
Dengan diantar oleh Judika asisten pribadi Okta.
Kedua pasangan suami istri yang terikat perjanjian ini akhirnya pulang menuju ke kediaman pribadi milik Okta.
Diperjalanan pulang ayah Okta tiba-tiba menelpon;
"Halo ayah."
Ya, halo Oktav, kudengar kamu sudah keluar dari hotel barusan.
Bagaimana kabar Wilona sekarang?
" Benar ayah, Kemarin sore demamnya sudah turun, dan sekarang kami dalam perjalanan pulang."
Apa tidak sebaiknya tinggal rumah ayah sementara dulu sebelum ke rumahmu, Disinikan ada banyak pelayan yang akan membantu keperluan Wilona.
"Ah...sudah tidak apa-apa ayah, tenang saja, aku yang akan merawatnya sendiri."
Cih bisa-bisanya bicara seperti itu. Batin Wilona sambil melirik dengan muka masam.
Kamu yakin? Bagaimana kalau suster Maria ayah suruh datang kesana saja?
"Sudah ayah, tidak perlu kawatir, kondisi Wilona sudah sangat baik sekarang. Benar kan sayang?
Mendekatkan hpnya agar suara Wilona terdengar.
"I-iya, hahaha tenang saja (memaksa senyumnya), ayah tidak perlu khawatir.
Sudah ada suami yang akan merawat saya, itu sudah cukup, hahaha ... ." sambil tepuk jidat menggelengkan kepala seolah-olah menyesal berkata demikian.
Judika yang duduk di depan sambil membawakan kendaraan melirik ke belakang sebentar dari cermin mobil, bibirnya nampak sedikit tersenyum melihat kelakuan nyonyanya.
Baiklah kalau begitu, kalian berdua jangan lupa istirahat ya di rumah.
"Baik ayah." sahut Okta.
●●●●●
Sesampainya di depan rumah, Wilona di sambut dengan pemandangan yang normal baginya.
Pintu gerbang besar yang menjulang tinggi, dijaga oleh dua orang petugas.
Tampak rumah bertingkat berdiri kokoh nan megah denan nuansa berwarna gelap yang memiliki jendela dengan ukuran besar di ujung sana.
Mobil melaju masuk diiringi taman dengan pohon yang berjejer rapi, hamparan rumput yang luas menggoda, berbagai tanaman dan pohon yang dibentuk sempurna oleh tangan para ahli taman, membuat segala sesuatu menjadi terlihat sempurna dan sangat memanjakan mata.
Di sebelah rumah tampak terdapat kolam dengan batu hitam bersusun yang di aliri air, suara gemericik air membuat semua tampak lebih hidup. Tidak jauh dari kolam terlihat kursi panjang berwarna putih dan tiang lampu menanti siapa saja yang ingin duduk disana.
Bangunan rumahnya bahkan tergolong bangunan yang unik, tidak terlihat punya banyak ruangan, namun tampak megah, tidak seperti kebanyakan rumah-rumah elit di sana dimana biasanya terlihat jejeran jendela yang terlihat dari luar. Ini pertama kali Wilona datang ke rumah Okta dan terkagum-kagum melihatnya.
Sesampai di depan pintu rumah, seperti biasa Judika melangkah lebih awal, membuka pintu dan mempersilahkan tuan dan nyonyanya lewat dan memasuki rumah.
Okta sudah masuk lebih dahulu, ia langsung menuju ruangan dimana terdapat kulkas untuk mengambil sebotol air mineral. Ia bahkan berjalan dalam diam tanpa mempedulikan kehadiran Wilona disana.
Sedangkan Wilona termangu, cuma bisa berhenti di depan pintu masuk, mulut ternganganya tertutup kedua tangan dengan sempurna dan matanya bergerak gerak ke kanan kiri melihat semua ornamen yang terpanjang berkelas di dalam rumah Okta.
