
"Tian." Wilona terkejut
"Kamu sudah selesai? Mau ku antar pulang?" kata Bastian sembari mendekati Wilona yang berdiri sambil membawa tas belanjaanya.
"Apa? itu mobil baru mu?"
"Ya, benar sekali, sepertinya sudah layak ganti yang baru, Apakah kamu mau langsung pulang, biar aku antar sekarang?"
"Iya, ini ..."
Belum selesai berbicara, tiba-tiba Tian langsung berbicara "Kalau begitu ayo masuk ke mobil sekarang, aku antar kamu pulang Wilona."
Jojo tampak tidak menyukai keberadaan Bastian, dimana pria itu langsung datang dan memegang kendali Wilona. Namun Jojo cukup berdiam diri memperhatikan Bastian.
"Eh ... aku..."
Lagi dan lagi Wilona berada di posisi yang serbasalah untuk menjawab.
Saat itu angin berhembus sedikit lebih kencang, awan mendung sudah mulai mengisi langit-langit kota.
Keputusan yang tepat adalah memang pulang dengan menaiki mobil.
Merasa tak enak dengan Jojo yang sudah dimintai tolong sejak awal. Wilona akhirnya memutuskan untuk tetap bersama Jojo.
Aduh ... kuharap kamu tak salah sangka Tian,
yah ... bagaimana ini, perlukah aku harus menjelaskan semua ini padamu.
"Jojo ? oh ... maaf, aku tidak menyadari keberadaanmu." Bastian akhirnya menyadari ada pria yang berdiri di dekat Wilona.
"Iya, ini ... Jojo, karyawan di kedai ayah. Aku memintanya untuk ...
(Tunggu ... aku harus hati-hati berbicara saat bertemu Tian)
untuk ... ini, ini keperluannya Jojo, aku hanya menemaninya karena kita pulang searah." lagi dan lagi Wilona terpaksa berbohong di hadapan Bastian.
__ADS_1
Seketika itu juga pandangan Jojo beralih pada Wilona. Jojo menyadari Wilona berusaha berbohong di depan Bastian. Tapi sungguh tidak ia sangka, Wilona akan berkata-kata seperti itu.
Tetesan hujan mulai berjatuhan, seketika tangan Bastian menarik lengan Wilona.
"Sebentar hujan, lebih baik naik mobil saja Wilona, nanti kamu sakit."
Dan karena Jojo mengetahui Wilona berusaha berbohong di depan Bastian, dia mengambil keputusan bahwa Wilona tak mau bersama pria itu. Maka dengan memberanikan diri, Jojo juga memegang tangan Wilona.
"Aku yang akan mengantarnya pulang." sau Jojo
"Apa?" tanya Bastian.
"Biar aku saja yang mengantar Wilona pulang. Dia sudah bersamaku sejak tadi."
"Apa kamu bisa membiarkan Wilona pulang dengan basah kuyup?" lanjut Bastian.
"Ah ... Tian, aku tidak apa-apa kok." Wilona mencoba menyambung.
"Tidak Ona. Kali ini biar aku mengantarmu." kata Bastian.
"Ayo Ona ..." tangan Bastian semakin memegang erat Wilona.
Karena merasa tidak tega membiarkan Wilona kehujanan. Jojo perlahan melepaskan genggaman tangannya,
dan.....
"HEY! ... APA, YANG KAMU LAKUKAN DISANA."
Tak sadar ternyata ada mobil hitam kepunyaan Okta juga berhenti di persimpangan jalan.
Okta segera keluar berjalan dengan mengenakan payung hitam besar, menghampiri Wilona.
Pandangan matanya jatuh tajam mengarah pada Sosok Wilona yang saat itu sedang kosong pikirannya saking kebingungannya menghadapi situasi itu.
Okta sudah berdiri berhadapan dengan Wilona.
__ADS_1
"Mau berapa lama kamu diam disitu."
"I-iya." tanpa berpikir panjang, Wilona berlari kecil ke arah Okta, dan berlindung di bawah payung besar milik Okta.
Okta segera berbalik dan melangkah menuju ke mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun Wilona masih belum beranjak dari posisinya berdiri.
"Jojo, terimakasih bantuannya. Tian ... maaf ..."
"AYO JALAN!" seru Okta sekali lagi yang kembali menghentikan langkahnya karena menunggu Wilona yang masih berdiri di belakangnya.
Mendengar seruan itu, Wilona pun kembali berteduh di bawah payung Okta dan mereka bersama menuju ke dalam mobil.
Di arah lain Bastian dan Jojo berpandangan satu sama lain, saling menunjukkan wajah tidak suka mereka. Namun akhirnya mereka berpisah juga.
"Cepat masuk!" perintah Okta.
Wilona pun segera memberikan tas belanjaanya pada Judika. Dan terburu-buru masuk ke dalam mobil.
Di iringi guyuran hujan yang lebat, Wilona termenung sambil menatap keadaan Di luar, pandangan yang penuh dengan lamunan ...
Situasi yang tidak mengenakkan, serba salah buat mereka berdua. Baru kali ini aku merasa beruntung kamu segera datang Okta. Seandainya aku memilih bersama Jojo saat pulang, aku seperti menyakiti perasaan Tian berkali-kali lipat lagi.
Tian ... maaf kan aku.
Guyuran hujan membawa kelabu
Cahaya bersembunyi ditelan lautan
Keredupan menghantui mengelilingi kehidupan.
Kesepian dan kerinduan ... berbalut melilit sekujur tubuh ini*.
Bastian maaf, entah mengapa aku berkali-kali terus membuatmu jatuh dalan kesepian.
●●●●●
__ADS_1
Bersambung