
Sore itu seorang pria tampan turun dari mobil, pakaian yang menempel di tubuhnya begitu elegan dan sempurna.
Ia berjalan masuk menuju kedai.
Membuat beberapa pengunjung saling berbisik, sedang yang lain memandangnya dalam kekaguman.
Kala itu matanya menyusuri setiap sudut ruangan.
Jojo yang berjalan sambil membawakan segelas minuman untuk pelanggan sempat berhenti dan memandang pria itu.
Ia segera kembali melanjutkan pekerjaannya menyajikan segelas kopi untuk pengunjung.
Setelah itu ia berjalan ke hadapan Okta, pria yang berdiri sejak tadi dengan penampilan sempurnanya.
Beberapa pelanggan wanita terhenyak menyaksikan pemandangan luar biasa di depan matanya.
Yang satu pria tampan dengan senyuman manis dan penampilan trendy.
Yang satu lagi pria tampan dengan tatapan tajam dan dingin yang berpenampilan sempurna.
"Ada apa?"tanya Jojo
"Wilona?"
"Kami masih bekerja. Kamu tidak lihat disini sangat ramai?"
Lalu Wilona keluar dengan membawa roti yang siap di sajikan di meja etalase.
Ia berjalan cepat menaruh nampan dan meminta karyawan lainnya membantunya sementara ia berjalan mendekati Okta.
"Ada apa?" tanya Wilona.
"A-aku ingin kita pulang sekarang." jawab Okta.
"Tidak bisa disini ramai sekali. Kamu tidak lihat." jawabannya persis seperti perkataan Jojo.
"Ayo sini." Wilona kemudian menarik Okta ke tempat istirahat karyawan karena semua mata tertuju kepadanya.
salah satu pelanggan bertanya, "Kak Jojo itu siapa?"
Jojo melihat sekeliling orang memandangnya menantikan jawaban.
Kemudian Jojo menjawab hanya dengan mengangkat kedua pundaknya sambil menggelengkan kepala.
Okta di ruangan khusus itu duduk memandang sekitar kedai.
Ya ini ... adalah pertama kalinya bahkan Okta masuk ke dalam kedai.
"Ada apa? kenapa kamu datang kesini? tanya Wilona.
"Aku hanya ingin kita pulang bersama saja."
"Tapi ... ." Belum selesai Wilona menjawab Okta memotong pembicaraan.
__ADS_1
"Aku ingin kita liburan hanya berdua."
"HAH?"
"Ayo segera pulang."
"Heeyyyy ini bukan hari libur dan kamu juga perlu bekerja bukan?"
Lalu ayah datang mendekat.
"Oh ... ada Okta disini." Ayah berdiri dengan senyum cerahnya, membuat Okta turut berdiri dan memberikan hormat pada ayah.
"Ayah ... bagaimana kabar anda?"
"Ahahaha yah ... ayah baik, semuanya baik-baik saja.
Ada apa Okta datang se sore ini?"
"saya-saya ingin ...mengajak Wilona pulang lebih awal. Tapi ternyata disini masih ramai. Jadi saya akan menunggunya saja."
"Ahahaha tapi disini ruangan kecil, apa tidak masalah buatmu nak?"
"Ya ... tentu tidak malasah."
"Seharusnya kamu bilang dari awal ... ayah bisa siapkan masakan untukmu."
"Ah ... tidak perlu repot-repot ayah."
"Baiklah ayah akan masuk lagi kedalam ya."
Sore itu setelah semua pekerjaan beres Wilona meminta ijin pulang lebih awal.
▪▪▪▪▪
Di dalam Mobil
"Ada apa kamu tersenyum begitu? tanya Okta
"Bukan apa-apa.
Ah ... benar ini adalah pertama kalinya Pak Okta main ke kedai ayah.
Aku lihat senyum ayah berbeda dari biasanya.
Sepertinya ayah berharap kamu bisa datang ke kedai selama ini."
"Benarkah?"
Okta menyadari bahwa selama ini ia memang tidak pernah berkunjung ke kedai ayah apalagi masuk ke dalamnya.
"Ah ... pak Okta memangnya kita mau kemana?"
"Oh ... hanya ingin pulang lalu setelah itu kita berjalan-jalan saja.
__ADS_1
Maukah kamu menginap di suatu tempat?"
Wilona diam sejenak dan ia memandang curiga pada Okta, seketika kedua tangan Wilona terangkat menyilang pada kedua dadanya.
Okta menyadari kelakuan Wilona.
"Eheeey ... apa yang kamu pikirkan?
apa otakmu berpikiran mesum saat ini?"
Wilona seketika menutup mulutnya kaget tak menyangka Okta mengetahui apa yang ia pikirkan.
"Maaf."
"Heey ... perbaiki isi otakmu dulu sana." jawab Okta yang tertawa sambil mengacak rambut Wilona.
"Tapi kenapa tiba-tiba, dan hanya kita berdua."
"Bukankah selama ini kita memang hanya berdua?"
Iya ... tapi kata-kata itu terdengar berbeda. batin Wilona.
"Aku tidak mau menginap, kita jalan-jalan saja dan main ke suatu tempat."
"Baik ... kamu mau kemana?"
"Hm ... dulu Pak Okta pernah mengajakku ke sebuah restoran, namun disana anda membiarkan aku sendrian. Karena pak Okta harus menemani Leony malam itu. Apa pak Okta masih ingat?"
"Hm ... aku ingat itu."
"Kalau begitu untuk menebus kesalahan waktu itu ... ajak aku kesana lagi."
"Baik. Judika mengatakan kamu tidak memakan menu yang disajikan melainkan memberikannya pada seorang pria di pasar bukan?"
"Hm ... aku sama sekali tidak selera saat itu."
"Oke kita kesana.
Tapi supaya tidak ada yang mengganggu kita seperti waktu itu.
Aku ingin kita saling menonaktifkan hp masing-masing."
"Cih ... tidak ada yang mengangguku ... selama ini kan pak Okta yang ..."
"Heyyy turuti saja bisa tidak?"
"Hmmm ... baiklah."
Fiuhhhh. Okta bernapas lega
Akhirnya ... setidaknya malam ini semua aman. Tidak akan ada berita yang akan mengganggu pikirannya.
Semoga Judika segera membereskan berita itu sebelum Wilona mengetahuinya
__ADS_1
●●●●●
Bersambung