
Hari pelantikan pun tiba. Semua stasuin tv berusaha mencari posisi terbaik untuk bisa menangkap momen terbesar itu. Suatu kebanggaan anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia, membawa perusahaan yang sangat bergengsi di kancah dunia internasional.
Dan tibalah, prosesi penyerahan jabatan dari tangan Wahardian ke tangan Okta.
Entah mengapa tidak ada wajah ceria terlihat pada raut wajah kedua ayah dan anak itu.
Meskipun begitu semua acara berlangsung dengan lancar dan meriah.
Pesta itu pun di bawa sampai nanti malam. Para karyawan berkumpul untuk menikmati jamuan pesta yang di selenggarakan oleh Grup Wahardian.
Berbagai karangan bunga berjejer rapi di sepanjang jalan, bahkan sampai di dalam gedung karena saking banyaknya.
Ucapan selamat tak henti mengalir sepanjang acara, berbagai kalangan pejabat pemerintahan bahkan dari duta besar mancanegara pun turut serta memberikan ucapan selamat itu.
Tak ketinggalan sosok Leony dengan pakaian mewahnya hadir di sana, sekalipun tak banyak pihak yang mengetahui keberadaannya.
Hari itu Leony berusaha untuk mendekati Okta, namun usahanya gagal. Dengan berjubel orang yang berusaha ingin mendekati Okta.
Leony menjadi tidak ada kesempatan untuk menemuinya secara pribadi atau berdampingan dengannya, hatinya sedikit kesal karena tidak ada kesempatan sama sekali.
Namun keanggunannya tak luput dari sasaran media melihat penampilan dan kehadirannya yang sangat memukau hari itu.
▪▪▪▪▪
Di kedai ayah
Dengan bangga ayah dan Wilona menyaksikan prosesi itu melalui layar televisi di ruang kedai.
Beberapa pengunjung juga memasang mata untuk melihat prosesi besar itu. Ya benar ... siapa yang tidak turut bangga, Grup Wahardian sudah sangat terkenal baik dalam segala macam produk yang di pakai khalayak ramai maupun dalam berbagai even dan bansos juga beasiswa. Kebanggaan itu bisa dirasakan semua orang.
"Kak Wilona, harusnya hadir disana?" celetuk seorang karyawan.
"Sssttt jangan keras-keras. Tidak apa-apa, aku memang sengaja tidak mau hadir disana." jawab Wilona.
Ayah menimpali, "Tapi ayah ikut senang kalau kamu hadir disana Ona. Ayah sungguh bangga akhirnya ia bisa mendapatkan posisi itu dengan jerih payahnya sendiri." ujar ayah dengan wajah sumringah nya.
Melihat wajah itu, Wilona tersenyum dan senyum itu harus hilang seketika.
Misiku sudah selesai ayah. Hari ini adalah puncak dari semuanya. Semua sudah lunas. Tak kusangka perjalanan ini begitu panjang.batin Wilona sambil kembali mengamati layar tv.
(maaf para readers, ceritanya juga jadi ikutan panjang 🙏)
....
Di kantor
Sore menjelang malam, diam-diam Okta berlalu meninggalkan acara, ia meminta Judika menjaga agar suasana pesta tetap aman kondusif.
Okta berniat menuju ke kontrakan Wilona.
Lagi-dan lagi dia berubah dengan tampilan biasanya, dengan jaketnya dan kacamatanya segera ia meluncur keluar
Rupanya penampilan itu adalah saran dari Judika, mengingat lokasi kontrakan Wilona, banyak di huni anak kalangan kampus. Judika meminta tuannya agar merubah penampilannya supaya tidak mencolok di kalangan sekitar.
Ia tidak sabar untuk segera bertemu Wilona.
....
Di mobil
Aku akan menuju kontrakanmu sekarang. ucap Okta pada Wilona melalui saluran teleponnya.
Wilona segera merapikan kembali rumah kontrakannya.
Setelah tiba dan Wilona membukakan pintu. Okta segera masuk, ia memandang Wilona dengan mata berbinar dan tiba-tiba memeluk Wilona.
"Terimakasih Ona."
"Hm ... sekali lagi selamat."
__ADS_1
"Aku tidak bisa lama-lama disini, karena acaranya berlangsung sampai malam. Maukah kau ikut?"
"Tidak. Sebaiknya aku tidak hadir disana."ujar Wilona.
Perkataan itu membuat Okta kembali teringat akan langkah berikutnya yaitu perceraian.
Okta sekali lagi memeluk Wilona, namun kali ini ia hanya bisa mendesah dan tak berkata apa-apa.
Sepertinya Wilona menyadari akan hal itu sehingga ia ingin membuat perasaan Okta membaik lagi.
"A-apakah aku cukup hangat sehingga pak Okta tidak melepaskan pelukan ini?"
Okta kembali tersenyum dan memandang Wilona dengan lembut. Ia kemudian membelai rambut Wilona dan mengamati Wilona dengan jarak yang sangat dekat.
"Benar sangat hangat. Baiklah kalau begitu aku langsung pergi."
"Hm ... semangat pak Okta. Ah tunggu, apakah Pak Okta sudah bertemu dengan Henry?"
"Belum, tapi karena kamu menanyakan terus, aku akan menemuinya dalam waktu dekat. Aku pergi dulu."
Dan akhirnya mereka berpisah.
Tak berselang lama, ada seseorang yang mengetuk pintu dan ternyata setelah dibuka Leony seorang diri berdiri di depan pintu.
(Rupanya diam-diam Leony membuntuti Okta)
"Disini kamu rupanya." uajr Leony kesal.
Wilona hanya terdiam.
"Lalu apa bedanya dengan di rumah sana, kalau kalian masih saja bertemu?"
