Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Maaf yang Sukar 2


__ADS_3

Waktu tigapuluh menit berlalu.


Tok-tok-tok*


pintu kamar Wilona diketuk


Saat itu Wilona sedang rebahan sambil memainkan ponselnya. Menunggu jam berlalu, karena sebentar lagi ia akan segera mandi


Ada apa lagi sekarang?


Segera Wilona terbangun dan membuka pintu.


"Ayo temani aku makan!" kata Okta.


Hah ... ada apa lagi sekarang, kenapa dia terdengar jinak pagi ini? Batin Wilona yang berpikir keras, dan tak kunjung menatap Okta.


"Wilona." kata Okta dengan nada lembutnya.


Hati Wilona akhirnya terketuk setelah namanya disebut untuk kesekian kalinya. Disitu akhirnya ia berani menatap Okta.


Okta melemparkan senyum kakunya sambil berkata.


"Aku lapar, te-temani aku makan." katanya dengan nada yang terdengar memelas. Ia teringat pesan Wilona saat diparis dulu, bahwa kalau memohon harus dengan kata yang halus dan sopan.


Tampak di depannya Okta membawa nampan berisi 4 buah roti sandwich dan dua gelas susu.


"Kenapa?" tanya Wilona lirih.


"Hari ini ... tidak ada pelayan disini. Jadi aku membuat ini.


A-ayo kita sarapan ini."


"Aku ... mau mandi sebentar lagi." jawab Wilona cepat.


"Heeey ini masih setengah enam pagi (nada Okta mulai melonjak)."


Wilona lalu mengerutkan dahinya sambil menatap Okta.


"Oh... mak-maksud aku ... ini masih pagi, ya ... benar ini masih sangat pagi, biasanya kan kamu mandi sekitar jam enam. Bagaimana kalau kita sa-sarapan ini dulu." pinta Okta dengan senyum kakunya lagi.


Karena Wilona masih saja terdiam di pintu, Okta lalu menarik tangan Wilona keluar dan mengajaknya duduk di ruang tengah, yang berada di antara kamar mereka masing-masing.


"A-ayo coba ini, aku sudah berusaha membuat ini untukmu?" tiba-tiba Okta menjadi sangat manis menawarkan makanan itu.


Namun Wilona tidak merespon sama sekali.


"Hey ... kamu bilang sudah melupakan semuanya, apa kamu masih marah padaku, cepat katakan?"


Mendengar nada itu Wilona kembali menatap Okta dengan kesal.


"Maksud aku ... aku akan minta maaf lagi kalau aku masih salah." nada Okta tiba-tiba menciut melihat tatapan Wilona kepadanya.


Sambil menghela napas akhirnya Wilona mengambil roti itu.


"Baiklah ... aku makan."


"Ini makanlah." kata Okta yang tersenyum puas.


"Kenapa pak Okta bersikap begini pagi ini?"


"Ah ... bukan apa-apa ini sebagai permintaan maafku." kata Okta tersenyum.


Ternyata Judika benar juga ...


▪▪▪▪▪


Flashback


Okta terpuruk saat itu, kekalutannya karena perdebatan dengan Wilona benar-benar mengganggu pikirannya. Di tempat tidur, ia hanya berguling-guling tak jelas karena matanya yang masih saja terbuka dan tidak mau di ajak kerjasama untuk terpejam.


Sekali lagi ia mencoba menghubungi Judika.


Disitu Okta menceritakan bahwa Ia harus menemani Leony yang mendadak memintanya ke rumah sakit.


Sebaliknya Judika menceritakan semuanya bahkan sampai pada cerita Wilona memberikan semua makanannya pada kakek tua di pasar.


Mendengar itu, Okta akhirnya sadar, dia sudah melakukan kesalahan berlipat-lipat terlebih dia salah menduga perihal makanan yang sepele itu.


"Tuan ... sepertinya malam ini, komunikasi anda dan nyonya tidak berjalan dengan baik, ijinkan saya mengatakan dari sisi saya."


"Apa."

__ADS_1


"Saya terketuk dengan sikap hati nyonya."


"Lalu ...?"


"Maafkan saya kalau saya lancang.


Cepatlah minta maaf padanya tuan. Nyonya Wilona adalah wanita yang baik. Saya yakin ia akan segera memaafkan anda saat ini juga."


Okta diam sejenak berfikir keras ... mengucapkan kata maaf adalah suatu yang jarang ia katakan bahkan hampir tidak pernah sama sekali.


Menyadari sifat tuannya itu, Judika mengambil inisiatif.


"Tuan besok hari dimana para pelayan datang, saya akan meminta mereka untuk tidak datang supaya anda punya waktu berbicara dengan nyonya."


"Aku ...?"


"Itu adalah cara yang terbaik untuk saat ini tuan."


"Apakah dia benar-benar kecewa di restoran itu Jud?"


"Nyonya berusaha menyembunyikan perasaannya tuan, tapi sepertinya dari sorot matanya saya melihat dia benar-benar kecewa dengan anda."


