Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Baik...Aku Setuju


__ADS_3

Sambil menarik nafas panjang Okta pun menjelaskan, "Sembilan bulan lagi adalah waktu pemilihan Presdir,  kamu harus jadi istriku sebelumnya, setelah itu kita bisa berpisah."


"Pemilihan Presdir?Tapi itu kan urusan anda, kenapa harus dikaitkan dengan saya?" timpal Wilona.


"Ayahku sangat ingin kamu jadi menantunya.


Itu salah satu syarat yang harus aku penuhi.


Akupun tidak tahu maksud dari semua ini.


Yang pasti kamu harus menikah denganku!" Tegas Okta.


"Harus? hah...yang benar saja! Aku juga berhak menolakmu!" Ketus Wilona yang sudah mulai tidak menggunakan bahasa formal lagi pada Okta.


"Apa kamu tahu, setelah peristiwa kebakaran pabrik roti milik ayahmu, semua bahan, peralatan, bahkan toko dan modal usaha ... Darimana semuanya itu?


Cih ... harusnya kamu sadar untuk berhutang budi dan membalasnya. Kamu tahu!


bahwa aku juga punya kuasa untuk menarik semua aset yang sudah diberikan perusahaan pada ayahmu."


Wilona diam mencerna perkataan Okta. Jadi ... selama ini? batin Wilona menyimpulkan sebuah fakta.


"Dengar ya, sembilan bulan, itu bukan waktu yang lama, kita hanya terikat status dan tidak lebih, kamu aman, lalu aku akan menceraikanmu


setelah itu kamu bebas


dan aku pastikan juga akan meninggalkan nama baik bagimu dan bagi ayahmu.


Hanya itu saja. 


Aku harus menyelamatkan perusahaanku."


Wilona tak berkutik ,terpojok, tidak bisa menentukan pilihan, pikiran yang kacau melingkupi seluruh isi kepalanya.


Ia tak menyangka bahwa kedai ayah bisa pulih dengan cepat karena bantuan orang yang duduk di hadapannya saat ini.


"Jadi....(Okta menarik nafas panjang) bulan depan kita akan menikah."Okta menjelaskan dengan mata yang sayu mengingat kekasihnya Leony yang sangat di cintainya.


Mendengar pernyataan itu Wilona semakin terkejut, lehernya kaku seluruh tubuhnya menjadi tegang, kelopak matanya membesar, memperlihatkan kedua bola mata yang bisa saja melompat keluar, nafasnya sempat terhenti sepersekian detik.


Apaaaa ...sudah gila orang ini!!!


masa mudaku.... secepat itu??? batin Wilona.


Okta pun melanjutkan, "Kalau begitu ini adalah perjanjian kita berdua.


Tidak ada orang yang tahu ini,selain kamu dan Asistenku, kamu bisa membacanya dirumah atau kau tandatangan saja saat ini juga, karena itu lebih baik?" Okta menyodorkan lembar perjanjian diatas materai.


Wilona tetap diam tak bergeming. Pandangannya tertuju pada lembar putih dengan sebuah pena terletak di atasnya.


"Besok kita ketemu lagi disini di jam yang sama,  pastikan kamu sudah menandatangani kontrak ini!" Okta segera berdiri dan meninggalkan ruangan.


Wilona terdiam melihat langkah kaki pria di depannya segera menjauh. Pikirannya buntu seketika.


Ia pun memutuskan juga untuk pulang, meninggalkan restauran dengan langkah yang berat dan perasaan yang kacau, membawa lembar kertas perjanjian rahasia mereka berdua.


Di sepanjang perjalanan pulang, Kepalanya di penuhi dengan berbagai pertanyaan yang akan di tanyakan pada ayah nantinya.


▪▪▪▪


Di kedai ayah


Wilona duduk melihat ayahnya yang sedang sibuk di depan sebuah alat pengaduk tepung.


Wilona termenung sebentar, dia ragu untuk membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan kebakaran pada ayah.


Sebuah kejadian mengerikan yang membuat trauma dan masih saja membekas dihati mereka berdua.


