Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Keputusan part 2


__ADS_3

Malamnya di kediaman Okta.


Wilona lumayan lama berada di kamar setelah ia selesai menyiapkan makanan di meja.


Sepertinya keputusan yang tepat untuk meredam kenekatannya adalah memang aku harus keluar dari sini.


Wanita licik itu sanggup melakukan segalanya, seperti pada Henry waktu itu.


Karena demi ayah, aku harus rela keluar dari sini.


Keputusan Wilona sudah bulat, ia mengepak pakaian dan keperluannya dalam sebuah koper.


Kemana aku harus pergi. Tidak boleh ada seorangpun yang tahu keberadaanku nanti.


Wilona lalu mensearching kos atau kontrakan terdekat yang bisa segera ia tempati.


Setelah sekian waktu,ia menemukan ada beberapa referensi kos dan kontrakan yang di dapat.


Setelah semuanya beres, Wilona kemudian mengenang kamar itu sambil melihat dan berjalan sekitar kamar.


Ini adalah kenangan terakhir aku disini. Bagaimanapun juga, sebentar lagi kita akan berpisah, aku pasti akan pergi dari sini.


*Tok-tok-tok *


Okta mengetuk pintu.


Wilona lalu mengeluarkan kepalanya dan melihat Okta berdiri tepat di depannya.


"Iya pak?"


"Lama sekali, sedang apa kamu?"


"Se-sedang ... ."


"Ayo kita turun, aku sudah lapar."


"Hah?" Wilona lalu melihat jam dinding dikamarnya. Ia lupa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.


"Ayo."Okta lalu menggandeng tangan Wilona dan mereka segera turun bersama.


"Bau masakanmu itu sudah aku cium sejak tadi, aku sudah turun dua kali, tapi kamu tidak keluar-keluar." gerutu Okta.


"Iya, maaf."


Mereka pun segera makan bersama, senda gurau terjadi di antara mereka berdua.


Setelah makan usai dan Okta mencuci peralatan makan mereka. Wilona membersihkan meja dan tak disangka Leony sudah berdiri di hadapannya, dengan tatapan keheranan melihat pemandangan di depan matanya.


Apa ini? Kekasihku di suruhnya mencuci gelas piring?


"Ona tahukah kamu, sepertinya aku rindu cemilan kaleng itu, bagaimana kalau nanti kita keluar dan membeli itu? tanya Okta tanpa menyadari kehadiran Leony.


Okta segera menoleh karena Wilona tak merespon sedikitpun pertanyaannya.


Ia sendiri pun kaget dengan kehadiran Leony di sana.


Keadaan yang tak disangka itu membuat Leony menyeringai tak percaya.


"Sayang, apa yang kamu kerjakan disana?" tanya Leony yang datang mendekati Okta.


"I-ini bukan apa-apa."


"Bagaimana bisa pekerjaan ini kamu sendiri yang mengerjakan?


Wilona? dan kamu diam saja?"


"Ini memang tugasku, tidak masalah Ony. Lihat sebentar lagi aku bahkan sudah selesai."


Leony tiba tiba memeluk Okta dan menyambar pipi Okta dengan ciuman lembutnya.


"Aku hanya tidak tega melihatmu berbuat seperti ini." ujar Leony.


"Hey, jangan lakukan itu disini."timpal Okta yang merasa geli.


Melihat itu semua Wilona segera pergi dan naik ke kamarnya.


Selang beberapa lama, kali ini ia kembali turun dengan sebuah koper besar di tangannya.


Wilona berpamitan pada mereka berdua.


Namun Okta kembali mencegah dengan memegang lengan Wilona.


"Kenapa ini? kenapa kamu tiba-tiba pamit.


"Maafkan saya pak." sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Tunggu Wilona, kenapa kamu bertindak begini?" Okta meraih tangan Wilona dan menarik koper ke belakangnya.


"Sayang, coba kita dengar dulu apa maksud Wilona dari semua ini."Ucap Leony.


"Sebentar lagi, bukankah kita akan berpisah pak. Saya memilih untuk berpisah dari awal. itu saja." jawab Wilona dengan tenang dan menunjukkan senyumnya.


"Tapi kenapa mendadak seperti ini, harusnya kita berdiskusi dulu Ona."


"Saya sudah memutuskan, lebih cepat lebih baik pak."


"Lalu kamu mau pindah kemana? ini bahkan sudah malam" tanya Leony.


"Saya sudah pesan tempat dimana saya akan tinggal pak." jawab Wilona yang hanya melihat kearah Okta saja.


"Apa?" Okta masih tidak percaya.


"Maaf pak."


"Tapi ... bagaimana dengan tanggapan orang diluarsana? " kata Okta.


"Sejauh ini Tidak ada yang mengenalku sebagai istri mu, jadi saya rasa semua akan baik-baik saja."


"Tidak ...."ucap Okta.


"Sayang, sepertinya Wilona sudah memikirkan keputusannya matang-matang.


Lagipula, Tinggal beberapa minggu lagi kalian akan berpisah." tutur Leony.


Okta menggelangkan kepalanya.


"Lagipunya, kalau kau tidak ingin mempertahankannya tidak ada alasan kau tetap membiarkannya disini kan sayang?"lanjut Leony.


Okta hanya memandang Wilona dan berharap ia tidak keluar dari sini.


Disitu Leony mendekati Okta dan merangkul pinggangnya.


