Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Persiapan cerai Part 2


__ADS_3

Masih di Halte yang sama, untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya Wilona bertemu kembali dengan pak Becak yang kebetulan lewat.


"Pak." sapa Wilona.


"Wah mbaknya." terlihat wajah sumringah dari mimik pak Becak. Ia pun menyebrang jalan dan mendekat ke arah Wilona.


"Lama tidak bertemu ya. Bapak kemana saja, saya cari-cari kok tidak kelihatan?"tanya Wilona.


"Aduh ... saya terimakasih sekali atas bantuannya mbak."


"Hah?" Wilona kebingungan.


"Iya, sekarang anak saya sudah sembuh dan bisa lanjut kerja lagi."


"Anak?" Wilona makin kebingungan parah.


"Berkat mbaknya, anak saya bisa operasi kakinya, operasi kedua juga lancar, sekarang sudah bisa jalan dan kerja lagi mba." jelas pak Becak.


"Tapi ... ." belum selesai Wilona berbicara pak becak melanjutkan sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Tolong sampaikan terimakasih juga buat tuan besar yang tinggal di rumah besar itu ya mbak, yang tinggal di sana itu ... beliau kan anaknya pak Wahardian kan?"


"Ah ... iya pak benar."


"Semua biaya dan fasilitas ... semuanya sudah di bantu. Bapak banyak-banyak terimakasih mbak, kalau bukan bantuan mbak dan tuan besar, mungkin anak bapak nggak bisa apa-apa di rumah."


Oh ... jadi selama ini Okta diam-diam menolong bapak ini.


Wilona mulai mengerti jalan ceritanya.


"Syukurlah kalau semuanya baik." Wilona ikut tersenyum mendengarnya.


"Bapak bersyukur sekali mbak, ternyata masih ada orang baik yang mau nolong bapak.


Tuan besar itu bilang kalau dari mbak Wilona inilah yang sebenarnya bantuan itu datang. Terimakasih banyak mbak." saking berterimakasihnya bapak itu mencoba berlutut di depan Wilona, namun dengan sigap Wilona segera mengangkat bapak becak itu.


"Jangan begitu pak, berbagi kebaikan itu bukan hanya untuk bapak, tapi sebenarnya untuk kebaikan saya juga. Ada kebahagiaan yang tidak ternilai kalau saya bisa bantu diluar sana yang membutuhkan.


Saya juga bersyukur mendengar berita bahagia ini."


"Bapak cuma bisa mendoakan semoga mbak selalu diberi rezeki berlimpah, sehat dan bahagia sampai akhir, bapak ngga bisa balas apa-apa cuma bisa mendoakan ya mbak begitu juga buat kebahagiaan tuan besar disana. Semiga Tuhan yang membalas kebaikan ini."


"Amiiiin. Sama-sama pak."


Setelah percakapan itu dan pak becak berlalu meninggalkannya, Wilona tersenyum lega sambil melihat ke ujung jalan yang mengarah rumah Okta.


Buru-buru Wilona mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Judika. Sebab ia penasaran sekali, apa yang terjadi sebenarnya.


Halo Nyonya.


"Halo Jud ... maaf menelponmu hari minggu begini. Em ... tanya sebentar ... mengenai pak becak itu ... ?"


Judika kembali menyahut sebelum Wilona melanjutkan.


Oh saya tahu suatu saat nyonya pasti bertanya tentang ini...


Sebenarnya dulu, tuan memperhatikan nyonya saat berangkat kerja.


Karena nyonya langganan pak Becak itu.


*T**uan memerintahkan saya untuk mencari informasi mengenai bapak itu*.

__ADS_1


Setelah diselidiki, kita mendapat keterangan kalau anaknya terbaring sakit dirumah,tanpa tindaklanjut sama sekali setelah mengalami kecelakaan.


