Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Setitik Cahaya


__ADS_3

Wilona mengajak Okta menuju ke suatu tempat. Kendaraan berhenti sesuai perintah Wilona. Ya ternyata mereka sampai di suatu taman bermain.


Pepohonan rindang dan berbagai tanaman terhias rapi. Lampu taman turut serta menambah keindahan taman.


Ada juga lampu hias berkelap kelip di sepanjang jalan setapak mengiringi pesona malam yang indah.


Tak sadar Wilona terus memegang pergelangan tangan Okta. Sedangkan Judika berjalan di belakang kira-kira lima meter jaraknya dari mereka.


"Kita berjalan menyusuri jalan setapak ini saja ya pak."


Okta tampak tidak merespon, hanya saja pandangannya tak henti pada pergelangan tangannya yang di genggam oleh Wilona.


Perasaan aneh terjadi pada diri Okta, sepertinya Wilona adalah orang yang berani menyentuh tubuhnya selain Leony. Orang lain di luar sana bahkan tidak ada yang berani berdekatan dengannya, Okta sangat tidak suka bila ada orang asing mendekatinya, sekali mendekat, Judika sudah siap menghadang dan memberikan jarak bagi tuannya.


Tapi kali ini entah kenapa Okta bahkan membiarkan dirinya disentuh Wilona bahkan diatur sejak dari kamar.


Ada segerombolan anak remaja yang sedang bermain gitar di kursi taman. Mereka tampak asik bernyanyi sambil bercanda.


"KAK WILONA." Teriak salah satu dari anak remaja itu sambil melambaikan tangannya.


Wilona terperanjat dan melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya.


"Ah...Jasoooon." sapa Wilona riang.


"Iya kak."


Wilona lalu melepas genggamannya dan mendekat pada gerombolan anak remaja tersebut meninggalkan Okta.


"Sedang apa kalian disini, Jason kamu tidak belajar?"


"Kami habis ujian kak. Makanya sekarang mau menenangkan pikiran."


"Hahahaha ... bisa aja kalian. Oh iya sebentar ."


Wilona lalu membuka tas kecilnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Nih gunakan untuk bersenang-senang, tapi jangan yang aneh-aneh ya."


"Ah ... kakak Wilona tidak usah."


"Sudah ambil saja, cepat."

__ADS_1


"Makasih kakak, kak Wilona memang wanita baik hati dan paling cantik sedunia." Lalu Jason melingkarkan tangannya di atas kepala dan membentuk tanda love besar. Teman-teman yang lain bahkan memberikan tepuk tangan saking senangnya.


Melihat itu Okta segera mendekati Wilona dan menggenggam tangan Wilona, dia menarik Wilona menjauh dari gerombolan anak remaja itu tanpa bersuara.


"Eh ... aduh ... aduh." Wilona hampir saja jatuh karena tarikan Okta. Tapi ia tidak menggubris dan masih melihat anak-anak lalu melambaikan tangannya.


"Selamat bersenang-senang ya." Teriak Wilona yang berjalan menjauhi mereka.


"Ah, pak Okta... tindakanmu ini tidak sopan." Celetuk Wilona.


Okta seketika berhenti. Dan memandang Wilona.


"Ba-baik ayo kita jalan lagi pak." Wilona sadar bahwa misinya saat ini adalah untuk melepaskan kepenatan Okta.


Tak terasa mereka berjalan menyusuri taman bahkan saat ini bergandengan tangan, bukan lagi menggandeng pergelangan tangan.


"Pak kita duduk disana." Wilona lalu menarik Okta ke arah ayunan dewasa.


"Pak Okta silahkan duduk disini." Pinta Wilona setelah mereka sudah berada di ayunan.


Ada beberapa media untuk olahraga yang memang disiapkan di taman.


