Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Ketegangan


__ADS_3

Kantor Okta


"Maaf Pak Okta, proyek pembangunan bahan kimia sepertinya terhambat." Pak Kunto (Manajer keuangan) menjelaskan.


"Ya, aku sudah dengar.


Padahal lokasinya sangat strategis dalam menarik perhatian perusahaan lain.


Ada apa dibalik semua ini? Apa yang kamu tahu?" tanya Okta yang duduk di meja sambil menopangkan dagunya, mendengar dengan tatapan serius.


"Para investor tiba-tiba mengundurkan diri pak." jelas manajer keuangan.


"Benar-benar bodoh.


Bukankah ini aneh? Kita sudah menjanjikan banyak hal termasuk profit kepada mereka, dan ... mereka semua setuju bukan?" tanya Okta dengan kemarahan yang semakin memuncak.


Mendengar suara Okta yang semakin menunggi pak Kunto tidak berani lagi memandang wajahnya."Benar Pak, saya juga masih mencari jawaban ada apa dibalik keluarnya mereka satu persatu."


"HAHAHAHA ... Pak Kun, ayolah kita bukan pengemis, (wajah Okta mulai menyeringai dan itu tampak mengerikan)tinggalkan saja mereka, jangan kau menyusahkan dirimu.


Lagi pula banyak investor lain yang mau bergabung dalam proyek ini.


Kita akan buka lebar-lebar dan membuka peluang bagi para investor pemula.


Oh ... iya ... pastikan mereka (investor yang mundur) menyesal dan jangan sampai menginjakkan kaki dan berhubungan dengan WG group lagi. Kamu mengerti?"


"Baik Pak."Jawab pak Kunto sigap.


Tanpa perintah Okta, Judika pun mendekati pak Kunto,


"Pak Kun, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." ujar Judika dengan nada sopan.


Judika tahu saat pembicaraan sudah selesai dan mempersilahkan manajer keuangan untuk keluar.


"Baik, saya permisi." Menundukkan kepala  dan langsung pergi meninggalkan ruangan.


...Dan hanyalah tinggal Okta dan Judika dalam ruangan....


"Wah, mereka berani sekali bermain-main dengan kita." Okta tersenyum tenang dan menghanyutkan sambil mengetukkan jari tangannya pada meja.


Jud?" lanjut Okta.


"Ya, Tuan." Judika mendekati Okta.


"Lakukan tugasmu!"


"Baik Tuan."


Tanpa banyak kata dari tuannya, Judika tahu bagaimana harus menjalankan misinya.( Emang sehati mereka nih😎)


Terlebih untuk mengatasi para investor nakal yang  tiba-tiba merubah planning mereka.


▪▪▪▪


...Diruang Rapat...


Saat Okta berjalan memasuki ruang meeting, Ia melihat ayahnya selaku Presdir ternyata turut hadir dan sudah duduk terlebih dahulu dalam ruangan.


Adiknya sebagai Direktur juga sudah datang, Para staf yang bertugas sudah komplit duduk pada tempatnya.


Okta kaget dengan kehadiran ayahnya yang mendadak, berusaha untuk berjalan dengan tenang menuju kursinya.

__ADS_1


"Presdir." Okta menyapa menundukkan kepala kepada ayahnya lalu duduk.


Okta kemudian menatap wajah Judika yang berdiri di sampingnya seolah bertanya mengapa Presdir hadir hari ini.


Judika juga menjadi bingung kenapa dia tidak dapat info sama sekali mengenai kehadiran presdir hari ini.


Suasana hening dan mencekam, dengan dihadiri oleh Presdir, Dirut dan Direktur, para staf seperti menjadi patung, tidak berkutik, mereka tahu bahwa pembahasan rapat kali ini bukanlah pembahasan yang remeh, bahkan bisa dianggap pembahasan akhir dari karir masa depan masing-masing karyawan.


Ditambah dengan hadirnya Presdir yang sebenarnya hampir tidak pernah datang untuk mengikuti rapat.


Akhirnya rapat mulai membahas berbagai macam kendala di perusahaan termasuk juga hambatan proyek pembangunan bahan kimia dan berbagai macam kerugian di dalamnya yang sejak pagi sudah dibahas Okta.


"Baiklah, kalau begitu biarkan Henry (adik sambung Okta) selaku Direktur yang akan menggantikan posisimu dalam memimpin proyek kimia" Presdir Wahardian mengambil kesimpulan rapat.


Okta yang hampir tidak terima akhirnya menatap ke meja dan berkata, "Baiklah Presdir."


Sedangkan Henry menundukan kepala juga menghormati keputusan ayahnya, tampak berusaha tenang tapi senyum tipisnya tidak terhindarkan keluar dari mulutnya, merasakan kemenangannya.


▪▪▪▪


...Di Kantor Okta...


Tampak ayah dan kedua anaknya berkumpul bersama.


"Hahahaha, bagaimana Henry, apakah kamu bisa menjalankan proyek ini?" tanya ayah.


"Tentu ayah, saya akan berusaha semaksimal mungkin." Henry menjelaskan dengan mantap di depan kakak dan ayahnya.


Terlihat Okta yang diam saja menahan emosinya.


"Ya, ayah akan melihat kinerjamu memimpin perusahaan itu, kamu pasti layak menjadi pemimpin besar kelak. hahaha (tersenyum menatap Henry)


Baiklah kalau begitu ayah permisi dulu."


