
Jesika, Jojo dan satu karyawan kedai sudah lebih dahulu meninggalkan lokasi.
Hanya tertinggal mobil Okta dan mobil Bastian.
Dengan langkah perlahan Wilona mendekati Okta.
"Maafkan saya Pak ... kali ini, saya akan pulang bersama Bastian." perlahan pandangan Wilona mengarah kepada wajah Okta.
Okta hanya terdiam memandang Wilona, dia tertawa sambil memiringkan kepala, seolah tak percaya pada apa yang didengarnya barusan.
"Kemana?" tanya Okta masih dengan senyum anehnya.
"Ada perlu ... sebentar ... Permisi." jawab Wilona.
Wilona segera berlalu menuju mobil Bastian, lalu masuk ke dalam, Bastian menutupkan pintu bagi Wilona dan ia berjalan sambil menatap Okta menuju bangku kemudi.
Mereka melaju terlebih dahulu menyisakan mobil Okta di tempat parkir.
Pandangan Okta hanya tertuju pada mobil yang dinaiki Wilona menjauh menyusuri jalan.
Seolah tak percaya dan kecewa hari itu, Okta kembali tertawa.
Entah kenapa bukan tampang marah seperti biasanya yang di tunjukkan Okta, tapi tertawa. Apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya, tapi itu seolah tampak lebih mengerikan.
Memang bukan ini yang ku harapkan, namun sekalipun begitu, semoga tuan mengerti bahwa nyonya Wilona adalah pribadi yang berharga.
Begitulah yang ada di pikiran Judika setelah melihat kejadian saat itu.
Okta masuk ke dalam mobil dan berkata;
"Kejar dia!"
"Baik Tuan...."
Dengan keterampilan Judika mengendarai mobil, sudah bisa dipastikan dia bisa segera mengejar mobil Bastian. Mereka akhirnya berhenti di tepi jalan.
Wilona segera keluar dan berkata pada Okta yang juga keluar saat itu.
"Ada apa?" tanya Wilona.
"Jam berapa kamu pulang?"
"Hal seperti ini ... bukankah bisa lewat telepon saja Pak?"
"Pertanyaanku adalah jam berapa kamu pulang?"
"Saya tidak tahu pak, tapi saya tidak akan melupakan peringatanmu itu."
"Jus-justru itu ..., aku ... aku harus makan apa nanti?"
Judika menutup matanya mendengar alasan aneh tuannya.
Bastian yang di dalam mobil juga tak percaya alasan yang terlontar dari mulut Okta.
Dia lalu membunyikan klakson mobilnya.
*Diiin-diiin*
"Hey ... diam kamu!" jawab Okta dengan wajah menantang, sambil memasukkan tangannya pada saku celana untuk menahan dirinya.
"Pak Okta ....!
Pak Okta makanlah diluar dahulu." pinta Wilona.
"A-apa?"
Wilona menghela napas dan berlalu.
"Saya ... permisi."
Namun secara spontan tangan Okta mencegah Wilona dengan menahan lengan Wilona tanpa ia sadari.
Bahkan Okta sendiri pun tidak tahu setelah ini dia mau berkata apa lagi.
Di-dimana harga diriku. Batin Okta.
lalu ia melepaskan genggamannya dengan segera.
Wilona kembali masuk ke mobil dan mereka berlalu begitu saja.
Maaf ... aku sudah terlebih dahulu janji padanya Okta... tapi sesungguhnya, aku memang ingin kamu merasakan apa yang kurasakan selama ini.
Tidak ... bukan ... aku tidak cemburu, tapi perasaan disepelekan memang tidak enak sama sekali.
Dan itulah yang ku rasakan ketika kamu bersama Leony. Maafkan aku Okta.
Wilona kembali berlalu sambil melihat Okta yang masih berdiri melalui kaca mobil yang ia tumpangi.
Kala itu, matahari mulai surut dan lampu kota mulai menyala menerangi jalan.
"Jud ... antarkan aku ke bar Winston saja."
"Baik tuan."
Tuan ke bar lagi ? ya ampun... seperti apa sebenarnya perasaanmu itu tuan ?
__ADS_1
Waktu itu Judika teringat tuannya pernah berkata di dalam bar itu.
Hm ... entahlah, seperti ada sesuatu yang tertahan disini." terang Okta sambil menunjuk dadanya.
▪▪▪▪
Di Bar Winston
Okta berjalan di dampingi Judika masuk kedalam bar.
Tak disangka mereka bertemu dengan Leony disana.
Leony kaget melihat kedatangan Okta, begitupun sebaliknya. Selama ini Okta tahu bahwa Leony sama seperti dirinya, tidak suka dan tidak bisa mengkonsumsi alkohol.
"Ony ...?"
"Ha-haiiii sa-sayang." Leony buru-buru menyimpan ponselnya kedalam tas kecil yang ia taruh di meja. Hanya Judika yang sadar dengan gerak-gerik Leony.
"Sedang apa disini?" tanya Okta.
"Hanya reuni dengan seorang teman... tapi dia sudah pulang se-sejak tadi."
Okta lalu duduk bersebelahan dengan Leony.
"Jud ... maaf satu gelas saja." pinta Okta dengan nada lesu.
(Seperti anak yang ijin pada ayahnya, agar tidak di marahi, untuk apa juga Okta minta maaf pada Judika^^)
"Baik Tuan."
Mengapa tuan jadi segan padaku hanya karena ingin minum minuman ini.
