Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Keceplosan


__ADS_3

"Wooow Ona." sambut Okta yang membuka pintu kamarnya dan mendapati Wilona yang juga kebetulan keluar dari kamar.


"Hm? Ada apa? tanya Wilona.


"Kamu ... terlihat berbeda dengan pakaian ini."


Sebuah dress putih persis sama saat Okta mengundangnya makan malam yang gagal saat itu.



"Em ... dimana Judika?" Ucap Wilona yang berjalan menuruni tangga bersama Okta.


"Dia ... ada urusan, haaah seperti biasa aku akan jadi sopir spesial lagi hari ini." jawab Okta.


"Ayo jalan." Okta kemudian mengangkat sikunya agar Wilona mau menyilangkan di lengan Okta.


Namun Wilona diam saja, karena perlakuan itu sangat asing baginya. Ia hanya terdiam dan kemudian berlalu meninggalkan Okta yang sedang berusaha berhenti menyambut langkah Wilona.


"Heyyyy ... seperti ini seharusnya." Okta lalu memaksa Wilona melingkarkan tangannya di lengan Okta.


"Apa maksudnya? "tanya Wilona.


"Begini cara berjalan orang kaya. Bukankah kita melakukannya saat menikah dulu ... Kau sudah lupa?"


*Deg* hati Wilona sedikit berdebar saat itu. Kembali momen pernikahannya terlintas dalam pikiran Wilona.


Mereka sebenarnya tidak pernah sedekat ini sebelumnya, kecuali saat momen spontan seperti saat bergandengan tangan, berpelukan atau saat Okta menolong Wilona saat ia tenggelam waktu itu dan sepertinya terjadi diluar kesadaran mereka begitu saja.


Mereka pun segera berlalu menuju Restauran tempat Okta mengundang Wilona makan malam waktu itu.


▪▪▪▪▪


Restaurant


Suasana tidak jauh berbeda dengan waktu itu. Semua tampak sepi dan tidak ada satupun pengunjung disitu.


"Pak ... apakah anda tidak merasa aneh kalau tempat ini begitu sepi?"


"Tidak."


"Begitu banyak meja yang kosong. Apakah disini terlalu mahal atau ...


haaaah tunggu ... jangan-jangan pak Okta?"


Entah kenapa Okta menggaruk-garuk kepalanya.


Otak mu ini sampai dimana siiiiih.


"Seperti saat kita melakukan perjanjian itu? pak Okta memesan semua tempat ini?" tanya Wilona.


"Ah ... sudahlah ... ini kan makan malam spesial, aku tidak ingin ada orang lain yang mengganggu."


Okta lalu menggeser kursi untuk Wilona. Membuat Wilona menjadi terheran lagi akan perlakuan terhadapnya.


Wilona lalu duduk berhadapan dengan Okta. Sekilas pandangan Okta tak teralih sedikitpun dari Wilona.

__ADS_1


Sampai seorang pramusaji datang lengkap dengan hidangan yang sudah mereka siapkan dari awal.


Wilona mengigit bibirnya melihat makanan yang tersaji di meja.


Okta melihat sikap Wilona kembali tersenyum "Restaurant ini milik seorang koki asli Perancis. Masakannya sangat istimewa. Apa kamu tidak sabar?"


"Tentu saja ... waktu itu aku melihatnya persis seperti ini pak. Hanya saja aku tidak selera makan gara-gara anda."


"Baiklah aku minta maaf." jawab Okta.


Hal itu membuat Wilona tersenyum. Kata maaf yang dulu hampir tidak pernah terucap, saat ini sepertinya sudah biasa terdengar di telinga Wilona.


Okta lalu memotong daging dengan terampilnya, lalu menukarkannya dengan piring Wilona.


*Deg* sikap itu tentu membuat Wilona jadi berdebar sekali lagi.


"Makanlah."Ucap Okta.


Wilona hanya terdiam beberapa saat dan kembali bertanya.


