Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Malam bersama Okta*1


__ADS_3

Okta memutuskan untuk kembali ke hotel dan bertemu dengan Judika di depan pintu


"Sudah Jud, istirahatlah. Oh iya...persiapkan tiket untuk aku dan Wilona naik kapal Seine nanti malam."


"Baik tuan." Judika kemudian berlalu.


Okta masuk dan mendapati Wilona sedang duduk melamun, rupanya kursinya ia geser sendiri menghadap jendela sehingga ia bersantai sambil menikmati pemandangan dari balik kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Okta sambil berjalan masuk.


Wilona segera menoleh ke belakang, melihat Okta datang mendekatinya.


"Apa kamu sudah merenungkan kesalahanmu?" Okta sekali lagi bertanya. Namun Wilona diam saja.


Okta kemudian duduk bersebelahan dengan Wilona. Wilona menggeserkan tubuhnya hingga benar-benar berada di tepi kursi.


"Kamu Sudah makan?" Okta bertanya lagi.


 Wilona hanya diam saja.


"Hey, memangnya aku bicara dengan siapa? Kamu manusia bukan patung."


"Jelaskan dahulu apa yang terjadi semalam, dan kenapa aku dikurung seperti ini. Aku tidak percaya kalau aku merayu-rayu seperti yang pak Okta ceritakan... sebenarnya apa salahku?"


"Cih, kamu masih belum tahu ingat? Kesalahanmu itu sangat fatal. Bukankah sudah pernah ku katakan wanita itu harus bisa jaga diri, tidak kusangka kamu  bisa berubah jadi wanita penggoda..huh payah sekali." Okta mengatakan dengan wajah senang.


"Pak Okta bercanda kan...?"


"Aku serius..."


Kembali Wilona hanya diam tak merespon sama sekali. Ia hanya menatap pemandangan dari balik jendela dengan muka kesal.


"Kembalilah ke kamarmu, nanti sore kita keluar."


Wilona melirik ke arah Okta.


"Nanti aku ceritakan kesalahan apa yang kamu perbuat semalam."


"Apa yang ..."


"Ah, sana ... kembalilah jangan banyak tanya."


Wilona lalu berlalu menuju pintu.


"Berhenti. " Okta tiba tiba menyuruh Wilona berhenti.


Haduh apa lagi sih...aku ingin cepat cepat keluar dari sarang monster ini sekarang.


Okta kemudian berlalu mengambil blazer panjangnya. Dan melemparkannya pada Wilona. Wilona dengan reflek menangkap pakaian itu


"Pakai itu sebelum keluar. Kamu mau menggoda orang di luar sana dengan pakaianmu itu?"


Wilona hanya melirik.


Cih ... siapa yang suruh aku pakai begini, dasar orang aneh.


Wilona segera menutup kemejanya dengan blazer panjang, sehingga penampilannya lebih terlihat lebih tertutup sekarang. Dia segera berlalu tanpa berkata apa-apa.


Kurang ajar sekali dia, sudah dipinjamkan baju malah pergi begitu saja. Dasar tidak tahu diri.


Akhirnya sore tiba.

__ADS_1


Wilona keluar dengan tampilan biasanya, dengan kaos dan celana jeans di balut sweter tebal membungkus badannya.


Okta sempat berhenti sebentar melihat penampilan Wilona.


Baik.tidak masalah denganku, ketika bersama Bobby kamu berusaha tampil terbaik, tapi saat ini..


Heeem .... Okta menghela napas mendekati Wilona.


"Ayo jalan..." Okta kemudian berlalu.


Wilona justru menyusul berjalan di belakang Okta, ia hendak berjalan sejajar dengan Judika saja, tapi Judika justru memperlambat langkahnya, membuat mereka seperti sekumpulan orang yang sedang jalan baris berbaris.


Okta menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang.


"Kenapa jalannya lambat sekali, cepat kesini."


Wilona segera maju ke depan dan berjalan sejajar dengan Okta.


Dan mereka pun pergi.


Okta lalu mengajak Wilona menikmati perjalanan malam, mereka sampai di dermaga dan memasuki kapal berlapis kaca. Kapal itu membawa mereka menikmati keindahan di sepanjang Seine, melewati jembatan indah dan menikmati keindahan lampu yang gemerlap, kapal itu juga melewati menara Eiffel dan kembali Wilona sangat-sangat senang menikmatinya.



Berkali-kali dia senyum sendiri, Wilona hanya diam saja, tetapi ekspresinya seperti berkata


Wahhh ini indah sekali.


Saat melihat ekspresi Wilona. Okta pun tertawa, melihat Wilona dengan wajah terkagum-kagumnya memandang keindahan malam.


Aku tidak menyangka hal sederhana ini membuatmu tersenyum, dan senyum itu ... itu terlihat manis.


