
Paginya
Wilona keluar kamar dan berpapasan dengan Okta, tak lupa ia mengunci kamarnya dengan rapat, karena hari itu pelayan rumah datang, jangan sampai mereka masuk kamar dan mendapati kenyataan bahwa Okta dan Wilona tidur terpisah.
Wilona berjalan membawa tas di tangan kanan dan kiri, penuh dengan berbagai souvenir dan oleh-oleh yang siap di bagikan, dia berjalan cepat menyusul Okta yang sudah berjalan meninggalkanya lebih dahulu.
"Selamat pagi Pak." Wilona menyapa dengan senyum.
Okta berhenti melangkah dan menoleh ke arah wilona tanpa ekspresi kemudian lanjut berjalan menuruni tangga.
Wilona tersenyum kecut melihat tanggapan Okta, lalu ia tersenyum kembali sambil menuruni tangga.
Di bawah sudah sibuk pelayan membersihkan rumah.
Memang pelayan di datangkan tiga hari sekali dan tidak berani naik ke lantai atas jika tuannya masih ada di kamar.
"Ah... Judika, selamat pagi." Wilona menyapa dengan senyum cerah.
"Selamat pagi nyonya." Judika menganggukkan kepalanya.
Cih, sekalian saja semua orang disini kamu sapa. Okta bergumam.
"Selamat pagi mbak Reni, selamat pagi pak Daru." Ternyata Wilona juga menyapa mba Reni yang sedang mempersiapkan sarapan dan pak daru yang sedang membersihkan perkakas rumah.
Okta duduk sambil memandang Wilona heran, dia melihat Wilona tersenyum ceria pada semua orang Wilona sempat ke dapur dan membantu membawa salad buah ke meja.
Lalu Wilona memandang Judika
"Ah Judika, jika ada mbak Reni disini yang menyiapkan makanan, maka kamu harus bantu menghabiskan, jadi duduklah disini."
"Tidak nyonya, terimakasih."
"Ah sini." Wilona lalu berjalan mendekati Judika yang berdiri di ruang tunggu, menarik tangannya mendekati meja makan.
"Makanan disini terlalu banyak. Khusus kalau ada mbak Reni saja."
Okta melihat itu dengan mata melotot, dia tidak menyangka Wilona bahkan menarik erat tangan Judika dan menyuruhnya segera duduk di meja makan bersama tuannya.
Perlakuan apa ini, kamu bahkan tidak memandang posisimu sebagai orang yang berkedudukan tinggi.
Okta sadar bahwa selama ini ia berkawan dan berbisnis dengan orang-orang yang memiliki ego sangat tinggi, memandang rendah orang lain sudah jadi makanan orang-orang di sekelilingnya.
__ADS_1
Saat Wilona terus saja menarik tubuh Judika mendekati meja makan, Ia justru segera menghentikan langkahnya menahan diri supaya tidak duduk.
"Ba-baik nyonya saya akan mengambil makanan sendiri tapi duduk di sana saja."
"Tidak, duduklah." Pinta Wilona sambil menekan badan Judika untuk duduk.
"Ti-ti-tidak nyo..."
"Duduklah dan cepat makan Jud." Okta memandang ke meja.
Mendengar perintah tuannya, Judika pasrah dan akhirnya makan bersama tuan dan nyonyanya.
Hah, tuan !
Judika merasa terheran-heran, karena ini merupakan hal yang pertama kalinya ia makan semeja dengan orang yang sangat di hormatinya.
"Nah begini, makan dengan banyak teman kan lebih baik." Kata Wilona puas.
Okta membelalakkan matanya dan akhirnya Wilona sadar perkataanya salah, ia takut perkataannya di dengar oleh para pelayan.
"Ah, maksudku bersama sayangku Okta, dan orang lain lebih menyenangkan." Wilona tersenyum terpaksa pada Okta.
Pagi itu keceriaan Wilona sepertinya membuat mood Okta lebih baik. Wilona berjalan dengan membawa tas yang penuh dengan oleh-oleh, Judika membantu membawa tasnya. Saat mereka sudah di depan pintu dan akan berpisah.
"Kamu berangkat naik apa?" Tanya Okta pada Wilona.
Hm ... tumben sekali dia tanya-tanya.
"Em ... aku naik becak, lalu setelah itu turun di jalan Panglima dan naik ojek setelahnya."
"Becak? Yang di kayuh sepeda itu?"
"Iya."
"Wah ... becak dan ojek? Kamu bisa pakai uangku untuk naik kendaraan yang berkelas, pakailah itu. Cih ... Jadi selama ini kamu naik itu?"
"Iya."
"Kalau begitu hari ini aku akan antar kamu sekalian."
"Tidak pak.terimakasih." Wilona menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kenapa, aku antar kamu sampai kedai, tidak pernah aku mengantar orang lain seperti ini."
"Tidak pak, aku sudah langganan sama pak becak itu.
Dia butuh uang untuk kebutuhan hidup keluarganya dan mengobati anaknya yang sakit. Kalo langganan, jadinya ... lumayan kan dia ada pemasukan tambahan."
Judika tersenyum mendengarnya, rupanya dia sudah tahu kalau ternyata nyonya Wilona langganan becak itu, namun sejujurnya tidak tahu alasan mengapa nyonya masih menaiki kendaraan sederhana itu.
"Yasudah terserah kamu, itu urusanmu."
Okta kemudian berlalu meninggalkan Wilona, dia segera keluar dengan mobilnya sambil melihat sekeliling mencari tukang becak sesuai cerita Wilona.
Dan benar saja, ada seorang bapak becak dengan pakaian lusuh dan topi lebarnya berdiri di seberang jalan. Agak jauh dari pintu gerbang.
"Apa itu becak yang di maksud Wilona?" Tanyanya pada Judika.
"Benar tuan. Nyonya langganan becak itu setiap hari"
"Selidiki dia."
"Baik tuan." Judika tersenyum
Dan akhirnya mereka berlalu menuju tempat kerja masing-masing.
*****
Bersambung
Jangan lupa kumpulkan poin yang di dapat gratis dan gunakan untuk vote ya dan jangan lupa tinggalkan like juga ^^
●●●●●
Like nya juga ya🌹
Sepenggal cerita besok
Bastian mantan Wilona yang sangat di cintainya mulai masuk di kehidupan Wilona lagi. Seperti apa ya kelanjutannya???
Ah aku juga kasihan sama dia, orang baik bertemu dengan cinta yang baik namun dipisahkan gara-gara Okta >.<
Terimakasih semuanya
__ADS_1