Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama

Pernikahan Sementara Dengan Orang Ternama
Satu per satu


__ADS_3

Sebenarnya ada tiga kandidat yang terpilih untuk menggantikan Pak Wahardian di posisi jabatannya.


Namun berjalannya waktu satu orang memilih mengundurkan diri, menjelang tiga bulan pemilihan.


Entah karena apa, begitu saja satu kandidat itu menyerah tiba-tiba.


Judika semakin di sibukkan dengan perkara Tuannya yang masih saja belum menemui jalan keluar.


Oleh karena itu ia sengaja mengambil waktu cuti dan tidak mendampingi Okta selama hampir tiga minggu.


Ia mengejar bahkan sampai ke pelosok, pelaku penggelapan, pencurian dan pelecehan karyawan yang masih saja buron saat itu.


Kesulitan melacak keberadaan buronan tersebut, membuat Judika yakin pasti ada orang yang mendanai dibalik segala kasus yang bertubi-tubi menimpa tuannya.


Setelah pencarian hampir sekitar dua bulan berlalu.


Judika akhirnya mendapatkan info keberadaan buron tersebut.


Ia segera berlalu menuju ke pulau Bali, lokasinya jauh dari keramaian, jejaknya bahkan hampir saja hilang karena pelaku itu berpindah-pindah tempat.


▪▪▪▪▪


Di sebuah kafe, pelaku itu sedang duduk dengan tenang, tersedia jus buah yang sesekali ia teguk, sambil menunggu makanan di antar.


Dari belakang Judika berjalan dengan langkah pastinya mendekat dan menepuk pundak si pelaku tersebut, membuatnya terhenyak kaget seketika.


"Akhirnya kita berjumpa disini!" ucap Judika yang berjalan menuju kursi dan duduk berhadapan dengan si pelaku sambil tersenyum sinis.


Dua tim kepercayaan Judika menunggu diluar.


Ia sengaja tidak mengajak tim khusus seperti biasanya. Karena pikirnya:


Bahkan di tim khusus sekalipun, aku yakin ada beberapa mata-mata di dalamnya. Itulah mengapa buronan itu susah sekali ditemukan, selain karena info yang terendus oleh mata-mata dalam tim.


"Ba-bagaimana kau bisa ...?"si pelaku kaget bukan kepalang, tergagap, tubuhnya tegak kaku, seketika ia menoleh ke arah pintu bersiap melarikan diri.


"Kamu mati jika bergerak satu inci pun dari sini!


Otakmu masih berfungsi baik rupanya.


Sayang sekali isinya, masih dibawah telapak kakiku ...


sekali ku injak ... kau tahu sendiri jawaban selanjutnya?" Judika mencoba bersikap santai karena ia tidak mau menimbulkan keributan di dalam kafe.


"Siapa yang mendanaimu? tanya Judika langsung menyerang pada intinya.


"Aku sudah bekerja keras namun ... namun tidak di hargai disana."


*Haaah* Judika mendesah dengan senyum kebenciannya.


"Pertanyaanku sederhana ... siapa yang mendanaimu?"


"Aku melakukannya sendiri."


"Wah ... wah ... apa aku harus percaya pada seorang penipu?"


Lalu seorang pelayan wanita cantik datang membawakan hidangan steak pesanan sipelaku buron.


Pelayan cantik berlanjut menawarkan Judika menh di kafe.


Judika lalu memesan minuman bersoda dengan senyum sangat manis, bahkan terlihat lebih manis bukan seperti Judika selama ini.


"Ah ... pelayan, apakah aku bisa membeli alat makan ini?" Judika sekali lagi berbicara dengan melemparkan senyuman mautnya kepada pelayan.


Saat itu ia mengambil pisau steak yang terletak di piring si pelaku.


"Aku akan membayarnya dengan harga tinggi."lanjut Judika.


"Hm ... baiklah, tidak masalah." kata pelayan yang tersenyum tersipu membalas senyum Judika lalu segera berlalu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


(hiyaaaa siapa si yang tidak suka dengan senyum Judika yang menawan ^^ karena memang ketampanannya melewati batas new normal)


Kembali Judika berbicara pada si pelaku.


"Kalau kamu tidak jujur, maka pisau tumpul ini akan berfungsi sekali, sebelum kamu masuk penjara." ucap Judika kembali dengan gestur santainya.


"Da-darimana kamu tahu aku disini?" tanya si pelaku sambil menoleh kekanan kiri dengan paniknya.


"Maka dari itu aku berkata kamu lumayan pintar, kalau kamu kabur ke luar negeri maka dalam waktu kurang dari 24 jam, aku pasti sudah menemukanmu."


▪▪▪▪▪


Akhirnya ketahuanlah bahwa kejahatan itu, di danai oleh kepala bagian produksi.


Judika pada akhirnya sengaja mengisolasi pelaku tersebut di suatu tempat tersembunyi.


Tanpa sinyal dan di jaga ketat oleh tim kepercayaan Judika.


Lalu Judika menuju kediaman kepala bagian produksi.


Saat itu is sedang menikmati bermain dengan kedua anaknya di rumah.


Judika memakai orang kepercayaan nya untuk menyampaikan pesan untuk bertemu dengannya di dalam mobil.


