Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Aku mencintainya


__ADS_3

Bar Winston


"Ada apa? sepertinya kamu mulai sering datang kemari." tanya Leony.


Judika berpikir dalam hatinya,


ini aneh sekali. Nona Leony, bagaimana kamu tahu tuan terakhir dari tempat ini ?


"Hm ... hanya sekedar istirahat saja." jawab Okta dengan santainya.


"Sayang, bagaimana lukamu, apakah masih sakit?" tanya Leony sambil menyentuh wajah Okta.


"Kemari." lanjut Leony.


*Cup-cup-cup* . Leony mengecup bagian wajah Okta yang masih tampak lebam.


"A-apa, Heey, ini di tempat umum, sudahlah." kata Okta tersenyum senang dengan perlakuan Leony.


Judika merasa risih dengan keduanya dan mulai memalingkan wajahnya.


"Sayang hari ini pulanglah denganku, biarkan Judika pulang terlebih dahulu."


"Ah ... tapi ..."


"Ayolah sayang.


Judika kamu boleh pulang sekarang."


Judika tidak bergeming, bahkan menjawab pun tidak.


"Sayang ... ayolah."pinta Leony.


"Ba-baik, Jud ... pulanglah! aku akan pulang bersamanya."


"Tuan."


"Tenang, seperti kemarin, satu gelas saja aku janji padamu." lanjut Okta.


Bukan itu maksudku tuan, saat ini aku lebih khawatir dengan perasaanmu yang sekarang tidak stabil.


Itu akan berpengaruh pada semuanya.


Akhirnya Judika terpaksa pulang terlebih dahulu, meninggalkan tuannya dan Leony di dalam bar.


Leony merasa senang, karena kali ini ia bisa main ke rumah Okta dengan bebas tanpa kehadiran Judika.


Okta dan Leony menikmati malam bersama di dalam bar.


"Aku ... harus pulang sekarang." ucap Okta tiba-tiba setelah melihat jam tangannya.


"Kenapa? ini bahkan belum malam sayang."


"Aku harus pastikan, wanita itu menepati janjinya."


"Wanita itu? Wilona?" wajah Leony mulai sedikit kesal.


"Benar sekali."

__ADS_1


"Janji apa maksudmu?"


"Yaaaa ... dia berjanji kalau akan pulang tepat waktu malam ini."


"Lalu ... apakah itu berpengaruh sekali dengan hidupmu?"


Saat itu Okta mulai sadar kalau ia seharusnya tidak berbicara banyak tentang Wilona di hadapan Leony.


"Mak-maksudku adalah ... aku harus menjaga imej diriku dan dirinya di mata orang banyak. Jangan sampai ada pembicaraan negatif diluar. Kamu tahu sendiri kan, banyak orang yang ... yang sangat ingin menjatuhkanku." jawab Okta.yang mencari alasan dengan cepat.


"Hm ... baiklah, yang kamu katakan benar sayang, ayo kita pulang." kata Leony yang tampak tersenyum sekalipun hatinya sangat kesal sekali.


▪▪▪▪▪


Di rumah Okta


"Lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah ini." ucap Leony yang dengan anggunnya berjalan menuju ke ruang tamu.


"Ya ... benar, lima tahun yang lalu kamu datang."


"Hm ...." Leony menganggukkan kepalanya.


"Ruangan ini tampak sedikit berbeda, ada beberapa tanaman dan bunga disana-sini, apakah ini karena Wilona?"


"Ya ... benar sekali. Dia sangat suka sekali menanam." jelas Okta sambil tersenyum.


Lagi dan lagi penjelasan itu membuat Leony cukup kesal sekali.


Leony pun mendekat pada Okta, berusaha merayunya dengan bermanja di hadapannya. Leony pun memeluknya dan memang senjata ini adalah cara yang ampuh melemahkan Okta.


"Tu-tunggu sayang." Hampir saja mereka jatuh dalam cumbu yang panas, Okta segera ke depan rumah untuk melihat siapa yang datang.