"yasudahlah ... lanjutkan istirahatmu."


"Baik selamat malam tuan."


Dikamarnya Judika terbaring sambil meregangkan badannya, kantuknya seketika hilang begitu saja, ia menatap ke langit kamarnya dan menggelengkan kepala.


Tuan ... bisakah hati anda lebih terbuka sedikit saja untuk nyonya?


Nona Leony! darimana dia tahu bahwa Tuan dan nyonyanya berencana dinner diluar saat itu.


Dan ... Haaah ... kenapa aku jadi terlibat dengan urusan perasaan mereka sekarang.


Judika menggelengkan kepala mencoba untuk melupakan dan segera tidur saat itu.


▪▪▪▪▪


Penjelasan Judika itu membuat Okta semakin lebih susah untuk tidur lagi.


Ia teringat tamparan kata-kata yang terlontar


Berbagai macam rasa penasaran Okta yang belum terjawab tentang luka Wilona.


Dan justru saat ini ia makin lebih menyakitinya dengan kesalahan yang ia perbuat.


Perasaan yang tertahan itu justru semakin besar lagi mengganggunya.


Baiklah ... besok aku akan mencoba minta maaf padanya.


Okta kemudian berjalan menuju cermin


"Maafkan aku."


lalu mengambil gaya lain.


"Aku ...minta maaf."


Lalu mengambil gaya lain.


"Aku sudah berbuat salah."


"Aaargh ... kenapa sulit sekali ... seharusnya aku menunjukkan ekspresi sedih."


Lalu Okta berlari ke kamar mandi dan bercermin disana.


"Semua ini kesalahanku, tolong maafkan...."


dan lagi...


"Maaf aku tidak datang waktu itu ..."


Sepertinya hal itu membuat Okta frustrasi hingga berulang kali menggaruk kepalanya


(Ya ampun, sesusah itukah 😫).


Berat memikirkan kesalahan dan tindakan selanjutnya sampai Okta menyibukkan diri dengan segala hal.


Maka terjadilah adegan dimana Okta berlari dengan treadmill sampai pagi.


▪▪▪▪▪

__ADS_1


"Bagaimana roti buatanku ... enak?" tanya Okta.


Wilona mengunyah sambil, menganggukkan kepalanya pelan.


Dari kamarnya terdengar ponsel nya berbunyi.


"Permisi pak."


Okta lalu menggerakkkan tangannya mempersilahkan Wilona masuk kamar.


Dari layar ponselnya muncul nama Bastian.


"Iya tian ..."


Hai Ona ... benarkah hari ini ada baksos lanjutan ke panti ?


"Benar, apa Jesika yang memberitahumu?"


Tak menjawab pertanyaan itu, Bastian justru berkata


Aku akan ikut seperti biasanya...


"Kamu mau datang?"


Senyum Wilona berubah pudar, setelah melihat Okta yang berdiri di depan pintu mendengarkan percakapan mereka.


Ya ... anak-anak pasti merindukanku juga. Aku akan membawa gitarku seperti biasa.


"Ba-baiklah sampai jumpa nanti."


Apa aku bisa menjemputmu?


"Tidak ... aku ... berangkat bersama teman-teman saja."


Wilona berkata-kata sambil tetap melihat mimik wajah Okta yang hanya diam membisu di depan pintu.


Kalau begitu sampai jumpa nanti siang ya.


"Hm ..."


Wilona menutup panggilannya dan terdiam menatap Okta.


"Ha-hari ini, aku ada acara baksos di ... di panti. Ini adalah kegiatan rutin semenjak kedai roti berdiri."


"Tidak perlu kau jelaskan, aku sudah mendengarnya." kata Okta sambil berusaha tersenyum.


"Baik."


Dan mereka berdua pun melanjutkan menghabiskan sandwich buatan Okta di ruang tengah.


▪▪▪▪▪


Seperti biasa Judika sudah menunggu di bawah. Sorot matanya sedikit berbinar melihat tuan dan nyonya turun bersamaan.


Akhirnya .... batin Judika.


Melihat lebam di wajah Judika yang masih tampak jelas, Wilona turun segera dengan langkah cepat, kembali dia mengambil masker dari kotak P3K dan di disodorkan pada keduanya.


Tanpa perbantahan sedikitpun keduanya langsung memakai masker itu.


Kali ini di dalam mobil pandangan Okta melekat pada Wilona yang berdiri di luar. Entah apa yang dipikirkan Okta saat itu.


Dan mereka pun berpisah menuju tempat kerja masing-masing.


●●●●●


Bersambung


Sekian Episode hari ini, tinggalkan ♡ Dan vote juga untuk mendukung authormu.


▪▪▪▪▪▪▪


Hai ... author ijin promosi karya yang baru hari ini ikut kontes dan terbit:


💝"PEMBALUT LUKA"💝



Karya saya ini akan ada kaitannya satu dengan yang lain dengan novel PSDOT


Silahkan mampir juga^^

__ADS_1


__ADS_2