Namun pada akhirnya Wilona memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Ayah...apa benar perusahaan WG memberikan bantuan setelah kejadian kebakaran waktu itu?" Wilona menyangga wajahnya dengan tangan mencoba untuk terlihat rileks di hadapan ayah.


Mendengar itu ayah terdiam sebentar kemudian langsung mematikan mesinnya dan menuju ke meja di mana Wilona duduk. Ayah menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Wilona sambil memegang tangan anaknya.


"Benar nak, pak Wahardian sendiri yang menawarkan bantuan.


Makanya kedai roti kita bisa berjalan sampai sekarang, tapi darimana kamu tahu dan kenapa bertanya begitu?"


"Ah, tidak apa-apa ayah, cuma memastikan saja, sore tadi aku bertemu dengan Okta."


"Ooh begitu ya, jadi kalian berdua tadi bertemu? hahaha...ayah tidak menyangka kalian akan akrab secepat itu. Sebenarnya ayah dan Wahardian itu bersahabat sejak kecil."


"Ohhh...." Wilona diam tertunduk.


Ayah merasa Wilona tidak seceria biasanya.


"Nak, dulu saat kami masih kecil, kami melakukan perjanjian lucu yang kekanakan, yaitu untuk menjodohkan anak kita kelak, tapi itu dulu, hanya perjanjian bocah biasa.


Ayah saja sudah lupa dengan itu.


Kamu tahu sendiri kan, bahwa usaha roti kita sudah berdiri turun temurun.


Dulu Ardian (panggilan ayah Okta) dan keluarganya tergolong orang yang tidak mampu, yah... sedikit cerita saat bakti sosial kami membagikan roti pada beberapa penduduk yang tidak mampu, dari situlah ayah bersahabat dengan Ardian.


Ardian anak yang sangat pintar, ayah banyak belajar darinya waktu kecil.


kamu tahu kan Ona,


jadi sekalipun kedai ini tidak besar tapi namanya sudah terkenal dimana-mana semua ini karena kebaikan kakek dan nenekmu, kedermawanannya membawa nama baik kedai ini sampai kemana-mana.


Tapi setelah ayah menjadi penerus kedai ini, Peristiwa kebakaran itu terjadi.(wajah ayah terlihat sedih mengenang kejadian itu)


Ayah sungguh tak menyangka? Ardian juga mendengar kejadian itu, padahal sudah lama ayah tak bertemu dengannya, dia orang yang sangat sibuk, kecerdasan dan kedewasaannya mengubah hidupnya, Yah... memang sedari kecil selain pintar Ardian juga sudah punya mimpi besar, ia dan keluarga lalu pindah ke kota untuk mencari peruntungan disana, sejak itu ayah tidak pernah bertemu dengannya lagi.


Setelah kejadian kebakaran waktu itu,


Dari awal ayah menolak, tapi Ardian (panggilan dari Wahardian) terus saja memaksa.


Yaaaah, apa boleh buat, ayah juga sebenarnya butuh persiapan yang banyak kalau harus memulai lagi dari nol, dan kamu ... ayah tidak ingin kamu putus sekolah.


Akhirnya ayah menerima semua bantuan itu.


Saat ayah mau mencicil untuk mengembalikan bantuan ke Ardian, dia menolak dan menawarkan perjodohan ini.


Ayah tidak menyangka kalau Ardian masih mengingat itu semua.


hahahaha...


Nak, sekalipun kalian di jodohkan kemarin ... ayah bukan berarti memaksa kamu harus menikah dengannya.


Semua keputusan ada ditanganmu, jangan pernah berfikir karena WG group memberi bantuan, kamu harus bayar harga dengan sebuah pernikahan.


Ayah tidak sama sekali menyuruhmu. Kamu bebas menentukan pilihan mu, Kamu sudah dewasa dan ayah percaya pilihanmu adalah yang terbaik, karena ayah cuma ingin satu ... yaitu kamu bahagia."tutur ayah panjang lebar


Wilona pun tersentuh dengan kata-kata ayah, tidak bisa lagi untuk menahan air matanya kemudian Wilona berdiri membelakangi ayahnya, memeluk ayah dari balik punggungnya,


"iya ayah, terimakasih sudah membuat Wilona bahagia sampai saat ini." turur Wilona.