Ditemukannya Bastian yang berdiri memutar mobil, hendak membukakan pintu untuk Wilona.


"Aku akan sering mengajakmu keluar mulai hari ini, kita akan makan makanan yang enak mulai sekarang." sahut Bastian dengan suara lirih dan tersenyum pada Wilona


Wilona memandang lekat wajah Bastian sambil tersenyum.


"Kau sudah pulang?" terdengar Okta yang lantang bersuara, berdiri di pintu.


Wilona dan Bastian sontak kaget. Melihat ke arah belakang mereka.


Pandangan Bastian diliputi kemarahan setelah mengingat keburukan Okta dan sikap kurangajarnya itu.


Wilona yang mengetahui itu semua segera memegang lengan Bastian untuk meredakan amarahnya.


"A-aku pulang." jawab Wilona.


"Siapa di luar?" Ucap Leony yang akhirnya muncul di belakang Okta.


Melihat kehadiran Leony, Wilona syok dan hampir terjatuh, tiba-tiba kedua


lututnya terasa lemas.


Beruntung Bastian segera menangkap Wilona.


Bastian kehabisan kata-kata, emosinya memuncak seketika.

__ADS_1


Laki-laki sialan. Bahkan dirumah ini?


Begitu juga dengan Wilona, ia tidak tahu lagi, alasan apa yang harus ia perjuangkan di depan mantan kekasihnya itu.


"Kamu lihat sendiri Ona?


Sekarang bahkan aku bertemu dengan mereka berdua di rumah ini. Ini rumah kalian.


Ona, sadarlah." Ucap Bastian sambil memegang lengan Wilona erat.


"Masihkah kamu mencintainya?" bentak Bastian, saat itu kepalan tangannya semakin kencang. Tubuhnya sudah tidak tahan lagi untuk kembali menghajar Okta kedua kalinya.


"Masihkah kamu ..." Bastian mengulangi kata-katanya namun segera dipotong Wilona.


"Ya ... aku mencintainya, aku sangat mencintainya." ucap Wilona dengan pandangan mata yang tertuju tajam pada Okta seketika air matanya mulai terbendung di matanya, kenyataan palsu yang harus termeterai kuat, jangan sampai ada orang lain yang tahu.


Okta hanya diam terhenyak mendengar pernyataan Wilona yang sangat tegas terarah padanya.


Setelah berusaha menghilangkan air matanya itu Wilona kembali berkata, "Pulanglah Tian."


"Ona, sadarlah." Bastian menghentakan tubuh Wilona.


Wilona menghela napas dan berusaha tersenyum kembali,


"Heyyy, wanita itu bukan siapa-siapa, kamu salah mengira.


Yang dicintai suamiku hanyalah aku.


Tian ...


Terimakasih sudah mengantarku, terimakasih atas bantuannya sepanjang hari ini."


Bastian mengusap dahinya sambil menutup mata tak percaya dengan kenyataan yang ia lihat sekarang ini.


"Dengar kamu yang berdiri disana. Aku tidak main-main dengan kata-kataku waktu itu." Bentak Bastian, Setelah mengucapkan itu Bastian berpaling pada Wilona membelai lembut rambut Wilona,


"Aku pulang Ona." Jawab Tian lembut.


"Hm ... hati-hati." Wilona kembali berusaha tersenyum di depan Bastian.


Ia berdiri membiarkan Bastian masuk ke mobil dan berlalu, sampai ia melihat kepergian mobil Bastian menjauh darinya.


Sepertinya ceritanya akan lebih menarik tapi.... berani sekali dia berkata itu didepanku. Begitulah yang dirasakan Leony yang memperlihatkan senyun kesalnya malam itu.


Sedangkan Okta. Ia tidak bergeming sejak tadi.


Tatapannya hanya melekat pada Wilona.


●●●●●


**Bersambung


Wah ... akhirnya jam delapan malam baru sempat membuat novel ini. Maaf menungggu dan terimakasih semuanya.


Dukung author dengan tinggalkan ♡ dan vote juga ya** ^^


▪▪▪▪▪

__ADS_1


__ADS_2