"Nyonya silahkan masuk, saya akan mengantar nyonya menuju ke kamar." ujar Judika dengan sopan.
"Ah, iya terimakasih Judika." Wilona terheran-heran berjalan pelan sambil melihat-lihat segala ornamen dan perkakas rumah yang begitu mewah dan menarik di pandang mata.
Mereka berdua ( Judika dan Wilona) kemudian naik kelantai dua.
__ADS_1
Di lantai atas Terdapat tiga kamar. Tampak ruang santai berada antara kamar pertama dan kedua.
Ruang santai itu pun terlihat berkelas, terdapat rak dengan berbagai macam deretan buku yang tersusun rapi, satu buah kursi baca yang sangat nyaman dengan tiang lampu baca dengan warna senada di sebelahnya.
Sofa yang tertata rapi, disambung dengan balkon yang pintunya sengaja dibuka lebar.
Seketika semilir angin berhembus mengenai jendela, mampir menarikan tirai tipis kesana kemari, kembali lukisan besar terpajang manis di dinding.
Wilona berjalan di belakang Judika , dan pada akhirnya sampailah Wilona pada suatu kamar dengan pintu berwarna coklat tinggi besar dari kayu yang dilapisi sehingga tampak mengkilat, tak satupun terlihat debu berani menempel di sana. Ya itu adalah kamar milik Wilona.
"Nyonya, ini kamarnya." Judika membantu membuka pintu dan Wilona pun masuk kedalamnya untuk melihat-lihat sebentar.
"Eh, Jud, maaf ya, kenapa disini sepi sekali, dimana yang lain dan para pelayan?" tanya Wilona.
"Pada awalnya disini memang ada tiga pelayan, namun semenjak persiapan menikah sampai saat ini tuan Okta memutuskan untuk tidak di bantu lagi.
Hanya tiga hari sekali petugas kebersihan datang untuk merawat rumah dan taman." kata Judika sambil tersenyum.
"Ooo jadi begitu, hmmm...rumah ini tergolong simpel ya, bangunannya keren sekali, tapi terlihat sepi." Sambil manggut-mangut melihat sekitar rumah dari lantai dua.
"Benar nyonya, rumah ini di desain khusus oleh rekan Tuan Okta yang tinggal di Perancis.
Mari nyonya saya antar untuk melihat-lihat ruangan di bawah. "
"Baik." Wilona meletakkan tas tentengnya di bed dan berjalan mengikuti Judika menuruni tangga.
Setelah menjelaskan semua ruangan, Wilona kembali naik ke kamarnya untuk mandi dan istirahat, sedangkan Judika masuk menuju ruang kerja tuannya.
"Tuan, besok ada rencana rapat pukul satu siang yang dihadiri oleh tuan Henry ( adik tiri Okta )."
Seketika Okta yang sedang menulis menghentikan gerakan tangannya, berfikir sebentar.
"Jud, sebelum rapat besok, panggil Manajer keuangan bertemu saya! Sekarang kamu bisa pulang."
Okta masih sibuk di ruang kerja sedang Wilona yang berada di kamar mencoba menata barang-barang pribadinya.
Ditemukan pula koper pribadi miliknya yang ternyata sudah lebih dahulu ada di kamar.
Aaahhh ini dia, jadi sini yah barang-barang dan koperku, seandainya ini ada di hotel kemarin, tragedi demam dan kemarahan si kepala batu tidak mungkin terjadi.
Buru-buru Wilona membuka koper miliknya dan mengeluarkan bingkai foto kesayangannya foto ayah dan ibu yang menggendong Wilona saat masih balita.
Wilona duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap-usap foto kesayangannya itu.
Tuhan, tolong jagai orang-orang yang kucintai. ( Wilona membayangkan wajah ayah dan dua sahabatnya)
Kemudian memajang foto di meja sebelah tempat tidurnya, mengambil handuknya dan bersiap untuk mandi.
