
Sepertinya itu adalah hari yang melelahkan bagi Wilona, Okta yang mengendarai mobil menuju ke rumahnya, melihat Wilona berjalan menuju ke rumaj, dengan langkah beratnya di mana di kedua tangannya membawa sekantong plastik berukuran besar.
Okta menghampiri Wilona dan berhenti tepat di sampingnya.
Seketika Okta turun dari mobil dan segera mengambil kedua kantong plastik dari tangan Wilona lalu menaruhnya pada bangku belakang.
Kemudian ia membukakan pintu untuk mempersilahkan Wilona masuk ke dalam mobil.
Sebelum berjalan Okta memandang Wilona dengan wajah yang terlihat penuh dengan kelelahan.
"Apa kamu sakit?"tanya Okta.
"Tidak, saya hanya kelelahan saja pak."
"Ah ... yasudah kita jalan." lanjut Okta dan segera melajukan mobilnya.
Sesampai di rumah Okta segera mengeluarkan kedua kantong plastik dari dalam mobilnya dan segera membawanya sendiri langsung menuju ke dapur.
Wilona hanya terdiam memandang kelakuan Okta yang sepertinya diluar perkiraannya.
"Kalau kamu lelah, kita tidak perlu memasak hari ini."ucap Okta.
"Iya pak, kebetulan tadi saya sudah mampir dan membeli masakan di luar."
"Hm ... baiklah, ayo kita naik dan berganti pakaian dulu." sahut Okta.
"Silahkan pak Okta saja, saya mau beres-beres ini sebentar."
"Ayo." lanjut Okta yang tidak mendengar ucapan Wilona, ia dengan segera mengandeng tangan Wilona dan mereka segera naik ke lantai atas bersama.
Di anak Tangga, Okta berhenti melangkah.
"Di-dimana cincinmu?"tanya Okta.
Wilona segera melihat jarinya dan tersadar ia lupa mengenakan cincin itu.
"Waktu itu, jariku terluka, jadi ... saya melepasnya pak."
Okta langsung menarik Wilona menuju ke kamarnya, ia pun tak segan untuk masuk ke dalam dan menyuruh Wilona mengenakan kembali cincin itu.
"Sekalipun waktu kita sebentar lagi, tetap pakailah itu." perintah Okta.
Di saat itu Wilona teringat perkataan dari Leony
"Pak ... ." saat itu Wilona sudah memegang cincin pernikahan mereka.
"Hm ... ?"
"Sejujurnya, aku menginginkan kita percepat saja perceraian kita."
*Deg*
"Kenapa?" tanya Okta yang seketika mematung sambil berdiri
"Tidak ... toh sebentar lagi kita akan bercerai.
Saya, hanya ingin kita selesaikan semua ... ."
Okta lalu menyerobot cincin itu dan memasang di jari manis Wilona.
__ADS_1
"Saat ini, kamu masih istriku. Perjanjian itu pikirkan saja nanti. Cepat segera kamu bersiap-siap, kita akan segera makan. Aku sudah lapar." ucap Okta yang segera keluar dan menutup pintu kamar Wilona.
mengapa kalian berdua memikirkan hal yg sama. Batin Okta
Sebenarnya siang tadi Leony juga menyarankan untuk mereka segera bercerai, dengan alasan Wilona akan lebih berat setelah pemberitaan di media. Berbanding terbalik dengan Okta yang akan aman dengan punya banyak pengawal dan tim yang berhubungan dekat dengan chanel berbagai media.
Hal itu membuat Okta juga berpikiran sama untuk segera melepas Wilona secara diam-diam.
Tidak ... tidak sekalipun kita berpisah nanti. Aku jamin akan tetap melindungimu, sampai semua kembali normal. Aku mohon jangan ucapkan itu Wilona. Sekali lagi Okta berharap dari balik pintu.
▪▪▪▪▪
Sementara itu, dengan semua bukti dan keterangan dari berbagai karyawan yang di pecat dari perusahaan.
Judika mulai meringkus beberapa karyawan perusahaan, dengan cara yang sama, yaitu memancing mereka masuk dalam jebakan Judika.
Dengan iming-iming materi dan jabatan.
Satu persatu orang dikumpulkan, dan ditempatkan dalam suatu bilik. Tidak ada akses sama sekali, sehingga tidak ada info yang bisa keluar sedikitpun.
Mulai dari karyawan kantor, lapangan hingga security semua berhasil di amankan Judika.
Di dalam masing-masing bilik itulah, Judika memaksa mereka untuk memberi kesaksian secara utuh.
Satu persatu pejabat yang berbuat curang mulai mereka terangkan.
Bahkan diluar dugaan Judika, beberapa staf khusus Okta juga ada yang terlibat.
Akhirnya diam-diam, Judika mulai meringkus dan melakukan pelaporan pada pihak kepolisian, beserta itu dia juga mendatangkan detektif dari pihak kepolisian khusus yang punya penelusuran secara mendetail.
Satu persatu karyawan itu di jebloskan ke dalam penjara sementara, untuk di peroleh keterangan.