Kepala produksi itu tersenyum senang dan bergegas menuju keluar.


Dikiranya ada hal baik dari seseorang yang selama ini ditemuinya secara diam-diam.


Kepala produksi itu segera masuk ke dalam mobil.


Mimik wajahnya berubah seketika, ketika ia melihat ternyata bukan orang yang selama ini ia temui yang duduk dalam mobil, melainkan Judika yang ada di dalamnya.


Setelah desakan bertubi-tubi.


Akhirnya pimpinan produksi itu mengaku,


"Maafkan saya pak ... saya terpaksa berbuat demikian."


"Jika saya mau mendanai si pelaku, maka saya akan dinaikkan menjadi seorang General Manager tahun depan oleh direktur Lindo, namun jika tidak, maka ia akan mengeluarkan saya.


Saya tidak bisa berkutik pak."


"Tak perlu berlutut didepanku. Lakukan saja pembelaanmu dipengadilan nanti."


"Ampun pak ... ampun." pria itu semakin mendekat dan merangkul kedua kaki Judika.


"Cih ... jangan menangisi kesalahan bodohmu itu, aku tak akan terketuk sekalipun lututmu patah dan berdarah-darah disini."


"Saya mohon pak ... anak saya masih kecil-kecil."pintanya sambil menangis.


Judika segera memalingkan wajahnya.


"Kita lihat saja seberapa besar kemurahan tuan Okta padamu, tapi menurutku pintu kemurahan tuan sudah tertutup jauh-jauh hari.


Malam ini segera keluar dari rumahmu, berpamintanlah dengan cara baik-baik dengan keluargamu. "


Judika segera pergi dan berlalu malam itu. Sepertinya kepala Produksi itu juga di isolasikan di lokasi yang sama dengan si pelaku buron tadi tanpa bisa terkoneksi dengan siapapun.


Kali ini Judika sudah bisa sedikit bernapas lega.


Pencariannya membuahkan hasil meskipun belum selesai urusannya.


▪▪▪▪▪


Di kantor Okta


"Cih ... tak kusangka pria gendut itu (direktur Lindo) berani bertindak sejauh ini."


"Tuan ... apa perlu saya bertindak sekarang?"

__ADS_1


"Hm ... aku percayakan padamu Jud."


"Baik tuan."


"Tapi tunggu ... rapat kemarin dia sangat menginginkan Henry menjadi next CEO. Pastikan kamu membongkar sampai hal terkecil sekalipun."


"Baik Tuan.


Tuan ... apa selama saya tinggal ada sesuatu yang perlu saya kerjakan sekarang juga?"tanya Judika.


"Tidak perlu Jud, idemu memakai tenaga OB sebagai mata-mata, lumayan bisa di andalkan.


Aku benar-benar bisa melihat sisi mereka yang sebenarnya.


Berikan saja bonus yang melimpah pada OB yang kamu beri tugas."


Mendengar itu Judika tersenyum, menundukkan kepala dan segera berlalu meninggalkan kantor.


Pria gendut ... nasibmu ada ditanganku sekarang. Batin Okta.


▪▪▪▪▪


Pulang ke rumah


Hari Itu Okta pulang kerumah lebih awal. Dan mendapati Wilona sedang menyiram tanaman.


"Bukankah sudah ada tukang kebun?"kata Okta yang berjalan ke arah Wilona.


"Oh ... Tidak apa-apa pak."


"Apa kamu sudah masak?"


"Ah ... belum. Baik sebentar lagi ya ... aku tidak tahu Pak Okta akan pulang lebih awal." masih sambil memencet kait selang air.


Okta lalu mengambil alih selang dari tangan Wilona.


"Ayo masuk!" perintah Okta sambil mematikan kait selang.


"Tunggu sebentar nanti aku pasti masak. Sebentar lagi." Wilona merebut kembali selang dari tangan Okta


Okta tak mau kalah, kembali ia merebut dan menjatuhkan selang itu ke rumput.


Dan segera merangkul leher Wilona, mengajaknya berjalan masuk kerumah.


"Eeeeh ... ke-kenapa pak?"


"Ayo masuk ... kenapa tubuh kecil ini susah sekali diatur."


"I-iya ... ada apa pak, kenapa sepertinya pak Ok..."


"Mulut ini jangan banyak bicara.(Okta mengetuk bibir Wilona dengan jari telunjuknya)


Hari ini, aku ingin menenangkan diri di bukit itu. Karena itu temani aku." pinta Okta.


Dan mereka pun berjalan layaknya sahabat, dengan Okta masih tetap menaruh lengannya di pundak Wilona mereka berjalan memasuki rumah.


Hm ... hari ini beban pikiranmu muncul lagi ... semakin mendekati harinya, semakin aku merasakan bebanmu bertambah.


Baiklah apapun itu demi kelancaran semuanya. batin Wilona.


Badan mungilnya tak kuasa menahan giringan langkah Okta dan mau tak mau ia harus mengikuti perintahnya sore itu


●●●●●


Bersambung.


Terimakasih yang sudah berkenan baca sampai ep ini.


dukung author dengan like dan vote nya juga ^^.

__ADS_1


Tetap Sehat sehat semuanya


__ADS_2