Setelah selesai mandi saat Wilona berjalan kembali ke kamarnya, terdengar percakapan dari arah tangga, tanpa sadar Wilona berhenti dilihatnya dan ternyata terdapat Okta yang sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel-nya.
Wilona buru-buru masuk ke kamar, menutup pintu dan mendekatkan telinganya di balik pintu.
Iya bersabarlah, aku akan segera menemuimu dalam waktu dekat.
Apa kamu sudah makan?
Hahaha iya kubiarkan dia tinggal disini, tapi kamu tidak perlu kawatir.
...
Dia?... tidak ada seincipun yang menarik darinya.
__ADS_1
Aku hanya menganggapnya benda mati disini.
Hmmm jaga terus kesehatanmu ya..
Hmmm kamu juga mimpi indah.
OK Bye. Begitulah yang di dengar Wilona.
" Dia pasti bicara dengan wanita yang ada di ponselnya ... wanita dengan rambut panjang yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri waktu itu.
Tapi apa? benda mati? aku juga punya hidung dan bernapas disini, dasar manusia kejam." kesal Wilona.
Lalu terdengar Okta menutup pintu kamarnya.
"Hmmm, terserahlah urusanmu, aku mau istirahat saja." Wilona berjalan menuju tempat tidur dan segera berbaring.
Wah nyamannya ....
Ia lalu menutup dirinya dengan selimut tebal.
"Waaah, semoga hari besok berjalan lancar."
Wilona merentangkan tangan ke atas kemudian merapikan posisinya di bawah selimut, memalingkan wajah dan menatap foto ayah dan ibunya yang terpajang ke arahnya.
Matanya akhirnya teralih menyusuri melihat langit-langit kamar, Wilona teringat kembali pertemuan pribadinya bersama Okta sebelum mereka menikah.
Flashback
pertemuan Okta dan Wilona (Pertemuan pertamanya adalah pertemuan antar keluarga, jadi mereka berdua hanya terdiam saja mendengar percakapan orang tua yang tampak akrab)
Pertemuan kedua adalah pertemuan pribadi Okta dan Wilona.
Okta secara khusus mereservasi semua ruangan, sehingga saat bertemu, hanya di isi mereka berdua di dalamnya.
Semua tampak sepi dan lengang hanya ada alunan musik dengan suara piano yang terdengar mengisi ruangan.
"Aku menyetujui pernikahan itu."kata Okta sambil meminum air putih yang sudah di sediakan di meja, memulai pembicaraan.
Wilona kaget dengar pernyataan itu kemudian berkata, "Maaf ya, saya tidak setuju dengan pernikahan itu, karena saya sudah punya kekasih ." balasnya.
"Kamu serius? Banyak wanita diluar sana yang rela meninggalkan kekasihnya dan berebut posisi untuk menjadi pasanganku." Berkata dengan sombongnya.
Ih apa sih, justru yang seperti kamu orang yang paling aku hindari.
Wilona dibuat illfeel seketika itu juga, menatap orang di depannya yang berkata dengan begitu sombongnya.
(masih ingat kan, saking seringnya baca novel Wilona berprinsip tidak akan tertarik hanya dari segi fisik dan materi, karena itu ketampanan dan kesempurnaan Okta tidak sama sekali membuat dia tertarik ^^)
"Sembilan bulan!" ujar Okta singkat.
"Hah, apa?"
Apa maksudnya tiba-tiba dia mengatakan sembilan bulan.
Wilona terdiam sesaat mencoba mencerna perkataan Okta.
Sedangkan Okta dengan pandangan yang serius menatap wajah Wilona yang tampak kebingunan.
...
Bersambung
__ADS_1
Halo semua, terimakasih sudah mau mampir dinovel ini ya, jangan lupa setelah membaca klik ♡ dan dukung author dengan kasih vote sebanyak-banyaknya, lewat poin yang kalian kumpulkan secara gratis