
Wilona menunggu sekian waktu di depan pintu kamar Okta.
Hm ... seharusnya dia sudah berpakaian sekarang.
"Pak ..."
*tok ... tok ... tok*
Tapi kembali tidak ada respon sama sekali.
Wilona memberanikan diri untuk masuk sekali lagi ke kamar Okta untuk memastikan semua dalan keadaan baik-baik saja.
"Permisi." Ucap Wilona lirih. Badannya membungkuk dan kepalanya diarahkan ke dalam sambil menoleh ke arah Okta.
Dan mereka pun saling beradu pandang.
Tapi kali ini Okta masih tampak seperti orang yang kosong.
Melihat kondiso Okta, Wilona langsung buru-buru masuk dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai. Sekali lagi Wilona menaruh handuk itu di kepala Okta. Untuk mengusap rambutnya.
Memang saat itu rambut Okta masih sangat basah, bahkan tetesan air masih membasahi pundak baju Okta.
Wilona pun dengan serius mengeringkan rambut Okta. Mereka berhadapan sangat dekat, bahkan Wilona sampai menjinjitkan kakinya agar bisa mencapai bagian rambut Okta yang susah terjangkau.
Sedangkan Okta? Ya ... dirinya hanya diam seribu bahasa, tubuhnya tak berkutik dan tak merespon sama sekali, seperti nya dia tidak berdaya lagi untuk melawan Wilona seperti biasanya.
Namun mata Okta tak berhenti menatap Wilona di depannya. Matanya berkedip lembut sambil mengikuti gerakan mata Wilona.
Kamu ... .
Ya ... itulah yang keluar di batin Okta, sepertinya juga Okta tidak bisa melanjutkan kata-katanya bahkan sekalipun itu dalam hatinya.
Sampai pada satu titik, mereka beradu pandang sepersekian detik.
Dan Wilona tersadar bahwa Okta sejak tadi memandangnya, Wilona tiba-tiba menurunkan kakinya yang sudah berjinjit sejak tadi. Wilona diam sejenak kemudian menarik Okta untuk duduk di sofa kamarnya.
Seperti kuda yang ditarik kekangnya, Okta memang tak berkuasa lagi melawan perlakuan Wilona. Ia menurut begitu saja dan duduk di kursi sesuai perintah Wilona.
Wilona yang berdiri di depannya kembali mengusap rambut Okta.
Dia lalu berlalu menuju ruang ganti untuk mencari hair dryer.
Ah ... ini dia....
Wilona menemukan barang yang ia cari. Lalu kembali menarik Okta.
__ADS_1
Dan sekali lagi ia mengeringkan rambut Okta. Okta hanya terdiam sembari memperhatikan perlakuan Wilona di cermin.
Wilona lalu mengambil jaket yang tergantung di sudut ruangan.
"Pak ... ayo ikut aku!" Kata Wilona.
Dan sekali lagi Wilona menarik tangan Okta,( Hey... ini tangan seorang penguasa Wilona ... kamu kok main tarik aja dari tadi ^^, berani benar ya kamu ^^)
Namun kali ini tangan Wilona di tepis. Okta memandang serius, memperlihatkan kerutan di antara kedua alisnya.
Melihat tangannya di tepis, Wilona tersentak kaget.
Sepertinya kesadaran Okta sudah pulih dan siap berperang kembali dengan Wilona.
Akan tetapi Okta tidak berkata apa-apa. Wilona memaksakan senyumnya dan berkata.
"Ayo temani aku sebentar saja pak."
Akhirnya Wilina kembali menarik tangan Okta dan merekapun berjalan bersama menuruni tangga. Tangan Wilona masih menggenggam erat pergelangan tangan Okta.
Ternyata Judika seorang asisten yang tampan dan rupawan, sudah berada di teras rumah menunggu tuan dan nyonyanya keluar.
Disitu Okta kembali kaget, namun Wilona tersenyum puas. Judika datang tepat waktu.
*Flashback*
Hm ... sepertinya aku perlu menanyakan sesuatu pada Judika.
Wilona terburu-buru mencari hp nya dan segera menelpon Judika.
Selamat malam Nyonya.
"Hai Jud, selamat malam."
Ya, nyonya, ada perlu apa menelpon malam-malam begini?
"Em ... apakah ...( Wilona sedikit ragu ) terjadi sesuatu di perusahaan hari ini?
Mengingat Wilona adalah sosok yang hangat, baik hati dan bisa diandalkan untuk tuannya, Judika yang pada awalnya ragu bercerita, ia akhirnya memutuskan sedikit membongkar keadaan tuannya.
Sebenarnya memang ada sesuatu yang terjadi nyonya, ini berkaitan dengan masa depan posisi jabatan tuan di perusahaan.
"Baik Jud, tidak perlu kamu jelaskan detail. Yang penting intinya aku sudah tahu. Sekarang aku minta kamu datang kesini ya. Aku ingin kita refreshing sejenak malam ini."
Baik nyonya.
__ADS_1
Judika menutup panggilannya dan dengan langkah cepat bersiap segera menuju ke rumah tuannya.
Terima kasih nyonya. Aku mengandalkanmu.
Batin Judika sambil tersenyum.
Sebaliknya Wilona segera mengambil jaketnya dan berlari kecil kembali menuju ke kamar Okta.
*Flashback selesai*
●●●●●
**Bersambung
**halo semua...maaf off nya terlalu lama. hari ini dan seterusnya saya akan melanjutkan lagi kisah "Pernikahan sementara" ini.
....
Terimakasih untuk ucapan belasungkawa lewat pesan2 kalian. Ngga disangka virus kecil ini bisa membuat orang kehilangan hidupnya.
...
Mari kita sama2 selalu berdoa mendekat pada sang Pencipta, tetap jadi orang baik, tetap jadi berkah buat semua orang sehingga kelak kita kedapatan layak dan pantas di hadapan Tuhan.
Semoga semua selalu dalam lindunganNya.
Amiiiin.
oh iya ada yang kayak author ngga ya.
sekedar berbagi kisah nyata.
saya suka sekali beli roti kering seperti (roti kelapa bungkus merah) lalu saya tambahi botol air mineral. saya bungkus dalam pelastik lalu di cantelin di motor. sekian waktu saya keliling saya bisa bagi berkatnya buat orang2 di jalan.
ya
ketemu orang gangguan jiwa saya kasih
ketemu kakek nenek yg masih kerja saya kasih
ketemu tunawisma saya kasih
siapa aja yang menurut kita butuh belaskasihan kita kasih
bukan buat sombong2an ya...tapi saya mau menginspirasi banyak orang. ayo kita menyebar kebaikan. Engga rugi kok.. Nanti berkat untuk kita Tuhan sendiri yang atur
__ADS_1
...
Sekian** ^^