*Akhirnya t**uan sendiri yang memerintahkan staf lain untuk membantu mulai dari pengobatan di rumah sakit, sampai pemulihan selesai, begitu juga dengan semua biaya kerugian anaknya, semua sudah ditanggung tuan*. Seperti itu nyonya.


Wilona hampir tak percaya mendengar cerita membahagiakan itu, ia tersenyum mendengar cerita Judika sambil mengusap airmata yang keluar membasahi pelupuk matanya.


"Terimakasih ya, sampaikan terimakasihku juga untuk Pak Okta."


Mak-maksud nyonya? Judika merasa curiga dengan kata-kata Wilona.


"Bukan apa-apa, aku hanya senang saja semua berakhir indah. Kalau begitu sudah dulu ya Jud.


Jaga dirimu baik-baik dan gunakan kesempatam libur ini untuk berkenalan dengan wanita di luar sana.


Kamu itu ganteng sekali ... sudah waktunya kamu juga memikirkan dirimu sendiri. Sudah dulu ya ... ." Wilona buru-buru mengakhiri percakapan.


Selesai melakukan pembicaraan, Wilona tersenyum senang, ada perasaan haru menyelimuti dirinya lebih dari kejengkelan yang ia rasakan di beberapa jam sebelumnya.


Wah tak kusangka diam-diam kau berbuat seperti ini juga, ini seperti kejutan berharga untuk mengakhiri kisah kita. Terimakasih Okta.


▪▪▪▪▪


Sore hari di kedai ayah


Wilona sudah mengepak barang-barang miliknya. Kali ini Wilona memutuskan untuk pindah kerumah bibi secepatnya dengan di antar oleh ayah.


Namun kecurigaan Judika benar adanya, ia merasa percakapan nyonya ditelpon menyiratkan perpisahan mereka.


Judika segera bergegas menuju kedai ayah, namun ia tidak berani masuk, ia hanya berdiri di depan kedai dan diam memperhatikan Wilona.


Menyadari kehadiran Judika, Wilona segera keluar dan menyuruh Judika masuk ke dalam kedai.


▪▪▪▪▪


"Nyonya?"


"Kamu ini luar biasa Jud, kamu pasti sudah ada firasat kalau aku akan pergi ya? Karena itu tadi aku sengaja mempercepat percakapan kita. Aku tidak mau firasatmu semakin menjadi-jadi hahaha."


Judika hanya diam sambil menganggukkan kepalanya.


Wilona lalu memegang kedua tangan Judika.


"Terimakasih buat semuanya Jud. Jujur saja, dari awal pertemuan kita sampai dengan hari ini, kehadiranmu tidak lepas menemani hari-hariku dan segala bantuanmu membuat semuanya jadi berharga, terlebih saat-saat awal aku hidup bersama Okta."


"Nyonya ... maafkan saya, saya ingin mengutarakan keinginan pribadi saja. Saya berharap nyonya tetap disini, dan sejujurnya saya ingin kalian tetap bersatu.


Saya melihat Tuan Okta lebih bahagia bersama nyonya dibandingkan dengan Leony, dan perubahan sikap Tuan yang sekarang ini, tidak lain itu semua karena pengaruh nyonya."


"Perubahan?... (Wilona terdiam merenung sebentar) ... Benarkah? aku bahkan tidak menyadarinya." ucap Wilona sambil tersenyum.


"Saya tahu, sebenarnya tuan sangat mencintai nyonya." lanjut Judika lirih.


Sambil menganggukkan kepalanya Wilona menjawab "Benar ... sejujurnya Okta sudah mengutarakan perasaannya itu.


kamu ingat? saat kita berada dibukit terakhir kali. Disitulah aku menyadari Okta benar-benar ingin kita tetap bersama.


Ah ... Judika, kamu ini benar-benar tahu isi hatinya Okta yah. Hahahaha ... ."Wilona berusaha mencairkan suasana.


"Nyonya. Bisakah anda tetap disini?" Judika masih tetap serius sekalipun Wilona berusaha mengalihkan suasana itu, mendengar pertanyaan itu Wilona langsung terdiam dan memandang sedih pada Judika.