Dengar ya, aku pastikan akan membongkar semuanya pada ayahmu setelah semua berita pelantikan ini surut."
"Kami pasti bercerai! kenapa kamu selalu saja mendesakku dan melibatkan ayah?"
"Ketika aku tahu Okta sering datang kesini, aku merasa kamu adalah wanita menjijikkan."sahut Leony.
"Dalam waktu satu minggu, kamu harus segera mengurus perceraian. Kalau tidak aku akan membuat perkara ini lebih besar lagi. Camkan itu!" Leony segera berlalu meninggalkan kontrakan Wilona.
Ya ampun ... kapan wanita itu berhenti berulah.
▪▪▪▪▪
Okta mengunjungi Henry
"Aku tahu sebenarnya kau tidak ada niat mengunjungiku sama sekali."ucap Henry saat bertemu dengan Okta.
"Benar, Wilona ... wanita itu bersikeras agar aku mau datang kesini."
"Cih ... pulanglah dan katakan padanya, permintaanmu sudah terkabul." jelas Henry.
"Bagaiamana kabarmu disini?" tanya Okta.
"Kau tidak perlu menanyakan itu padaku."
Dan mereka saling terdiam cukup lama saat itu.
"Baiklah ... aku rasa sudah cukup aku disini." Okta segera berdiri.
"Selamat atas pelantikanmu dan maafkan aku atas tindakanku selama ini." kembali Henry mulai berdiri dan berjalan menjauh masuk ke dalam penjagaan sementara Okta hanya terdiam membisu ia tidak menyangka Henry bisa berbicara seperti itu.
....
Di mobil
Pertemuan itu kembali di bicarakannya dengan Judika di dalam mobil.
"Semua ini karena nyonya Wilona tuan."
"Hah?"
__ADS_1
"Bukankah nyonya orang yang rajin datang berkunjung selain tuan Wahardian. Sepertinya kebaikan dan ketulusan nyonya, membuat tuan Henry sadar akan kesalahannya." jelas Judika.
"Ahhhhh ... benar, sepertinya yang kau ucapkan benar Jud. Ada apa dengan hatinya? kenapa hatinya bisa selembut itu? Jadi Karena itu ia selalu menyuruhku untuk datang menemuninya."
Tuan ... selama ini anda kemana saja? Batin Judika.
"Besok ... aku akan datang kesini lagi (ke penjara) bersama Wilona."
"Baik Tuan."
▪▪▪▪▪
Malamnya tanpa sepengetahuan Okta Wilona sudah berada di kediaman Wahardian.
Wilona lalu mengirim pesan kepada Judika agar memberitahukan keberadaannya pada Okta.
▪▪▪▪▪
Di Mobil
"Kenapa dia ada dirumah Jud, kau tidak bertanya padanya?"
"Tidak tuan."
Dan entah mengapa perasaan Okta menjadi tidak enak setelah mendapat pesan itu.
Ia segera menghubungi Wilona.
Dan ternyata dari pembicaraan singkat itu Wilona ingin mengakui semuanya dan berniat meminta maaf akan pernikahan kontrak ini pada kedua orang tua Okta.
Judika sendiripun merasa kaget dengan keputusan nyonyanya.
"Jud ... apa yang harus kulakukan."
"Maaf tuan, saya tidak tahu harus berkata apa di situasi mendesak ini."
▪▪▪▪▪
Di kediaman Wahardian
Sampailah mereka pada pembicaraan serius setelah mereka selesai makan malam bersama. Okta mengajak ayah dan ibunya di kantor ayah tanpa di hadiri oleh siapapun.
Wilona memaksakan diri untuk tetap melanjutkan niatnya sekalipun berkali-kali Okta mencoba mencegah.
Tidak ... aku ingin orang tua mengetahui semuanya, setidaknya kebohongan ini tidak berlarut-larut. Dan aku ingin mereka mengetahuinya langsung dari mulutku sendiri bukan dari orang lain. Terlebih dari Leony. Batin Wilona.
Wilona kemudian berlutut di depan ayah.
"Nak ... apa yang kamu lakukan, mengapa kamu berlutut seperti ini." kata ayah.
Mau tidak mau Okta juga ikut berlutut di samping Wilona.
"Semua ini salahku ayah." jawab Okta.
Wilona hanya terdiam dan meneteskan air mata. Sepertinya semua kata-kata yang ia susun sejak tadi dengan segala perasaan kalutnya hilang selain air mata saja yang keluar.
"Sejujurnya kami telah berbohong pada kalian berdua, begitu juga dengan ayah Wilona.
Aku sengaja melakukan pernikahan ini hanya untuk mencapai posisiku sekarang ini."
Mendengar itu ibu pun kaget sambil menutup mulutnya.
"Kami bersalah, karena kami berbohong pada semuanya, pada ayah, dan juga pada ibu. Pernikahan ini hanya sebatas perjanjian diatas kertas semata, sesungguhnya kami ... kami menjalani semua ini di atas kepalsuan ayah-ibu. Maafkan saya yang telah berbohong pada kalian semua, tapi sungguh dari hati saya yang terdalam saya sangat mencintai keluarga ini, saya benar-benar menjadikan keluarga ini bagian dari kehidupan saya, saya terlalu larut dalam sandiwara di atas segala dusta, karena itu ... hari ini, saya mengakui semua kesalahan ini." jawab Wilona dalam isaknya.
Ayah segera berdiri di hadapan mereka berdua. Okta bahkan siap jika ia harus menerima amukan dari ayahnya.
●●●●●
Bagaimana kisah selanjutnya? kita lanjut di episode berikutnya.
Dukung dengan tinggalkan saran kritik, komen, like dan votw juga ya ^^
__ADS_1