Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Misi Khusus *2


__ADS_3

Hai semua. maaf selasa kemarin ada hujan badai drumah, listrik padam dan sinyal menghilang entah kemana. Baru bisa on jam sebelam malam🙏.


Maaf jadi terlambat up.


Semoga semua pembaca diberi keselamatan ya, Yang berlokasi Di jakarta juga semoga banjir segera surut.


Mari kita lanjutkan💪🌊


▪▪▪▪▪▪


Malam itu Leony menepati janji untuk bertemu dengan Bobby.


"Hai Bob."


"Hai Leony terimakasih mau menemaniku ke sini. Apakah kamu baik-baik saja kalau kita berada ditempat ini?"


"Hahaha ... ayolah ini tidak masalah denganku."


"Hm ... suatu kehormatan seorang model berkelas mau menemaniku malam ini."


"Hey mau sampai kapan kamu meninggikan aku terus. Hahaha.


Aku memang sedang ingin sedikit minum malam ini. Yah ... sedikit saja." Ucap Leony sambil tersenyum.


"Saya kira kamu tidak suka minum."


"Tidak sama sekali soal itu."


"Oh iya ... aku dengar kamu akan memindahkan usahamu ke Indonesia, apakah itu benar?"


"Ya ... aku sedang menanti saat yang tepat saja."


"Ah ... aku iri sekali padamu. Aku juga cinta Indonesia."


Dan mereka semakin asik bercerita malam itu. Hingga Leony tanpa sadar sudah berada dalam pengaruh alkohol terlalu banyak.


Judika yang sedari tadi berpakaian serba hitam dan duduk di sudut ruangan memperhatikan tingkah Leony.


Cih ... tak kusangka kau kuat juga minum sebanyak itu. Lalu apa arti semua perkataanmu di depan tuan selama ini.


Semakin dalam dan semakin dalam kesadaran Leony sudah sangat-sangat dipengaruhi minuman itu.


Judika perlahan mendekat dan duduk tepat di sebelah Leony.


"Tuan Bobby ... terimakasih. Maaf bisakah anda memberikan aku waktu sebentar dengannya?"


"Hm ... silahkan. Saya akan pindah ke tempat dudukmu kalau begitu." Lanjut Bobby yang berjalan sambil membawa gelas berisi wine di tangannya.


"Leony!"ucap Judika sudah tanpa embel-embel nona lagi.


Leony yang awalnya tertunduk melihat ke arah seorang yang memanggil namanya.


*Mabuk*


"Oooh ... pria tidak tahu diri ini disini? Pendamping setia Okta." Ujar Leony yang teraenyum menepuk dada Judika.


"Ada hubungan apa anda dengan tuan Henry?" Tanya Judika.


*mabuk*


"Henry? Si pria brengsek itu? ... hey ... dia sama sepertimu." celoteh Leony.


"Apa maksud anda?"


*mabuk*


"Orang yang menakutkan namun juga menarik. Hahahaha .... ." muka Leony kembali tertunduk.


"Kau dekat dengannya?"


"Aku mengenalnya lebih dahulu sebelum bertemu dengan Okta, memangnya kenapa?"


"Apa hubunganmu dengannya?"


"Cinta pertamaku, teman dan juga musuhku. (Ekspresi dari dari senang ke marah)


Tunggu ... aku seperti bermimpi, aku bahkan melihat wajahmu lebih jelas dari biasanya. Aku berharap mimpi ini bertahan lebih lama." ucap Leony yang kembali memandang Judika dan memegang pipinya dengan lembut.


Dengan segera Judika menampik tangan Leony yang menyentuh wajahnya.


"Kamu tahu ... sifat kejammu itu membuatku berdebar-debar. Tapi kamu tak pernah memandangku sedikitpun.


Cih ... menyebalkan."


(Dasar Leony maruk😞)


Mendengar itu Judika semakin kesal, karena sejak tadi sebenarnya percakapan itu sedang ia rekam, dan hendak di jadikan bukti untuk tuannya. Namun Leony justru berkata-kata di luar dugaan.

__ADS_1


"Apa kamu menceritakan semuanya dengan tuan Henry? termasuk pernikahan kontrak ini?"


"Apa? Aku? .... (Leony terlihat berpikir)


Ah ... benar, dia menginginkan itu semua ... karena dia mengancamku. Tega sekali dia."


"Apa? Jadi benar?" Judika memegang erat lengan Leony untuk menegakkan tubuhnya yang lunglai di meja.


"Aku tidak mau masa laluku terbongkar semua. Jadi tidak masalah aku menceritakan semuanya.


Aku tidak mementingkan Henry, karena saat ini sudah ada Okta yang jauh melebihinya.


Hanya saja ... wanita itulah masalahnya saat ini."ucapnya.


Judika hanya terdiam mendengar semuanya.


"Ah ... aku sudah menjebaknya, suatu saat akan kubongkar semuanya."


...


Hm ... wanita miskin dan menyebalkan itu."


Judika lalu mencoba membuka hp Leony yang berada di meja. Namun ponsel itu terkunci.


"Buka kode ini!" pinta Judika.


"Jangan ganggu aku, aku mau tidur dulu."


"Lihat aku."


Leony kembali menatap Judika yang duduk di sebelahnya. Ia pun langsung menunjukkan ekspresi senang setelah melihat wajah Judika.


"Ah ... kenapa dengan mata itu! ayo tenang-tenang."Leony menepuk dadanya.


"Cepat buka kode ini."


Lalu Leony membuka kode ponselnya dan kembali meletakkan wajahnya ke meja.


Disana Judika menemukan semua foto Wilona yang sedang berjalan dan tersenyum bersama dengan Bastian, saat Bastian memakaikan bunga di telinga Wilona dan berbagai macam hal yang berbau dengan Nyonya ditemukan Judika dari ponsel Leony.