"Pak Okta, aku percaya kamu pintar bahkan lebih pintar dari yang ku tahu. Dan untuk masa depanmu, tentu pasti itu adalah pilihanmu sendiri, namun aku berharap engkau bisa lebih bijak lagi. Memilih dengan mata hatimu.


Baiklah ... saya pergi sekarang." ucap Wilona dengan wajah tersenyum.


Bicara apa dia ini? batin Leony yang sedikit kesal dengan nasehat Wilona.


Namun Akhir nya, Leony berhasil membuat Wilona keluar dari rumah dan tentu saja dia merasa senang sekali karena usahanya berhasil.


Wilona segera menuju Kos, yang ia dapatkan dari situs internet. Kali ini dia berusaha untuk tidak ingin menghubungi seorangpun.


"Pak ... maaf, sepertinya ini yang terbaik. Tolong jangan hubungi saya dulu."


Katakanlah dimana kamu sekarang?


"Saya sudah mendapatkan kamar pak. sepertinya saya akan tinggal disini sementara waktu."


*K**atakan saja dimana lokasinya*?


"Sekalipun aku diam, Judika pasti akan menemukanku, hanya saja saya minta kita tidak usah saling bertemu pak saya mohon."


Ada apa ini? adakah sesuatu yang terjadi?


"Tidak."


Lalu kenapa begitu mendadak?


"Ini tidak mendadak, karena kita akan berpisah hanya dalam beberapa minggu lagi."


Aku ...


"Sudah pak. saya akan menutup panggilan ini ya."


Tunggu Ona, aku ...


*Tuuuut-tuuut-tuuuut*


▪▪▪▪▪


Okta menjalani hari-harinya di kantor seperti biasa. Begitu juga Wilona.


Tidak ada satupun orang yang mengetahui mereka telah berpisah berpisah selama berhari-hari.


Dan Judika? benar kata Wilona, sekalipun Wilona diam. Judika akan tetap tahu dimana Wilona tinggal.


Namun Judika juga memilih untuk diam dan tidak ikut campur dengan keputusan tuan dan nyonyanya itu.


Dan Leony? dengan bangga ia mulai mencari-cari Lokasi yang tepat untuk membuka usahanya di Indonesia.


▪▪▪▪▪

__ADS_1


Menjelang hari pelantikan


Okta mengajak Wilona untuk makan malam di luar.


Namun Wilona enggan untuk menerima tawaran itu.


Akhirnya sepulang kerja Okta diam-diam dan dengan pakaian biasa ia menuju ke kos Wilona.


Ia sengaja datang lebih awal sebelum Wilona pulang kerja.


Dari dalam mobil Okta melihat Wilona berjalan pulang bersama Jojo. Mereka tampak asik dan saling bersenda gurau.


Apa ini? Jadi selama ini kau dekat dengannya?


Flashback


Sewaktu Wilona berjalan membeli keperluan harinya di sebuah toserba ia bertemu dengan Jojo di sana.


Ternyata lokasi kontrakam Wilona adalah area dimana banyak sekali penyewaan kamar bahkan kontrakan disitu. Dan kebetulan Jojo juga memiliki kos yang ada di area itu.


kedewasaan Jojo dan ia yang tidak bertanya apa-apa pada Wilona membuat Wilona merasa aman keberadaanya di ketahui hanya oleh Jojo seorang.


Sejak saat itulah, mereka saling bertemu.


▪▪▪▪▪


Wilona sudah sampai di kontrakan mininya, sementara Jojo berjalan lanjut menuju kosnya.


Setelah mereka berpisah Okta segera keluar.


"Ona?"


Sontak Wilona berhenti dan menoleh kebelakang.


"Pak Okta? "


Okta berjalan mendekat dan tepat berdiri di depan Wilona.


"Kenapa kamu diam saja, kamu tidak mempersilahkan aku masuk?"


"Oh ... iya, ma-masuklah."


Okta berjalan masuk mendahului Wilona.


"Kau memilih berpisah denganku, dan berjalan dengannya, apa itu memang rencanamu dari semula?"


"Bu-bukan, aku juga tidak tahu Jojo tinggal di dekat sini."


"Cih ... aku tidak yakin akan itu. Buatkan aku makan."


"Bukannya pak Okta mau makan malam diluar?"


"Karena kamu menolakku dan kita sudah ada disini, kenapa tidak kita makan disini saja."


"Baiklah ... tapi hanya hari ini saja ya pak, aku tidak ingin pak Okta sering datang kemari!"


"Kenapa?"


"Karena aku akan pindah ke tempat lain. kalau anda masih saja main kesini."


"Hey ... jangan berlebihan. "


"Aku hanya memasak mie instan. Terserah kalau Pak Okta tidak menyukainya."


"Hm ... tidak masalah."


Apa? dia mau? kenapa jadi begini?batin Wilona.


"Bagaimana dengan pelantikan pak Okta?" Wilona bertanya sambil ia sibuk mengolah mie di dapur.


"Dua hari lagi pelantikan itu dimulai."


"Baiklah selamat kalau begitu, aku ucapkan dari sini saja ya!


Dan Henry? apa pak Okta sudah mengunjunginya?"


Pertanyaan itu membuat Okta terdiam.


"Masih ada wakti dua hari, cobalah datang menemuinya." pinta Wilona


Kenapa kau ingin sekali aku menemuinya Wilona? baton Okta.


●●●●●


Bersambung

__ADS_1


Next episode akan terbit hari ini pukul 21.30.


Terimakasih buat para pembaca, dukung author dengan  tinggalkan jejak berupa vote dan ♡ juga.


__ADS_2