Pengacara mereka tidak bisa berkutik sama sekali karena rekam jejaknya juga sudah di telusur Judika. Segala kelemahan dijadikan alasan Judika untuk melawan para pengacara.
Judika juga memberi peringatan pada pengacara itu, bahwa ia akan membongkar semua kebusukan mereka ke media, jika mereka berusaha ikut campur. Maka karir mereka akan hancur seketika jika mereka berani melawan.
Karena Judika meyakini akan terjadi kehebohan di esok hari, maka pada malam harinya, ia secara khusus menghadap kepada Pak Wahardian sebagai pemilik utama perusahaan.
Ia mulai melaporkan segala hal, dan semua yang ia dapatkan juga dengan disertai segala bukti kepada Pak Wahardian.
"Kau yakin buktimu kuat Judika?" tanya Wahardian.
"Benar, Tuan saya sudah yakin seratus persen semua bukti sudah saya pegang."
Lalu Wahardian melihat beberapa foto pejabat yang ternyata bertindak licik selama ini.
"Mereka bukanlah orang yang mudah di lawan Judika."
"Benar tuan, karena itu besok saya berencana, serempak mereka akan di tarik untuk dimintai keterangan. Saya yakin mereka akan saling menjatuhkan untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Karena kejadian itu akan tiba-tiba dan sangat cepat. Inilah kesempatan kita untuk melihat mereka saling melawan satu sama lain tuan."
Wahardian menganggukkan kepalanya.
"Lalu Henry ... anakku ... kamu yakin, dia dalang selama ini?"
"Maafkan saya tuan." kata Judika yang menundukkan kepalanya.
"Ini kesalahanku Jud."
"Tuan?"
__ADS_1
"Selama ini, sebenarnya ada beberapa staf yang melaporkan kejanggalan Henry. Namun aku berusaha menyelesaikan masalah ini. Tak kusangka dia bertindak terlalu jauh."
Judika hanya diam, melihat tuannya tampak bersusah hati.
"Baiklah ... aku percaya padamu Jud."
"Baik Tuan. Besok saya akan bertindak." ucap Judika yang sekalian berpamitan.
Tak disangka saat Judika berjalan ke luar rumah ia bertemu dengan Henry yang baru saja pulang masih dengan pakaian kantornya.
"Judika? Hm ... tak kusangka kamu punya nyali datang kesini. Ada urusan apa kamu di rumah ayah?" tanyanya dengan suara pelan persis di depan Judika.
"Maaf, tuan saya tidak ada waktu untuk membicarakan ini, saya mohon pamit."
"Sudah kukatakan kamu jangan pernah menampakkan batang hidung lagi, kenapa kamu memgingkarinya. Apa kamu mau aku bertindak seperti yang ku ... ."
"Oh ... kamu sudah pulang." sambut ayah yang keluar dari ruangannya.
"Ah ... benar ayah, saya baru saja pulang. Tak kusangka saya bertemu Judika disini. Sepertinya sudah lama kita tak bertemu. Benarkan Judika?"
tanya Henry yang tak di jawab sama sekali oleh Judika.
"Ayah yang mengundangnya kemari, sebab setelah resign, ayah sama sekali belum bertemu dengannya. Apakah kamu sudah makan, kebetulan ayah menunggu untuk bisa makan malam denganmu."
"Oh, baik ayah, saya akan bersiap-siap dulu."
"Kalau begitu saya ijin pamit tuan." Judika menundukkan kepala dan segera berlalu.
Henry menatap Judika dengan penuh penasaran.
Apa yang kamu lakukan disini?
▪▪▪▪▪
Keesokan harinya di perusahaan
Tepat pukul sepuluh beberapa kantor di serbu beberapa orang berseragam rompi khusus.
Secara mendadak, ada sekitar empat kantor yang sengaja di segel dengan police line. Tidak hanya itu juga, beberapa karyawan di minta untuk datang ke kantor polisi, berikut surat perintah penangkapan yang sudah di pegang para polisi dan detektif.
Selain di perusahaan, kediaman beberapa pejabat juga di datangi petugas kepolisian tepat di jam yng sama sehingga tidak ada persiapan sama sekali mereka melakukan perlawanan.
Apa yang terjadi ... apa yang terjadi.
Itulah yang dibicarakan para karyawan yang tidak menyangka kejadian di pagi itu.
Akhirnya Judika datang, dengan gagahnya ia melangkah dengan setelan jas seperti biasanya. Ia juga membantu menunjuk lokasi yang layak di telusur di dalamnya.
Segera ia menuju ke kantor Okta. Untuk mengobati kerinduan tuannya padanya.
"Tuan."ucap Judika di pintu masuk.
"Berani kamu datang kesini?" jawab Okta yang segera datang mendekat, tangannya terkepal, kemudia mendorong Judika, namun setelah itu ia merangkulnya.
"Semua yang terjadi hari ini karena ulahmu?" tanya Okta.
"Benar tuan." jawab Judika sambil tersenyum.
Mereka pun kembali berbincang untuk melepas kerinduan Okta selama ini.
__ADS_1
●●●●●
Bersambung