
"Tian, masuklah." Pinta Wilona
Bastian sempat berpikir sebentar dan;
"Em, maaf Wilona, aku sekarang sudah tidak berani lagi bertamu di keluargamu, aku rasa ... aku tidak pantas." Jelas Bastian.
"Tapi ... perjalanan pulang panjang, kamu perlu istirahat Tian."
"Iya, nanti saja, kalau aku merasa lelah aku akan istirahat."
"Tidak ... ayo!" Wilona kemudian menarik tangan Bastian, tidak ke rumah bibi, melainkan mereka mampir di sebuah warteg yang tidak jauh dari rumah bibinya.
"Setidaknya kamu harus istirahat dan makan dulu."
Bastian pun memandang Wilona dengan kasih.
"Baiklah."
Wilona pun memesan nasi rames dan teh hangat untuk Bastian.
Dia melihat semua menu yang ada di dalam warteg, tiba-tiba saja Wilona teringat pada menu-menu makanan yang akhir akhir ini ia santap. Menu yang berkelas dengan penataan yang sangat rapi, bahkan hiasan makanan pun sangat diperhatikan secara detail, berbanding terbalik dengan yang saat ini ada di hadapannya.
Hm ... semuanya tampak jauh berbeda, disini penuh dengan kesederhanaan dan kehangatan.
Terlebih kamu Tian, dengan menu ini kamu sudah sangat bersyukur, pikiranmu, perkataanmu semuanya berbanding terbalik dengan Okta. Dan lagi ... HAH? Kenapa aku bisa memikirkan manusia kejam itu sekarang?
Tidak ... tidak ... dia tidak selevel denganmu.
Mereka pun menyantap makan bersama. Wilona sementara waktu menemani Bastian dan akhirnya mereka masing-masing berpisah.
●●●●●
Kantor Okta
"APA, SEMUA DATA PALSU!"
"Benar pak. Setelah tim pencari data diam-diam menjadi salah satu staf di sana pak." Tutur sekertaris Okta.
__ADS_1
Begitulah yang terjadi di pagi itu. Okta marah besar setelah menerima laporan dari sekertaris.
Selama ini ternyata laporan yang disampaikan di salah satu anak cabang perusahaan yang di pegang Okta adalah data palsu.
Kenyataan pahit harus ditelan Okta saat itu, nilai sahamnya ikutan anjlok, bahkan jatuh dan hampir menuju kebangkrutan.
"BAWA SEMUA PETINGGI DI SANA MENGAHADAP!" Kata Okta dengan nada tinggi.
"Pak, saya minta maaf sekali lagi. Tim penyidik juga saat ini sedang dalam pencarian, dua pelaku utama saat ini sedang kabur."
"GILA ... MAU MATI MEREKA". sekali lagi Okta menumpahkan amarahnya.
Mata Okta beralih ke arah Judika. "Jud, pastikan mereka berlutut disini dan jadikan penjara sebagai rumah terakhir mereka!"
Sekertaris yang mendengar perintah Okta menjadi bergidik ngeri. Tak disangka dia melihat Pak Dirut sangat marah besar. Dia juga tahu, bahwa masalah intern ini mempengaruhi nasib Dirut suatu saat nanti, apakah dia akan menjadi Presdir kedepannya atau tidak.
"Bu Kartika, silahkan anda bisa keluar." Pinta Judika pada sekertaris yang berdiro kaku di depan Okta.
Dengan terburu-buru Bu Tika menundukkan kepala dan segera keluar, sesampainya diluar bu Tika masih saja tampak kaku, berusaha memijat batang lehernya yang terasa tegang sambil mengatur nafasnya.
*BRAKKK*( memukul meja )
Jud, apa kamu juga tidak mengetahui ini semua hah?"
"Maaf atas ketidaktahuan saya tuan."
"Aku tidak akan melepaskannya, aku pastikan tidak akan melepas mereka." Okta berkata-kata sendiri sambil meremas tangannya keras-keras.
Judika hanya diam saja membiarkan tuannya melampiaskan emosinya.
Berani sekali mereka bertindak bodoh. Cih, data palsu?.... Tenang tuan, aku akan memberi dia pelajaran bahkan sebelum bertemu dengan tuan.
Ya begitulah yang terjadi, anak perusahaan yang di dirikan Okta dipercayakan pada dua orang untuk memimpin.
Karena berada di daerah yang berjauhan dari kantor pusat, Okta hanya bisa memantau dengan laporan-laporan yang diberikan setiap kali pertemuan , kedua orang itu selalu menunjukkan prospektif yang sangat baik di hadapan Okta.
Ternyata mereka adalah pembohong besar.
__ADS_1
sejumlah uang dan data palsu di sajikan.
Dan kenyataanya saat ini mereka kabur dari perusahaan.
Selain mendapat kenyataan bahwa mereka membuat laporan palsu, korupsi dan saat ini kabur menghilang. Ternyata di dapati laporan bahwa mereka juga terlibat kasus melecehkan karyawan wanita.
*Kring-kring* telepon kantor berbunyi.
Judika mendekat dan mengangkat segera.
"Ya bu Tika."
Pak Judika, Pak Wahardian ingin berbicara dengan Pak Okta sekarang. kata sekertaris melalui jaringan telepon.
"Baik bu,sambungkan.
Tuan, Tuan Wahardian ingin bicara."
Okta memijit kepalanya dan segera berjalan menuju meja utama.
"Ya Presdir."
Aku dengar kabar anak cabang sedang dalam masalah besar. Kamu yakin bisa menyelesaikannya?
Okta menutup mata dan menghela napas.
"Ya, Presdir saya akan selesaikan dengan segera."
Aku masih percaya padamu Okta.
"Baik." Okta menutup telponnya.
Pagi Itu Okta menerima suatu kenyataan pahit. Kemarahannya menjadi berlipat ganda karena dia benci sekali mendengar berita yang membuat nama Wahardian jatuh.
●●●●●
**Bersambung
__ADS_1
Hai semua, akhirnya kita lanjut lagi...mungkin hari ini akan saya munculkan 3 episode...semoga waktunya cukup ya**..