
Pagi itu berangkatlah Wilona menuju kedai.
Sampai di depan kedai terlihat dari balik jendela, rekan kerja seperti menanti kedatangannya.
Mereka berdiri berbaris membuat Wilona tersenyum senang dan semakin melangkahkan kaki dengan cepat ke dalam.
"Selamat datang." Mereka kompak mengatakannya. Wilona menaruh tasnya di lantai dan segera memeluk mereka.
"Wah yang dari Paris hepi banget niii."
"Iya, wangi nya juga beda." Sapa karyawan yang lain.
"Benarkah? Ah tunggu sebentar." Wilona kembali mengambil tasnya di lantai dan segera membagikan oleh-oleh pada mereka.
Mereka masing-masing mendapat parfum mini, gantungan kunci dan berbagai macam makanan ringan.
Semuanya tampak senang sekali menerimanya.
Lalu mereka melanjutkan kembali briefing, doa dan berpencar ke masing-masing tugas sebelum kedai di buka.
"Ayah, aku taruh oleh-olehnya di kamar ya."
"Ya, terimakasih Ona."
Wilona segera naik ke atas. Dan menaruh oleh-oleh untuk ayahnya lalu kembali turun dan melanjutkan kerja.
Wilona tidak melihat kehadiran Jojo di situ.
"Ayah, Jojo kuliah ya?"
"Iya, dua hari ini dia ijin tidak kerja katanya ada ujian akhir."
"Ooooh, pantas saja biasanya di depan sudah rame anak sekolah."
"Hahaha, iya, kedai juga tidak seramai biasanya."
"Wah-wah ayah harus kasih penghargaan kalo begitu, hahahaha."
Kenyataannya kedai memang tidak seramai biasanya. Wilona pun menyetel lagu-lagu santai supaya pengunjung semakin betah dan bisa bersantai di kedai.
"Ona?" tanya ayah.
"Iya."
"Dua hari lagi, kamu ingat kan?"
Wilona lalu mendekap lengan ayahnya.
"Ingat ayah." sambil tersenyum.
"Ayah berharap Okta bisa datang menemanimu, tapi karena dia orang penting dan sangat sibuk, kita bisa berangkat berdua seperti biasanya.
"Iya ayah."
Maaf ayah, aku tidak berharap dia datang kesana. Dia hanya suamiku sementara, aku tidak bisa mempertemukannya dengan ibu.
Rupanya dua hari lagi adalah peringatan hari kematian ibu dan adik Wilona. Setiap tahun ayah dan Wilona selalu datang ke makam untuk memperingati keluarganya yang telah berpulang terlebih dahulu.
"Ayah ... semangat." Wilona menunjukkan wajah cerianya di depan ayah.
Melihat itu, ayah turut tersenyum, menganggukan kepala dan menepuk pundak Wilona.
"Ayo kita lanjut bekerja." Kata ayah sambil tersenyum.
"Hm..." balas Wilona.
__ADS_1
Wilona bisa merasakan kesedihan ayahnya, bagaimana waktu itu secara mendadak ia harus kehilangan istri dan anaknya, terlebih peristiwa kebakaran itu juga membumi hanguskan semua peninggalan kakek dan neneknya. Ayah harus memulai dari nol. Dia nampak tegar dan kuat di depan Wilona. Tapi sejujurnya Wilona bisa merasakan kepedihan ayahnya.
Karena itu segala upaya yang terbaik selalu Wilona berikan untuk ayah.
Wilona menghabiskan waktu panjang di kedai, jam delapan malam dia baru keluar.
Sudah naik ojek dan menunggu pak becak langganannya. Tapi entah mengapa pak becak itu tidak kunjung datang.
Haduh jam segini sudah ngga ada angkot.
Setelah menunggu sekian waktu Wilona memutuskan jalan menuju halte dan menunggu bis yang lewat.
Tak di sangka Jojo melintas dan melihat Wilona di sebrang jalan. Ia pun mendekat.
"Hai." Sapa Jojo.
"Eh, hai Jo." Wilona tersenyum senang, akhirnya ada orang di situ, memang sejak Wilona menunggu bus datang, tidak ada orang sama sekali di halte.
hanya pedagang kecil di pinggir jalan yang menemaninya.
"Bagaimana ujianmu?"
"Masih dua hari lagi."
"Terus kenapa diluar sekarang, tidak belajar?"