...


Perjanjian


Keesokan harinya pertemuan Wilona dan Okta pun berlanjut.


"Baik...aku setuju." Kata Wilona dengan yakin. Dilihatnya Okta yang tersenyum penuh kelegaan.


"Tapi aku juga mengajukan beberapa syarat.


Wilona pun mengeluarkan lembar kertas dari tasnya, aku bacakan saja yah;

__ADS_1


Pertama, mulai dari saat perjanjian ini di setujui


Segala bantuan perusahaan yang telah diberikan untuk usaha roti ayah sudah sah jadi miliknya, tidak ada lagi kata ancaman, penyitaan atau penarikan barang bahkan setelah perjanjian ini berakhir.


Dua, Wilona di ijinkan untuk tetap bekerja seperti biasa di kedai ayah.


Ketiga sebulan sekali Wilona di ijinkan menginap di rumah ayah untuk...."


 


"Ah.. STOP! (Okta memotong pembicaraan)


sini berikan lembar perjanjianmu itu!" Tanpa basa-basi perjanjian langsung ditandatangani.


"Hei ini belum selesai, kamu harus tahu isinya terlebih dahulu Pak." Wilona menjelaskan.


"Sudahlah yang penting kamu sudah menyetujui perjanjianku, itu sudah cukup." Okta buru-buru membubuhkan tandatangan pada lembar Wilona.



"Kalau begitu aku pergi dulu" Okta siap untuk berdiri, namun...


"Ehhh, tunggu dulu." Wilona menahan mencegah Okta pergi dengan tiba-tiba memegang tangannya.


Okta pun kaget melihat pergelangan tangan tangannya di genggam oleh Wilona. "Ada apa lagi, bukannya semua sudah beres?"


"Bagaimana kamu tega."


"Apa maksudnya?" Okta tampak bingung.


Dengan nada lirih sambil melihat kanan kiri  Wilona melanjutkan kata-katanya "lihat meja ini?"


"Hah??" Okta kemudian melirik melihat meja mencari-cari mungkin ada sesuatu yang penting.


"Kamu harus menghargai makanan yang sudah kamu pesan, dan aku juga tidak bisa makan kalau cuma sendirian disini," dengan mata yang berharap.(Berhubung menu yang kemarin saja sama sekali tidak di sentuh.


 Wilona tidak mau melewatkan kesempatan menikmati makanan mewah di depannya setidaknya sekali seumur hidupnya.)


"Hahahaha...lepaskan tanganmu dulu!"


"Ah, maafkan saya Pak" buru-buru melepaskan tangan yang tidak sadar sudah menggenggam pergelangan tangan Okta dari tadi.


Okta pun menatap Wilona dan berkata dalam hati.


Dasar wanita aneh, Berani juga kamu memegang tanganku dan main perintah seenak hatimu.


Tapi baiklah, karena urusan kita sudah beres aku turuti permintaanmu.


Okta pun kembali duduk segera memegang sendok garpu dan mereka sama-sama melahap hidangan di meja.


Flashback off


....


Kembali di kamar Wilona


Mengingat kejadian waktu itu Wilona yang terbaring di ranjang tertawa sendiri.


Namun segera ia kembali bersedih karena teringat kembali kata-kata ayahnya yang membuatnya tersentuh, tak terasa air matanya mengalir jatuh membasahi pipinya.


Ayah, terimakasih ... saatnya aku yang membalas semua cintamu, demi kebahagiaanmu dan kedai itu dan semua kenangan indah di dalamnya bersama ibu, adik, kakek dan nenek yang telah lebih dahulu pergi meninggalkan kita.


▪▪▪


**Bersambung


Hai semua, bantu tinggkan like nya yah.


terimakasih sudah mampir untuk membaca sampai episode ini. Semoga semuanya diberikan kesehatan dan terhindar dari wabah virus corona ini ya**..

__ADS_1


__ADS_2