▪▪▪▪▪
Bastian dan Wilona
Sebaliknya Bastian mengajak Wilona makan di restauran dimana terjadi perkelahian antara dirinya dan Okta sebelumnya.
"Tian ... kamu tidak bercanda kan, membawaku kesini?"
"Tidak."
"Ini tempat mewah, mobilmu juga baru. Sebenarnya dari mana semua ini? tanya Wilona penasaran.
"Masuklah dulu, nanti kuceritakan."
"Tapi ... tunggu, kamu lihat sendiri kan, aku hanya berpakaian seperti ini?"
Mereka berdua akhirnya menyantap dan menghabiskan makanan di meja.
"Wilona ... aku senang bisa melihatmu kembali sedekat ini."
"Hm..."
Aku juga Tian ... namun aku harus tahan untuk tidak mengatakannya didepanmu.
"Aku sudah naik jabatan dua minggu kemarin. Aku di angkat menjadi kepala bagian Produksi. Karena itulah aku berani mengajakmu makan disini.
Sungguh aneh, seorang sederhana sepertiku mengajakmu ketempat seperti ini, benarkan? "
"Hahahaha ... iya benar sekali. Bagiku tidak menjadi masalah mau makan dimana saja, tapi disini benar-benar aneh." jawab Wilona sambil tersenyum
Senyum Bastian merekah setelah melihat wajah Wilona yang tertawa.
"Bagaimana dengan pernikahanmu?"
*Deg*
Kenapa dia bertanya begitu?
"Menikah harus dilandasi oleh cinta dari kedua belah pihak, bukankah begitu?" Tanya Bastian.
Tian ... apa maksud pertanyaanmu? batin Wilona
"Ona kali ini, aku akan serius bertanya...
apa kamu mencintainya?"
"Oh itu... ten-tentu saja." jawab Wilona.
"Ona ... kamu tahu luka ini?" Bastian menunjuk lebam di wajahnya.
Apa hubungannya luka dan pernikahanku. Haaah
"APA? Jadi? tunggu luka-luka itu?"
"Benar ...
Ditempat ini aku mendapatinya bersama dengan wanita lain."
*Deg*
Wilona terkejut dan terdiam.
__ADS_1
"Aku tidak terima dia tega bermain api dibelakangmu.
Rasa sakit di wajah ini ... tak sebanding dengan apa yang ia lakukan pada kita."
Wilona menutup mulutnya.
▪▪▪▪▪
Flashback
Saat itu Bastian mentraktir rekan kerjanya berhubung dia mendapat penilaian baik dan naik jabatan.
Sebuah lokasi Restoran request dari rekan kantornya, membuat mereka berjanji kumpul dan bersenang-senang malam itu.
Saat hendak masuk ke ruang makan. Bastian sepintas melihat tubuh Okta berlalu menuju ke toilet.
Karena diliputi rasa penasaran, ia menunggu di sudut ruangan, memastikan kebenaran pikirannya.
Dan benar saja;
Apa yang ia lakukan disini! Bastian mulai mencurigai sesuatu.
Saat Okta membuka pintu ruang makannya, disitulah Bastian melihat seorang wanita yang duduk sendiri dan tersenyum pada Okta.
Bastian tak percaya akan apa yang ia lihat, dia berjalan mendekati ruang makan Okta, dan melihat dari sela pintu yang tak tertutup rapat.
Seorang wanita yang membelai rambut pria sialan itu.
Sudah gila dia ...
Dengan kemarahan besar, Bastian masuk dan terjadilah perkelahian itu.
▪▪▪▪▪
"Kenapa kamu harus memukulnya." tanya Wilona.
"Apa? tunggu ... ? Aku ... tidak salah dengar?"
Wilona terdiam.
"Seharusnya bukan ini pertanyaanmu ...seharusnya kamu bertanya siapa wanita itu dan apa yang ia lakukan dengan suamimu.
Atau tunggu ... jangan-jangan ... kamu memang sudah ..."
Wilona kembali menggelengkan kepalanya.
*Brak* Tian menggebrak meja.
"Laki-laki sialan."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan pernikahan kalian?
Kamu bahagia?
Kamu mencintainya?
Kamu sayang padanya seperti padaku?"
Wilona hanya terdiam mematung memandang meja makan.
"Wilona jujurlah padaku ... aku mohon!!
banyak hal yang bisa ku baca dari sorot matamu itu."
"Aku mencintainya." Ucap Wilona cepat.
"Sungguh? ... Bahkan kata yang kamu ucapkan barusan inipun, aku tahu Ona."
Wilona kembali menggelengkan kepala.
"Aku akan memilikimu lagi.
Aku berjanji pada diriku sendiri akan mengejarmu kembali. Aku pastikan dia menyerah dan melepaskanmu."
"Tian kamu berlebihan, jangan bertindak seperti itu. Hubungan kita sudah berakhir." jelas Wilona sambil memegang lengan Bastian.
"Lalu kamu mau apa? rumah? mobil? kekayaan seperti dia?"
"Aku bukanlah wanita seperti itu, kenapa kamu tiba-tiba ...."
Lalu Bastian memutus pembicaraan, "Ya ... maka dari itu aku penasaran ada apa dibalik semua ini. Hati dan nuraniku ini mengatakan ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
Mendengar itu Wilona hanya mencelos, tak dapat berkata apa-apa.
Tian lalu memegang lengan Wilona.
"Hanya aku yang bisa bahagiakanmu Ona, hanya aku.
Karena itu ... tekadku sudah bulat.
Aku tidak akan berhenti sampai ia menyerah dan membuatmu kembali."
●●●●●
Bersambung
__ADS_1