
Kunjungan ke panti jompo biasa di lakukan tim kedai ayah setiap empat bulan sekali, begitu juga ke panti asuhan.
Kali ini jatah mereka datang ke panti jompo.
Wilona ditemani Jojo, Jesika dan satu karyawan kedai ayah berangkat dari rumah dengan membawa aneka macam roti dan sedikit keperluan lansia.
Sayangnya Petra terpaksa tidak hadir karena sedang sibuk dengan kegiatan kuliahnya.
Memang kebiasaan ini selalu dilakukan di kedai ayah bahkan sejak kedai ayah ini didirikan oleh mendiang kakek dan nenek ayah, menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk mereka yang membutuhkan.
Sesampai di tempat, mereka bertemu dengan Bastian yang sudah datang lebih dahulu, lengkap dengan gitar yang diletakkan sebelah tempat duduknya.
Tian saat itu sedang berbincang dengan seorang kakek tua yang duduk di atas sebuah kursi roda.
"Tian ... kau sudah datang?" sapa Wilona dengan tatapan lembutnya.
"Hai Tian." Sapa Jesika yang turut masuk kedalam sambil membawa bungkusan. Jojo dan satu karyawan lain hanya diam saja sambil bolak balik mengeluarkan makanan dari dalam mobil.
Wilona mendekat dan melihat wajah Bastian juga terdapat luka lebam.
"Kenapa ini?" tanya Wilona dengan wajah khawatir.
"Ah bukan apa-apa. Hanya tergelincir dari motor saja saat itu."
Kenapa semua laki-laki yang kutemui penuh dengan lebam dua hari ini. batin Wilona.
Wilona dan rekan semua ikut bersukacita melihat senyum dan tawa dari wajah kakek dan nenek disana.
Saat Wilona mengambil barang di ruang lain Bastian turut berdiri membantu Wilona.
Inilah saat kesempatan mereka bisa berdua tanpa orang lain disana.
"Senang rasanya bisa bertemu lagi dengan kegiatan seperti ini ya?" ucap Bastian.
"Benar." kata Wilona sambil mengigit bibir bawahnya tanpa sadar.
Bastian kemudian menyentuh bibir Wilona memakai jarinya dengan lembut.
"Ona, hilangkan kebiasaanmu ini."
"Hm?"
Wilona sebenarnya tidak sadar melakukan itu, setiap ia bertemu Bastian kebiasaan itu muncul begitu saja. Itu tanda diluar kesadarannya ketika ia tertarik dengan orang lain.
"Ada apa?" tanya Wilona sekali lagi.
__ADS_1
"Tidak ... nanti sesudah acara aku ingin mengajakmu keluar."
"Tapi ... teman-teman?"
"Aku mohon ... ada sesuatu hal penting yang ingin kusampaikan."
"Apa itu?"
"Nanti saja ... ayo segera bawa barang ini keluar."
Mereka kembali melanjutkan acara.
Beruntung ada Bastian disitu sehingga suasana jadi lebih hidup, dengan gitarnya ia memainkan lagu-lagu klasik kesukaan para lansia.
🎵
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Inginku kenang selalu ....
🎵
semua bersukacita disana.
Mereka juga turut serta dengan kegiatan para Lansia
Ada yang membuat telur asin, membuat keset, membuat anyaman untuk tas.
Sedang Jojo di luar tidak bergabung karena sibuk membantu petugas panti menyiapkan menu makan siang.
Wilona lalu menghampiri Jojo di dapur.
"Jo ... terimakasih banyak ya."
"Untuk apa?"
"Kau sudah bantu menggantikan ayah disini. Biasanya ayah akan sibuk di dapur dan membantu petugas panti. Betul kan mba?" tanya Wilona pada mbak petugas panti.
"Betul ... tapi kalau ini, mbak lebih seger lihatnya, karena yang datang masih muda, ganteng lagi.
Duh ... ada ya orang seganteng ini." kata mbak petugas panti.
__ADS_1
"Yah ... sayangnya mbak udah menikah ... kalo belum bisa nih." rayu Jojo dengan gelak tawanya.
"Ah ... mas Jojo bisa aja." kata petugas panti tersipu.
Hahahaha ... gelak tawa ternyata terjadi juga di dapur.
"Mbak Wilona ... seandainya ngga sama mas Tian ... kayaknya cocok nih sama mas Jojo." dengan polosnya mbak panti bercerita tanpa ada yang tahu bahwa Wilona sudah menikah.
Wilona dan Jojo hanya terdiam sambil bertatapan ... lalu mereka tertawa bersamaan.
"Yah ... sayang sekali ya mba." jawab Jojo pada mbak petugas dengan muka yang dibuat sedih.
Makan siang pun di mulai.
Mereka sudah bersiap di meja makan. Jojo membantu mbak petugas, membawa troli yang berisi dengan nasi dan lauk, lalu mereka menyusuri bangku menaruh lauk di masing-masing piring para lansia.
Lalu tiba-tiba dari luar datang sepuluh mobil box disertai mobil hitam yang sepertinya itu tidak asing bagi Wilona.
Wilona berdiri di samping pintu, berpikir sejenak dan ...
Tunggu ... mobil Okta?
Wilona membelalakkan mata sambil memastikan kebenaran perkiraannya, karena jujur dia tidak hafal plat mobil Okta.
Tangan Wilona yang memegang pintu lalu terkulai setelah melihat Judika keluar dari dalam mobil.
Ju-judika?
Wilona melihat Judika turun dan membukakan pintu mobil di belakangnya.
Kali ini giliran Okta yang turun lengkap dengan setelan jas sempurnanya persis seperti saat mereka berangkat kerja tadi pagi.
Sedang apa mereka berdua ... kenapa kesini??
Wilona berkali-kali mengedipkan mata.
Lalu beberapa ajudan keluar sambil mengeluarkan isi box.
Para petugas panti dibuat bingung, karena kedatangan barang sebanyak dan semendadak itu.
●●●●●
**BERSAMBUNG
Ayo dukung authormu dengan tinggalkan ♡ dan vote juga** ^^
__ADS_1