okta bahkan tidak tahu keberadaan Wilona di kamarnya.
Ok-ta ada apa yang sebenarnya terjadi.
Pikiran Wilona diliputi antara takut dan penasaran melihat keadaan Okta di depannya.
"Pak!" Wilona memanggil lirih.
Tiba-tiba pandangan Okta teralih pada Wilona. Tatapan ini adalah tatapan yang belum pernah Wilona lihat sama sekali.
Tatapan sayu, lemah dan tak berdaya.
Okta kemudian menyeka air di wajahnya perlahan lalu menundukkan kepalanya.
Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Batin Wilona
Wilona mendekat dengan ragu-ragu. Berdiri berhadapan dengan Okta. Melihat dengan seksama. Perasaannya sekarang beralih dari rasa takut menjadi iba. Melihat Okta yang biasanya penuh dengan karisma dan kekuatan namun kali ini tampak seperti seorang yang kemahbtak berdaya seperti, anak yang butuh kehadiran ibunya.
"Pak ... apa yang terjadi?" Wilona kembali bertanya dengan tatapan iba.
Namun Okta tetap menunduk dengan tatapan kosong, tidak merespon apa-apa.
Dengan nada membentak Wilona sekali lagi bertanya.
"KENAPA ANDA BASAH KUYUP BEGINI?
__ADS_1
Tangan Wilona seolah tak sadar mengguncang tubuh Okta yang sepertinya tak merespon sama sekali.
Okta kemudian menarik tangan Wilona sehingga tubuh mereka bertabrakan. Lalu ia mendekap erat Wilona, sangat erat sampai-sampai Wilona susah sekali bernapas.
"P-paak." Wilona berusaha melepas pelukan Okta. Namun semakin Wilona berontak semakin erat Okta merangkulnya.
Sampai dititik Wilona sudah tidak berdaya lagi.Okta mulai mengendurkan pelukannya. Disitu ia menggantungkan wajahnya di pundak Wilona.
"Sebentar saja ... tetaplah begini sebentar saja." suara bergetar lirih akhirnya keluar dari mulut Okta.
Akhirnya Wilona pasrah. Sepertinya Wilona sudah menyadari saat ini Okta sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan perhatian.
Tak sadar baju Wilona pun turut basah ,karena menempel dengan baju Okta. Namun ia tak memikirkannya sama sekali, Wilona mencoba memberanikan diri membalas pelukan Okta dan menepuk-nepuk punggungnya perlahan seolah-olah memberikan ketabahan bagi orang di depannya.
Setelah sekian waktu sepertinya Okta sudah merasa lebih baik. Pelan-pelan Okta meregangkan pelukannya, Dengan cepat Wilona segera masuk ke kamar mandi, ini adalah pertama kalinya Wilona masuk ke kamar Okta jadi dia masih bingung dengan tata letak ruangan. Dia mencari-cari handuk dan
Ah ... ini dia
Segera ia berlari ke arah Okta dan menyelimuti tubuh Okta dengan handuk, lalu segera ia berlalu lagi mencari baju kering bagi Okta.
Aduh, ditaruh mana baju-bajunya ... dan kenapa disini ruangan isinya kaca semua?
Kenapa juga jamnya diputar-putar begitu?
Wilona terkesima sebentar lalu segera membuka rak yang dia sendiri tidak tahu ada apa di dalamnya.
Ups ini kaos kaki, aduh ... dimana sih.
Lalu dibuka lagi
yah ini dasi.
Wilona geregetan bingung mencari pakaian.
Lalu dia masuk lagi ke ruang lain dan;
__ADS_1
Nah ini dia tapi ...
Kembali Wilona bingung dengan berbagai macam koleksi baju formal tergantung rapi mengelilingi ruangan.
Dia menggaruk-garuk kepalanya lalu mencari-cari lagi
Ups ini pakaian dalam.
Wilona buru-buru menutupnya.
Pada akhirnya ia menemukan kaos yang biasa dipakai Okta.
Waaahh ini bukan lagi ruang ganti namanya.
Wilona lalu memilah milah baju rumah untuk Okta.
Ah ini saja, sepertinya Okta sering memakai kaos ini dirumah.
Wilona lalu berjalan cepat dan menyerahkan pakaian kepada Okta.
"Cepatlah ganti bajumu pak, nanti kamu sakit."
Dengan mata sayu Okta menerima bajunya dengan tangan kiri, handuknya sudah jatuh tergeletak di lantai. tangan kanannya pelan-pelan melepas kancing bajunya.
"Ah-ah, se-sebentar, saya keluar dulu." Kata Wilona.
Tapi Okta tidak merespon sama sekali. Wilona lalu berbalik dan jalan ke luar. Tanpa ia sadari Okta menatap Wilona yang berjalan berlalu keluar kamarnya. Wilona Lalu menutup pintu dan di balik pintu itu, ia berdiri sambil mengigit kuku jarinya.
Sebenarnya dia kenapa hari ini?
●●●●●
Bersambung
haii semua, terimakasih buat yang masih setia untuk mampir dan membaca novel ini. Mohon maaf kalau gaya tulisannya 'teng pletot' alias kesana kemari tidak karuan dan tidak berkelas ya, ditambah lagi tanda bacanya ikutan kacau.
__ADS_1
semoga isi ceritanya bisa nangkap.
Sekali lagi terimakasih dan selalu setia kasih love dan vote juga ya. ♡