Eh ... kenapa? Kenapa aku malah memujinya?(Okta mencoba untuk menyadarkan diri tapi lagi lagi pandangannya teralih pada Wilona)


*Orang jahat, jangan tinggalkan aku sendiri disini*


Mengingat itu Okta tersenyum sendiri.


Baiklah karena tinggal dua hari lagi kita disini, aku akan menemanimu.


*Cekrek* (suara foto dari hp)


Okta diam diam mengambil foto mereka berdua di dalam kapal. Tapi karena suara kamera dari hp juga terdengar, Wilona sadar apa yang terjadi.


"Apa yang kamu lakukan pak?"


"Ini sebagai bukti pada ayahku kalau aku menikmati liburan denganmu."


Ah benar... aku juga perlu melakukannya untuk ayah.


"Kalau begitu lakukan sekali lagi pak, yang tadi kan aku tidak siap, aku juga perlu mengirimkan untuk ayah."


Okta tiba-tiba menggeser tubuh Wilona mendekatinya, sehinga mereka duduk saling berdekatan. Kemudian memeluk pinggang Wilona dari samping dan memiringkan kepalanya .


Hal itu membuat mereka berdua menjadi salah tingkah.


Buru-buru Okta melakukan selfie, tapi hasil di foto pertama mereka tampak sangat canggung.


"Sekali lagi." Okta menyarankan ulang, di sahut dengan Wilona yang menganggukan kepala.


Lalu dengan segera mereka memisahkan diri setelah hasil foto kedua cukup bagus.

__ADS_1


Okta kembali menghela napas dan diam tenang membiarkan Wilona menikmati keindahan malam di Paris.


Saat itu Judika memilih paket makan malam untuk Tuannya. Sehingga kapal itu mengantar mereka ke sebuah tempat makan berkelas sambil tetap menikmati keindahan malam kota Paris.


Okta dan Wilona masuk ke dalam dan mereka bersantap bersama.


Setelah jamuan habis Okta meminta segelas Wine di antarkan di mejanya.


Melihat ada anggur di depannya, Wilona hanya menatap diam.


Samar-samar Wilona ingat Bobby mengajaknya pulang dan membopong dia. Lalu ada Judika dan, ah ... ingatanya hanya sampai disitu saja


Okta sengaja memutar-mutar gelas wine. Sehingga anggur di dalamnya ikut berputar. Dia melihat Wilona yang tampak mematung memperhatikan gelas wine yang di pegang Okta.


"Kamu tahu ini."


"Tentu saja."


"Masih berani mencoba?"


Wilona kemudian menutup mulutnya dan menggelengkan kepala.


"Jadi kamu tahu akibatnya?"


Wilona menganggukan kepala.


"Jangan pernah minum ini lagi tanpa sepengetahuanku mengerti?"


Wilona hanya diam dan menatap Okta. Melihat tatapan itu Okta tertawa menyindir.


"Apa maksudnya tanpa sepengetahuanmu? Aku tidak akan meminum itu lagi sekalipun denganmu. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi atau ... kamu memang sengaja mau membuatku mabuk malam ini pak?"


"YAKKKK ... ENAK SAJA KAMU BICARA, maksudku adalah aku tidak ingin kamu sampai mabuk, aku akan mengontrol cara minummu tidak seperti kemarin yang lepas kendali." Okta menjawab dengan kesal napasnya jadi terengah-engah karena emosi. Beberapa orang yang berada dalam ruang makan jadi memperhatikan mereka berdua.


Wilona merasa malu...


"Hey Pak, apa yang kamu lakukan... kenapa harus teriak-teriak." Berkata sambil sedikit berbisik.


Okta kembali mengatur napasnya dan mencoba tenang. Ia teringat akan rencananya bahwa dua hari terakhir akan menemani Wilona jadi ia kembali mengendalikan emosinya


"Kamu boleh minum itu."


"Tidak mau."


"Yakkkk..(mencoba mengatur napas lagi) kamu tidak akan mabuk jika hanya minum sedikit. Ini adalah anggur terbaik di kota ini, berbeda dengan yang kamu minum kemarin, ini bagus untuk menghangatkan tubuhmu."


Akhirnya dengan ragu-ragu Wilona mencoba merasakan wine merah di gelasnya.


Hm ... yang ini lebih manis.


Wilona menatap Okta yang sepertinya menanti tanggapannya setelah meminum wine"Terimakasih minumannya ini lebih enak."


"Benarkan...yang ini memang lebih enak."


"Lalu bisakah pak Okta ceritakan kejadian semalam. Kenapa aku bisa berada di kamarmu, katakan sejujurnya."


Okta tidak menyangka Wilona kembali membahas soal itu


Wah dia mulai lagi....


*****

__ADS_1


Bersambung


Hiiii klik like nya juga❤


__ADS_2