
Hari demi hari berlalu. Ketiadaan Judika membuat Okta semakin lebih sibuk di kantor dan itu sangat melelahkan tubuhnya. Begitu juga dengan Wilona yang semakin hari terus saja memperhatikan Okta yang gairahnya menurun perlahan.
Saat itu Wilona pulang lebih awal, ia sengaja mempersiapkan makanan spesial untuk Okta.
Besok adalah batas waktu Okta memutuskan pilihannya. Saat ini kemana Judika? mengapa dia tidak mengabari aku sama sekali? pesanku pun hanya dibaca saja olehnya.
Bunyi mobil pun terdengar, menandakan Okta juga pulang lebih awal.
Wilona langsung berlari ke depan masih mengenakan apron di tubuhnya.
"Selamat sore pak." sapa Wilona.
"Hm ... " Dengan tatapan yang sedikit sedih Okta membalas ucapan itu.
Okta segera menunduk ke bagian bagasi dan mengambil seikat bunga baby breath berwarna warni dengan ukuran extra large di tangannya.
"Ini untukmu." ucap Okta
Wilona meraih bunga itu dengan tatapan yang sebenarnya sedikit merasa bersalah.
Seharusnya aku yang menghiburmu pak.
"Terimakasih, bunganya cantik sekali."ucap Wilona.
"Kamu jauh lebih cantik." balas Okta yang segera berlalu menuju kedalam meninggalkan Wilona yang masih berdiri di pintu masuk, langkah kakinya tergontai tampak sangat kelelahan saat itu.
Ayo Wilona... kamu bisa. batin Wilona menyemangatkan dirinya sendiri.
Wilona lalu menyusul ke dalam sambil memeluk bunga pemberian Okta yang sangat besar itu.
"Hari ini kita akan memasak makanan spesial." ucap Wilona.
"Apa itu?"
"Aku pernah di ajak makan ini dengan Bobby dan aku akan mencoba memasaknya disini."
"Kenapa kamu teringat padanya sore ini? kau begitu suka denganya?"
"Tentu saja." jawab Wilona ringan.
"APAAA?" bentak Okta.
"Eh, maksudku makanannya sangat enak." jawab Wilona dengan senyum terpaksanya.
"Hm ... baiklah kalau begitu." ujar Okta yang melonggarkan dasi dari kerah bajunya.
Setidaknya bisa emosi seperti ini, itu jauh lebih baik daripada aku melihat anda lesu seperti tadi. batin Wilona
"Silahkan pak Okta mandi dulu nanti kita akan masak bersama lagi."
Mendengar itu, Okta tersenyum dan menanggukan kepala, ia segera naik ke atas untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Benar semenjak kepergian Judika hampir setiap hari Wilona dan Okta menghabiskan waktu berdua saja, dan di dapur adalah moment yang tepat untuk mereka bisa saling menghibur, mengejek dan bersenda gurau bersama.
Sekali Waktu diam-diam Wilona merekam keseruan di dapur dan di kirimkan pada Judika setelahnya.
Sembari menunggu Okta turun, Wilona menyiapkan sedikit salad dan minuman buah segar di meja.
__ADS_1
"Masak apa kita hari ini." jawab Okta yang sudah turun dengan mengenakan kaos lengan panjang dan celana pendeknya.
"Kita akan masak daging bebek Confit de Canard."
"Apa? kamu yakin?"
"Tentu saja, saya sudah membalur daging ini dengan bumbu sejak kemarin, dan sekarang waktu yang tepat untuk mengolah." jawab Wilona.
"Baiklah, ayo kita mulai saja."
Mereka lalu sibuk di dapur dengan segala keseruan dan kekeliruan Okta yang terus saja membuat heboh di dapur.
"Tunggu." Wilona menggantikan Okta mengiris bawang putih.
"Biar aku saja. Pak Okta siapkan alat panggang dan wadahnya" ucap Wilona.
"Oke." Okta segera membasuh tangannya dan mencari-cari wadah yang dimaksudkan Wilona.
"Dimana barangnya?" tanya Okta.
"Itu di atas situ pak."
"Aku benar-benar tidak tahu barang yang kamu maksud. Apa ini?"
"Bukan."
"Yang ini?"tanya Okta lagi
"Bukan."
Wilona lantas menghentikan memotong bawang dan segera ke rak untuk mengambil barang itu.