"Kenapa?" tanya Wilona.


"Hm?" Okta balik bertanya.


Apakah karena ini ... persiapan menjelang perpisahan kita? kenapa saat ini kamu jauh berbeda dari biasanya. batin Wilona yang hanya duduk terdiam melihat sikap Okta.


"Mak- ... ." Sekali lagi Okta menawarkan makanan dan baru sadar bahwa sejak tadi Wilona memperhatikan dirinya.


Ia kemudian sadar sikapnya itu membuat ia terlihat bukan seperti Okta yang biasa berhadapan dengan Wilona.


"Hahaha ... aku pernah melihat Pak Okta melakukannya untuk Leony saat itu.


Jadi ... aku merasa sedikit aneh saja ketika ... Pak Okta melakukannya untukku." kata Wilona yang berusaha menghangatkan suasana.


Okta hanya terdiam sekali lagi memandang Wilona.


"Jujur aku tidak ingin mengatakannya karena pak Okta pasti marah padaku jika aku berkata kita akan berpisah sebentar lagi.


Tapi ... apakah karena itu anda melakukan semua ini?"


"Tidak."


"Ah ... apakah karena pak Okta merasa bahwa aku bukan Wilona melainkan ... Leony?" ucap Wilona yang sedikit ragu menyebut nama itu.


"Tidak."


"Ah ... atau karena ..." Belum sampai selesai Wilona bertanya Okta memotong pembicaraan.


"Karena kamu adalah Wilona.


Aku tidak pernah melakukan hal, selain pada orang yang spesial bagiku." jawab Okta.


*Deg-Deg-deg* kali jantung Wilona seperti mau meledak rasanya.


Ia lalu melanjutkan memakan sajian untuk mengalihkan perasaannya.

__ADS_1


Entah mengapa ... perlakuanmu itu... ah Ona... ayolah tenangkan pikiranmu. Jangan berpikir yang berlebihan.


Semua ini pasti karena aku sudah terlalu sering bersamanya.


"Kamu cantik." Okta tiba-tiba nyeletuk ditengah sesi mereka menikmati makanan.


*Uhuk-uhuk*


Wilona jadi tersedak dan membuat Okta segera mendekatkan air putih padanya.


"Mi-minumlah..." ucap Okta yang menjadi salah tingkah setelah berkata itu.


"Aku ke belakang sebentar." Okta kemudian berjalan cepat menuju ke tiloet.


Didalam Toilet


Apaaaa ... apa yang aku pikirkan ... apa yang aku ucapkan.


Kenapa mulut ini tidak bisa di ajak kerjasama.


(Okta menepuk mulutnya berkali-kali)


Kenapa harus keluar dari mulut iniiii.


(Saking frustasinya ia menyibakkan rambut dan berjalan mondar-mandir di sekitar wastafel)


*Ampuuun ternyata kamu yo podo. deg-degan juga to😆*


Okta kembali merapikan pakaiannya, mencoba mengatur napas agar goncangan di dadanya juga turut tenang. Ia memejamkan mata mencari ketenangan sesaat.


Sementara dengan Wilona


Wilona sampai tidak mengunyah makanan dalam mulutnya saat itu.


Ia tidak menyangka Okta akan spontan berbicara seperti itu padanya.


Muncul dalam ingatannya bahwa Okta sering memanggilnya dengan sebutan


*Hey, bodoh, cerewet, otak kecil, tidak tahu diri* dengan berbagai ekspresi wajah emosinya dari awal mereka menikah.


Saat Wilona juga berusaha mencari ketenangan tiba-tiba.


*Rrrrrrr rrrrrr rrrrr*


ponsel Okta berbunyi.


Wilona penasaran siapa yang menelpon Okta malam itu.


Ah ... Judika.


Wilona pun segera mengangkat teleponnya dan mendengar Judika berbicara.


*Deg ....* Wilona menjadi tegang setelah mendengar kabar Judika.


●●●●

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2