"Tadi aku habis cari makan.
Kamu sendiri? Menunggu bis? Mau pulang?"
"Iya, langganan becakku entah kenapa tidak datang."
"Oh ... mungkin sudah terlalu malam."
"Hm ... bisa jadi."
"Ah ... tidak, sebentar lagi bis datang kamu pulang saja, lanjut belajar."
"Iya tenang saja. Sudah ayoook sini." Tangan Jojo menarik lengan Wilona.
"Ta ... tapi kan?"
"Aku butuh teman minum kopi lalu mau lanjut belajar. Temani aku ya, please."
"Apa? Hahahaha baiklah. Demi ujianmu."
Di Kafe.
Lalu mereka menuju kafe dan memesan dua gelas kopi.
"Jo, dimana kosmu?"
"Em ... sebenarnya tidak jauh dari kedai."
"Lalu bagaimana denganmu sendiri, apakah liburanmu menyenangkan?"
Wilona lalu mengingat serentetan kejadian saat berada di Paris.
"Ya, begitulah ... hehehe, ah tapi di sana cantik sekali Jo, semua tempat sangat indah. Rasanya aku belum puas kesana."
"Begitu ya..hahaha." Jojo menyandarkan kepalanya dengan tangan dan memandangi Wilona.
"Ah iya oleh-oleh buatmu aku tinggal di kedai. Besok dari kampus mampir sebentar ya."
"Hm ... " Jojo cuma menganggukkan kepala masih memandang Wilona.
__ADS_1
"Benar ya besok harus di ambil, karena lusa kedai tutup."
"Tutup?"
"Iya, aku dan ayah ada acara, makanya besok kamu harus ambil barangnya ya."
Dan merekapun segera menghabiskan kopi lalu pulang. Kembali Jojo mengantar Wilona ke rumah Okta.
Rupanya Okta sudah pulang mengingat lampu kamarnya sudah menyala saat itu.
Dari atas jendela kamarnya Okta melihat Jojo dan Wilona saling bercengkrama sebentar lalu berpisah.
Wilona lalu masuk rumah dan melihat Okta yang berjalan menuruni tangga.
"Pak Okta sudah pulang." Sapa Wilona sambil tersenyum. Tapi tidak di balas sama sekali.
Okta diam dan berlalu menuju kulkas mengambil sebotol air minum.
Wilona menyusul ke ruang makan.
"Sudah makan pak?" tanya Wilona sekali lagi.
"Kenapa malam sekali baru pulang?" Okta membentak.
Hah...ini ada apa...tunggu ada apa ...sebentar...sebentar.
(Wilona mencoba berpikir, mencerna mencari penyebab Okta menjadi emosi malam malam begini)
Tunggu tadi pagi sudah aman... iya tadi pagi aman...lalu??? Haduuhhh.
"A-ada apa ya pak?"
"Ada apa? Huh.. bukannya sudah ku bilang perempuan itu harus bisa jaga diri. Kenapa baru pulang jam segini?"
Oh ... jadi karena pulang kemaleman....
Wiloma bernapas lega.
"Pak Okta kedai ayah buka dua shift dan paling malam jam 8 baru tutup. Karena aku anaknya pemilik kedai aku bebas menentukan jam pulang. Jadi selama kita menikah ini memang aku pulang lebih awal."
"Kamu tidak lihat ini jam berapa, cih seharusnya kamu langsung pulang saja."
Wilona menghela napas, malas menceritakan dari awal kenapa dia bisa pulang di antar Jojo, karena akan terlalu panjang dan sudah pasti akan dibantah lagi dan lagi.
"Hm... iya.(Wilona mengalah supaya tidak berlarut-larut)
Eh, Pak ... Dua hari lagi apa ada acara?"
"Tentu saja, aku adalah orang paling sibuk di dunia ini." jawab Okta sombong.
Wilona memicingkan matanya.
"Yasudah. Hm ... Aku naik dulu." Wilona berlalu meninggalkan Okta.
Aku juga tidak berharap kamu datang... sama sekali ...
Cih ... ada apa dia emosi begitu.
batin Okta.
(haduh ... sebenarnya yang emosi kamu Okta >,<)
●●●●●
Bersambung
__ADS_1
Episode setelah ini baru bisa terbit jam 7 malam ya, karena masih banyak yang harus di edit plus beres2 pekerjaan rumah.♡♡♡♡♡