Sambil jinjit Wilona segera mencapai barang itu.
"Nah ini dia yang saya maksud."
Tapi ... keseimbangan Wilona menghilang. Badannya segera condong kebelakang dan hampir saja jatuh.
Untungnya ada Okta yang segera menahan tubuh Wilona, sehingga tak sengaja Okta menangkap dari balik punggung Wilona.
"Huh ... hampir saja."Ucap Wilona mengambil napas lega, namun Okta sedari tadi tetap diam sambil memegang tubuh Ona.
"Pak?" Jawab Wilona yang mencoba ingin menoleh ke belakang.
"Tunggu sebentar, biar aku rapikan rambutmu." jawab Okta dengan lembut.
*Deg-deg-deg*
Entah mengapa jantung Wilona jadi tak terkendali dengan posisi mereka yang berdekatan saat itu.
"Rambutmu terlihat berantakan." ucap Okta.
Wilona tertunduk malu dan membiarkan semua terjadi begitu saja.
Lalu perlahan Okta membalik tubuh Wilona sehingga mereka berhadapan sangat dekat.
Dengan lembut Okta kembali merapikan rambut Wilona, sedikit ia membelai rambut depan Wilona, dan mereka saling bertatapan dalam diam beberapa saat lamanya.
Okta lalu meraih tangan Wilona dan menaruhnya pada dadanya.
__ADS_1
"Kamu tahu Ona? sepanjang hari ini segala hal membuatku frustasi dan lelah, pikiranku tak sedetikpun terlepas dari semua masalah yang kuhadapi tentang hari kemarin dan hari esok.
...
Tapi ketika berada denganmu disini aku bisa melupakan segalanya. Semua pergumulanku, semua tekanan di sekelilingku. seolah menyingkir dan membuat perasaanku lebih tenang." ujar Okta.
"Saya pernah dengar pak,
bahwa pencobaan yang kita alami tak melebihi kekuatan kita, Tuhan tau kadar tiap-tiap orang berbeda, dan Tuhan tahu bahwa semua manusia pasti bisa menghadapi dan melewati, kita tinggal meminta kekuatan dari Tuhan, satu-satunya penolong kita."
"Kamu benar, dan aku beruntung, Tuhan mempertemukan kita disini." ujar Okta.
Tangan Okta kembali membelai rambut Wilona dan terhenti di belakang leher Wilona.
Ada perasaan bergejolak di hati mereka masing-masing.
Perlahan Okta mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan semakin dekat.
Wilona juga tak kuasa dan mencoba menahan sambil menggigit bibir bawahnya.
Saat mereka hampir saja berciuman Wilona memalingkan wajahnya. Sebab ia tahu, ia tak mau melebihi batas.
Ada batas kontrak di antara mereka, dan Wilona sadar akhir hidup mereka hanyalah perpisahan.
"Maaf." ucap Okta yang menunduk malu.
*Uhuk ... uhuk... eheem*
"Te-tenggorokanku kering, a-aku mau minum dulu."
Wilona mencoba batuk dan segera menghindar dari hadapan Okta.
Dengan sikap Wilona itu, Okta hanya bisa tersenyum dan suasana kembali seperti semula lagi.
Mereka lalu melanjutkan memanggang daging olahan itu dan menunggu kematangannya sambil memakan salad buah yang sudah Wilona siapkan.
Dan jadilah Confit de Canard buatan mereka berdua
Setelah mereka selesai makan, mereka bersantai di meja makan sambil berbincang untuk waktu yang lumayan lama.
"Ona ... besok ada rapat penting di kantor. Doakan aku."
*Deg *(sebenarnya Wilona sudah mengetahuinya dari Judika)
"Aku pernah mengatakan bahwa keputusanmu adalah yang terbaik pak, semangat." ucap Wilona yang kembali tersenyum
"Benar, aku sudah memikirkannya matang-matang dan itu pilihan yang terbaik buat semuanya."ucap Okta.
Terbaik buat semuanya? apakah pak Okta setuju untuk mengundurkan diri? tunggu, aku harus menahan untuk tidak merespon ini berlebihan dihadapan Okta, tapi ... ah Judika kamu ini kemana???
●●●●●
BERSAMBUNG
Baik hari ini akan keluar 2 episode...tunggu sebentar ya.
Dukung author dengan ♡ dan bantu vote juga. Terimakasih buat komentar2 kalian. salam semangat
__ADS_1