"Mainan anak-anak yang itu." Wilona lalu menunjuk ayunan mini dan beberapa mainan perosotan agak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Sudah ayo duduk disini." Wilona lalu memaksa Okta untuk duduk di ayunan. Wilona juga duduk disebelahnya setelah Okta bersedia duduk tenang di kursi ayunan.


Wilona lalu melihat Okta masih tampak kalut sambil menyilangkan tangannya.


"Waaaaah, bintangnya cantik sekali ya pak." Sambil menatap ke langit. Wilona berusaha memecah kesunyian malam. Okta juga perlahan menaikan pandangannya menuju ke langit.


Memang malam itu adalah malam yang cerah, awan bahkan seolah menyingkir membiarkan kecantikan bintang berkelap kelip bisa dinikmati manusia di dunia.


"Itu ... itu adalah bintangku pak. Itu yang disana, itu gugusan sagitarius." Wilona menunjuk ke langit.


Okta melihat ke arah langit yang di tunjuk Wilona.


"Aku sangat senang melihat-lihat gambar angkasa dari buku, seolah seperti di negeri dongeng. Ada planet ini ada planet itu, ada yang bentuknya unik, ada yang bercincin, mereka juga menghasilkan suara terntentu. Aku benar-benar ingin bisa melihat mereka dengan mataku sendiri. Tapi sepertinya tidak mungkin karena observatorium sangat jauh dari sini.


Okta terdiam sambil mengamati bintang dengan seksama.


"Dulu, saat aku merindukan ibu, aku akan lari kesini dan aku akan melihat bintang-bintang yang cantik dari sini. Bukankah bintang itu cantik? dia secantik ibu. Lalu setelah melihatnya aku jadi tenang." Wilona tersenyum senang sambil mengenang ceritanya sendiri.

__ADS_1


"Coba sekarang pak Okta melihat kelangit, indah sekali kan pak.


Bahwa di malam yang gelap sekalipun, setitik cahaya bisa membuat orang bahagia. Setitik cahaya bisa membuat orang banyak menikmatinya.


Matahari itu terlalu terang, terlalu terik,


Terlalu panas, beberapa orang justru menghindarinya.


Begitu juga dengan manusia ... semua yang ditonjolkan berlebihan ... itu tidak baik.


Nah seperti sekarang ini, dalam kekelaman, dalam bahaya, dalam rintangan, Walaupun gelaaaaap dan sekalipun harapan kita hanya setitik cahaya, sebenarnya setitik cahaya itu memberikan banyak harapan bagi orang banyak."


Okta lalu termenung, senyum tipis terlihat dari sudut bibirnya. Lalu pandangannya teralih pada Wilona. Padangan hangat dan melekat itu membuat Wilona segera berdiri. Dan berlari di belakang Okta, Wilona lalu mulai mendorong Okta.


"He..heyyy apa yang ... yang kamu lakukan." Okta panik dan menoleh kebelakang.


"Sudah pak di nikmati saja. Malam ini ayok kita menikmati bintang sambil main ayunan."


Makin lama gerakan ayunan makin tinggi dan ternyata Okta menikmatinya. Kali ini bukan senyum lagi melainkan tawa keluar dari mulutnya.


Melihat Okta sudah terlihat menikmati segalanya Wilona juga duduk di ayunan sebelahnya dan menyusul. Mereka akhirnya menikmati malam itu.


"JANGAN..." Wilona berayun ke depan lalu mundur.


dan saat berayun ke depan lagi Wilona melanjutkan "MENYERAH."


Judika yang mengamati di sudut taman.


 tersenyum lega melihat tuannya bisa tertawa lepas.


Hanya mainan itu! ... Nyonya anda luar biasa.


batin Judika


●●●●●


Bersambung


Next:


Wilona sesaat terlupa bahwa taman itu adalah tempat dia juga sering berkumpul dengan sahabatnya atau juga dengan Bastian. Dan pada akhirnya ditaman itu untuk pertama kalinya Okta bertemu dengan bastian

__ADS_1


__ADS_2