"Tidak Jud ... ini yang terbaik, aku berharap Okta bisa segera melupakan perasaannya. Pokoknya, aku akan tetap pergi Jud, dengan ketidakhadiranku dalam sidang, semua proses perceraian akan lebih cepat selesai."

__ADS_1


Dan akhirnya Judika mengantarkan kepergian Wilona sampai mereka berpisah dan menyisakan kepedihan mendalam.


▪▪▪▪▪


Persidangan perceraian


Persidangan pertama perceraian dimulai secara tertutup. Dan benar-benar dikawal dengan sangat ketat.


Namun hanya ada Okta sendiri yang hadir, sedang Wilona tidak tampak batang hidungnya sama sekali.


Dari situlah Okta menyadari bahwa Wilona sudah pindah dan tidak tinggal di kota lagi.


Besar harapan Okta setidaknya bisa bertemu dengan Wilona setelah sekian lama ia tidak bisa menghubunginya.(Nb: Wilona juga mengganti nomor ponselnya)


Kesedihan kekecewaan terbesar Okta pada dirinya sendiri adalah ia bahkan tidak bisa menyiapkan perpisahan yang layak untuk Wilona. Yang sudah berjuang bersamanya selama ini dan mengisi hari-harinya. Orang yang sangat berharga di hatinya.


Hal itu membuat hari-hari Okta selanjutnya di jalani dengan tidak bersemangat seperti sedia kala.


Namun ... Lain cerita dengan Leony yang sudah mulai menyiapkan resign dan surat-surat kepindahannya.


Ia sangat bersemangat dan mulai menceritakan pada rekan-rekannya di Paris, bahwa kepulangannya adalah karena ia akan segera menikah.


Ia bahkan berjanji akan mengundang mereka semua ke Indonesia untuk datang menghadiri pesta pernikahan mereka kelak.


▪▪▪▪▪


Persidangan kedua


Hari-hari berlalu.


Persidangan kedua pun dimulai, hakim memutuskan untuk tetap mencoba melanjutkan sampai persidangan ke tiga. Persidangan berharap mereka bisa kembali Rujuk, dan Okta pun bersedia datang dan menjalani semua proses itu, hanya sekedar ia ingin nelihat Wilona.


Namun kenyataannya, Wilona kembali tidak hadir dalam persidangan itu.


▪▪▪▪▪


Dalam perjalanan ke rumah.


Okta bergumam sendiri merenungkan hidupnya.


"Semua sudah berakhir Jud, dan kembali seperti sedia kala.


Kamu tahu ... dari semua perjalanan hidupku.


Kehadiran Wilona adalah yang paling berharga mengisi hidupku selain ibu dan ayah.


Wilona ini seperti gabungan antara mereka berdua ... ia seperti ayah dan ibu.


Dia memiliki pesona hati yang tulus seperti ayah, dia juga punya ketabahan dan keuletan seperti ibu.


Siapapun nanti yang mendampinginya ... orang itu pasti sangat-sangat beruntung. Ah ..... " perkataan itu di ucapkan Okta dengan wajah lesu di dalam mobil. Ia menyandarkan tubuhnya dengan lunglai dan menutup kedua matanya dengan lengannya.


Judika terdiam merasakan kesedihan tuannya.


Tidak ... ini belum berakhir tuan. sebelum ketok palu terakhir, aku masih ada kesempatan menyatukan kalian.


Bagaimanapun juga, bukan Leony ... bukan dia, melainkan nyonya.


Judika ... ayo berpikirlah ... . batin Judika yang mencoba berpikir keras mencari jalan mempersatukan mereka di tengah waktu yang sudah mendesak ini.


●●●●●

__ADS_1


Bersambung


Terimakasih buat para pembaca, mari dukung author dengan  tinggalkan jejak berupa vote dan ♡ juga komentarnya


__ADS_2