"Ya tentu saja, sebenarnya setelah rapat ini ayah sudah ada janji bertemu dengan walikota, sudah lama ayah tidak ngobrol dengannya."


"Baik ayah." Mereka semua berdiri mengantarkan ayahnya menuju ke pintu.


"Oh sebentar, ayah hampir lupa. Besok malam ajaklah Wilona makan malam di rumah ayah."


"BESOK???..." mata Okta terbelalak kaget.


"Ayolah, dia sama sekali belum main ke rumah. Biarkan menantuku sekali-kali juga datang ke rumah..hahahahha." ujar ayah sambil berjalan melangkahkan kakinya.


"I-iya ayah di tunggu saja ... kami akan datang."jawab Okta.


Henry tampak diam saja melihat kakak dan ayahnya berbicara dengan akrab.


Setelah ayahnya pergi, tinggalah mereka berdua dan asisten Judika yang berdiri agak jauh dari situ.


"Kakak, Aku juga mau permisi dulu.


(Lalu memegang pundak Okta)kak, percayalah aku akan mejalankan proyek ini, dan aku pasti berhasil." Tersenyum menatap Okta yang tak berekspresi apa-apa.


Kemudian Henry pun meninggalkan ruangan.


"Kau lihat Judika? hah..Dia pandai sekali mencari muka di depan ayah." Okta tampak kesal melihat saudara tirinya itu.


Judika diam saja,mendengar tuannya mengeluh, Judika paling pintar membaca situasi saat tuannya kesal. *Poin penting Judika : Menjadi pendengar yang baik itulah solusinya saat ini.*


▪▪▪▪

__ADS_1


...Di kedai roti...


" Ayah ternyata benar, bahkan sampai malam kedainya ramai sekali." Kata Wilona sambil memijat pundaknya sendiri.


"Hahaha, benarkan? ayah juga sampai kewalahan ini."


Ayah mulai menutup tirai dan mematikan beberapa lampu karena kedainya mau tutup sebentar lagi.


Sambil sesekali menata kursi dan meja yang masih berantakan.


Sedang karyawan yang lain sibuk juga di dapur membereskan segala sesuatu sebelum pulang.


"Yah, aku mau pulang dulu."ujar Wilona.


"Ah sebentar-sebentar, biar ayah antar saja ya, ayah mau bereskan ini dulu sebentar saja."


"Tidak perlu ayah, aku mau mampir juga ketempat lain. Ona perlu beli beberapa makanan untuk sarapan esok hari."


"Oh, begitu, apa tidak capek? seharusnya kamu bisa pulang awal tadi ,tidak usah menunggu kedai tutup." ujar ayah.


"Iya ayah, gak apa-apa kok."


"Tunggu, pokoknya ayah antar saja ya, sudah malam ini Ona." pinta ayah sekali lagi.


"Biar Wilona bersama saya saja Pak." Tiba-tiba Jojo menyela. Wilona dan ayah diam saja melihat Jojo yang datang mendekat.


"Ah, kebetulan saya juga perlu ke swalayan untuk membeli keperluan bulanan anak kos." Jojo melanjutkan sambil mengusap leher belakangnya.


"Begitu? benar tidak merepotkanmu Jo?" tanya ayah.


Jojo menjawab dengan menggelengkan kepala.


"Waaah... kalau begitu mumpung tujuan kalian sama, saya titip Wilona ya."


"Siap." Kata Jojo sambil bergaya hormat seolah-olah diberi perintah oleh kapten militer.


 Mereka bertiga dan juga 2 karyawan lain jadi ikut tertawa bersama-sama, karena ulah Jojo yang konyol itu.


Akhirnya mereka berdua bersama-sama menuju ke swalayan. Jojo bahkan menemani Wilona mencari bahan-bahan yang di perlukan.


Mereka beriringan sambil sesekali bercanda saat memilih beberapa bahan makanan.


Mereka tampak serasi sekali, Jojo yang tinggi dan tampan bersama dengan Wilona yang imut dan manis ,tak sedikit pasang mata yang senang memperhatikan sepasang anak muda Jojo dan Wilona yang saling berinteraksi dengan serunya.


Tak terasa pertemuan pertama ini sudah membuat mereka akrab begitu saja.


Segala urusan perbelanjaan sudah beres, Kini saatnya Jojo mengantarkan Wilona pulang ke rumah.


Dengan motornya, Jojo pun mengantar Wilona sampai ke depan rumah, membantu Wilona menaruh tas belanjaan yang begitu banyak di lantai teras rumah.


"Wilona, aku janji akan traktir kamu saat gaji pertamaku keluar." ujar Jojo dengan senyum manisnya.


"Benarkah? Kamu janji ya. Kalau tidak, aku akan menuntutmu sampai ke pengadilan." Wilona membalas ceria dan mereka tertawa kembali.


Dari samping tampak mobil datang mendekat.


Sorot cahaya dari lampu mobil membuat mereka terkejut, kemudian mereka langsung melihat mobil yang datang itu dengan lampu yang menyilaukan mata mereka.


Sedang di dalam mobil Okta dibuat penasaran melihat seorang laki-laki yang bersenda gurau dengan Wilona di depan rumahnya.


Siapa dia? batin Okta

__ADS_1


...


Bersambung


__ADS_2