Segera ia menghapus semua foto itu, lalu ia masuk ke email dan mengecek semuanya.


Ternyata benar semua beberapa bukti telah ia temukan.


Dan itu sudah cukup membuat misinya berhasil secepat kilat.


Mungkin aku juga perlu melacak kehidupan kalian berdua di masa lalu.


Judika segera beranjak menuju meja Bobby.


"Tuan Bobby, terimakasih."


"Bagaimana? kamu menemukan jawabannya?"


"Belum semua, namun sudah sebagian saya dapatkan."


"Ah ... baiklah. Kalau begitu kamu istirahatlah, setelah seharian ini pasti kamu sangat lelah, biar aku yang mengantarnya pulang kerumah."


"Tidak apa-apa tuan saya akan antar dia."


"Sudahlah ... percayakan dia padaku." ucapnya meyakinkan Judika.


"Kalau begitu saya sangat berterimakasih pada anda Tuan."


"Tidak masalah ... Okta adalah teman baikku. Aku akan lakukan apapun untuknya."


Dan akhirnya mereka berpisah. Dengan Judika yang sudah memegang kunci jawaban dari permasalahan tuannya.


▪▪▪▪▪


Berbeda dengan Okta hari itu, sepanjang hari ia sangat tidak bersemangat, seolah harapannya hilang ditelan bumi.


Wilona dengan sengaja datang ke kantor untuk pertama kalinya, setelah ia bekerja dari kedai ayah.


Kembali dengan pakaian sederhana dan rambut yang tergerai rapi, sepertinya Wilona sengaja berdandan lebih cantik karena ia harus bertemu dengan orang banyak di kantor.


Berbeda dengan perlakuan karyawan terhadap Okta. Kali ini bahkan langkah kaki Wilona tak di anggap sama sekali oleh para karyawan.


Ah ... lega, disini tidak ada seorangpun yang mengenalku.


Wilona lalu tetap berjalan sesuai dengan alur Judika, sebab ia sangat buta mengenai lokasi kantor Okta.


Dan atas bantuan Judika, Wilona dapat segera bertemu dengan sekertaris Okta. Sehingga ia langsung menghantarkannya masuk ke ruangan Okta.


Sekertaris itu mengetuk dan membuka pintunya.


"Nanti saja, Aku sedang tidak ... ." Belum selesai Okta berkata-kata Wilona muncul dari balik pintu dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Seketika Okta berdiri dan mematung terperanjat melihat kehadiran Wilona saat itu.


Melihat ekspresi wajah Dirut, sekertaris itu tersenyum dan berpamitan


"Pak saya permisi." Ia pun segera pergi kembali ke meja tempat ia berada.


Wilona melangkah perlahan sambil menenteng kotak di tangannya. Matanya mengintari seluruh ruangan kantor Okta.


"Boleh saya duduk pak."


Akhirnya kesadaran Okta muncul, setelah ia termangu beberapa detik yang lalu. Ia tersenyum dan berkata,


"Dimana kamu mau duduk? Disini?"Okta menunjuk tempat duduk pribadinya sendiri.


"Ahahaha ... jangan begitu pak." Wilona lalu duduk di sofa tamu.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Okta.


"Aku sengaja membuat roti kering ini."


Okta lalu membuka bungkusan itu dan melihat Roti berbentuk wajah dirinya.


"Apakah ini wajahku?"


"Tentu saja."


"Kenapa menakutkan seperti ini?"


"Pak Okta tidak sadar kalau memang itu wajah aslimu." sindir Wilona.


"Tapi aku tidak mau kalau wajahku sejelek ini."


"Hey ... ayolah pak, Aku sudah buat ini sekuat tenaga. Atau bagaimana nanti malam saya tantang pak Okta untuk membuat karakter yang lebih bagus."


"Roti berbentuk wajahku? Okey ... akan aku tunjukkan bakatku ini."


"Cih ... bakat apa, selama ini aku tak pernah melihat bakat sedikitpun mengenai dunia dapur dan anda pak."


Dan mereka saling bercanda bersama. Beruntung Wilona hadir saat itu.


"Apa kamu kesini hanya untuk menghiburku?"


"Hm ... kurang lebih seperti itu." jawab Wilona sambil menganggukkan kepalanya.


"Ona ... terimakasih."


Okta menatap lekat Wilona yang seketika membuat wajah Wilona bersemu kemerahan saat itu.


Sesekali Wilona sibuk dengan ponselnya karena ia terus saja kontak dengan Judika.


Wajahnya yang sebentar tersenyum membuat Okta bertanya


"Dengan siapa kamu berbicara?" tanya Okta penasaran.


"Bukan siapa-siapa pak." Wilona buru-buru menyimpan pinselnya.


**Isi percakapan dengan Judika**.


*Judika*:


*Nyonya, saat ini saya sedang bersama dengan tuan Bobby, anda dapat salam darinya*.


(Nb: Zona Waktu Paris dan Indonesia lumayan lama ⚘)



*Wilona*:


*Ah ... benar, aku juga merindukannya, salam balik untuknya, ajaklah dia segera main ke Indonesia Jud*.



*Judika*:


*Baik Nyonya, malam ini saya akan bertemu dengan Nona Leony. Semoga ada titik terang dari sini*.



*Wilona*:


*Baik Jud, aku doakan lancar semuanya. Terus kabari aku ya*.


Keberadaan Wilona membuat waktu di kantor menjadi cepat berlalu, dan sore itu mereka Akhirnya pulang bersama.


●●●●●


Bersambung

__ADS_1


Like dan komen ya


__ADS_2